-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Moderasi Beragama 2025: Dari Simplifikasi Ke Toleransi Kebablasan

Sabtu, 27 Desember 2025 | Desember 27, 2025 WIB Last Updated 2025-12-27T19:06:31Z

 


Oleh Saifuddin A. Rasyid

Al-Rasyid.id | Tidak lama setelah dilantik sebagai menteri agama RI ke 25 pada 21 Oktober 2024 dalam kabinet merah putih Prabowo Gibran, Prof KH Nasaruddin Umar (singkat Prof Nasar) langsung bicara to the poin soal moderasi beragama. 


Intinya Menag baru ini tidak begitu suka dengan istilah moderasi beragama. Lebih baik toleransi antar umat beragama. 


Sontak, para kepala rumah moderasi beragama khususnya di PTKIN (UIN dan IAIN), memberikan perhatian kuat. 


Sayapun sebagai koordinator pusat kerohanian dan moderasi beragama (PKMB) UIN Ar-Raniry kala itu, bahkan seperti berhenti bernafas sejenak. 


Di forum nasional antar PTKIN yang dibentuk khusus untuk penguatan moderasi beragama, kami saling melihat ke kiri dan ke kanan. Menanti apa sikap dan rencana follow up teman teman lain. Sepi tidak ada yang bersuara. Soalnya ini pucuk pimpinan kementerian agama yang baru, baru saja berbicara sesuatu yang berbeda.


Tema moderasi beragama adalah program prioritas Menag sebelumnya, Gus Yaqut. Sembilan program prioritas, salah satunya moderasi beragama, seperti mendapat prioritas dari sembilan.


Demikian khusus. Sehingga bukan hanya kepala rumah moderasi di PTKIN yang sibuk menyusun target dan menjalankan program tahunan. Tetapi bahkan para rektor diikat janji ikrar dengan Gus Yaqut. Wajib target moderasi beragama sampai sesuai prioritas. 


Kesimpulan klasik mengemuka dalam benak saya. Menteri baru kebijakan baru.


Arah perubahan sebenarnya sudah mulai tercium sejak Gus Yaqut terkesan tak begitu bahagia dengan cuaca politik bidang keagamaan yang diusung Presiden Prabowo. Mungkin Gus Yaqut sudah membaca itu sehingga pada saat satu rakor terakhir di Jakarta ia tidak hadir. Padahal tim PKMB UIN Ar-Raniry sudah menyiapkan satu buku untuknya yang drafnya sudah saya serahkan ke Gus pada rakor sebelumnya. 


Buku itu saya bawa saat di rakor terakhir itu, rencana mau masuk agenda dilaunching, tetapi gagal. Karena Gus Yaqut tidak hadir dan tidak dikabari alasannya.


Simplifikasi


Gegap gempita moderasi beragama pada masa Menag Gus Yaqut banyak diiringi letupan yang tidak produktif. Maksudnya seringkali komentar dan bahasa tubuhnya menyeret Gus sendir dibenci dan dicaci maki oleh sebagian komunitas umat Islam.


Dia seperti tidak menghindari nyeleneh terhadap simbul simbul dan budaya keislaman yag hidup di tengah masyarakat muslim Indonesia. Bahkan seringkali menyepelekan hal yang dipandang sakral. 


Kalau anda masih ingat terkait framing suara azan dan gonggongan anjing, suara zikir mengganggunya, itu sekedar satu dua contoh perilaku Gus Yaqut kala itu yang membuat dia makin populer sebagai tokoh kalangan muslim yang mensimplifikasi Islam.


Terus satu lagi, salam lintas agama yang digairahkan Yaqut, seperti wajib diucapkan oleh semua pejabat kemenag. Kebijakan salam lintas agama itupun bahkan memicu MUI mengeluarkan fatwa. Salam lintas agama hukumnya haram, demikian isi fatwa itu.


Kuat kesan bahwa “kelakar agama” itu dilakukan Menag Yaqut atas nama moderasi beragama. 


Bagi sebagian tokoh, termasuk umumnya kami yang menjalankan program tersebut di PTKIN menyadari betul bahwa ini sangat berbahaya. Kami umumnya berhati hati, dan di lapangan seringkali kami mencuri di belokan untuk meluruskan bahkan melawan dan menyesuaikan dengan konsep moderasi beragama yang sebenarnya. Karena letupan letupan Gus Yaqut tak sejalan dengan konsep moderasi beragama dari referensi yang dikeluarkan oleh kemenag sendiri.


Dengan Gus Yaqut umumnya para pegiat moderasi beragama, yang di lapangan, seringkali kelabakan. Ketabrak isu kiri kanan. Untungnya kami kuasai konsepnya, bahwa moderasi beragama bukan simplifikasi agama. Apalagi mencampur aduk ajaran satu agama dengan agama lainnya. 


Sang guru kami, Lukman Hakim Saifuddin (LHS) seringkali menegaskan, “emangnya siapa kita yang berani mengutak-atik ajaran inti (internum) Islam, itu hanya Allah yang berhak. Moderasi beragama hanya mempromosikan cara kita dalam beragama dan berinteraksi sesama manusia pemeluk agama (eksternum). Jadi konsepnya jelas tapi oleh oknum pejabat di kemenag sering dipertontonkan secara sebaliknya dan berlebihan.


Gus Yaqut mungkin mengemban visi politik Presiden Jokowi kala itu yang terkesan kurang ramah terhadap Islam. Hal ini dapat dimaklumi. Jokowi bahkan dicap sebagai anti Islam oleh media Australia. Jadi tentu Gus Yaqut menyesuaikan dengan itu.


Toleransi


Dari sudut pandang inilah kami pahami langkah sigap Menag Prof Nasar untuk menyetop penyimpangan kesan terhadap konsep dan program moderasi beragama.


Kita juga memahami bahwa Presiden Prabowo tidak memperlihatkan sikap anti agama. Tidak anti Islam. Bahkan Prabowo naik ke tampuk kekuasaan “pernah” dengan dukungan kuat dan totalitas kaum muslimin Indonesia.


Sosok Menag Prof Nasar juga kita pahami sebagai seorang cendekiawan muslim. Saya sempat beberapa waktu bersama di kepengurusan MPP ICMI, sejak bermarkas di Kebon Sirih sampai Warung Jati, Jakarta. Saya sangat mengenal sosok Prof Nasar yang bersih dalam keislaman dan keilmuannya. Terlebih ketika saya masuk UIN Syarif Hidayatullah sebagai dosen disana, Prof Nasar adalah Warek satunya.


Sikap menolak Menag Prof Nasar terhadap moderasi beragama gaya Gus Yaqut tentu masuk akal sehat saya dan saya ceritakan pandangan saya ke teman teman pegiat moderasi beragama di forum PTKIN.


Klir ini sangat bagus, dan kami ringan menerima kebijakan baru itu. Karena dengan kebijakan itu kita kembali ke konsep lama, toleransi antar umat beragama. Ini konsep lama yang dijalankan oleh kemenag dibawah berbagai menteri agama sebelumnya. Para pejabat kemenag pun — dari beberapa perbincangan saya dengan beberapa pejabat kemenag — sepertinya nyaman dan menguasai konsep ini dengan baik.


Kami sangat senang dan menyampaikan selamat dalam hati kami masing masing kepada Menag baru Prof Nasar. Ini tokoh yang tepat. 


Ambis Tokoh Agama


Setahun sejak dilantik Menag Prof Nasar menjadi pembicara pada satu konferensi di Vatikan Roma, 27 Oktober 2025. 


Menag Prof Nasar sepertinya diundang oleh Paus Fransiskus, yang sangat terkesan dengan pertemuan keduanya di Jakarta pada September 2024. 


Kala itu Prof Nasar masih imam besar masjid Istiqlal, viral mencium kening Paus Fransiskus dan dibalas Fransiskus dengan mencium tangan imam besar Nasar. Terkesan mereka berdua sangat saling menghormati. Tetapi di luar mulai terjadi cemoohan terhadap Prof Nasar.


UAS malah tegas menyebut “mencium kening pezina, pencuri, pembunuh, dan pelaku maksiat mungkin lebih baik dari pada mencium kening orang yang menentang Allah swt”.


Tapi Prof Nasar jalan terus, sepertinya tak terganggu dengan berbagai komentar sebagian umat Islam Indonesia. Tegar dan terus menebar konsep kedamaian dan cinta kasih antar manusia lintas pemeluk agama.


Menyita perhatian kuat demikian banyak orang di Indonesia, bahkan di dunia. Secara cepat Prof Nasar menjadi aset Indonesia terkemuka bidang keagamaan. Terbukti sebulan kemudian sejak kedatangan Paus Fransiskus ke Jakarta Prof Nasar dilantik menjadi Menag. Orang orang pun mulai terbelalak. 


Bulan April 2025 Menag Prof Nasar menerima undangan untuk berbicara di forum internasional untuk perdamaian, Daring Peace, di Vatikan yang direncanakan pada Oktober 2025 itu. Tapi Paus Fransiskus meninggal dunia pada 21 Aril 2025. Seperti diakui Prof Nasar bahwa berita Paus meninggal hanya beberapa jam setelah dia menerima undangan itu. 


Dalam acara itu di Vatikan Prof Nasar mendapat sambutan yang luar biasa. Salah satunya, seperti yang diakuinya sendiri, karena menunjukkan simpati yang kuat kepada mendiang Paus Fransiskus dan ia menyatakan saling menguatkan dalam persahabatan untuk mengembangkan damai dalam cinta dan harmoni. 


Rekaman video forum di Vatikan itu sepertinya kembali viral saat tulisan ini saya buat, yang menunjukkan jalan cerita Menag Prof Nasar bertindak sangat penting dalam forum itu.


Dari berita yang dapat dibaca forum itu tampaknya bukan forum negara negara tetapi forum lintas agama yang dihadiri tokoh agama seluruh dunia. Menag Prof Nasar adalah pejabat negara, bukan pejabat pemangku agama. Tetapi ia telah mampu masuk menjadi salah satu tokoh Islam dalam forum lintas agama itu. Ini prestasi internasional yang luar biasa.


Prof Nasar adalah pejabat negara. Satu satunya yang justified ia sebagai tokoh agama adalah selaku imam besar masjid Istiqlal. Namun dalam beberapa momentum yang mencuat ke media Prof Nasar tampak terkesan sebagai tokoh agama, Islam dalam hal ini.


Ini bermasalah terutama ketika ia membuat manuver dalam kapasitas menteri agama tetapi untuk substansi mewakili Islam. Akan blunder sebelum mendapat pandangan penuh dari representasi umat Islam. Prof Nasar pun dengan begini berpeluang menyelisihi pandangan asasi umat Islam Indonesia bila mengakui pandangan pribadi selaku tokoh agama dalam bingkai posisinya selaku menteri agama.


Kasus isu Natal bersama baru baru ini hampir membuat para tokoh Islam terjebak. Tetap isu itu digulir walau bertentangan dengan fatwa MUI 1981 yang berisi Natal bersama haram bagi umat Islam. Walau kemudian diklarifikasi bahwa Natal bersama yang dimaksud adalah untuk umat Katolik dan Protestan saja, tapi tak mudah membuat umat Islam dapat meyakini. 


Tokoh umat, Prof Didin Hafizhuddin misalnya, jelas mengharap agar Kemenag jangan bohong. Namun sepertinya kemenag memang melangsungkan acara rencana Natal bersama yang melibatkan umat lintas agama, termasuk Islam. 


Kedepan bila Prof Nasar akan kembali terpeleset membuat pernyataan seakan ia tokoh agama Islam, karena hanya merepresentasi kementerian agama, maka kemungkinan akan kembali menguras energi umat Islam untuk hal hal yang tidak perlu.


Kami di jajaran bawah siap berjuang untuk membangun dan mempromosikan toleransi antar umat beragama. Termasuk menjunjung konsep moderasi beragama dalam artinya yang benar sesuai konsep Islam wasathiyah seperti yang diajarkan antara lain oleh ulama Prof Yusuf Qardhawi. 


Namun kita akan lawan toleransi bila ia kebablasan. Baik bila ia mensimplifikasi islam, mencampuraduk ajarannya atau mendeskridit umatnya. 


Wallahu a’lam.


Banda Aceh, 27 Desember 2025


Penulis adalah pengamat toleransi dan moderasi beragama, imam besar masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry

×
Berita Terbaru Update