Oleh Saifuddin A. Rasyid
Al-Rasyid.Id |Israel termasuk negara produsen atau pengekspor kurma. Setidaknya enam puluh persen kurma di pasar global disuplai oleh Israel. Mungkin termasuk pasar Saudi Arabia dan Indonesia sebagai bagian dari konsumen kurma potensial di Asia.
Mudah dapat diakses beberapa merek kurma Israel yang bergelayutan di media. Disamping produk Israel lainnya.
Beberapa merek kurma kemasan asal perusahaan Israel ditengarai antara lain: carmel agrexco, hadiklaim, king solomon, jordan river, disert diamond, bomaja, delilah, mehadrin. Tentu banyak merek lainnya.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) meyarankan umat agar berhati hati dengan kode import jika dimulai dengan angka 729 yang tertera di kemasan kurma. Itu kode negara Israel.
Meskipun secara resmi besar kemungkinan produk kurma Israel dalam kemasan tidak ditemukan di pasar Indonesia. Tetapi baik juga kita waspada soal ini, terutama bagi umat Islam Indonesia yang membeli kurma di pasar luar, untuk oleh oleh misalnya.
Kurma yang ada di pasar dalam negeri kita umumnya didatangkan dari Mesir, Tunisia, Saudi Arabia, Yaman, Iran, Uni Emirat Arab, dan Palestina. Jadi selapis, aman.
Tetapi untuk kehati hatian boleh juga kita pertajam kecurigaan kurma Israel menempuh jalur ekspor melalui negara negara sahabat — dan atau yang dapat ditekan Israel yang ramah dengan Indonesia untuk mencapai kita sebagai pasarnya.
Kehati hatian ini penting mengingat Indonesia perlu menjaga komitmen terhadap perjuangan Palestina. Dengan tujuan ini MUI mengeluarkan fatwa nomor 83 tahun 2023 terkait sikap umat Islam Indonesia terhadap produk produk Israel.
Dalam fatwa itu MUI menyatakan haram bagi umat Islam membeli kurma hasil produksi Israel atau produk perusahaan yang terafiliasi dengan negara zionis itu. Ini sebagai bentuk dukungan kita kepada Palestina. Masyarakat diminta waspada terhadap ini.
Dikatakan juga bahwa substansi kurmanya halal, tetapi karena diproduksi oleh negara dan atau perusahaan yang terafiliasi dengan zionis yang menjajah Palestina maka dinyatakan haram.
*Manis Maknyus*
Sudah luas diketahui bahwa Israel memang kuat walau negaranya kecil. Kekuatan ekonominya terbilang sulit ditandingi oleh negara negara kawasan sekitar.
Israel diakui juga kuat dalam teknologi persenjataan, teknologi informasi, dan lainnya.
Israel juga dikisahkan punya bukti berhasil membangun pertanian berteknologi tinggi di hamparan gurun. Mengubah kawasan gurun yang kering menjadi dapat memberi kehidupan bagi warganya dengan sistem water treatment mengubah rasa air laut dan pemipaan air tawar berkapasitas besar.
Pengaruh Israel — sejak negara ini dibentuk pada tahun 1948 — di beberapa negara besar seperti Amerika Serikat juga diketahui kuat. Bahwa kedua negara ini saling berkelindan bagaikan dua sisi mata uang. Tidak dapat dipisahkan. Sama baik Amerika dipimpin Demokrat maupun Republik.
Israel bahkan ada pengalaman dan punya kekuatan untuk mempengaruhi publik Amerika dalam pemilihan Presiden dan berani menggertak pemimpin negara itu untuk tujuan dominasinya. Termasuk menggunakan arogansi dan veto Amerika Serikat di PBB.
Sebagai penjajah yang terus mengangkangi hak hak warga dan kemerdekaan Palestina Israel juga diketahui berpengalaman dan sangat kuat dalam diplomasi dan propaganda.
Ini tentu dilakukan untuk menahan tekanan internasional yang dialamatkan kepadanya sebagai dampak dari tindakan kekerasan tak berperikemanusiaan yang dilakukan khususnya di Palestina.
Kesepakatan dan sejumlah resolusi PBB yang dikenakanpun diabaikan Israel dengan dukungan penuh Amerika Serikat tanpa ada satu kekuatanpun dapat mencegahnya.
Kenyataan demikian kuat dan dahsyatnya Israel kemungkinan membuat pemimpin beberapa negara terperangah dan berhasrat menyerap kekuatan itu untuk kemajuan negaranya.
Bagaikan manis dan maknyusnya kurma bahwa keinginan sebuah negara untuk mencapai kemajuan dan kekuatan seperti yang dimiliki Israel tidaklah sulit dimengerti
Tetapi seperti pada kurma Israel yang diharamkan MUI bahwa substansi energi yang terkadung dalam rasa kagum kita pada kecerdasan dan kemajuan Israel tidaklah halal bagi kita sebagai bangsa Indonesia. Karena Israel adalah penjajah yang itu jelas bagaimana kita harus bersikap sesuai konstitusi dasar negara kita.
Mengagumi dan mengakui Israel serta bekerjasama dengannya untuk manfaat alih pengetahuan dan teknologi dari negara zionis itu untuk kemajuan Indonesia adalah langkah keliru. Kecuali negara itu mengakui hak hak warga dan negara Palestina.
Tekanan?
Langkah Indonesia melalui pidato bersejarah Presiden Prabowo di sidang DK PBB tahun lalu yang meminta dunia untuk melindungi hak hak Israel sangat mengejutkan. Apalagi permintaan itu disampaikan di tengah menguatnya pandangan pemimpin dunia untuk mendukung kemerdekaan Palestina.
Setidaknya 157 negara atau mewakili lebih 80 persen masyarakat internasional dari 193 negara anggota PBB mengakui kedaulatan negara Palestina. Hanya sisa 44 negara yang diam dan menolak.
Dari kenyataan itu dan ditilik dari perjuangan panjang Indonesia di forum internasional untuk memperjuangkan hak hak warga Palestina dan membantu Palestina merdeka sebenarnya sudah menemukan momentum yang sangat baik.
Memang menyesakkan warga bangsa ketika dalam momentum sepeti itu tetiba Indonesia berbicara hal yang berbeda. Bukan mendukung pandangan yang menguatkan Palestina tetapi justeru berdiri disisi Israel.
Seperti logika terbalik. Penjajah yang menghancurleburkan Gaza dan meniadakan hak hak warga dan menolak kedaulatan Palestina secara keseluruhan diposisikan sebagai pihak yang harus dilindungi keamanannya. Sementara Palestina yang sejatinya korban seakan diperlakukan sebagai pelaku kejahatan.
Inilah pola Indonesia yang beberapa kali kita lihat saat masyarakat berjuang di depan hukum. Korban kiminal berpeluang menjadi pelaku sementara pelakunya mendapat perlindungan dan perlakuan sebagai korban. Bahkan pelaku mendapat apresiasi misalnya kenaikan pangkat dari negara.
Dalam perkembangan seperti ini sangat wajar bila publik di dalam negeri sulit menerima logika ini diterapkan dalam konflik Palestina Israel. Mungkin masyarakat dunia juga bingung melihat kita.
Terlebih bagi warga Palestina. Mereka bersandar kuat pada Indonesia tetapi “kita” mendorong mereka terjerembap ke bawah hujan bombardir Israel. Sementara “kita” berpelukan dengan Israel dan saudara tua mereka Amerika Serikat, sambil kita jelaskan, “sabar sabar ya sekejap, saya sedang berjuang untuk Anda.” Memang sulit diterima akal sehat.
Dari narasi yang disampaikan para tokoh politik dan kaum terpelajar kalangan atas tanah air, memang dipahami pemerintah Indonesia ingin melakukan kebaikan kepada Palestina dengan berpihak ke Israel. Tetapi dari narasi yang disampaikan sebagian dengan mimik yang dipaksakan selalu ada pertanyaan yang tak terjawab. Ada apa sebenarnya di balik itu semua?
Adalah Indonesia ingin meredam keganasan Israel dari dalam? Bagaimana caranya?
Atau sebaliknya dengan begitu di board of peace khususnya justeru Indonesia yang akan diredam Israel dan Amerika? “Jangan terlalu berkicau di pentas Palestina.”
Apalagi board of peace tidak dicreate untuk Palestina, apalagi Gaza. Tetapi untuk menebar “perdamaian di seluruh dunia” dalam format yang diatur oleh Trump dan “wakilnya” Netanyahu.
Atau adakah kita terpaksa, karena tak ada pilihan? Mau atau tidak kita tersedot dalam kekuatan penjajah dan menjadi “bamper” Israel dan Amerika dalam berhadapan dengan Palestina dan negara negara pendukung kemerdekaan Palestina?
Atau adakah kita akan memainkan politik “rebus batu”untuk menenangkan penderita Palestina agar meyakini seakan sekejap lagi akan merdeka, yang penting bersabar dan menahan diri dari melawan agresor Israel? Akan segera ada hadiah merdeka yang akan diberikan Israel dan Amerika untuk Palestina? Tapi penuhi dulu syarat syarat dan hak hak zionis yang diminta Israel?
Atau adakah keharusan presiden Prabowo segera merapat ke Presiden Trump untuk menegosiasikan dan menutup langkahnya ke Indonesia agar tidak terjadi seperti di Venezuela, yang dicaplok Amerika, karena ada kerjasama rapi pergerakan untuk mengamankan Maduro dari dalam lingkungan pemerintahannya sendiri?
Wallahu a’lam.
Banda Aceh, 10 Februari 2026
(Penulis adalah Bendahara ICMI Aceh)
