Al-Rasyid.id - Tungkop| Masjid Jami’ Baitul Jannah Kemukiman Tungkop kembali menggelar ceramah Subuh pada 29 Ramadhan 1447 H / 19 Maret 2026 M, kali ini dengan penceramah Tgk. Jasmadi Ali, yang juga menjabat sebagai Sekretaris II BKM masjid tersebut dan dosen tetap pada Fakultas Psikologi UIN Ar-Raniry.
Dalam tausiyah bertema “Iman dan Taqwa sebagai Modal Memperoleh Keberkahan dari Allah SWT”, beliau menegaskan bahwa keberkahan hidup tidak dapat dipisahkan dari dua fondasi utama seorang muslim, yaitu iman dan taqwa.
Puasa sebagai Jalan Menuju Taqwa
Mengawali ceramah, Tgk. Jasmadi mengutip firman Allah dalam QS Al-Baqarah ayat 183 yang menjelaskan kewajiban puasa sebagai sarana membentuk pribadi bertaqwa. Ia menjelaskan bahwa dalam ayat tersebut terdapat dua predikat penting bagi seorang hamba: mukmin dan muttaqin.
Menurutnya, seseorang disebut mukmin apabila memenuhi tiga unsur:
- Membenarkan dalam hati,
- Mengikrakan dengan lisan,
- Mengamalkan dengan anggota badan.
Adapun untuk meraih derajat muttaqin, seorang hamba harus melaksanakan seluruh perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Puasa Ramadhan menjadi salah satu sarana utama untuk mencapai derajat tersebut.
Ramadhan Bulan Penuh Keberkahan
Dalam kesempatan itu, beliau juga mengingatkan bahwa Ramadhan disebut sebagai Syahrul Mubarak atau bulan yang penuh keberkahan. Hal ini sejalan dengan hadits Rasulullah SAW yang menyebutkan bahwa pada bulan Ramadhan pintu-pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.
Iman dan Taqwa Membuka Pintu Berkah
Mengutip QS Al-A’raf ayat 96, Tgk. Jasmadi menjelaskan bahwa keberkahan dari langit dan bumi akan diberikan kepada suatu negeri apabila penduduknya beriman dan bertaqwa. Sebaliknya, hilangnya iman dan taqwa akan menyebabkan tertutupnya pintu keberkahan tersebut.
Ia menekankan bahwa iman dan taqwa bersifat dinamis dapat naik dan turun sehingga keberkahan yang dirasakan dalam hidup seseorang juga mengikuti kondisi tersebut.
Tiga Tanda Kehidupan yang Diberkahi
Dalam penjelasannya, Tgk. Jasmadi menguraikan tiga indikator utama keberkahan menurut para ulama:
Pertama, sedikit menjadi banyak. Amal yang kecil namun dilakukan dengan ikhlas di bulan Ramadhan dapat bernilai besar di sisi Allah.
Kedua, banyak memberi manfaat. Harta, ilmu, dan umur baru disebut berkah apabila mampu memberi manfaat luas bagi diri sendiri dan masyarakat.
Ketiga, menghantarkan kepada ketaatan. Sesuatu yang berkah akan mendorong seseorang semakin dekat kepada Allah serta menjauhkannya dari perbuatan maksiat.
Beliau menegaskan bahwa keberkahan bukan sekadar banyaknya nikmat, tetapi terletak pada nilai manfaat dan dampak kebaikan yang dihasilkan dari nikmat tersebut.
Penutup dan Harapan di Akhir Ramadhan
Di penghujung tausiyah, Tgk. Jasmadi mengajak jamaah untuk menjadikan sisa Ramadhan sebagai momentum memperkuat iman dan taqwa agar ibadah yang dilakukan membawa keberkahan di dunia dan akhirat.
“Semoga puasa dan seluruh amal ibadah kita di bulan Ramadhan ini menjadi sebab turunnya keberkahan Allah SWT bagi kehidupan kita,” tutupnya.
