-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Putus Asa Trump Mengadu Domba

Minggu, 22 Maret 2026 | Maret 22, 2026 WIB Last Updated 2026-03-22T18:20:33Z


Oleh Saifuddin A. Rasyid


Al-Rasyid.id | Di tengah zig-zag narasinya yang tak teratur Presiden Trump sempat mengaku menyesal menyerang Iran. Dia tidak menyangka Iran kuat mengirim serangan balik terhadap Amerika dan memorak poranda Israel.


Di kesempatan lain dia mengklaim kemenangan atas Iran. Sudah tidak ada harapan Iran, dia kata. Sudah  dihancurkan semuanya, seluruh kekuatan dan pemimpinnya. Sehingga sudah tidak ada orang lagi di Iran yang layak diajak bicara. Every things gone katanya dengan pongah.


Jadi Trump sudah bisa mengakhiri perang dan memulai langkah untuk membangun kembali Iran dengan menetapkan pemimpin baru yang kredibel. Padahal iran masih bicara tak melayani negosiasi dan perang dapat berakhir bila Iran menghendaki.


Trump sudah terkesan bicara seperti orang yang kehabisan akal. Dia tak lagi mempertimbangkan fakta. Orang tak lagi percaya pada omongannya. Obama dalam satu celotehan AI menggampar muka Trump sambil mengatakan “stop lying it is not a game”. Seorang pejabat senior Demokrat di kongres bahkan menyebut terkait perang dengan Iran Trump berbohong tiap hari. 


Dia sudah putus asa. Beberapa hal berikut menyebabkan kita mudah memahami betapa tekanan yang dialami Trump pantas membuat dia putus asa.


Pertama, dia meminta Iran untuk gencatan senjata dan kembali ke meja negosiasi, persis dua hari setelah serangan mendadak Amerika dan Israel ke Teheran yang menewaskan Imam Ali Khamenei, dan dalam hitungan jam Iran membalas dengan gencar dan kekuatan yang berlipat ganda.


Israel yang mendapat kiriman rudal dan drone bertubi tubi pun menekan Trump agar meminta gencatan senjata. 


Ajakan gencatan senjata itu bukan saja tak digubris Iran tapi bahkan ditolak secara kasar dengan terus mengirim bom ke Tel Aviv dan pangkalan fasilitas Amerika di kawasan Teluk dan timur tengah. Juga menutup selat Hormus.


Langkah Indonesia — entah atas permintaan Trump atau murni inisiatif pemerintah kita — untuk membantu memediasi juga ditolak Iran. Iran bahkan mengirim pesan menghargai perasaan rakyat Indonesia yang membela Iran tetapi tak menghormati langkah pemimpinnya yang terkesan pro Amerika dan Israel. 


Kedua, Trump melihat sikap dingin para raja timur tengah yang mulai menyadari bahwa keberadaan pangkalan Amerika di kawasan timur tengah justeru bermasalah untuk keamanan mereka. Pangkalan militer paman Sam di negeri negeri mereka tidak untuk melindungi mereka, tidak memberi manfaat kecuali bagi Amerika. Namun tentunya Trump dan sekutunya Israel tidak membiarkan kesimpulan itu berkepanjangan. Mereka harus bekerja untuk kepentingan Amerika, dan juga Israel.


Ketiga, di dalam negeri Trump mendapat tekanan rakyat pembayar pajak yang keberatan uang negara dipakai Trump untuk berperang dengan Iran karena kerugiannya nyata. Juga tekanan keras para politisi di kongres. Yang paling membuat Trump pusing muncul reaksi kuat penolakan militer yang diperkuat masyarakat sipil untuk berperang di Iran demi  kepentingan Israel.


Keempat, keampuhan pertahanan Amerika dengan beberapa keunggulan terdepan persenjataan yang dibanggakan ternyata keok dilalap Iran. Kepongahan Amerika rontok. Trump memilih kabur dari arena perang dan menjauh dari jangkauan militer Iran.


Kelima, Iran serius mengendalikan selat Hormus yang membahayakan hegemoni Amerika dan Israel. Beberapa negara yang diminta Trump untuk membantu membuka blokade selat Hormus, baik dengan pendekatan politik maupun militer, tak direspon dengan baik. Walau Trump menekan dengan gayanya selaku pemimpin negara super power. Para pemimpin negara yang ditujunya menolak atau diam saja.


Keenam, Trump sesumbar akan kirim pasukan darat dan serangan ke Iran dengan kekuatan yang berlipat lipat ditantang Iran secara kasar. Silahkan datang kami sudah siap menunggu mereka, katanya. Bahkan Iran membuktikan terus membunuh tentara Amerika setiap harinya. 


Ketujuh, Trump akhirnya menyebut urusan selat Hormus diserahkan ke negara negara Eropa. Karena Amerika tidak membutuhkannya. Trump mengirim pesan tak butuh pada selat Hormus. Amerika bisa hidup tanpa Hormus. 


Pada sisi lain Iran menekan negara negara yang akan melintasi Hormus harus terlebih dahulu mengusir duta besar Amerika dan duta besar Israel dari negaranya. Tanpa itu tidak ada tanker negara yang berangkutan dapat akses melintasi.


Tampaknya Eropa mulai bermain politik dengan pernyataan kuat bahwa negara negara Eropa memihak ke Iran dalam perangnya dengan Amerika dan Israel. Sebagian seperti Perancis dan Spanyol sudah malah melangkah mendekat ke Cina yang membuat Trump kebakaran jenggot. Inggris pun yang mula longgar diancamnya.


Kedelapan, Trump tampak sangat terpukul dengan kabar Netanyahu tewas. Lebih sepekan kabar itu berseliweran bahwa PM Israel itu tewas dalam bombardir Iran di kantor bunkernya pada 12 Maret 2026. Tetapi tidak ada info resmi pemerintah Israel soal itu. Yang ada justeru penayangan video Netanyahu yang menerangkan dirinya masih hidup. Dalam satu video Netanyahu malah menyebut dirinya akan terus hidup. 


Sampai kemudian menjelang lebaran Idul fitri baru baru ini Trump mengucap belasungkawa atas kematian Netanyahu dan ada berita Israel menunjuk PM baru pengganti Netanyahu. Tapi pernyataan resmi Israel mengenai kematian sahabat dekat Trump itu sampai opini ini turun tetap belum ada.


Politik Adu Domba


Tampak mentok disana sini, Trump mulai mengalihkan perhatian publik ke peran timur tengah. Beberapa fasilitas Amerika yang diserang Iran — sebagai serangan balasan atas perang yag dimulai Amerika dan Israel — di teluk dan timur tengah diklaim sebagai serangan Iran ke negara tetangga. Satu dua serangan terhadap ladang minyak dan gas milik negara timteng malah diserang Israel — mungkin sebagai provokasi atas bendera Iran.


Para raja dan emir teluk dan timteng bicara mengancam menyerang Iran. Walau Iran menjelaskan tidak akan menyerang tetangga tetapi hanya fasilitas Amerika di negara mereka dan atau bila mereka melayani kepentingan Amerika. Intinya timur tengah memanas. 


Terhadap suasana begini tentu besar kemungkinan mesin propaganda Amerika memainkan peranannya yaitu untuk melindungi kepentingan Amerika. Bila pun Iran terus berperang ya biar lawannya negara negara teluk dan timur tengah — juga bila perlu terus dengan israel. Asal Amerika dapat melepaskan diri dari peperangan itu.


Timteng dan teluk tak hanya tegang denga Iran. Tetapi juga di internal mereka sendiri dalam menghadapi isu ini. 


Ditengah ketatnya “cekikan” Amerika yang mungkin sulit dilepas oleh para pemimpin negara negara timteng, juga muncul tokoh tokoh senior yang berani dari kalangan rakyat, walau suaranya nyempil, untuk menyampaikan arah kepentingan Amerika dan Israel di Timteng. Disadari mereka dengan baik, bahwa disamping mengangkangi sumber daya energi Amerika juga membutuhkan perang untuk jual senjata. Sementara zionis — dengan dukungan Amerika —  berkepentingan di kawasan itu untuk membangun Israel Raya.


Tetapi di balik itu semua para raja Arab mulai ketakutan akan momok sejarah imperium Persia. Bahwa revolusi Islam Iran dapat saja membabat kekuasaan para raja itu. Jelas dalam pandangan mereka dua raksasa, Israel plus Amerika dan Iran, sedang mengepung mereka.


Pelik memang. Tetapi tetap saja para raja itu harus berhati hati memainkan resiko antara dilalap Israel dan Amerika atau bekerjasama secara cerdas dengan Iran. Bila mereka termakan provokasi atau adu domba yang dijalankan Trump untuk berperang dengan Iran — dimana Rusia, Cina dan Korea Utara yang berkepentingan terhadap sumber daya energi Iran dibelakangnya — mereka berpotensi menghadapi kesulitan.


Zona Baru


Ada sinyalemen kemungkinan Indonesia menjadi zona baru perang selain Timteng. Analis menyatakan sudah ada potensi kemungkinan kearah itu, dari jalur pangkalan militer Amerika di India.


Indonesia diharap Trump untuk memainkan peran membantu memulihkan Israel yang terdesak di DKPBB terkait genosida  di Gaza. Suara Palestina merdeka tahun lalu kuat disamping kecaman terhadap Israel. 


Angin segar mengalir kuat dari Indonesia sejak September tahun lalu di sidang umum DKPBB, dan kemudian di BoP, yang menguatkan Israel sesuai harapan Trump. Indonesia serius dengan narasi yang sangat kuat membela hak hak Israel. Suara Indonesia penting selaku negara berpenduduk muslim terbesar dan rajin membela Palestina.


Sebenarnya, sesuai yang dijelaskan pemerintah, Indonesia sudah menghitung punya peluang dapat memainkan politik di BoP, tentu terkait isu Palestina. Namun serangan tiba tiba Amerika dan Israel ke Iran mefubabaemuanya dan membuat posisi kita menjadi sulit.


Menguat dukungan dan wacana di dalam negeri agar tindakan Amerika dan Israel menyerang Iran ini dijadikan alasan Indonesia keluar dari BoP karena tidak sejalan dengan kepentingan nasional kita.  


Tapi presiden sudah tiba pada kesimpulan untuk menolak wacana itu. Artinya Indonesia tetap pada komitmen memperjuangkan kemerdekaan Palestina dengan menjamin hak hak dan keamanan Israel. 


Pilihan ini tentu berat tetapi diyakini dapat menyelamatkan Indonesia dari potensi zona baru proyek perang Amerika dan Israel melawan kaum muslimin sesuai yang diisytiharkan pemerintahan Trump. 


Kita memang harus mencari jalan selamat walau resikonya tetap ada. Yaitu resiko beban bagi rakyat terutama bila Iran tetap bersikukuh menutup selat Hormus bagi negara negara pro Amerika dan Israel. Semoga Indonesia bukan negara pro Israel.


Wallahu a’lam.


Banda Aceh, 2 Syawal 1447.


(Penulis adalah bendahara ICMI Aceh)

×
Berita Terbaru Update