-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Terhadap Tiran Iran Toleran Indonesia Pilih Bertahan

Kamis, 16 April 2026 | April 16, 2026 WIB Last Updated 2026-04-17T00:41:27Z


Oleh Saifuddin A. Rasyid 


Al-Rasyid.id | Seperti kita ketahui pembicaraan Amerika dan Iran 11 April lalu di islamabad deadlock. Gagal. Tidak ada titik temu walau sudah bernegosiasi selama 21 jam. 


Sesungguhnya Iran memutuskan datang dengan membawa 10 poin syarat negosiasi itu sudah satu kemajuan yang mestinya dihargai Amerika. Tetapi yang terjadi malah sebaliknya. Iran datang dengan utuh sementara Amerika dengan angkuh.


Trump terus mengganggu dengan mengirim ancaman seakan tak ingin memberi ruang yang selesa untuk pembicaraan negosiasi itu. Dia mengancam akan melenyapkan Iran dan peradabannya, bahkan dia sebut secara eksplisit dapat menggunakan senjata nuklir. 


Sementara di meja negosiasi, menurut penjelasan yang kita baca dari menlu Iran, Amerika seperti tak hendak mengakui kedaulatan Iran. Dikabarkan mereka arogan dan cenderung melecehkan dengan merendahkan butir butir yang diajukan Iran. 


Seperti diberitakan sebelumnya bahwa untuk maju ke meja negosiasi Iran mengajukan prasyarat sepuluh poin — yang hal ini dapat mudah diakses di media. Terhadap sepuluh poin itu Presiden Trump mengatakan masuk akal yang membuat pemerintah Iran menemukan cukup syarat untuk datang ke Islmabad, meskipun sebagaimana penjelasan menlu Iran, mereka datang dengan zero trust. Tidak percaya samasekali degan Trump dan Amerika.


Benar saja pemerintah Amerika segera melecehkan sepuluh poin yang Trump bilang masuk akal itu, dengan mengatakan bahwa sepuluh poin itu sudah dibuang ke tong sampah. 


Yang menarik Iran tetap komit dengan langkah datang ke Islamabad dengan tujuan agar ada pembicaraan. Agar dunia tahu bahwa mereka tidak menolak tawaran baik. Namun mereka membawa sikap pemerintah yang solid, dan berkarakter. Mereka datang dengan semangat perlawanan terhadap kezaliman Amerika dan barat pada umumnya. Tapi mereka mau bicarakan sikap itu di meja perundingan.


Empat pejabat Iran melangkah dengan gerakan yang utuh dan terukur. Tak sedikitpun mencerminkan ketakutan dan kesan akan menyerah. Empat orang itu semuanya lelaki dewasa yang sudah paham apa kebutuhan bangsa yang mereka wakili.


Sementara tim Amerika yang dipimpin wapres JD Vence, seperti biasa dengan gaya Amerika, melangkah dengan angkuh mewakili  Amerika sebagai negara besar yang semestinya ditakuti dunia termasuk Iran. 


Perbedaan sikap dua representasi negara yang sangat bertolak belakang. Amerika seakan selaku pemenang datang untuk mendikte Iran dengan kekerasan untuk membangun kepentingan Amerika. Sementara di mata Iran Amerika adalah negara yang tidak memiliki cukup alasan untuk dihormati.


Pelajaran Kebohongan


Negara negara di dunia mendapat pelajaran berharga dari betapa keutuhan sebuah bangsa dapat tercermin dari sikap pemimpin yang menampilkan secara utuh kebutuhan dan arah yang dikehendaki bangsanya.


Trump dan yang tercermin dari tim yang datang ke Islamabad sudah terkesan terpisah dari mayoritas bangsa Amerika sejak ketegangan mereka bersama Israel dengan Iran. 


Tetapi sebagai bangsa yang diklaim terkuat dan terbesar di dunia, harus berjuang merebut kembali hati rakyat. Dia harus mengembalikan pamor selaku Presiden kuat yang layak memimpin Amerika. 


Dia harus membuktikan kepada dunia, khususnya kepada sekutunya di Eropa dan rakyat yang memprotes dirinya agar mundur dari jabatannya, serta melawan langkah impreach yang sedang disiapkan kongres. 


Trump harus berhasil mengembalikan pandangan publik dunia yang sudah membelakanginya. Terutama ketika Amerika akan menghadapi pemilu paruh waktu pada bulan November tahun ini. Trump dan partai republik tentu ketar ketir. Maka Trump harus berbohong untuk menutupi kekalahan perangnya dengan Iran. Trump memang sudah dikenal suka berbohong.


Inilah pelajaran dari Amerika yaitu pelajaran keangkuhan dan kebohongan. Selama empat tahun periode pertama kepresidennya, 2017-2021, menurut the Washington Post Fact Checker, Trump berbohong atau menyampaikan claim palsu sebanyak 30.537 kali. Rata rata 21 kali sehari. Berapa kali dia berbohong selama menjabat periode kedua ini, tentu akan ada data hitungannya.


Pelajaran Toleran


Sementara dari Iran dunia mendapat pelajaran toleransi sebagai bangsa yang bermartabat. Iran menjadi negara yang dipuji dunia akan keteguhan dan karakteristik bangsanya yang kuat dan  menginspirasi yang tumbuh dari tekanan panjang bangsa bangsa dan lembaga internasional. 


Dari info yang kita dapat terutama dari orang orang yang pernah tinggal di Iran, bangsa ini tertib rapi memiliki tujuan dan visi yang jelas. Bukan bangsa yang cengeng dan manja dengan fasilitas dan akses dapat bersandar pada negara besar, karena mereka memang tidak memilikinya setelah diembargo dan disanksi demikian lama.


Ketika para pejabat Iran mampu berdiri tegak dan menolak intimidasi kedaulatan dari barat dan Amerika, termasuk menolak tawaran mediasi Indonesia karena dipersepsi pro Israel dan Amerika, maka dengan mudah dapat kita pahami. Hanya kematian yang tersisa dari perjalanan bangsa dibawah segala tekanan yang telah mereka alami. Mereka sudah menjadi bangsa yang mandiri atas dasar satu prinsip dan sistem yang diikuti pemimpin dan rakyatnya.


Dalam kasus ketegangan saat ini Iran disebut toleran karena mereka tidak menyerang tetapi membela diri. Mempertahankan hak hak mereka yang direbut dan dihancurkan pihak lain. Islam juga mengajarkan hal itu, membela diri dan hak asasi kita wajib hukumnya. Bila mati dalam mempertahankan diri dan membela hak itu maka itu mati syahid.


Sementara Amerika, termasuk terutama Israel, sebagai penjajah yang secara paksa ingin megangkangi hak hak pihak lain bahkan dengan cara membunuh bangsa lain itu jelas perilaku radikal yang bertentangan dengan prinsip kemanusiaan. Yang kita dapat adalah pelajaran keburukan dari kacamta kemanusiaan.


Indonesia Belajar


Dari celah dua raksasa itu muncullah kita, Indonesia. Kita sedang belajar untuk menjadi apa. Banyak komentar bernada pertanyaan di media yang mengedepankan pandangan sisi negatif dari sikap Indonesia dalam menghadapi percaturan geopolitik saat ini.


Sikap baru Indonesia sudah jelas dalam langkah pemerintah kita melalui Board of Peace (BoP). Sikap ini tidak muncul oleh karena ketegangan Amerika Israel dengan Iran. Jauh sebelum itu.


Adapun ketika perang baru baru ini pecah Indonesia sudah ada di pihak Amerika dan Israel ketimbang Iran. Yaitu berada di pihak yang memperjuangkan Palestina, dan nasib negara lain yang sedang dan akan ditekan oleh Amerika dan Israel. Yaitu dalam kerangka yang disepakati bersama di BoP. 


Perjanjian dagang Indonesia Amerika yag diklaim seakan tidak seimbang, menguntungkan Amerika itu, juga menginspirasikan kecenderungan kerjasama Indonesia dengan Amerika sudah demikian mengarah dan tentu saja pemerintah kita sudah menghitung untung ruginya.


Saat perang berkecamuk Indonesia sebagai bangsa terpaksa diam. Tidak dapat mengambil langkah apapun untuk memberi dukungan atau kutukan. Kita mati langkah. Kita hanya terlihat dari jauh berdiri terpisah dari berbagai belahan dunia yag bersikap. Kita sudah belajar untuk menentukan sikap tetapi kita sudah meninggalkannya. Sementara terhadap pelajaran baru kita belum dapat memaknainya.


Masih dalam suasana saat belajar kita disuguhi satu eksperimen yaitu proposal militer Amerika untuk membuka akses ruang udara pertahanan Indonesia bagi pesawat tempur mereka. Memang masih proposal tetapi suda menguras energi nasional kita.


Mungkin masih akan banyak pelajaran lainnya untuk bangsa kita dari kancah geopolitik saat ini dan yang akan datang. Terutama saat teluk dan timur tengah akan terus tegang antara Iran dan Amerika plus Israel. 


Banyak analis mengatakan dominasi kekuatan dunia bergeser ke timur bila Iran berhasil membungkam mulut Amerika. Tetapi bila tidak, maka Israel yang akan menjadi raja.


Indonesia tentu sudah melihat kemana arah ini bergerak. Maka memilih bertahan mendekat dengan Amerika seperti pilihan negara negara teluk dan timur tengah besar kemungkinan akan lebih selamat. Karena Israel dan Amerika tak akan berhenti menyerang Iran dan sekutunya di timur walau dalam keadaan sudah kalah dan rejim berganti di Washington dan Tel Aviv. Tetapi satu pelajaran utama untuk kita, Indonesia tidak dapat lagi bebas bicara membela Palestina.


Wallahu a’lam


Jakarta, 16 April 2026


(Penulis adalah bendahara ICMI Aceh)

×
Berita Terbaru Update