-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Profesor dan Ulama Tidak Mungkin Menjauh dari Publik

Jumat, 05 Juni 2026 | Juni 05, 2026 WIB Last Updated 2026-06-05T13:33:44Z



Oleh Saifuddin A. Rasyid


Al-Rasyid.id | Sebelum menulis terlalu jauh saya ingin buat pengakuan terlebih dahulu bahwa saya bukan profesor dan juga bukan ulama. Tetapi saya hidup sehari hari dalam lingkungan keduanya. Jadi saya tahu betapa peran keduanya sangat penting dan dinanti masyarakat.


Opini ini awalnya dipicu oleh perbincangan tiga orang profesor yang melihat ekspektasi kehadiran para profesor meningkat di ranah publik. 


Prof Jarjani Usman (UIN Ar-Raniry) menyoroti sepertinya para profesor enggan menulis di media publik seperti surat kabar ketimbang jurnal ilmiah. 


Ide diulas cepat oleh Prof TM Jamil (USK), dalam potretonline.com 4 Juni 2026, bahwa itu pertanda kurang baik karena masyarakat bisa kehilangan arah. Prof katanya tidak sepatutnya diam dibalik kemewahan kampus yang sibuk denga angka angka administratif. Sementara masalah yang dihadapi masyarakat sejatinya dapat diselesaikan bila para profesor turun dengan keberanian.


Prof Azharsyah (UIN Ar-Raniry) juga dalam potretonline.com 4 Juni 2026, menyoroti sejatinya memang ada tanggung jawab publik yang diemban profesor tetapi juga perlu dipahami realitas sistem dan lingkungan akademik perguruan tinggi yang juga menyita waktu para profesor. 


Meski demikian Prof Azharsyah juga menilai sebenarnya format tridarma perguruan tinggi, terutama darma pengabdian kepada masyarakat, memberi ruang cukup yang dapat dikelola lebih produktif oleh para profesor dan akademisi.


Saya merasa ekspektasi terhadap peran profesor demikian tinggi terhadap solusi problema sosial sebuah keniscayaan. Demikian juga peran para ulama terhadap pembangunan dan anasir problema masyarakat. 


Para profesor dan ulama adalah lentera strategis kehidupan manusia. Peran keduanya sebagai manusia hebat lagi mulia bagaikan dua sayap pada pesawat terbang yang memberi keseimbangan dan membawa beban manusia.


Bagian dari Publik


Profesor dan ulama pada hakikatnya tidak mungkin menjauh dari kehidupan publik. Keduanya tumbuh, belajar, dan memperoleh pengalaman dari masyarakat. Mereka lahir dari lingkungan sosial yang sama, menyaksikan berbagai persoalan yang dihadapi umat, dan memiliki tanggung jawab moral untuk ikut memberikan pencerahan serta solusi bagi kehidupan bersama.


Di tengah berbagai persoalan sosial, ekonomi, budaya, maupun fenomena kemungkaran yang muncul dalam masyarakat, sering muncul anggapan bahwa para profesor dan ulama terlalu diam atau kurang menunjukkan sikap yang tegas. Padahal, ketenangan mereka tidak selalu berarti ketidakpedulian. Justru dalam banyak kasus, mereka memilih pendekatan yang lebih bijaksana, terukur, dan berorientasi pada perbaikan jangka panjang.


Profesor memiliki tanggung jawab akademik untuk melihat suatu persoalan secara objektif, berdasarkan data, penelitian, dan analisis yang mendalam. Mereka tidak terbiasa mengambil kesimpulan secara tergesa-gesa hanya karena dorongan emosi sesaat. Sementara itu, ulama memiliki tradisi keilmuan yang mengajarkan hikmah, kesabaran, dan dakwah yang santun. Mereka memahami bahwa perubahan sosial yang berkelanjutan tidak lahir dari kemarahan, melainkan dari kesadaran yang tumbuh dalam masyarakat.


Dalam sejarah peradaban Islam, para ulama besar tidak selalu memilih jalan konfrontasi. Mereka lebih sering menggunakan pendekatan nasihat, pendidikan, dialog, dan keteladanan. Demikian pula para cendekiawan dan profesor, yang berusaha memengaruhi kebijakan dan perilaku masyarakat melalui pemikiran, tulisan, penelitian, serta pendidikan generasi muda.


Bertindak Arif


Menghadapi kemungkaran memang merupakan kewajiban bersama. Namun cara menghadapinya dapat berbeda sesuai dengan kapasitas dan tanggung jawab masing-masing. 


Ada yang bergerak melalui regulasi, ada yang melalui pendidikan, ada yang melalui dakwah, dan ada pula yang melalui penguatan kesadaran publik. Semua itu merupakan bagian dari ikhtiar kolektif untuk memperbaiki keadaan.


Karena itu, masyarakat tidak perlu terburu-buru menilai bahwa profesor dan ulama telah menjauh dari persoalan umat hanya karena mereka tidak tampil dengan cara yang keras atau sensasional. 


Sering kali mereka bekerja dalam ruang-ruang yang tidak terlihat, membangun pemahaman, merawat persatuan, dan mencegah munculnya konflik yang lebih besar.


Di tengah era yang serba cepat dan penuh reaksi spontan, kehadiran profesor dan ulama yang mampu berpikir jernih, berbicara santun, serta bertindak arif justru semakin dibutuhkan. 


Mereka bukan penonton dari dinamika masyarakat, melainkan bagian integral dari masyarakat itu sendiri. Dengan ilmu, hikmah, dan keteladanan, mereka berupaya menghadirkan solusi tanpa memperkeruh keadaan, memperbaiki tanpa memecah belah, dan menuntun umat menuju kebaikan dengan cara yang bermartabat.


Membuka Ruang


Dalam menyelesaikan berbagai problema pembangunan, pemerintah sejatinya perlu membuka ruang yang lebih luas bagi para profesor dan akademisi untuk memberikan pandangan, masukan, serta rekomendasi kebijakan melalui kampus-kampus perguruan tinggi. 


Sebagai kelompok intelektual yang memiliki kapasitas keilmuan dan pengalaman penelitian yang memadai, para profesor dapat membantu pemerintah mengidentifikasi akar persoalan, memetakan potensi daerah, serta merumuskan solusi yang berbasis data dan kebutuhan masyarakat. 


Keterlibatan mereka tidak hanya penting pada tahap perencanaan, tetapi juga dalam proses pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi pembangunan.


Di sisi lain, pemerintah dan masyarakat juga penting meminta pandangan serta melibatkan para ulama dalam penyelesaian berbagai persoalan sosial kemasyarakatan. 


Ulama memiliki peran strategis sebagai pembimbing moral, penjaga nilai-nilai keagamaan, sekaligus tokoh yang dekat dengan masyarakat. 


Dalam banyak kasus, persoalan pembangunan tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis dan ekonomi, tetapi juga menyangkut dimensi etika, budaya, dan sosial yang memerlukan pendekatan persuasif dan nilai-nilai keagamaan. 


Karena itu, masukan para ulama dapat menjadi pertimbangan penting dalam merumuskan kebijakan dan menyelesaikan berbagai persoalan yang berkembang di tengah masyarakat.


Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan ulama merupakan modal sosial yang sangat berharga. 


Akademisi menghadirkan perspektif ilmiah dan analitis, sementara ulama memberikan panduan moral dan nilai-nilai kebijaksanaan yang hidup di tengah masyarakat. 


Dengan menggabungkan kekuatan ilmu pengetahuan dan nilai-nilai keagamaan, proses pembangunan dan penyelesaian masalah sosial akan lebih komprehensif, diterima masyarakat, serta mampu mewujudkan kemajuan yang berkeadilan dan berkelanjutan.


Wallahua’lam 


Banda Aceh, 5 Juni 2026


(Penulis adalah bendahara ICMI Aceh)

×
Berita Terbaru Update