Oleh Saifuddin A. Rasyid
Pagi pagi saya sudah singgah ngopi di SYR Coffee di kawasan Peunayong Banda Aceh.
“Langsung dari masjid, Sendirian?”, tanya Tgk Syukri Hamid, owner cafe SYR itu yang pagi Ahad ini penuh pengunjung. “Yang datang kesini memang penikmat kopi dan wisatawan”, kata teungku sang pemilik yang aura dayahnya terlihat kental pada dirinya.
Tgk Syukri hanya duduk sekejap dengan saya karena sedang bersiap mengantar puteranya ikut tes tahap akhir untuk masuk dayah Kuta Krueng.
Dia tampak gelisah dan menyampaikan bahwa minat masuk dayah salafiyah di kalangan masyarakat kita menurun. Lalu dia bagi statistiknya.
Memang benar secara nasional menurun sejak llima tahun terakhir. Dari 4.37 juta pada tahun 2020/21 turun terus menjadi 1,38 juta pada 2025/26. Singnifikan turunnya, 68,4 persen atau 2,99 juta santri dalam lima tahun.
Penyebabnya, salah satunya, adalah faktor ekonomi. Dampak pasca pandemi dan beban biaya hidup di pesantren (dayah) yang menjadi beban bagi keluarga.
Gambaran data nasional itu tentu tidak jauh berbeda dengan kecenderungan yang dihadapi dayah dayah salafiyah di Aceh. Meskipun perlu penelitian lebih lanjut untuk mendapatkan informasi yang tepat.
Cuman yang mungkin membedakan adalah Aceh memiliki kekuatan khas potensi yang dapat dikelola secara baik untuk mengubah grafik yang mengindikasikan penurunan itu menjadi kembali naik.
Keunggulan
Aceh memiliki banyak keunggulan yang tidak dimiliki daerah lain. Di antara berbagai potensi tersebut, terdapat dua kekuatan yang sangat khas dan telah menjadi bagian dari identitas masyarakat Aceh, yaitu dayah dan kopi.
Keduanya bukan sekadar lembaga pendidikan dan komoditas ekonomi, melainkan simbol peradaban yang mampu menginspirasi pembangunan manusia dan penguatan ekonomi masyarakat secara bersamaan.
Dayah adalah pusat pembentukan karakter, akhlak, dan keilmuan Islam. Sementara kopi dan warung kopi merupakan ruang interaksi sosial, pertukaran gagasan, sekaligus penggerak ekonomi rakyat.
Jika dayah membangun kualitas ruhani masyarakat, maka kopi dan ekosistemnya menggerakkan roda ekonomi masyarakat. Kombinasi keduanya dapat menjadi fondasi pembangunan Aceh yang berkarakter Islami sekaligus produktif.
Data Pemerintah Aceh menunjukkan bahwa hingga 2025 terdapat sekitar 1.827 dayah yang telah masuk dalam database resmi Pemerintah Aceh. Jumlah ini mencerminkan kuatnya tradisi pendidikan Islam di Aceh yang tersebar hingga pelosok gampong.
Di sisi lain, jumlah santri yang menempuh pendidikan di dayah mencapai ratusan ribu orang. Dataset Dinas Pendidikan Dayah Aceh menunjukkan jumlah santri dayah di Aceh berada pada kisaran lebih dari 200 ribu santri yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota.
Besarnya jumlah dayah dan santri tersebut menunjukkan bahwa Aceh memiliki modal sosial dan sumber daya manusia keagamaan yang sangat besar.
Dayah tidak hanya menghasilkan ulama, tetapi juga membentuk generasi yang memiliki kedisiplinan, kemandirian, semangat gotong royong, dan nilai-nilai moral yang kuat. Nilai-nilai inilah yang dibutuhkan dalam pembangunan masyarakat modern.
Sementara itu, kopi telah menjadi identitas ekonomi Aceh yang mendunia. Nama Gayo dikenal hingga pasar internasional sebagai salah satu kopi terbaik dunia.
Namun kekuatan kopi Aceh tidak hanya berada di kebun dan ekspor, tetapi juga pada budaya warung kopi yang tumbuh hampir di setiap kawasan permukiman. Aceh pun sudah dikenal sebagai negeri 1001 warung kopi.
Meskipun belum terdapat data resmi yang mencatat jumlah seluruh warung kopi di Aceh, berbagai kajian dan estimasi pelaku usaha menunjukkan jumlahnya mencapai ribuan unit, mulai dari warung kopi tradisional hingga kedai modern. Di kota Banda Aceh saja tercatat tidak kurang 854 kafe dan warung kopi.
Di kota-kota besar seperti Banda Aceh, Bireuen, Lhokseumawe, Takengon, dan Meulaboh, warung kopi telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat.
Rata-rata sebuah warung kopi dapat melayani puluhan hingga ratusan pengunjung setiap hari, tergantung lokasi dan kapasitas usaha.
Fenomena ini menunjukkan bahwa warung kopi bukan sekadar tempat menikmati minuman, tetapi telah berkembang menjadi ruang publik tempat masyarakat berdiskusi, bertukar informasi, merancang usaha, bahkan membangun jejaring sosial. Banyak gagasan bisnis, program sosial, hingga kerja sama ekonomi bahkan perbincangan politik dan pendidikan lahir dari meja-meja warung kopi.
Karena itu, dayah dan kopi seharusnya tidak dipandang sebagai dua dunia yang terpisah. Dayah dapat melahirkan sumber daya manusia yang berintegritas, sedangkan kopi dan ekosistem usahanya dapat menjadi sarana pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Santri yang dibekali ilmu agama sekaligus keterampilan kewirausahaan akan mampu menjadi pelaku ekonomi yang jujur, amanah, dan produktif.
Ke depan, Aceh dapat mengembangkan konsep “ekonomi berbasis nilai dayah”. Santri dan alumni dayah dapat dilibatkan dalam pengembangan koperasi, industri kopi, perdagangan halal, serta usaha mikro dan kecil.
Dengan demikian, nilai-nilai keislaman tidak hanya diajarkan di ruang belajar, tetapi juga hadir dalam praktik ekonomi sehari-hari.
Dayah mengajarkan kejujuran, kesabaran, dan tanggung jawab. Kopi mengajarkan kerja keras petani, kreativitas pelaku usaha, dan pentingnya jejaring sosial.
Ketika keduanya dipadukan, lahirlah model pembangunan yang tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperkuat akhlak dan jati diri masyarakat.
Aceh membutuhkan lebih banyak generasi yang berjiwa santri sekaligus bermental wirausaha. Generasi yang dekat dengan ilmu dan ulama, tetapi juga mampu menciptakan lapangan kerja dan menggerakkan ekonomi masyarakat.
Dalam konteks inilah, dayah dan kopi bukan sekadar tradisi, melainkan dua pilar peradaban Aceh yang dapat menjadi inspirasi bagi pembangunan masa depan.
Jika dayah adalah jantung spiritual Aceh, maka kopi adalah denyut ekonominya. Keduanya harus terus dirawat, diperkuat, dan disinergikan agar Aceh semakin maju, berdaya saing, dan tetap berakar kuat pada nilai-nilai Islam.
Spirit Buku De Atjehers
C. Snouck Hurgronje menerbitkan satu buku De Atjehers (Orang orang Aceh) pada tahun 1894. Sebagai rujukan antropologi buku dua jilid karya Snouck itu secara komprehensif membahas struktur dan perilaku sosial dan keagamaan orang Aceh.
Pada tahun 2018 dan lanjut berikutnya 2022 Saiful Akmal dan kawan kawan meluncurkan buku kumpulan tulisan, juga dengan judul De Atjehers, sebanyak tiga jilid.
De Atjehers karya Saiful Akmal dan kawan kawan itu mengambil spirit dari karya Snouck, terkait hubungan sosial keagamaan di masyarakat Aceh, dan menderive lebih menukik dan spesifik ke perilaku moderen dibawah tema “dari serambi makkah ke serambi kopi”.
Cerdas, buku itu mengupas habis gaya dan potensi masa depan budaya masyarakat Aceh yang islamis dengan (warung) kopi sebagai penyangga kekuatan sosial khasnya.
Dari celah perkembangan kopi Aceh dan budaya serta ekosistem yang bangkit di sekitarnya apa manuver yang dapat dikolaborasikan untuk membangun sinergi dengan kemajuan dayah di Aceh.
Manuver yang dimaksudkan dalam hal ini murni dari perspektif kewirausahaan, yaitu dari penikmat kopi hingga pelaku usaha, sejak petani sampai rantai distribusi akhir. Tidak mengintervensi program dan fasilitas yang disediakan pemerintah.
Memang, kopi selalu harum dan berenergi sedang dayah kita kagum namun perlu sinergi.
Wallahu a’lam.
Banda Aceh 7 Juni 2026
(Penulis adalah Imumsyik Masjid Baitul Jannah Kemukiman Tungkop Darussalam Aceh Besar, Bendahara ICMI Aceh)