-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Safety Dalam Islam: Spirit Ibadah Untuk Keselamatan

Rabu, 24 Juni 2026 | Juni 24, 2026 WIB Last Updated 2026-06-25T04:01:19Z

 


Opini Saifuddin A. Rasyid


Al-Rasyid.id | Di tengah meningkatnya perhatian dunia terhadap budaya keselamatan (safety culture), umat Islam sesungguhnya memiliki khazanah ajaran yang sangat kaya tentang keselamatan. 


Islam bukan hanya agama yang mengatur hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga mengatur bagaimana manusia menjaga dirinya, keluarganya, hartanya, lingkungannya, dan masyarakatnya dari berbagai bentuk bahaya. 


Dengan kata lain, konsep safety atau keselamatan merupakan bagian yang melekat dalam ajaran Islam.


Al-Qur’an secara tegas mengajarkan pentingnya menjaga keselamatan diri. Allah SWT berfirman: “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.”

(QS. Al-Baqarah: 195)


Ayat ini menjadi landasan bahwa seorang Muslim tidak boleh melakukan tindakan yang dapat membahayakan dirinya maupun orang lain. 


Dalam ayat lain Allah berfirman: “Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu.”

(QS. An-Nisa: 29)


Bahkan salah satu tujuan utama syariat Islam (maqashid al-syari’ah) menurut para ulama adalah hifzh al-nafs atau menjaga jiwa manusia. Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa syariat Islam diturunkan untuk menjaga lima hal pokok, yaitu agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. 


Dengan demikian, setiap tindakan yang bertujuan melindungi jiwa manusia merupakan bagian dari tujuan syariat.


Lembut Tak Tergesa-gesa


Nabi Muhammad SAW juga memberikan teladan yang sangat rinci tentang keselamatan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam ibadah. Salah satu contohnya adalah ketika seseorang terlambat menghadiri shalat berjamaah. 


Nabi bersabda: “Apabila shalat telah dimulai, maka janganlah kalian mendatanginya dengan berlari, tetapi datangilah dengan berjalan tenang. Apa yang kalian dapati maka ikutilah, dan apa yang tertinggal maka sempurnakanlah.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Hadis ini menunjukkan bahwa sekalipun seseorang khawatir tertinggal rakaat shalat berjamaah, ia tetap tidak diperkenankan berlari. 


Di balik perintah tersebut terdapat hikmah keselamatan yang luar biasa. Berlari menuju masjid dapat menyebabkan seseorang terjatuh, terpeleset, bertabrakan dengan orang lain, atau mengalami gangguan kesehatan akibat tergesa-gesa.


Begitu pula dalam gerakan shalat. Nabi SAW mengingatkan agar turun sujud dengan tenang dan tidak menjatuhkan tubuh secara kasar. 


Dalam hadis disebutkan: “Janganlah salah seorang di antara kalian menderum (turun sujud) seperti menderumnya unta.” (HR. Abu Dawud)


Pesan ini mengandung nilai adab sekaligus keselamatan. Gerakan yang benar dan terkendali menghindarkan benturan keras antara anggota tubuh dengan lantai, sekaligus menjaga kesehatan sendi, lutut, punggung, dan tulang belakang. 


Tidak mengherankan apabila banyak penelitian modern menunjukkan bahwa gerakan shalat yang dilakukan secara benar dan khusyuk memberikan manfaat positif bagi kesehatan fisik dan mental.


Dalam urusan makan dan minum pun Islam mengajarkan budaya safety. Nabi SAW menganjurkan umatnya untuk minum sambil duduk, membaca basmalah, dan tidak tergesa-gesa. 


Kebiasaan ini mengandung nilai kesehatan dan keselamatan. Minum dengan tenang membantu tubuh mengatur proses pencernaan secara lebih baik dan mengurangi risiko tersedak atau gangguan lainnya.


Doa-doa


Keselamatan juga menjadi bagian penting dalam doa dan dzikir seorang Muslim. Ketika hendak bepergian, kita diajarkan membaca doa safar yang memohon perlindungan Allah dari berbagai bahaya perjalanan. 


Ketika memulai pekerjaan, kita diajarkan mengucapkan “Bismillahirrahmanirrahim” sebagai bentuk permohonan keberkahan dan perlindungan kepada Allah.


Rasulullah SAW juga mengajarkan berbagai amalan untuk menghindari musibah dan malapetaka. Di antaranya adalah sedekah. Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa sedekah dapat menjadi sebab tertolaknya bala dan berbagai kesulitan hidup. 


Meskipun segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah, sedekah merupakan salah satu ikhtiar spiritual yang dianjurkan untuk mengundang perlindungan-Nya.


Demikian pula berbagai doa perlindungan yang diajarkan Nabi SAW, termasuk doa agar terhindar dari kebakaran, musibah mendadak, kecelakaan, dan berbagai bentuk bencana. 


Semua ini menunjukkan bahwa Islam tidak mengajarkan sikap pasrah tanpa usaha, melainkan menggabungkan ikhtiar lahiriah dan batiniah secara seimbang.


Bahkan salam yang setiap hari kita ucapkan sesama Muslim sesungguhnya mengandung makna keselamatan. Ketika kita mengucapkan: “Assalamu’alaikum”, artinya kita mendoakan agar saudara kita memperoleh keselamatan, ketenteraman, perlindungan, dan rahmat Allah SWT. 


Dengan demikian, salam bukan sekadar sapaan sosial, tetapi doa keselamatan yang terus hidup dalam budaya Islam.


Salah satu dzikir yang sangat dikenal dan dianjurkan setelah shalat adalah:


“Allahumma antas-salaam wa minkas-salaam wa ilaika ya’udus-salam fahayyinaa rabbanaa bis-salaam wa adkhilnal-jannata daaras-salam tabaarakta yaa dzal jalaali wal ikraam.”


Artinya: “Ya Allah, Engkaulah Yang Maha Sejahtera dan dari-Mulah segala keselamatan, kepadaMulah kembali (segala urusan) keselamatan, maka hidupkanlah kami ya Tuhan kami dalam keselamatan, dan masukkanlah kami kedalam syurgaMu yang penuh keselamatan, kebahagiaan dan kemuliaan, Maha Suci Engkau, wahai Pemilik Keagungan dan Kemuliaan.”


Dzikir ini mengandung filosofi yang sangat mendalam. Keselamatan sejati berasal dari Allah. Manusia dapat membangun sistem keselamatan terbaik, membuat teknologi paling canggih, dan menyusun prosedur safety paling lengkap, tetapi pada akhirnya keselamatan tetap merupakan karunia Allah SWT. 


Karena itu seorang Muslim harus memadukan upaya, doa, tawakal, ilmu pengetahuan, dan sikap disiplin dalam setiap aktivitasnya.


Jangan Short Cut 


Konsep safety dalam Islam bukan sekadar menghindari kecelakaan fisik. Ia mencakup keselamatan agama, keselamatan jiwa, keselamatan akal, keselamatan keluarga, keselamatan harta benda, dan keselamatan masyarakat. 


Oleh karena itu, budaya keselamatan sejatinya adalah bagian dari budaya Islam itu sendiri.


Di era modern, ketika angka kecelakaan lalu lintas dan kecelakaan kerja masih relatif tinggi, ajaran Islam tentang keselamatan menjadi semakin relevan. 


Umat Islam perlu memahami bahwa menggunakan alat pelindung diri, mematuhi aturan lalu lintas, mengikuti standar keselamatan kerja, melakukan inspeksi risiko, dan menghindari tindakan berbahaya merupakan bagian dari implementasi nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.


Bagi para pekerja di berbagai industri, mulai dari sektor konstruksi, energi, manufaktur, transportasi, pertambangan hingga perkantoran, keselamatan kerja harus menjadi prioritas utama. 


Jangan tergoda melakukan short cut, mengabaikan prosedur, atau mengambil risiko yang tidak perlu demi mengejar kecepatan dan keuntungan sesaat. 


Tidak ada pekerjaan yang begitu penting sehingga harus dilakukan dengan mengorbankan keselamatan.


Keselamatan bukanlah penghambat produktivitas, melainkan fondasi keberhasilan. Seorang pekerja yang pulang ke rumah dengan selamat setiap hari membawa kebahagiaan bagi istri, suami, anak-anak, orang tua, dan seluruh keluarganya. 


Karena itu, marilah kita membangun budaya safety sebagai bagian dari pengamalan ajaran Islam; memulai setiap aktivitas dengan doa, menjalankannya dengan ilmu dan disiplin, serta mengakhirinya dengan rasa syukur kepada Allah SWT. 


Dengan demikian, kita tidak hanya menjadi pekerja yang produktif, tetapi juga hamba Allah yang senantiasa menjaga dan menghargai nikmat keselamatan yang telah dianugerahkan-Nya. 


Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan keselamatan kepada kita semua, di dunia maupun di akhirat. Aamiin.


Wallahu a’lam


Banda Aceh, 10 Muharram 1448, 25 Juni 2026


(Penulis adalah akademisi/ imam besar masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry Banda Aceh, bendahara ICMI Aceh)

×
Berita Terbaru Update