Oleh: Saifuddin A. Rasyid
Al-Rasyid.id | Fajar baru saja menyingsing pagi itu ketika perahu yang kami tumpangi meninggalkan kawasan Iboih menuju laut lepas di sekitar Pulau Rubiah, Sabang. Ombak pagi begitu bersahabat. Langit biru perlahan memantulkan cahaya matahari di permukaan laut yang tenang.
Semua penumpang memandang ke satu arah dengan penuh harap. Seorang pemandu berkata pelan, “Insya Allah, sebentar lagi mereka datang.”
Tidak lama kemudian —walau sudah sempat berkeliling ke beberapa perkiraan lokasi—terdengar teriakan bahagia dari ujung perahu. Itu dia.
“Lumba-lumba…!”
Dalam hitungan detik, permukaan laut berubah menjadi panggung pertunjukan alam. Puluhan, bahkan kemudian tampak ratusan lumba-lumba muncul bergantian, melompat, menyelam, berenang sejajar dengan perahu, lalu menghilang sebelum muncul kembali di tempat lain.
Seolah-olah mereka sedang menyambut setiap tamu yang datang menikmati anugerah Allah di ujung barat Indonesia.
Nakhoda perahu yag kami tumpangi menelepon teman temannya yang juga sedang membawa pengunjung ke tengah lautan. Tak lama banyak perahu sudah datang dan berada di satu lokasi. Pertunjukan pun seperti makin menarik seperti para dolphin tahu dan memberi reaksi.
Takjub
Sulit menggambarkan rasa takjub itu dengan kata-kata. Tidak ada koreografi, tidak ada sutradara, namun semuanya tampak begitu serasi. Alam memperlihatkan salah satu pertunjukan terbaiknya.
Sabang memang dikenal sebagai salah satu kawasan yang masih menjadi habitat berbagai jenis lumba-lumba, terutama spinner dolphin (lumba-lumba pemintal) dan bottlenose dolphin (lumba-lumba hidung botol).
Perairan yang kaya ikan, sehat, dan berada di pertemuan arus Samudra Hindia dengan Selat Malaka menjadikan kawasan ini sebagai tempat mencari makan sekaligus jalur perlintasan berbagai mamalia laut.
Para peneliti memang belum memiliki angka pasti mengenai jumlah populasi lumba-lumba yang menetap di sekitar Sabang karena kelompok-kelompok tersebut terus bergerak mengikuti ketersediaan makanan.
Namun, berbagai survei menunjukkan bahwa dalam satu kawanan dapat berkumpul puluhan hingga lebih dari seratus ekor, dan pada musim tertentu beberapa kawanan dapat bergabung sehingga jumlah yang terlihat dari sebuah perahu wisata dapat mencapai ratusan ekor.
Pemandangan seperti inilah yang sering membuat wisatawan terpesona ketika mengikuti dolphin trip di Sabang.
Komunitas
Namun, daya tarik lumba-lumba tidak hanya terletak pada atraksinya.
Lumba-lumba merupakan salah satu mamalia dengan tingkat kecerdasan tertinggi di dunia. Mereka hidup dalam komunitas yang sangat kuat. Setiap individu memiliki peran.
Mereka berkomunikasi melalui berbagai bunyi dan siulan yang khas. Para ilmuwan bahkan menemukan bahwa setiap lumba-lumba memiliki “siulan khas” yang berfungsi layaknya nama untuk saling mengenali.
Yang lebih mengagumkan, mereka hampir tidak pernah meninggalkan anggota kelompok yang terluka. Ketika seekor lumba-lumba sakit atau kelelahan, beberapa anggota lain akan tetap berada di sisinya, membantu mendorong tubuhnya ke permukaan agar tetap dapat bernapas.
Anak-anak lumba-lumba diasuh bersama, dilindungi, dan diajarkan berbagai keterampilan hidup oleh induknya dan anggota kelompok lain.
Mereka berburu secara kolektif, saling berbagi tugas, menjaga anak-anak, menghindari bahaya bersama, bahkan melindungi sesama dari ancaman predator.
Dalam banyak pengamatan, lumba-lumba juga dikenal beberapa kali membantu manusia yang mengalami kesulitan di laut.
Bukankah ini pelajaran sosial yang sangat berharga?
Di tengah kehidupan modern yang semakin individualistis, lumba-lumba justru menunjukkan pentingnya kebersamaan. Mereka mengajarkan bahwa kekuatan sebuah komunitas bukan terletak pada siapa yang paling kuat, tetapi pada kemampuan saling menjaga.
Mereka tidak berlomba menjadi yang paling hebat. Mereka bergerak bersama. Mereka tidak meninggalkan yang lemah. Mereka tidak membiarkan anak-anak tumbuh sendirian. Mereka tidak membiarkan anggota kelompok menghadapi bahaya seorang diri.
Lebih Baik
Manusia yang dikaruniai akal dan petunjuk wahyu tentu seharusnya mampu membangun kehidupan sosial yang jauh lebih baik daripada itu. Islam sejak awal telah mengajarkan ukhuwah, tolong-menolong dalam kebajikan, kasih sayang, dan tanggung jawab terhadap sesama.
Apa yang tampak pada kawanan lumba-lumba seolah menjadi pengingat akan nilai-nilai tersebut dalam bentuk yang dapat kita saksikan langsung di alam.
Sabang sesungguhnya tidak hanya dianugerahi pantai yang indah, laut yang jernih, dan terumbu karang yang memukau.
Allah juga menghadiahkan kehidupan bawah laut yang luar biasa, termasuk kawanan lumba-lumba yang menjadi bagian dari keseimbangan ekosistem sekaligus daya tarik wisata yang bernilai tinggi.
Karunia ini harus dijaga. Laut tidak boleh dicemari. Penangkapan ikan yang merusak harus dihentikan. Aktivitas wisata pun perlu dilakukan secara bertanggung jawab agar lumba-lumba tetap merasa aman di habitatnya.
Kehadiran mereka bukan sekadar objek tontonan, melainkan amanah yang harus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Ketika perahu kami perlahan kembali ke dermaga, kawanan lumba-lumba itu semakin menjauh hingga akhirnya menghilang di balik ombak.
Namun rasa syukur tetap tinggal di dalam hati. Allah memperlihatkan kepada kami sebagian kecil tanda-tanda kebesaran-Nya melalui makhluk yang hidup bebas di lautan.
Maka, jika Allah telah menghadiahkan Sabang dengan kawanan lumba-lumba yang memesona, tugas manusia bukan hanya menikmatinya, tetapi juga menjaganya.
Sebab setiap karunia yang dipelihara akan menjadi berkah, sedangkan setiap nikmat yang diabaikan dapat berubah menjadi penyesalan.
Semoga pesona lumba-lumba Sabang terus menjadi saksi bahwa alam Aceh adalah amanah Allah yang harus dijaga dengan ilmu, rasa syukur, dan tanggung jawab bersama.
Wallahu a’lam
Sabang, 4 Muharram 1448, 19 Juli 2026
(Penulis akademisi FAH UIN Ar-Raniry, bendahara ICMI Aceh)
