Al-Rasyid.id | Pertanyaan terbesar yang harus kita jawab menjelang Indonesia Emas 2045 sesungguhnya bukanlah apakah bangsa ini memiliki sumber daya alam yang melimpah atau jumlah penduduk usia produktif yang besar. Pertanyaan yang jauh lebih mendasar adalah: karakter seperti apa yang sedang kita bangun pada generasi mudanya?
Sejarah berkali-kali membuktikan bahwa bangsa-bangsa besar tidak runtuh karena kekurangan kekayaan alam, tetapi karena melemahnya karakter manusia yang mengelolanya.
Peradaban maju lahir dari generasi yang terbiasa bekerja keras, menghargai waktu, berani mengambil risiko, serta memiliki ketahanan mental menghadapi berbagai kesulitan.
Generasi Instan
Indonesia sedang berada pada persimpangan sejarah. Bonus demografi yang diperkirakan mencapai puncaknya sekitar tahun 2045 dapat menjadi anugerah yang mengangkat bangsa ini menjadi negara maju.
Namun bonus itu juga dapat berubah menjadi beban apabila jutaan penduduk usia produktif tidak memiliki kompetensi, etos kerja, dan karakter yang memadai.
Kondisi tersebut semakin kompleks karena generasi muda saat ini memasuki dunia kerja pada era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), otomatisasi, robotika, dan ekonomi digital.
Berbagai laporan lembaga internasional menunjukkan bahwa banyak jenis pekerjaan rutin akan semakin berkurang, sementara pekerjaan baru justru menuntut kreativitas, kemampuan memecahkan masalah, berpikir kritis, kolaborasi, komunikasi, serta kemampuan belajar sepanjang hayat.
Dengan kata lain, masa depan bukan lagi milik mereka yang hanya memiliki ijazah, tetapi milik mereka yang mampu terus belajar, beradaptasi, dan menciptakan nilai tambah.
Di sisi lain, kita juga menyaksikan fenomena yang mengkhawatirkan. Sebagian anak muda tumbuh dalam lingkungan yang serba instan. Teknologi memang memberikan banyak kemudahan, tetapi tanpa disadari juga dapat melahirkan kebiasaan ingin memperoleh hasil secara cepat tanpa kesediaan menjalani proses yang panjang.
Tidak sedikit yang lebih akrab dengan layar telepon genggam daripada buku, lebih sering mengikuti tren media sosial daripada memperkaya wawasan, serta lebih mudah mengeluhkan keadaan daripada mencari solusi.
Tangguh
Fenomena lain yang menjadi perhatian banyak ahli adalah meningkatnya persoalan fatherless, yaitu berkurangnya keterlibatan ayah dalam proses pengasuhan anak, baik karena faktor pekerjaan, perceraian, maupun hubungan emosional yang tidak terbangun dengan baik.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kehadiran ayah bukan sekadar sebagai pencari nafkah, melainkan juga sebagai pembentuk karakter, disiplin, keberanian mengambil keputusan, dan ketangguhan menghadapi tekanan hidup.
Anak-anak yang tumbuh dengan pendampingan ayah dan ibu secara seimbang cenderung memiliki rasa percaya diri yang lebih baik, kemampuan mengendalikan emosi, serta kesiapan menghadapi tantangan kehidupan.
Karena itu, membangun generasi tangguh sesungguhnya dimulai dari keluarga yang mampu menanamkan kasih sayang sekaligus kedisiplinan.
Pendidikan juga perlu melakukan penyesuaian. Sekolah dan perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang menguasai teori. Dunia membutuhkan pribadi yang mampu bekerja dalam tim, memimpin, berkomunikasi, berwirausaha, mengelola konflik, serta terus belajar ketika ilmu yang dimiliki mulai usang.
Kampus harus menjadi tempat lahirnya para pencipta solusi, bukan sekadar pencetak pemburu ijazah.
Saya sering teringat kembali wajah-wajah para peserta pelatihan BMT dan BAIQI hampir tiga puluh tahun silam. Mereka datang dengan fasilitas yang jauh lebih sederhana dibandingkan mahasiswa sekarang.
Tidak ada internet berkecepatan tinggi, tidak ada telepon pintar, bahkan bahan bacaan pun masih sangat terbatas. Namun mereka memiliki satu kekayaan yang sangat mahal nilainya, yaitu semangat belajar dan keberanian mencoba.
Pelajaran itulah yang menurut saya tetap relevan hingga hari ini. Perubahan teknologi boleh berlangsung sangat cepat, tetapi hukum kehidupan tidak pernah berubah.
Orang-orang yang berhasil adalah mereka yang mau belajar lebih banyak, bekerja lebih keras, dan bertahan lebih lama ketika menghadapi kesulitan.
Allah Swt. mengingatkan dalam Al-Qur’an: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11).
Ayat ini menegaskan bahwa perubahan sosial selalu berawal dari perubahan karakter individu. Tidak ada masyarakat yang maju hanya karena menunggu bantuan. Kemajuan selalu lahir dari ilmu, ikhtiar, disiplin, dan kesungguhan.
Rasulullah SAW juga memberikan dorongan yang sangat kuat agar umat Islam menjadi pribadi yang tangguh. Beliau bersabda, “Mukmin yang kuat lebih Allah cintai daripada mukmin yang lemah, meskipun pada keduanya terdapat kebaikan.” (HR. Muslim).
Kekuatan yang dimaksud bukan hanya kekuatan fisik, tetapi juga kekuatan iman, ilmu, mental, akhlak, dan kemampuan memberi manfaat bagi orang lain.
Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa ilmu yang tidak melahirkan amal hanyalah kebanggaan yang kosong. Sebaliknya, amal yang dibangun di atas ilmu akan melahirkan kematangan jiwa dan kemuliaan hidup.
Karena itu, belajar tidak boleh berhenti di ruang kelas, tetapi harus menjelma menjadi karakter dalam kehidupan sehari-hari.
Ibnu Athaillah As-Sakandari dalam Al-Hikam mengajarkan agar manusia tidak berputus asa ketika hasil belum tampak sesuai harapan. Tugas manusia adalah berikhtiar sebaik-baiknya, sedangkan hasil akhirnya berada dalam ketentuan Allah.
Pesan ini mengajarkan optimisme sekaligus kerendahan hati: bekerja keras tanpa merasa paling hebat, dan bertawakal tanpa menjadi pasif.
Sementara itu, Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah mengingatkan bahwa kemalasan adalah penyakit yang perlahan membunuh cita-cita. Orang yang menunda pekerjaan hari ini sesungguhnya sedang mengurangi kesempatan dirinya sendiri pada masa depan.
Imam Asy-Syafi’i pun berpesan bahwa siapa yang tidak sanggup merasakan pahitnya belajar pada masa muda akan merasakan pahitnya kebodohan sepanjang hidupnya.
Nasihat para ulama itu terasa semakin penting pada masa sekarang. Di tengah derasnya arus informasi dan kemudahan teknologi, godaan terbesar generasi muda bukan lagi semata-mata kemiskinan materi, melainkan kemiskinan tekad, kemiskinan disiplin, dan kemiskinan cita-cita.
Bangsa ini membutuhkan lebih banyak anak muda yang berani berkeringat daripada sekadar pandai berkomentar, yang tekun membaca daripada hanya menggulir layar, yang siap menciptakan lapangan kerja daripada sekadar menunggu lowongan pekerjaan.
Khulashah
Pada akhirnya, saya kembali teringat pesan yang secara tidak langsung diajarkan Prof. M. Amin Aziz ketika menghadiahkan buku The Magic of Thinking Big kepada saya tiga puluh tahun yang lalu.
Beliau tidak sekadar meminta saya membaca sebuah buku motivasi. Beliau sedang mengajarkan bahwa tugas seorang pendidik adalah membangunkan cara berpikir, memperluas cakrawala, dan menumbuhkan keberanian untuk bermimpi besar sekaligus bekerja keras mewujudkannya.
Pelajaran itu tetap relevan hingga hari ini. Kita boleh mewariskan harta kepada anak-anak kita, tetapi harta dapat habis. Kita boleh mewariskan jabatan, tetapi jabatan akan berakhir.
Yang paling berharga untuk diwariskan adalah karakter: kejujuran, keberanian, disiplin, tanggung jawab, semangat belajar, dan daya juang.
Semoga kaum muda Muslim, khususnya para sarjana yang baru menyelesaikan pendidikan tinggi, mampu mengelola kehidupan mereka secara mandiri, tidak bergantung kepada orang tua, tidak menjadikan keadaan sebagai alasan untuk menyerah, serta tidak tumbuh menjadi beban bagi keluarga maupun masyarakat.
Sebaliknya, semoga mereka tampil sebagai generasi yang percaya kepada pertolongan Allah, berani berpikir besar, bekerja dengan sungguh-sungguh, menciptakan peluang di tengah kesulitan, dan menghadirkan manfaat yang luas bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.
Sebab, sebagaimana diingatkan David J. Schwartz, masa depan tidak ditentukan oleh besarnya tantangan yang kita hadapi, melainkan oleh besarnya keyakinan, keluasan cara berpikir, dan keberanian kita melangkah.
Dan dalam perspektif Islam, setiap langkah yang diniatkan sebagai ibadah akan bernilai di sisi Allah SWT, sekaligus menjadi bekal membangun peradaban yang lebih bermartabat.
Wallahu a’lam
Banda Aceh 27 Muharram 1448, 12 Juli 2026
(Penulis akademisi UIN Ar-Raniry Banda Aceh)
