-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Ketika Jemari Menjadi Lisan (3) Menjadikan Media Sosial sebagai Amal Jariyah

Jumat, 17 Juli 2026 | Juli 17, 2026 WIB Last Updated 2026-07-17T15:15:51Z

 


Oleh: Saifuddin A. Rasyid


Al-Rasyid.id | Setiap kali membuka media sosial, kita sesungguhnya sedang memasuki sebuah ruang publik yang sangat luas. Di ruang itu, jemari kita telah mengambil alih fungsi lisan. 


Apa yang dahulu hanya terdengar oleh beberapa orang, kini dapat dibaca oleh ribuan, bahkan jutaan manusia. Apa yang dahulu hilang bersama berlalunya waktu, kini tersimpan dalam jejak digital yang sulit dihapus.


Karena itu, media sosial bukan sekadar tempat berbagi kabar, tetapi juga tempat menabung amal atau mengumpulkan dosa. 


Setiap kalimat yang kita tulis akan menjadi saksi. Ia dapat menjadi pahala yang terus mengalir, atau sebaliknya menjadi beban yang terus bertambah selama tulisan itu masih dibaca dan dibagikan.


Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa siapa yang mengajak kepada kebaikan akan memperoleh pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. 


Sebaliknya, siapa yang mengajak kepada keburukan akan memikul dosa orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun. 


Hadis ini terasa semakin relevan di era digital. Sebuah unggahan yang menginspirasi salat, sedekah, membaca Al-Qur’an, menghormati orang tua, atau menebarkan ilmu dapat menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir. 


Sebaliknya, satu unggahan yang berisi fitnah, ujaran kebencian, hoaks, atau maksiat juga dapat menjadi dosa jariyah yang terus membebani penulisnya.


Jangan Anggap Remeh


Inilah mengapa seorang Muslim tidak boleh memandang remeh aktivitas mengetik di layar ponsel. Satu sentuhan pada tombol “kirim” mungkin hanya memerlukan beberapa detik, tetapi dampaknya bisa berlangsung bertahun-tahun. 


Kita sering berhati-hati ketika berbicara di depan banyak orang, tetapi justru lalai ketika menulis di media sosial. Padahal, audiens media sosial sering kali jauh lebih besar daripada jamaah di sebuah masjid atau peserta dalam sebuah seminar.


Al-Qur’an memberikan pedoman yang sangat indah tentang etika berkomunikasi. Selain qaulan sadidan (perkataan yang benar), Allah juga mengajarkan qaulan baligha (perkataan yang membekas), qaulan ma’rufa (perkataan yang baik), qaulan karima (perkataan yang mulia), qaulan layyina (perkataan yang lembut), dan qaulan maysura (perkataan yang mudah dipahami serta menyenangkan). 


Keenam prinsip ini bukan hanya untuk komunikasi lisan, tetapi juga sangat relevan dalam komunikasi digital.


Bayangkan jika setiap unggahan kita memenuhi enam prinsip tersebut. Informasinya benar, bahasanya santun, isinya bermanfaat, disampaikan dengan hormat, tidak kasar, mudah dipahami, dan memberikan harapan kepada pembaca. Media sosial tentu akan berubah menjadi ruang yang lebih sehat, lebih teduh, dan lebih mencerdaskan.


Sebaliknya, banyak konflik hari ini bermula bukan dari perbedaan pendapat, tetapi dari cara menyampaikan pendapat. Kata-kata yang merendahkan, sindiran yang menyakitkan, ejekan yang dipublikasikan, atau komentar yang menghina sering kali lebih melukai daripada perbedaan pandangan itu sendiri. 


Tidak sedikit persahabatan yang retak, keluarga yang renggang, bahkan masyarakat yang terbelah karena jemari yang tidak dikendalikan oleh hati dan akal sehat.


Tabayyun


Di sinilah pentingnya budaya tabayyun sebelum membagikan informasi. Tidak semua yang viral adalah benar. Tidak semua yang banyak dibagikan layak diteruskan. Tidak semua yang sesuai dengan perasaan kita adalah fakta. 


Seorang Muslim dituntut untuk memverifikasi informasi sebelum menyebarkannya, sebagaimana perintah Allah dalam Surah Al-Hujurat ayat 6. Prinsip ini semakin penting di tengah derasnya arus informasi yang sering kali bercampur antara fakta, opini, manipulasi, dan propaganda.


Media sosial juga hendaknya dipandang sebagai ladang dakwah dan pendidikan. Dakwah hari ini tidak selalu dilakukan dari atas mimbar. Ia dapat dilakukan melalui tulisan yang menguatkan hati, kutipan yang mengingatkan kepada Allah, kisah inspiratif yang membangkitkan semangat, ilmu yang bermanfaat, atau sekadar kalimat yang menghibur orang yang sedang bersedih. 


Terkadang satu kalimat sederhana yang kita tulis mampu mengubah cara pandang seseorang terhadap hidupnya.


Karena itu, sebelum menekan tombol “unggah”, ada baiknya kita bertanya kepada diri sendiri: apakah tulisan ini mendekatkan orang kepada kebaikan atau justru menjauhkannya? 


Apakah ia menenangkan atau memanaskan suasana? Apakah ia akan menjadi amal jariyah atau justru dosa yang terus mengalir?


Pertanyaan-pertanyaan sederhana ini dapat menjadi rem bagi jemari kita. Sebab, teknologi berkembang jauh lebih cepat daripada kemampuan manusia mengendalikan dirinya. Kecanggihan digital hanya akan membawa manfaat apabila disertai dengan kematangan akhlak.


Khulashah


Pada akhirnya, yang membedakan seorang Muslim di dunia digital bukanlah jumlah pengikut, banyaknya tanda suka, atau ramainya komentar. Ukuran keberhasilan bukanlah viral, melainkan bernilai di sisi Allah. 


Sebab, bisa jadi sebuah tulisan yang hanya dibaca oleh sedikit orang justru menjadi penyebab datangnya pahala yang tidak pernah terputus. 


Sebaliknya, tulisan yang ditonton jutaan orang belum tentu bernilai jika isinya jauh dari petunjuk dan kemaslahatan.


Marilah kita menjadikan media sosial sebagai kebun amal yang terus berbuah. Jadikan setiap huruf yang diketik sebagai sedekah ilmu, setiap kalimat sebagai pengingat kebaikan, dan setiap unggahan sebagai warisan akhlak yang akan terus hidup setelah kita tiada. 


Ketika kelak lisan telah terdiam dan jemari tak lagi mampu bergerak, semoga jejak digital yang kita tinggalkan tetap berbicara—bukan sebagai saksi yang memberatkan, tetapi sebagai amal saleh yang menerangi perjalanan menuju Allah Swt.


Itulah hakikat terdalam ketika jemari telah menjadi lisan: bukan sekadar mampu berbicara kepada dunia, tetapi mampu menghadirkan manfaat yang terus mengalir hingga akhir usia, bahkan setelah usia itu berakhir.


Wallahu a’lam 


Banda Aceh, 2 Safar 1448, 17 Juli 2026


(Penulis adalah akademisi prodi IP FAH UIN Ar-Raniry, penasehat IPI Aceh, bendahara ICMI Aceh)

×
Berita Terbaru Update