Al-Rasyid.id | Banda Aceh – Di tengah maraknya penyebaran hoaks, disinformasi, perundungan (bullying), dan ujaran kebencian di media sosial, umat Islam diingatkan untuk menjadikan konsep qaulan sadida sebagai pedoman dalam setiap bentuk komunikasi, baik secara lisan maupun melalui media digital.
Pesan tersebut disampaikan Wakil Dekan I Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Dr Nazaruddin Musa, PhD, yang juga Ketua Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) Aceh, saat menyampaikan kuliah tujuh menit (kultum) seusai salat Zuhur berjamaah di Masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry, Rabu (15/7/2026) bertepatan dengan 1 Safar 1448 Hijriah.
Mengawali tausiahnya, Nazaruddin mengajak jamaah merenungkan firman Allah SWT dalam Surah Al-Ahzab ayat 70-71 yang memerintahkan orang-orang beriman agar bertakwa kepada Allah dan senantiasa mengucapkan perkataan yang benar (qaulan sadida).
Menurutnya, kualitas komunikasi seseorang memiliki hubungan erat dengan kualitas amalnya. Hal itu ditegaskan Allah melalui janji-Nya bahwa orang yang menjaga ucapannya akan diperbaiki amal-amalnya dan diampuni dosa-dosanya.
“Qaulan sadida bukan hanya berarti berkata benar, tetapi juga mampu meluruskan kekeliruan, memperbaiki kesalahpahaman, menguatkan persaudaraan, serta tidak menimbulkan perpecahan di tengah masyarakat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, secara etimologis kata sadida berasal dari akar kata yang bermakna menutup celah, meluruskan, memperbaiki, dan mengokohkan. Karena itu, komunikasi dalam perspektif Islam tidak cukup hanya benar secara isi, tetapi juga harus membawa manfaat dan menghadirkan solusi.
Menurut Nazaruddin, tantangan komunikasi saat ini semakin besar karena masyarakat hidup di era digital. Ucapan tidak lagi hanya disampaikan melalui lisan, tetapi juga melalui tulisan di berbagai platform seperti WhatsApp, Facebook, Instagram, TikTok, hingga X. Oleh sebab itu, setiap informasi yang ditulis, dibagikan, maupun diteruskan harus dipastikan terlebih dahulu kebenaran dan dampaknya.
Untuk menghadapi tantangan tersebut, ia menekankan pentingnya literasi komunikasi digital yang bertumpu pada empat pilar, yaitu digital skills (kecakapan digital), digital ethics (etika digital), digital safety (keamanan digital), dan digital culture (budaya digital). Keempat pilar tersebut menjadi fondasi agar masyarakat mampu memanfaatkan teknologi secara cerdas, santun, aman, dan bertanggung jawab.
Nazaruddin juga mengutip hasil penelitian mengenai konsep qaulan sadida dalam komunikasi publik yang menyebutkan tiga dimensi utama, yaitu dimensi epistemologis yang menuntut setiap informasi berbasis fakta dan data yang valid, dimensi etis yang mengingatkan bahwa setiap ucapan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT, serta dimensi pragmatis yang menekankan penggunaan bahasa yang jelas, mudah dipahami, dan sesuai dengan karakter audiens.
Menurutnya, penerapan konsep qaulan sadida merupakan langkah preventif yang efektif dalam menghadapi berbagai persoalan komunikasi digital, mulai dari penyebaran hoaks, misinformasi, disinformasi, perundungan di sekolah, hingga budaya prank yang merugikan orang lain.
“Di era digital, bukan hanya lisan yang harus dijaga, tetapi juga jemari. Apa yang kita tulis dan bagikan akan meninggalkan jejak serta menjadi bagian dari pertanggungjawaban kita di hadapan Allah SWT,” katanya.
Nazaruddin mengajak seluruh jamaah menjadikan media digital sebagai sarana menyebarkan ilmu, kebaikan, dan persaudaraan, bukan sebaliknya menjadi ruang untuk menyebarkan fitnah, kebencian, maupun permusuhan.
Ia menutup tausiahnya dengan mengingatkan kembali janji Allah SWT dalam Surah Al-Ahzab ayat 71 bahwa orang yang menjaga ucapannya akan memperoleh dua anugerah besar, yakni diperbaiki amal-amalnya dan diampuni dosa-dosanya.
Kultum Zuhur di Masjid Fathun Qarib merupakan agenda rutin yang dilaksanakan setiap Rabu oleh UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Kegiatan tersebut menjadi media penguatan nilai-nilai keislaman bagi sivitas akademika sekaligus ruang refleksi untuk menghadirkan ajaran Islam yang moderat, berakhlak mulia, dan responsif terhadap berbagai persoalan kehidupan, termasuk tantangan komunikasi di era digital.
Laporan Saif
