Oleh: Saifuddin A. Rasyid
Al-Rasyid.id | Belakangan ini, ruang digital kita terasa semakin gaduh. Bukan karena kurangnya informasi, melainkan karena semakin banyak orang merasa bebas mengatakan apa saja tanpa mempertimbangkan kebenaran maupun dampaknya. Kebohongan diproduksi, fitnah disebarkan, ujaran kebencian dinormalisasi, dan kata-kata kasar dilontarkan seolah-olah menjadi bagian dari kebebasan berekspresi.
Yang lebih memprihatinkan, sasaran makian tidak lagi hanya sesama warga, tetapi juga para ulama, guru, tokoh masyarakat, bahkan orang tua. Ironisnya, sebagian pelaku adalah mereka yang mengaku muslim.
Kegelisahan itu semakin terasa ketika media sosial telah menjadi ruang perjumpaan utama masyarakat. Dalam hitungan detik, sebuah unggahan dapat menjangkau ribuan orang. Sebuah komentar yang ditulis tanpa berpikir dapat melukai banyak hati, memecah persaudaraan, bahkan merusak nama baik seseorang.
Di era digital, jemari telah mengambil peran lisan. Apa yang dahulu hanya terucap di satu majelis, kini dapat tersebar ke seluruh dunia hanya dengan sekali menekan tombol “kirim”.
Kemajuan Akhlak
Di tengah kegaduhan itulah saya teringat pesan yang disampaikan Dr. Nazaruddin Musa, Ph.D., Wakil Dekan I Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry Banda Aceh sekaligus Ketua Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) Aceh, dalam kultum Zuhur di Masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry pada Rabu, 15 Juli 2026. Beliau mengajak jamaah kembali kepada salah satu prinsip agung Al-Qur’an, yaitu qaulan sadidan—berkata benar, jujur, lurus, dan bertanggung jawab.
Pesan tersebut seakan menyambung dengan keprihatinan yang beberapa hari sebelumnya disampaikan Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh, Tgk. H. Faisal Ali atau Abu Sibreh, dalam Safari Subuh Sabtu di Masjid Al-Makmur Sibreh, Aceh Besar.
Beliau menyoroti gejala semakin mudahnya sebagian orang mencaci, memfitnah, dan menyebarkan kebencian melalui media sosial. Padahal, Islam mengajarkan bahwa kehormatan seorang muslim harus dijaga, sementara lisan merupakan amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban.
Kedua tausiah tersebut sesungguhnya menjadi cermin keadaan kita hari ini. Kemajuan teknologi ternyata tidak selalu diikuti oleh kemajuan akhlak. Kita memiliki telepon pintar, tetapi belum tentu memiliki kebijaksanaan dalam menggunakannya.
Kita mampu mengirim pesan dalam hitungan detik, tetapi sering lupa memikirkan akibatnya bertahun-tahun kemudian. Padahal, setiap kalimat yang keluar dari mulut maupun dari jemari akan kembali kepada diri kita sebagai amal yang dicatat oleh Allah SWT.
Al-Qur’an telah memberikan pedoman yang sangat jelas. Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar (qaulan sadidan). Niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh ia memperoleh kemenangan yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 70–71).
Ayat ini menarik karena Allah tidak hanya memerintahkan orang beriman untuk bertakwa, tetapi langsung menghubungkannya dengan etika berbicara. Seolah-olah Al-Qur’an ingin menegaskan bahwa kualitas ketakwaan seseorang dapat tercermin dari kualitas ucapannya.
Tidak cukup hanya rajin beribadah, tetapi juga harus menjaga setiap kata yang keluar dari lisan maupun yang tertulis melalui jemarinya.
Benar dan Tepat
Menurut Imam Ibnu Katsir, qaulan sadidan berarti ucapan yang lurus, benar, jujur, tidak menyimpang dari kebenaran, serta jauh dari dusta dan kezaliman. Menariknya, Allah menjanjikan dua balasan besar bagi orang yang menjaga ucapannya: amalnya diperbaiki dan dosanya diampuni.
Ini menunjukkan bahwa menjaga lisan bukan sekadar persoalan etika, melainkan bagian dari ibadah yang berdampak langsung pada kualitas kehidupan seorang mukmin.
Prof. M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah menambahkan bahwa qaulan sadidan bukan sekadar benar secara fakta, tetapi juga tepat sasaran, disampaikan dengan niat memperbaiki, serta tidak bertujuan merendahkan orang lain.
Kebenaran yang kehilangan adab sering kali berubah menjadi sumber permusuhan. Sebaliknya, kebenaran yang disampaikan dengan hikmah akan lebih mudah diterima dan membawa perubahan.
Hifzhul Lisan
Jika Al-Qur’an telah meletakkan qaulan sadidan sebagai fondasi komunikasi seorang mukmin, maka Rasulullah SAW memperlihatkan bagaimana prinsip itu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Beliau tidak hanya mengajarkan pentingnya berkata benar, tetapi juga mencontohkan kelembutan, penghormatan, dan tanggung jawab dalam setiap ucapan.
Sabda Rasulullah SAW yang sangat masyhur menjadi pedoman sepanjang zaman: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini bukan berarti seorang muslim tidak boleh mengkritik atau menegur, tetapi mengajarkan bahwa setiap ucapan harus memiliki nilai kebaikan. Jika sebuah perkataan tidak membawa manfaat, lebih baik ditahan daripada menjadi sebab lahirnya penyesalan.
Dalam hadis lain Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang tidak dipikirkan akibatnya, ternyata kalimat itu menyeretnya ke dalam neraka lebih jauh daripada jarak antara timur dan barat.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Betapa dahsyat akibat sebuah kalimat. Di masa Rasulullah, ucapan itu mungkin hanya didengar oleh beberapa orang. Kini, pada era media sosial, satu kalimat dapat dibaca jutaan orang, disalin, dibagikan, dan terus hidup dalam jejak digital meskipun penulisnya telah menghapusnya.
Karena itu para ulama memberi perhatian besar terhadap hifzhul lisan atau menjaga lisan. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin mengingatkan bahwa lidah adalah anggota tubuh yang kecil, tetapi paling banyak menjerumuskan manusia ke dalam dosa.
Dari lisan lahir kebohongan, ghibah, fitnah, adu domba, sumpah palsu, penghinaan, dan berbagai bentuk kezaliman yang merusak hubungan antarmanusia.
Imam An-Nawawi dalam Riyadhus Shalihin bahkan menempatkan bab khusus tentang menjaga lisan sebagai bagian dari akhlak seorang mukmin. Menurut beliau, seseorang tidak sepatutnya berbicara kecuali ketika ucapan itu jelas membawa manfaat.
Jika manfaatnya masih meragukan, maka diam adalah pilihan yang lebih selamat. Prinsip ini sangat relevan di era digital, ketika orang sering kali lebih cepat menulis daripada berpikir.
Nilai qaulan sadidan sesungguhnya harus hadir dalam seluruh ruang kehidupan.
Di dalam keluarga, suami hendaknya berbicara kepada istri dengan jujur, santun, dan penuh penghormatan. Istri pun demikian kepada suaminya. Perbedaan pendapat tidak boleh berubah menjadi caci maki atau kata-kata yang melukai martabat pasangan.
Demikian pula orang tua dalam mendidik anak. Nasihat yang lahir dari kasih sayang akan lebih membekas daripada bentakan yang meninggalkan luka batin. Sebaliknya, anak tetap diperintahkan menghormati kedua orang tuanya dengan ucapan yang baik dan penuh adab.
Di lingkungan pendidikan, guru bukan hanya mengajar dengan ilmu, tetapi juga dengan tutur kata yang mendidik. Murid pun hendaknya menjaga adab kepada gurunya.
Perbedaan pandangan dalam dunia akademik adalah hal yang wajar, namun tidak pernah menjadi alasan untuk menghilangkan kesantunan.
Dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa, rakyat memiliki hak untuk menyampaikan kritik kepada pemimpin. Akan tetapi, kritik yang dibangun di atas data, argumentasi, dan niat memperbaiki jauh lebih bermartabat daripada cercaan, fitnah, atau penghinaan.
Sebaliknya, para pemimpin juga berkewajiban menyampaikan informasi secara jujur, terbuka, dan tidak menyesatkan masyarakat. Kejujuran adalah fondasi utama lahirnya kepercayaan publik.
Demikian pula di kalangan remaja dan pengguna media sosial. Ruang digital seharusnya menjadi tempat berbagi ilmu, inspirasi, dan semangat kebaikan, bukan arena saling mempermalukan, menyebarkan kebencian, atau mencari popularitas melalui sensasi.
Setiap unggahan yang kita buat sesungguhnya sedang membentuk karakter kita di mata manusia sekaligus menjadi catatan amal di sisi Allah SWT.
Etika Komunikasi
Pedoman etika komunikasi digital yang berkembang di berbagai belahan dunia hari ini menekankan pentingnya kejujuran, verifikasi informasi, penghormatan terhadap martabat manusia, serta tanggung jawab atas setiap konten yang dipublikasikan.
Budaya think before you post, verify before you share, dan respect before you respond sesungguhnya sejalan dengan nilai yang telah diajarkan Al-Qur’an melalui konsep qaulan sadidan. Islam telah mendahului zaman dengan meletakkan kejujuran dan tanggung jawab sebagai inti komunikasi.
Akhirnya, marilah kita menjadikan media sosial sebagai ruang ibadah, bukan ruang permusuhan.
Sebelum menulis, bertanyalah kepada diri sendiri: apakah ini benar? Apakah sudah saya tabayunkan? Apakah bermanfaat? Apakah akan menjaga kehormatan orang lain? Dan apakah saya siap mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah SWT?
Renungan itu menjadi semakin kuat ketika kita mengingat firman Allah SWT, “Tiada suatu kata pun yang diucapkannya melainkan di dekatnya ada malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.” (QS. Qaf: 18).
Ayat ini mengajarkan bahwa tidak ada satu pun ucapan yang sia-sia. Jika dahulu yang dicatat adalah apa yang keluar dari lisan, maka pada zaman digital ini kita patut menyadari bahwa setiap tulisan, komentar, unggahan, gambar, maupun pesan yang lahir dari jemari kita pun akan dimintai pertanggungjawaban.
Di zaman ketika jemari telah menjadi lisan, qaulan sadidan bukan lagi sekadar etika berbicara, tetapi merupakan panggilan untuk menjaga iman, memelihara persaudaraan, dan membangun peradaban yang berlandaskan kejujuran, kesantunan, serta tanggung jawab.
Sebab, peradaban yang besar tidak dibangun oleh banyaknya kata-kata, melainkan oleh benarnya setiap kata yang diucapkan dan dituliskan.
Wallahu a’lam
Banda Aceh 2 Muharram 1448, 16 Juli 2026
(Penulis akademisi IP FAH UIN Ar-Raniry, Penasehat IPI Aceh)
