-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Mengembalikan Wajah Kemanusiaan dalam Pelayanan Kesehatan

Selasa, 28 Juli 2026 | Juli 28, 2026 WIB Last Updated 2026-07-29T03:30:59Z

 


Belajar dari Tulisan Teuku Alfin Aulia

Oleh: Saifuddin A. Rasyid


Al-Rasyid.id | Sebuah tulisan yang dimuat Harian Reportase pada Senin, 27 Juli 2026, berjudul “Mengantar Ayah Menjemput Maut: Potret Buruk Pelayanan dan Hilangnya Respek di RSUZA” karya Teuku Alfin Aulia, mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Al-Azhar Kairo, menggugah nurani masyarakat Aceh. 


Dalam waktu singkat, tulisan tersebut menjadi perbincangan luas di berbagai grup media sosial, komunitas akademik, kalangan tenaga kesehatan, hingga masyarakat umum.


Tulisan itu menyentuh hati bukan karena menghadirkan sensasi, melainkan karena menyuarakan sesuatu yang selama ini mungkin juga pernah dirasakan oleh sebagian masyarakat. 


Ia bukan sekadar kisah seorang anak yang kehilangan ayah tercinta, tetapi refleksi tentang pelayanan kesehatan, penghormatan terhadap martabat manusia, dan arti empati ketika seseorang sedang berada pada fase paling rapuh dalam hidupnya.


Pada kesempatan ini, marilah kita bersama-sama mendoakan semoga Allah SWT melimpahkan rahmat dan ampunan kepada almarhum ayahanda Teuku Alfin Aulia. 


Semoga setiap rasa sakit yang beliau alami menjadi penghapus dosa, diterima segala amal salehnya, dilapangkan kuburnya, serta ditempatkan di tempat terbaik di sisi Allah SWT. 


Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah seorang muslim ditimpa kelelahan, penyakit, kesedihan, gangguan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah menghapus sebagian dosa-dosanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).


Dalam sejumlah riwayat juga disebutkan bahwa orang-orang yang wafat karena penyakit tertentu memperoleh kemuliaan sebagai syahid menurut ketentuan Allah SWT. 


Kita hanya mampu berdoa semoga Allah menganugerahkan kemuliaan tersebut kepada beliau.


Persoalan Utamanya Bukan Semata Tindakan Medis


Apabila tulisan Teuku Alfin dibaca secara utuh, sesungguhnya persoalan yang paling mengemuka bukanlah semata-mata benar atau salahnya tindakan medis. 


Penilaian mengenai aspek medis tentu memiliki mekanisme etik, disiplin profesi, dan hukum yang harus dihormati. Namun, yang paling terasa adalah persoalan pelayanan.


Pelayanan bukan hanya memberikan obat, memasang infus, melakukan operasi, atau menegakkan diagnosis. Pelayanan adalah bagaimana pasien diperlakukan sebagai manusia yang memiliki martabat, rasa takut, harapan, dan hak untuk dihormati. 


Pelayanan juga menyangkut bagaimana keluarga memperoleh informasi yang jujur, jelas, mudah dipahami, serta disampaikan dengan empati.


Tidak sedikit keluarga pasien yang mampu menerima kenyataan pahit ketika takdir Allah menghendaki orang yang mereka cintai berpulang. 


Yang sering kali sulit diterima adalah ketika mereka merasa kehilangan hak untuk memperoleh penjelasan, merasa tidak didengar, atau diperlakukan tanpa penghormatan terhadap kondisi psikologis mereka.


Di sinilah letak persoalan yang sesungguhnya. Bagi keluarga pasien, sikap empati sering kali sama berharganya dengan tindakan medis itu sendiri.


Pelayanan Kesehatan adalah Pelayanan Publik


Apa yang tergambar dalam tulisan tersebut sesungguhnya merupakan cerminan persoalan pelayanan publik secara lebih luas.


Masih kita jumpai masyarakat yang merasa dipersulit ketika mengurus administrasi, memperoleh pelayanan pendidikan, pelayanan sosial, bahkan pelayanan kesehatan. Padahal Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik menegaskan bahwa masyarakat adalah subjek yang harus dilayani secara profesional, cepat, transparan, adil, dan manusiawi.


Dalam ilmu manajemen pelayanan, A. Parasuraman, Valarie Zeithaml, dan Leonard Berry melalui konsep SERVQUAL menjelaskan bahwa kualitas pelayanan dibangun oleh lima unsur utama, yaitu keandalan (reliability), daya tanggap (responsiveness), jaminan (assurance), empati (empathy), dan bukti fisik (tangibles).


Menariknya, empati ditempatkan sejajar dengan kompetensi teknis. Artinya, kecakapan profesional tidak akan sempurna tanpa kemampuan menghormati dan memahami manusia yang sedang dilayani.


W. Edwards Deming juga mengingatkan bahwa mutu pelayanan tidak hanya diukur dari hasil akhirnya, tetapi juga dari proses yang dirasakan oleh penerima layanan.


Dalam dunia kesehatan modern, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan bahwa keselamatan pasien (patient safety) tidak hanya bergantung pada kecanggihan teknologi dan ketepatan tindakan medis, tetapi juga pada budaya komunikasi yang terbuka, kerja sama antartenaga kesehatan, dan penghormatan terhadap hak pasien serta keluarganya.


Demikian pula laporan Institute of Medicine Amerika Serikat Crossing the Quality Chasm memperkenalkan konsep patient-centered care, yakni pelayanan yang berpusat pada pasien, menghormati nilai, kebutuhan, pilihan, dan martabat setiap manusia yang datang mencari pertolongan.


Dengan demikian, pasien bukanlah objek pelayanan, melainkan mitra yang memiliki hak untuk didengar dan diperlakukan secara bermartabat.


Islam Menjadikan Pelayanan sebagai Amanah


Nilai-nilai tersebut sejatinya telah lama diajarkan Islam.

Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat ihsan.” (QS. An-Nahl: 90).


Kata ihsan mengandung makna memberikan pelayanan terbaik, bukan sekadar menggugurkan kewajiban.


Allah juga berfirman:

”…Barang siapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah ia telah memelihara kehidupan seluruh manusia.” (QS. Al-Ma’idah: 32).


Ayat ini menjadi landasan moral yang sangat kuat bagi seluruh profesi yang berkaitan dengan penyelamatan jiwa manusia.


Rasulullah SAW bersabda:

“Allah akan senantiasa menolong seorang hamba selama ia menolong saudaranya.” (HR. Muslim).


Dalam hadis lain beliau bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ath-Thabrani).


Imam Al-Ghazali menempatkan hifzh an-nafs (menjaga jiwa) sebagai salah satu tujuan pokok syariat (maqashid syariah). Karena itu, segala profesi yang menjaga keselamatan manusia memiliki kedudukan yang sangat mulia.


Imam Asy-Syathibi menegaskan bahwa menjaga jiwa merupakan kemaslahatan primer (dharuriyyat) yang wajib diprioritaskan. 


Sementara Syekh Wahbah az-Zuhaili menjelaskan bahwa amanah profesi harus dijalankan secara profesional karena kelalaian yang menimbulkan mudarat kepada orang lain bukan hanya dipertanggungjawabkan di hadapan manusia, tetapi juga di hadapan Allah SWT.


Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar mengingatkan bahwa kemuliaan seorang muslim tidak hanya diukur dari banyaknya ibadah ritual, tetapi juga dari kelembutan hati ketika melayani sesama.


Karena itu, bekerja di rumah sakit bukan sekadar profesi. Ia adalah amanah kemanusiaan sekaligus ibadah.


Saatnya Membangun Budaya Pelayanan yang Berpusat pada Pasien


Rumah sakit-rumah sakit terbaik di dunia kini membangun budaya patient-centered care.


Pasien didengar. Keluarga dilibatkan dalam pengambilan keputusan. Informasi disampaikan secara jujur dan berkala. Komunikasi dilakukan dengan empati. Privasi dijaga. Martabat pasien dihormati hingga akhir hayatnya.


Bahkan banyak rumah sakit internasional mewajibkan tenaga medis mengikuti pelatihan breaking bad news, yakni bagaimana menyampaikan kabar buruk kepada keluarga pasien secara manusiawi sehingga tidak menambah beban psikologis mereka.


Inilah wajah pelayanan kesehatan modern yang sesungguhnya.


Kritik sebagai Jalan Perbaikan


Tulisan Teuku Alfin hendaknya tidak dipahami sebagai upaya menjelekkan RSUZA sebagai institusi.


Sebaliknya, tulisan itu patut dibaca sebagai kritik yang lahir dari luka, sekaligus bentuk kepedulian agar rumah sakit kebanggaan rakyat Aceh tersebut semakin baik.


Kita meyakini bahwa RSUZA memiliki banyak dokter, perawat, bidan, apoteker, tenaga laboratorium, petugas administrasi, petugas keamanan, dan seluruh tenaga pendukung yang bekerja dengan penuh dedikasi. Tidak sedikit pula masyarakat yang memperoleh pelayanan yang baik.


Namun demikian, pengalaman buruk satu keluarga tetap harus menjadi bahan evaluasi yang serius. Sebab dalam pelayanan kesehatan, satu pengalaman yang meninggalkan luka dapat mengurangi kepercayaan masyarakat yang dibangun selama bertahun-tahun.


Karena itu, beberapa langkah layak dipertimbangkan.


Pertama, memperkuat pelatihan komunikasi empatik bagi seluruh tenaga rumah sakit, baik tenaga medis maupun nonmedis.


Kedua, memastikan setiap keputusan medis dijelaskan secara berkala kepada keluarga pasien dengan bahasa yang mudah dipahami.


Ketiga, memperkuat budaya keselamatan pasien (patient safety culture) sehingga kecepatan respons, koordinasi, dan komunikasi berjalan seiring.


Keempat, membentuk unit pendamping keluarga pasien (patient relation officer) yang aktif mendampingi terutama pada kasus-kasus kritis.


Kelima, menyediakan mekanisme pengaduan yang mudah, transparan, independen, cepat ditindaklanjuti, dan benar-benar menghasilkan perbaikan.


Keenam, menjadikan setiap keluhan masyarakat sebagai bahan pembelajaran institusi, bukan ancaman terhadap reputasi rumah sakit.


Rumah sakit yang besar bukanlah rumah sakit yang tidak pernah dikritik, melainkan rumah sakit yang mau belajar dari setiap kritik.


Harapan yang sama tentu juga patut ditujukan kepada seluruh rumah sakit di Aceh dan Indonesia. Kasus kematian yang diduga berkaitan dengan malapraktik, kelambatan pertolongan medis, pengabaian pelayanan, atau bentuk-bentuk kegagalan sistem lainnya harus menjadi pelajaran bersama agar tidak kembali terulang. 


Setiap insiden harus dievaluasi secara profesional, objektif, dan transparan, sehingga mampu melahirkan perbaikan sistem, bukan sekadar mencari siapa yang patut dipersalahkan.


Dari Luka Menuju Perbaikan


Tidak ada seorang anak yang berharap harus mengantar ayahnya menuju perpisahan terakhir dalam suasana yang meninggalkan luka batin yang mendalam. Namun Allah SWT mempunyai ketetapan terbaik.


Semoga tulisan Teuku Alfin Aulia menjadi amal jariah bagi almarhum ayahandanya karena telah membuka ruang evaluasi bagi pelayanan kesehatan kita.


Kepada keluarga besar Teuku Alfin Aulia, kami menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya. Semoga Allah SWT melimpahkan kesabaran, ketabahan, dan keikhlasan.


Terima kasih kepada Teuku Alfin yang telah memilih jalan intelektual dengan menulis secara santun, argumentatif, dan penuh tanggung jawab. 


Tulisan tersebut hendaknya dipahami sebagai ikhtiar menghadirkan perbaikan, bukan untuk menjatuhkan nama baik RSUZA, melainkan agar rumah sakit kebanggaan masyarakat Aceh ini terus berbenah, memperkuat budaya pelayanan yang lebih manusiawi, serta semakin dipercaya oleh masyarakat.


Semoga pengalaman yang begitu berat ini justru menempa dirinya menjadi seorang dokter yang kelak dikenal bukan hanya karena keluasan ilmu dan kecakapan profesionalnya, tetapi juga karena kelembutan empati, keluhuran akhlaknya, dan penghormatannya terhadap setiap pasien tanpa membedakan latar belakang mereka. 


Kiranya dari tangan-tangan dokter seperti itulah cita-cita menghadirkan pelayanan kesehatan yang profesional, berkeadilan, beradab, dan penuh kasih sayang akan semakin nyata. Itulah pula hadiah terbaik yang dapat dipersembahkan kepada almarhum ayahanda tercinta, yang telah mengantarkan putranya menempuh jalan pengabdian kepada umat melalui dunia kedokteran.


Wallahu a’lam 


Banda Aceh 12 Safar 1448, 27 Juli 2026


(Penulis pengamat sosial dan keislaman, Imam Besar Masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry Banda Aceh)

×
Berita Terbaru Update