-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Ketika Rasa Malu Mati, Korupsi Menjadi Tradisi

Selasa, 21 Juli 2026 | Juli 21, 2026 WIB Last Updated 2026-07-21T16:45:12Z

 


Oleh: Saifuddin A. Rasyid

Al-Rasyid.id | Korupsi tidak pernah lahir secara tiba-tiba. Ia tumbuh perlahan, bermula dari hati yang mengabaikan kejujuran, lalu berkembang menjadi kebiasaan yang dianggap lumrah. 


Pada tahap yang paling mengkhawatirkan, korupsi tidak lagi dipandang sebagai penyimpangan, melainkan seolah-olah menjadi bagian dari tradisi. Semua itu berawal ketika rasa malu telah mati.


Beberapa waktu terakhir, publik kembali disuguhi berita demi berita tentang kasus korupsi dengan nilai fantastis. Angkanya mencapai miliaran hingga triliunan rupiah. Ironisnya, para pelakunya berasal dari berbagai kalangan: pejabat publik, aparat, pengusaha, bahkan mereka yang selama ini dikenal berpendidikan tinggi dan memiliki kedudukan terhormat. 


Lebih ironis lagi, tidak sedikit di antara mereka yang tetap mampu tampil tenang, tersenyum di depan kamera, dan menjalani kehidupan seolah tidak terjadi apa-apa.


Fenomena ini memunculkan pertanyaan mendasar. Mengapa seseorang mampu melakukan korupsi tanpa rasa bersalah? Mengapa hati begitu mudah mengkhianati amanah yang dipercayakan kepadanya?


Jawabannya tentu tidak sederhana. Ada faktor keserakahan, lemahnya pengawasan, kesempatan yang terbuka, budaya organisasi yang permisif, serta hukuman yang belum sepenuhnya memberikan efek jera. 


Namun di balik semua itu terdapat satu penyebab yang sangat mendasar, yaitu hilangnya rasa malu.


Benteng Akhlak


Dalam Islam, rasa malu bukanlah kelemahan. Sebaliknya, ia adalah benteng akhlak yang menjaga seseorang dari perbuatan tercela. 


Rasulullah SAW bersabda:

“Al-hayā’u syu’batun minal īmān.” “Malu adalah bagian dari iman.” (HR. Bukhari dan Muslim).


Dalam hadis lain beliau mengingatkan: “Apabila engkau sudah tidak memiliki rasa malu, maka berbuatlah sesukamu.” (HR. Bukhari).


Hadis ini bukanlah ajakan untuk berbuat sesuka hati, melainkan peringatan keras. Ketika rasa malu telah hilang, seseorang kehilangan rem moral. Ia tidak lagi merasa berdosa ketika mengambil yang bukan haknya. Ia tidak lagi takut terhadap penilaian masyarakat, bahkan tidak lagi gentar menghadapi hisab Allah SWT.


Pengkhianatan Amanah


Korupsi pada hakikatnya adalah pengkhianatan terhadap amanah. Uang yang dikorupsi bukan sekadar angka dalam laporan keuangan negara. 


Di dalamnya terdapat hak rakyat kecil, biaya pendidikan anak-anak, pelayanan kesehatan, pembangunan jalan, jembatan, irigasi, bantuan sosial, dan berbagai kebutuhan masyarakat yang akhirnya terbengkalai karena dirampas oleh tangan-tangan yang tidak amanah.


Yang lebih berbahaya adalah ketika praktik korupsi telah dianggap biasa. Orang baru yang masuk ke dalam sebuah lembaga justru diajari “cara bermain”. 


Gratifikasi dianggap budaya. Mark-up disebut kelaziman. Komisi ilegal diberi nama “uang terima kasih”. Suap dibungkus dengan istilah “pelicin”. Bahasa berubah untuk menyamarkan dosa, sementara nurani semakin tumpul.


Di sinilah korupsi mulai berubah dari sebuah kejahatan individual menjadi budaya kolektif. Seseorang yang awalnya menolak akhirnya ikut melakukan karena takut dianggap berbeda. 


Kejujuran dipandang sebagai sikap yang tidak realistis. Integritas dianggap menghambat pergaulan. Pada akhirnya, korupsi diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya sebagai sesuatu yang dianggap wajar.


Inilah yang paling mengkhawatirkan. Ketika korupsi telah menjadi tradisi, hukum saja tidak akan cukup mengatasinya. Sebab yang rusak bukan hanya sistem administrasi, melainkan juga sistem nilai.


Al-Qur’an mengingatkan:

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya…” (QS. An-Nisa’: 58).


Ayat ini mengandung pesan bahwa amanah adalah fondasi kehidupan bermasyarakat. Ketika amanah dihancurkan oleh korupsi, kepercayaan publik ikut runtuh. 


Masyarakat menjadi sinis terhadap pemerintah, terhadap lembaga negara, bahkan terhadap sesama manusia.


Biasakan Kejujuran


Karena itu, perang melawan korupsi harus dimulai jauh sebelum seseorang menduduki jabatan. 


Ia harus dimulai dari keluarga yang membiasakan kejujuran, sekolah yang membangun karakter, kampus yang menanamkan integritas, tempat ibadah yang menghidupkan nilai amanah, serta lingkungan sosial yang tidak memberi ruang bagi praktik-praktik curang sekecil apa pun.


Kita juga perlu menghidupkan kembali budaya malu. Malu menerima sesuatu yang bukan hak. Malu menggunakan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi. Malu mengkhianati kepercayaan rakyat. Malu mempertanggungjawabkan harta yang tidak halal di hadapan Allah SWT.


Rasa malu merupakan pagar yang menjaga manusia ketika hukum tidak melihat dan ketika tidak ada seorang pun yang mengawasi. 


Orang yang memiliki rasa malu akan berhenti bukan karena takut ditangkap, tetapi karena takut kepada Allah dan takut mengkhianati hati nuraninya.


Sebaliknya, ketika rasa malu telah mati, jabatan berubah menjadi kesempatan memperkaya diri, kekuasaan menjadi alat transaksi, dan amanah kehilangan makna. 


Pada saat itulah korupsi tidak lagi dilakukan secara sembunyi-sembunyi, tetapi berkembang menjadi kebiasaan yang diwariskan. Korupsi pun berubah menjadi tradisi.


Tak Boleh Menyerah


Bangsa ini tentu tidak boleh menyerah pada keadaan tersebut. Harapan selalu ada selama masih ada orang-orang yang memegang teguh kejujuran, menjaga amanah, dan berani berkata tidak terhadap segala bentuk penyimpangan. 


Pemberantasan korupsi memang memerlukan hukum yang tegas, tetapi lebih dari itu, ia membutuhkan kebangkitan moral.


Sebab sesungguhnya, kehancuran sebuah bangsa bukan dimulai ketika hukum dilemahkan, melainkan ketika rasa malu telah hilang dari hati para pemegang amanah. 


Jika rasa malu berhasil dihidupkan kembali, korupsi tidak akan pernah menjadi tradisi. 


Sebaliknya, amanah, integritas, dan kejujuran akan kembali menjadi budaya yang menguatkan bangsa.


Wallahu a’lam 

Banda Aceh 6 Safar 1448, 21 Juli 2026


(Penulis adalah pengamat sosial dan keagamaan tinggal di Barabung Darussalam Aceh Besar)

×
Berita Terbaru Update