Menghidupkan Kembali Qaulan Balighan, Qaulan Ma’rufan, dan Qaulan Kariman di Era Digital
Oleh : Saifuddin A. Rasyid
Al-Rasyid.id | Kita hidup pada zaman ketika setiap orang dapat menjadi penyampai pesan. Melalui sebuah gawai, seseorang dapat memengaruhi ribuan bahkan jutaan orang hanya dalam hitungan detik. Ironisnya, kemudahan berkomunikasi itu tidak selalu diiringi dengan kematangan dalam bertutur.
Ruang-ruang digital dipenuhi perdebatan yang tidak berujung, komentar yang menyakitkan, informasi yang dipotong dari konteksnya, serta kecenderungan untuk lebih ingin menang daripada saling memahami. Kita seolah memiliki semakin banyak saluran komunikasi, tetapi semakin sedikit komunikasi yang benar-benar membangun.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di media sosial. Dalam keluarga, sekolah, kampus, tempat kerja, bahkan forum keagamaan, kita masih menjumpai komunikasi yang kehilangan ruhnya.
Ada yang benar isinya, tetapi kasar penyampaiannya. Ada yang santun bahasanya, tetapi enggan menyampaikan kebenaran. Ada pula yang fasih berbicara, namun kata-katanya justru meninggalkan luka dan memutus persaudaraan.
Padahal tujuan komunikasi dalam Islam bukan sekadar memindahkan informasi, melainkan menghadirkan kebaikan, memperbaiki hubungan, dan mengantarkan manusia kepada hidayah.
Cara Kebenaran Disampaikan
Al-Qur’an memberikan tuntunan yang sangat indah. Allah tidak hanya memerintahkan manusia untuk berkata benar, tetapi juga mengajarkan bagaimana kebenaran itu disampaikan.
Menariknya, Al-Qur’an tidak menggunakan satu istilah saja ketika berbicara tentang etika komunikasi. Di satu tempat Allah memerintahkan qaulan sadidan, di tempat lain qaulan balighan, qaulan ma’rufan, qaulan kariman, qaulan layyinan, dan qaulan maysuran.
Keragaman istilah ini menunjukkan bahwa komunikasi bukan sekadar memilih kata, melainkan memahami tujuan, situasi, dan kondisi orang yang diajak berbicara. Inilah keindahan balaghah Al-Qur’an yang menghadirkan etika komunikasi secara utuh.
Dalam seri pertama telah dibahas qaulan sadidan sebagai fondasi komunikasi yang benar, jujur, dan dapat dipertanggungjawabkan. Namun kebenaran saja belum cukup. Kebenaran harus disampaikan dengan cara yang mengena, dibungkus dengan kebaikan, dan disampaikan tanpa merendahkan martabat manusia.
Di sinilah qaulan balighan, qaulan ma’rufan, dan qaulan kariman menemukan relevansinya.
Ibnu Katsir ketika menafsirkan Surah An-Nisa ayat 63 menjelaskan bahwa qaulan balighan adalah nasihat yang mampu menembus hati sehingga menggerakkan seseorang menuju kebaikan.
Wahbah az-Zuhaili menambahkan bahwa komunikasi yang efektif harus disampaikan dengan hikmah, argumentasi yang jelas, serta bahasa yang sesuai dengan kondisi pendengarnya.
Pesan yang baik bukanlah yang paling keras terdengar, tetapi yang paling mampu menyentuh akal dan hati.
Sementara itu, qaulan ma’rufan mengajarkan agar setiap perkataan menjadi sumber manfaat. Al-Qurthubi menjelaskan bahwa ma’ruf adalah segala sesuatu yang diakui baik oleh syariat, diterima akal sehat, dan selaras dengan akhlak yang mulia.
Karena itu, kritik tetap diperlukan, tetapi kritik yang membangun selalu lebih bernilai daripada celaan yang mempermalukan. Dalam masyarakat yang sehat, perbedaan pendapat tidak menjadi alasan untuk menghilangkan kesantunan.
Adapun qaulan kariman merupakan puncak penghormatan dalam bertutur. Al-Qur’an menggunakan istilah ini ketika memerintahkan manusia berbicara kepada kedua orang tua. Namun nilai yang dikandungnya melampaui hubungan anak dan orang tua.
Ia menjadi pelajaran bahwa setiap manusia memiliki martabat yang harus dijaga. Guru, dosen, murid, pemimpin, bawahan, tetangga, bahkan mereka yang berbeda pandangan sekalipun tetap berhak diperlakukan dengan hormat.
Komunikasi Efektif
Menariknya, prinsip-prinsip tersebut sejalan dengan teori komunikasi modern yang menekankan pentingnya memahami audiens, mendengar secara aktif, membangun empati, dan menciptakan kepercayaan.
Apa yang hari ini disebut sebagai komunikasi efektif sesungguhnya telah diajarkan Al-Qur’an lebih dari empat belas abad yang lalu.
Bagi kita yang hidup di Aceh—daerah yang menjunjung tinggi nilai agama dan adat—prinsip-prinsip ini sesungguhnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Seorang dosen yang menjelaskan materi dengan bahasa yang mudah dipahami sedang mempraktikkan qaulan balighan.
Orang tua yang menegur anak tanpa merendahkan harga dirinya sedang mengamalkan qaulan ma’rufan.
Seorang mahasiswa yang berbeda pendapat dengan dosennya tetapi tetap menjaga sopan santun sedang mempraktikkan qaulan kariman.
Bahkan di grup WhatsApp keluarga, kantor, atau organisasi, enam qaulan ini tetap relevan sebagai pedoman agar komunikasi tidak berubah menjadi sumber kesalahpahaman.
Di era digital, lisan tidak lagi hanya berada di balik bibir. Lisan telah berpindah ke ujung jemari. Setiap ketukan pada papan ketik adalah ucapan. Setiap komentar adalah kesaksian.
Setiap unggahan meninggalkan jejak yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Karena itu, ketika jemari telah menjadi lisan, maka ia pun wajib tunduk kepada tuntunan Al-Qur’an.
Khulashah
Kebenaran tanpa adab mudah melukai. Adab tanpa kebenaran mudah menyesatkan. Al-Qur’an memadukan keduanya melalui enam qaulan sebagai fondasi peradaban komunikasi.
Jika pada seri pertama kita diajak menjaga kebenaran setiap kata, maka pada seri kedua ini kita belajar bahwa kebenaran harus disampaikan secara efektif, dengan bahasa yang baik, dan penuh penghormatan.
Dari sinilah keberadaban komunikasi lahir bukan sekadar dari kecerdasan berbicara, melainkan dari keluhuran akhlak orang yang berbicara.
Wallahu a’lam
Banda Aceh 2 Safar 1448, 17 Juli 2026
(Penulis adalah akademisi IP FAH UIN Ar-Raniry, penasehat IPI Aceh, bendahara ICMI Aceh)
