Oleh: Saifuddin A. Rasyid
Al-Rasyid.id | Selepas acara pelantikan tadi selaku Ketua ICMI Orda Sabang Dr Fajran Zain mengajak kami rombongan dari Orwil ICMI Aceh bersama bapak Wakil Wakota dan beberapa pejabat daerah setempat yang hadir untuk menikmati wisata kuliner, makan siang di satu warung rumahan sudut kota Sabang.
Pemandangan indah, makanan enak, pengelola dan pelayan warung rumahan itu memang membuat pengunjung seperti berada di rumah. Mereka ramah, bersahaja, penuh perhatian melayani tamu.
Disini tercermin hakikat akhlakul karimah atau akhlak mulia yang merayap dalam sanubari bisnis kuliner Sabang. Tidak hanya semata berbisnis tetapi juga mengaktualkan nilai akhlak mulia dan mempertahankan nuansa adat lokal yang tumbuh dari landasan akhlakul karimah itu.
Amanah
Sabang yang berada di titik paling barat Indonesia itu memang khas. Kota kecil yang dianugerahi laut sebening kristal, gugusan pulau yang memesona, bukit hijau yang menenangkan, serta sejarah yang menjadikannya gerbang Nusantara.
Namun, di balik seluruh keindahan itu, Sabang sesungguhnya memikul amanah yang jauh lebih besar daripada sekadar menjadi tujuan wisata.
Amanah itu adalah menghadirkan wajah Islam yang ramah, beradab, dan membawa rahmat bagi seluruh alam.
Dua tulisan saya sebelumnya telah menguraikan bahwa Sabang memiliki modal besar untuk menjadi destinasi wisata syar’i yang unggul. Pertama, Allah menganugerahkan keindahan alam yang luar biasa sebagai nikmat yang harus disyukuri. Kedua, wisata syar’i mampu menjadi penggerak ekonomi masyarakat tanpa harus mengorbankan nilai-nilai agama dan budaya.
Kini pertanyaan besarnya adalah, bagaimana memastikan seluruh potensi itu benar-benar menjadi keberkahan yang berkelanjutan?
Jawabannya terletak pada akhlak.
Wisata syar’i tidak akan pernah berhasil hanya dengan membangun hotel, mempercantik pelabuhan, memperluas bandara, atau menghadirkan berbagai atraksi wisata.
Semua itu penting, tetapi belum cukup. Yang lebih menentukan adalah membangun manusia yang memiliki karakter melayani dengan ikhlas, jujur, santun, amanah, serta menjadikan setiap tamu sebagai amanah yang harus dimuliakan.
Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah memuliakan tamunya.
Hadis ini tidak hanya berlaku di rumah, tetapi juga menjadi prinsip dalam membangun sebuah daerah tujuan wisata. Ketika wisatawan datang ke Sabang, sesungguhnya mereka sedang bertamu kepada masyarakat Aceh.
Mereka berhak mendapatkan pelayanan yang baik, keramahan yang tulus, informasi yang jujur, lingkungan yang bersih, serta rasa aman selama menikmati keindahan pulau ini.
Keramahan yang lahir dari iman memiliki daya tarik yang jauh lebih kuat daripada promosi yang mahal. Senyum yang tulus, sapaan yang santun, kejujuran dalam berdagang, kebersihan lingkungan, dan kepedulian terhadap kenyamanan pengunjung akan menjadi promosi yang terus hidup dari mulut ke mulut.
Wisatawan yang merasa dihargai akan kembali, bahkan mengajak orang lain untuk merasakan pengalaman yang sama.
Di sinilah makna ihsan menjadi sangat penting. Ihsan berarti melakukan pekerjaan dengan kualitas terbaik karena merasa diawasi oleh Allah SWT.
Seorang pengemudi becak wisata yang mengantar tamu dengan sopan, pedagang yang tidak menaikkan harga secara berlebihan, pemilik penginapan yang menjaga kebersihan kamar, petugas kebersihan yang bekerja dengan penuh tanggung jawab, hingga aparat yang memberikan rasa aman, semuanya sedang mengamalkan nilai ihsan. Ketika ihsan menjadi budaya, pelayanan tidak lagi sekadar kewajiban administratif, tetapi menjadi bagian dari ibadah.
Kolaborasi
Sabang juga membutuhkan kolaborasi seluruh elemen masyarakat. Pemerintah memiliki peran dalam menyediakan infrastruktur, memperkuat regulasi, dan membangun tata kelola yang baik.
Pelaku usaha bertugas menghadirkan layanan yang profesional dan berkualitas.
Ulama memberikan bimbingan moral agar perkembangan wisata tetap berada dalam koridor syariat.
Akademisi dan perguruan tinggi melakukan riset, inovasi, serta pendampingan berbasis ilmu pengetahuan.
Organisasi kemasyarakatan, termasuk ICMI, dapat menjadi jembatan yang mempertemukan ilmu, teknologi, dan nilai-nilai keislaman dalam mendukung pembangunan wisata yang berkelanjutan.
Sementara masyarakat adalah wajah pertama yang akan dikenang setiap tamu yang datang.
Kolaborasi ini penting karena wisata bukan hanya urusan satu dinas atau satu kelompok. Wisata adalah ekosistem. Bila satu unsur bekerja sendiri, hasilnya tidak akan maksimal.
Sebaliknya, bila semua bergerak dalam semangat kebersamaan, Sabang akan memiliki identitas yang kuat sebagai destinasi wisata yang tidak hanya indah dipandang, tetapi juga nyaman dirasakan.
Kelestarian Alam
Keunggulan Sabang juga harus dijaga melalui kelestarian alam. Laut yang bersih, terumbu karang yang sehat, hutan yang lestari, dan pantai yang bebas sampah bukan hanya aset ekonomi, tetapi juga amanah Allah kepada manusia.
Al-Qur’an mengingatkan agar manusia tidak membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya. Karena itu, menjaga lingkungan bukan sekadar agenda pembangunan, melainkan bagian dari ketaatan kepada Sang Pencipta.
Ekosistem Nilai
Wisata syar’i juga tidak boleh dipahami secara sempit. Ia bukan hanya tentang aturan berpakaian atau larangan-larangan tertentu.
Wisata syar’i adalah ekosistem nilai yang menghadirkan kejujuran dalam transaksi, keadilan dalam pelayanan, kepedulian terhadap sesama, penghormatan kepada budaya lokal, perlindungan terhadap keluarga, serta tanggung jawab menjaga ciptaan Allah. Ketika seluruh nilai itu hidup, wisata menjadi sarana dakwah yang lembut dan efektif.
Laboratorium
Sabang memiliki peluang besar menjadi laboratorium wisata syar’i Indonesia. Letaknya strategis, masyarakatnya religius, alamnya memesona, dan identitas Aceh sebagai daerah yang menerapkan syariat Islam memberikan keunikan yang tidak dimiliki banyak daerah lain.
Jika seluruh potensi ini dikelola secara profesional, Sabang dapat menjadi contoh bagaimana agama, ekonomi, budaya, dan lingkungan saling menguatkan, bukan saling bertentangan.
Hal ini pun dikemukakan Dr Taqwaddin dalam sambutannya selaku ketua ICMI Aceh, bahwa sebagai destinasi wisata Sabang akan menjadi contoh bagi daerah lain.
Khulashah
Pada akhirnya, keberhasilan Sabang tidak hanya diukur dari bertambahnya jumlah wisatawan atau meningkatnya pendapatan daerah.
Ukuran yang lebih penting adalah apakah masyarakatnya semakin sejahtera, lingkungannya tetap lestari, budayanya semakin kokoh, dan nilai-nilai Islam semakin membumi dalam kehidupan sehari-hari. Itulah hakikat keberkahan.
Sabang adalah memang Kilometer Nol Indonesia. Namun lebih dari itu, Sabang berpeluang menjadi titik awal lahirnya model pembangunan wisata yang berlandaskan ilmu, akhlak, dan keberkahan.
Ketika keindahan alam bertemu dengan kemuliaan akhlak, ketika pelayanan dipandang sebagai ibadah, dan ketika kemajuan ekonomi berjalan seiring dengan ketaatan kepada Allah, saat itulah Sabang bukan hanya menjadi kebanggaan Aceh, tetapi juga inspirasi bagi Indonesia, bahkan dunia Islam.
Semoga Allah SWT senantiasa membimbing setiap ikhtiar untuk menjadikan Sabang sebagai destinasi wisata syar’i yang menghadirkan manfaat bagi masyarakat, menjadi sumber kesejahteraan yang halal, sekaligus menjadi bukti bahwa kemajuan dan nilai-nilai Islam dapat berjalan beriringan dalam harmoni yang indah.
Wallahu a’lam
Sabang 3 Safar 1448, 18 Juli 2026
(Penulis adalah akademisi FAH UIN Ar-Raniry, bendahara ICMI Aceh)
