Oleh Saifuddin A. Rasyid
(Akademisi FAH UIN Ar-Raniry)
Al-Rasyid.id | Pagi ini saya membaca pernyataan Rektor UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Prof. Mujiburrahman, di salah satu surat kabar lokal, Serambi Indonesia Rubrik Universitaria 13 Juli 2026.
Prof Mujib menegaskan bahwa kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) tidak akan pernah dapat menggantikan sentuhan seorang guru dalam proses pendidikan.
Saya sependapat dengan pandangan tersebut. Bahkan saya ingin menambahkan, bukan hanya guru, AI juga tidak akan pernah mampu menggantikan peran orang tua dalam mendidik anak-anak.
Pendidikan pada hakikatnya bukan sekadar proses mentransfer pengetahuan. Pendidikan adalah ikhtiar memanusiakan manusia; membentuk akhlak, menumbuhkan karakter, mengasah nurani, membangun ketangguhan, dan menyiapkan generasi agar mampu menjalani kehidupan dengan penuh tanggung jawab kepada sesama manusia dan kepada Allah SWT.
Di sinilah letak perbedaan mendasar antara manusia dan mesin. AI dapat mengolah miliaran data dalam hitungan detik. Ia mampu menjawab pertanyaan, menyusun laporan, menerjemahkan berbagai bahasa, membantu penelitian, bahkan menghasilkan rancangan pembelajaran yang baik.
Namun AI tidak memiliki hati, tidak mengenal kasih sayang, tidak mempunyai pengalaman hidup, tidak dapat berempati, tidak mampu menjadi teladan, dan tidak pernah memanjatkan doa bagi keberhasilan seorang anak didik.
Bukan Menggantikan
Filsuf pendidikan Amerika, John Dewey, mengingatkan bahwa pendidikan adalah kehidupan itu sendiri. Pendidikan berlangsung melalui pengalaman, interaksi, dialog, dan keteladanan. Sementara Benjamin Bloom menjelaskan bahwa pendidikan yang utuh mencakup ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik.
AI mungkin sangat kuat membantu aspek kognitif, tetapi pembentukan karakter, sikap, dan nilai-nilai kehidupan tetap memerlukan kehadiran orang tua dan guru.
Psikolog sosial Amerika Jonathan Haidt dalam berbagai kajiannya mengingatkan bahwa ketergantungan berlebihan terhadap teknologi digital dapat mengurangi kualitas interaksi sosial, meningkatkan kecemasan, serta melemahkan daya lenting (resilience) generasi muda.
Pesan ini penting di tengah derasnya penggunaan AI dalam kehidupan sehari-hari. Teknologi harus memperkuat relasi antarmanusia, bukan menggantikannya.
Pandangan serupa justru datang dari para pelaku industri teknologi. CEO Microsoft, Satya Nadella, berulang kali menegaskan bahwa AI diciptakan untuk memperkuat kemampuan manusia, bukan menggantikan manusia.
Ilmuwan AI Fei-Fei Li bahkan memperkenalkan konsep human-centered AI, yaitu pengembangan kecerdasan buatan yang selalu berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan. Teknologi harus menjadi pelayan manusia, bukan sebaliknya.
Hal yang sama ditegaskan UNESCO dalam pedoman tentang pemanfaatan AI generatif untuk pendidikan dan penelitian.
UNESCO mengingatkan bahwa AI harus diterapkan dengan pendekatan yang berpusat pada manusia (human-centered), memperkuat proses pembelajaran, membantu tugas guru, sekaligus menjaga etika, privasi, dan kualitas pendidikan.
Guru tetap menjadi aktor utama dalam membangun karakter peserta didik, sementara AI hanyalah instrumen pendukung.
Berpikir Kritis dan Mitra
OECD juga menekankan bahwa pendidikan masa depan harus membangun AI Literacy, yaitu kemampuan memahami cara kerja AI, mengenali keterbatasannya, mengevaluasi hasilnya secara kritis, dan menggunakannya secara bertanggung jawab.
Anak-anak tidak cukup hanya pandai menggunakan AI, tetapi juga harus mampu berpikir kritis terhadap jawaban yang dihasilkan AI.
Bagi orang tua, perkembangan AI menghadirkan peluang sekaligus tantangan. AI dapat menjadi teman belajar yang produktif di rumah, membantu menjelaskan pelajaran, memperkaya wawasan, bahkan merangsang kreativitas anak.
Namun orang tua tetap harus menjadi pendamping utama. Anak memerlukan pelukan ketika gagal, nasihat ketika keliru, teladan ketika bingung, dan doa yang tulus ketika menghadapi masa depan. Semua itu tidak pernah dapat diberikan oleh mesin secanggih apa pun.
Demikian pula bagi para guru. Kehadiran AI hendaknya tidak dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai mitra profesional. Gunakan AI untuk memperkaya materi pembelajaran, menyusun evaluasi, mengembangkan media ajar, atau memperluas referensi ilmiah. Tetapi jangan pernah menyerahkan pembentukan karakter kepada algoritma.
Keteladanan tidak dapat diprogram. Integritas tidak dapat diunduh. Keikhlasan tidak dapat dihasilkan oleh mesin.
Pendidikan Amanah
Dalam perspektif Islam, pendidikan adalah amanah yang sangat agung. Allah SWT berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” (QS. At-Tahrim: 6).
Ayat ini menegaskan bahwa keluarga merupakan madrasah pertama bagi setiap anak. Rasulullah SAW juga mengajarkan bahwa setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.
Orang tua adalah pemimpin dalam keluarga, sedangkan guru adalah pemimpin dalam ruang pendidikan. Amanah tersebut tidak dapat dipindahkan kepada teknologi.
Karena itu, yang kita perlukan bukanlah memilih antara manusia atau AI, melainkan membangun kolaborasi yang sehat.
Biarkan AI mengerjakan apa yang memang menjadi keunggulannya: menghimpun data, mempercepat analisis, membantu administrasi, dan memperluas akses ilmu pengetahuan.
Sementara manusia menjalankan tugas yang tidak mungkin dilakukan mesin: mencintai, mendidik, menginspirasi, menanamkan iman, membangun akhlak, dan membentuk peradaban.
Guru Makin Dibutuhkan
Saya ingin menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada seluruh orang tua dan para guru di Indonesia. Di tengah perubahan zaman yang berlangsung sangat cepat, Bapak dan Ibu tetap menjadi benteng utama lahirnya generasi yang cerdas sekaligus berkarakter. Jangan pernah merasa peran itu akan tergantikan oleh teknologi.
Justru ketika teknologi berkembang semakin pesat, kehadiran orang tua dan guru semakin dibutuhkan.
Sejarah membuktikan bahwa setiap lompatan besar peradaban selalu diawali oleh kemajuan ilmu pengetahuan.
Namun sejarah juga menunjukkan bahwa banyak peradaban runtuh bukan karena kekurangan teknologi, melainkan karena kehilangan nilai-nilai moral.
Kecerdasan tanpa akhlak melahirkan kesombongan. Kekuatan tanpa empati melahirkan penindasan. Kemajuan tanpa iman dapat berujung pada kerusakan.
Masa depan Indonesia tidak akan ditentukan oleh seberapa canggih kecerdasan buatannya, tetapi oleh seberapa bijaksana manusia menggunakannya.
AI boleh menjadi mesin yang paling pintar, tetapi orang tua dan guru tetaplah penjaga nurani bangsa.
Sebab pada akhirnya, pendidikan bukanlah tentang menciptakan manusia yang mampu mengalahkan mesin, melainkan membentuk manusia yang tidak pernah kehilangan kemanusiaannya ketika hidup berdampingan dengan mesin.
Di situlah letak misi besar orang tua dan guru. Dan di situlah harapan kita untuk menyongsong Indonesia Emas 2045: sebuah bangsa yang menguasai teknologi, tetapi tetap dipimpin oleh iman, ilmu, akhlak, dan kasih sayang.
Wallahu a’lam
Banda Aceh 28 Muharram 1448, 13 Juli 2026
