-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Belajar Menjadi Ayah: Menyiapkan Generasi Terbaik Menuju Indonesia Emas 2045

Minggu, 12 Juli 2026 | Juli 12, 2026 WIB Last Updated 2026-07-12T17:47:57Z


Opini Saifuddin A. Rasyid

Al-Rasyid.id |Menjelang dimulainya tahun ajaran baru, Kepala Dinas Pendidikan Aceh Murthalamuddin SPd MSP mengunggah sebuah konten di media sosial, dengan tag Ayah Terlibat Generasi Hebat, yang mengajak para ayah mengantarkan putra-putri mereka pada hari pertama masuk sekolah. Ajakan yang tampak sederhana itu sesungguhnya mengandung makna yang sangat dalam. 


Kehadiran seorang ayah pada hari pertama sekolah bukan sekadar mengantar anak melewati gerbang pendidikan, tetapi juga mengantar keberanian, rasa aman, kepercayaan diri, serta keyakinan bahwa mereka tidak sedang berjalan sendiri menghadapi dunia. 


Pesan tersebut sejalan dengan semangat Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah yang terus didorong sebagai bagian dari penguatan pendidikan karakter dan ketahanan keluarga.


Ajakan itu mengingatkan saya pada salah satu seri tulisan Jejak Kesalehan karya Prof. Muhammad Yasir Yusuf berjudul “Belajar Menjadi Ayah” yang dipublikasikan melalui blog pribadi beliau pada awal Juli ini. 


Prof. Yasir menulis dengan sangat menyentuh bahwa begitu banyak lelaki menjadi ayah tanpa pernah belajar menjadi ayah. Mereka mempersiapkan pesta pernikahan, mempersiapkan pekerjaan, mempersiapkan rumah, tetapi tidak mempersiapkan diri menjalankan amanah sebagai pendidik pertama bagi anak-anaknya. 


Akibatnya, tidak sedikit anak tumbuh dengan kecukupan materi, tetapi miskin sentuhan emosional, spiritual, dan keteladanan dari ayahnya. 


Ayah sering merasa tugasnya selesai ketika kebutuhan ekonomi keluarga telah dipenuhi, padahal anak membutuhkan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar nafkah: kehadiran.


Attachment Ayah


Tulisan Prof. Yasir membawa ingatan saya melayang lebih dari tiga puluh tahun silam ketika menempuh pendidikan master di International Islamic University Malaysia (IIUM), Kuala Lumpur, sekitar tahun 1992–1994. 


Pada masa itulah saya berkesempatan bertemu dengan Prof. Malik Badri, psikolog Muslim terkemuka asal Sudan yang dikenal sebagai pelopor psikologi Islam modern. Beliau bukan hanya seorang ilmuwan, tetapi juga seorang pemikir yang berhasil menjembatani khazanah psikologi modern dengan nilai-nilai Islam.


Dalam berbagai karya dan kuliahnya, Prof. Malik Badri menegaskan bahwa kesehatan jiwa seorang anak tidak dibangun semata-mata oleh kecerdasan intelektual atau kecukupan ekonomi keluarga. Anak memerlukan attachment yang sehat, rasa aman, kasih sayang, keteladanan, dan bimbingan spiritual dari kedua orang tuanya. 


Ayah memiliki fungsi yang tidak tergantikan dalam membentuk keberanian, disiplin, pengendalian diri, identitas diri, daya juang, dan kemampuan anak menghadapi tekanan hidup. Karena itu, ayah bukan hanya pencari nafkah, tetapi juga pendidik, pelatih karakter, pelindung, sekaligus teladan kehidupan.


Menariknya, apa yang dijelaskan Prof. Malik Badri sesungguhnya telah diajarkan Al-Qur’an lebih dari empat belas abad yang lalu. Dalam Surah Luqman ayat 13–19, Allah mengabadikan dialog seorang ayah dengan anaknya sebagai model pendidikan keluarga. 


Luqman tidak hanya memerintah, tetapi berdialog. Ia menanamkan tauhid, mengajarkan syukur, mengingatkan tentang tanggung jawab di hadapan Allah, membimbing anak untuk mendirikan salat, mengajak beramar makruf nahi mungkar, melatih kesabaran, serta mengajarkan kerendahan hati dan etika berbicara. Yang diabadikan Al-Qur’an bukanlah kekayaan Luqman, melainkan cara ia mendidik anaknya. 


Pesan itu sangat jelas: keberhasilan seorang ayah bukan hanya diukur dari apa yang diwariskannya, tetapi terutama dari nilai-nilai yang ditanamkannya.


Tantangan Fatherless


Fenomena hari ini justru menunjukkan tantangan yang semakin besar. Dunia sedang menghadapi meningkatnya fenomena fatherless. Istilah ini tidak hanya merujuk pada anak yang kehilangan ayah karena wafat atau perceraian, tetapi juga menggambarkan ayah yang hadir secara fisik namun nyaris tidak hadir dalam kehidupan emosional anak. 


Ada ayah yang seluruh waktunya tersita oleh pekerjaan, ada yang lebih banyak berinteraksi dengan telepon genggam daripada dengan anak-anaknya, dan ada pula yang menyerahkan hampir seluruh proses pengasuhan kepada ibu dan atau kepada pembantu in case bila ibunya juga sibuk. 


Di Indonesia, fenomena fatherless mulai menjadi perhatian serius. Data Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga/BKKBN) menunjukkan sekitar 25,8 persen anak Indonesia mengalami kondisi fatherless dengan berbagai bentuk dan tingkat keterlibatan ayah yang rendah. Di Aceh, angkanya sekitar 23 persen, atau hampir satu dari empat anak. 


Angka ini tidak boleh dimaknai sebagai vonis bahwa setiap anak dalam kondisi tersebut pasti mengalami masalah, tetapi menjadi peringatan bahwa keterlibatan ayah merupakan faktor penting dalam tumbuh kembang anak yang tidak boleh diabaikan.


Berbagai penelitian di Indonesia maupun mancanegara menunjukkan bahwa keterlibatan ayah yang hangat dan konsisten berkaitan dengan perkembangan bahasa yang lebih baik, prestasi akademik yang lebih tinggi, kemampuan mengendalikan emosi, kepercayaan diri, keterampilan sosial, serta kesehatan mental yang lebih baik. 


Sebaliknya, minimnya keterlibatan ayah dikaitkan dengan meningkatnya risiko berbagai kesulitan perkembangan, meskipun hasil akhir setiap anak tetap dipengaruhi oleh banyak faktor lain seperti kualitas pengasuhan ibu, keluarga besar, sekolah, lingkungan, dan kondisi sosial ekonomi.


Generasi Unggul


Semua ini menjadi sangat penting ketika Indonesia sedang mempersiapkan diri memasuki Indonesia Emas 2045. 


Kita berbicara tentang bonus demografi, kecerdasan buatan, transformasi digital, ekonomi hijau, dan persaingan global. Namun sesungguhnya, fondasi semua itu dibangun jauh sebelum anak mengenal ruang kuliah atau dunia kerja. 


Fondasi itu dibangun ketika seorang ayah meluangkan waktu mendengarkan cerita anaknya, mengajaknya salat berjamaah, membaca Al-Qur’an bersama, menemani belajar, mengajarkan keberanian mengambil keputusan, membiasakan kejujuran, memperlihatkan kerja keras, dan menunjukkan bagaimana menghadapi kegagalan dengan kesabaran.


Generasi unggul tidak lahir hanya dari sekolah yang unggul. Mereka lahir dari rumah yang menghadirkan ayah sebagai pendidik. Guru mengajar beberapa jam setiap hari, tetapi ayah mendidik melalui keteladanan sepanjang hidupnya. 


Teknologi dapat memberikan informasi, tetapi tidak dapat menggantikan pelukan seorang ayah. Kecerdasan buatan dapat menjawab pertanyaan, tetapi tidak dapat menggantikan kebijaksanaan seorang ayah ketika membimbing anak mengambil keputusan yang benar.


Renungan Kaum Lelaki


Karena itu, ada lima hal yang patut menjadi renungan bagi setiap lelaki, baik yang sedang mempersiapkan pernikahan maupun yang telah menjadi ayah.


Pertama, belajarlah menjadi ayah bahkan sebelum memiliki anak. Menjadi ayah adalah amanah yang memerlukan ilmu, kesiapan mental, dan kedewasaan spiritual.


Kedua, hadirkan waktu berkualitas setiap hari. Anak jauh lebih membutuhkan kehadiran ayah daripada hadiah yang mahal.


Ketiga, jadilah teladan. Anak lebih banyak meniru apa yang dilakukan ayah daripada mengingat apa yang diucapkannya.


Keempat, bangun komunikasi yang hangat. Dengarkan cerita anak, pahami kegelisahannya, dampingi proses tumbuhnya, dan jadilah tempat pulang yang paling aman.


Kelima, tanamkan nilai-nilai keimanan sejak dini melalui keteladanan. Ajarkan tauhid, salat, kejujuran, tanggung jawab, cinta ilmu, disiplin, empati, dan kepedulian sosial melalui kehidupan sehari-hari, sebagaimana Luqman mendidik putranya.


Khulashah


Mungkin benar bahwa seorang ibu melahirkan seorang anak ke dunia. Namun, sering kali seorang ayahlah yang melahirkan keberanian, karakter, integritas, cita-cita, dan daya juang dalam diri anaknya. 


Jika Indonesia benar-benar ingin menghadirkan Generasi Emas 2045 yang cerdas, berakhlak, tangguh, mandiri, dan mampu bersaing di panggung dunia, maka mulai hari ini kita harus lebih dahulu melahirkan generasi ayah yang hebat.


Sebab bangsa yang besar tidak hanya dibangun oleh sekolah-sekolah yang hebat, laboratorium yang canggih, atau kurikulum yang modern. Bangsa yang besar dibangun oleh rumah-rumah yang di dalamnya hadir ayah-ayah yang mencintai, mendidik, mendoakan, dan membersamai anak-anaknya. 


Barangkali itulah makna terdalam dari seorang ayah yang menggandeng tangan anaknya menuju gerbang sekolah pada hari pertama. 


Sesungguhnya, yang sedang diantar bukan sekadar seorang anak menuju ruang kelas, melainkan masa depan Indonesia menuju tahun emas 2045.


Wallahu a’lam


Banda Aceh 26 Muharram 1448, 11 Juli 2026


(Penulis akademisi UIN Ar-Raniry Banda Aceh, bendahara ICMI Aceh)

×
Berita Terbaru Update