-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Guru Juga Adalah Buku

Senin, 17 Agustus 2026 | Agustus 17, 2026 WIB Last Updated 2026-08-18T06:14:06Z


Oleh Saifuddin A. Rasyid 

Al-Rasyid.id | Ada guru yang banyak berbicara, tetapi sedikit yang dapat kita ingat. Ada pula guru yang tidak banyak berbicara, tetapi perilaku dan akhlaknya terus kita baca, bahkan setelah kita tidak lagi berada di ruang kelas bersamanya.


Dari sinilah saya terinspirasi menulis tentang sebuah gagasan sederhana: guru juga adalah buku.


Pagi ini saya membaca tulisan muhasabah Prof. Sri Suyanta. Salah satu gagasan yang menarik perhatian saya adalah tentang ilmu yang diamalkan. Ilmu seorang guru atau dosen tidak hanya tampak dari apa yang disampaikannya di ruang kuliah atau di atas mimbar, tetapi juga dari bagaimana ilmu itu hidup dalam dirinya. Kejujuran, kedisiplinan, kerendahan hati, kesantunan, kemampuan menjaga hubungan dengan sesama, kemampuan menjaga lisan, dan sikap tidak sombong adalah halaman-halaman buku yang dapat dibaca oleh siapa saja.


Dalam konteks pendidikan, sesungguhnya peserta didik tidak hanya membaca buku yang berada di perpustakaan. Mereka juga membaca buku yang berjalan, yaitu guru dan dosennya.


Keteladanan adalah ilmu yang hidup


Islam memberikan tempat yang sangat tinggi kepada keteladanan. Allah SWT berfirman:


لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ


“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.”

(QS. Al-Ahzab: 21).


Rasulullah SAW adalah pendidik terbesar dalam sejarah manusia. Beliau tidak hanya mengajarkan kebenaran melalui kata-kata, tetapi memperlihatkan kebenaran itu melalui kehidupan.


Al-Qur’an bahkan memberikan teguran keras kepada orang yang mengatakan sesuatu tetapi tidak mengerjakannya:


كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ


“Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”

(QS. Ash-Shaff: 3).


Ayat ini mengingatkan kita bahwa antara ilmu, ucapan dan perbuatan seharusnya terdapat kesatuan. Guru yang mengajarkan kejujuran tetapi tidak jujur sedang memberikan dua pelajaran sekaligus: pelajaran dari kata-katanya dan pelajaran dari perilakunya. Sayangnya, murid sering kali lebih mudah menangkap pelajaran kedua.


Karena itu, seorang guru sejatinya tidak pernah berhenti mengajar. Bahkan ketika ia sedang tidak mengajar.

Ketika ia datang tepat waktu, ia sedang mengajarkan disiplin.

Ketika ia mengakui kesalahan, ia sedang mengajarkan kejujuran. Ketika ia menghormati orang kecil, ia sedang mengajarkan kemuliaan. Ketika ia tidak membalas keburukan dengan keburukan, ia sedang mengajarkan kesabaran.

Ketika ia menjaga lisannya, ia sedang mengajarkan akhlak.


Dan ketika ia rendah hati meskipun memiliki ilmu dan kedudukan, ia sedang mengajarkan bahwa ilmu seharusnya melahirkan ketundukan kepada Allah, bukan kesombongan di hadapan manusia.


Dalam tradisi pendidikan Islam, keteladanan ini dikenal dengan istilah qudwah atau uswah. Prof. Sri Suyanta sendiri pernah menulis tentang signifikansi qudwah guru dalam pembelajaran, dalam Ejournal Unmuha, dan kajian tersebut menekankan bahwa peserta didik belajar bukan hanya melalui teori, tetapi juga melalui apa yang mereka lihat dari keseharian pendidiknya. 


Begitu pula Ki Hadjar Dewantara mewariskan trilogi pendidikan yang sangat terkenal: Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Di depan memberikan teladan, di tengah membangun semangat, dan di belakang memberikan dorongan.


Artinya, seorang pendidik tidak cukup hanya memiliki kemampuan menyampaikan ilmu. Ia harus menjadi contoh hidup dari ilmu yang disampaikannya.


Saya menemukan “buku” itu pada Ustaz Erwandi


Dalam kehidupan saya sekarang, ada seorang tokoh yang saya perhatikan dan saya coba ikuti cara-caranya. Beliau adalah Ustaz Erwandi, koordinator Safari Subuh BBC di Banda Aceh.


Menariknya, Ustaz Erwandi bukanlah sosok yang selalu tampil di depan.


Beliau tidak naik mimbar seperti beberapa guru lainnya. Misalnya Ustaz Fakhruddin Lahmuddin yang dakwahnya menukik dan menghunjam, sesekali mendobrak secara halus, sesuai dengan fikih dakwah yang beliau ajarkan.


Ustaz Erwandi memilih jalan yang berbeda. Beliau tidak memegang mikrofon untuk menyampaikan pengumuman karena memang sudah ada akhi yang bertugas mengumumkan. Beliau juga tidak harus berada di depan untuk menunjukkan bahwa dirinya seorang koordinator.


Tetapi ada sesuatu yang menarik. Dalam shaf salat, beliau justru selalu berada di depan dekat dengan imam.


Di sinilah saya belajar bahwa ada orang yang tidak banyak berbicara tentang kepemimpinan, tetapi perilakunya memimpin.


Ustaz Erwandi berbicara dan berbuat dengan diam. Tidak banyak menyampaikan, tetapi banyak memberikan contoh.


Bagi saya dan mungkin bagi orang-orang yang berada di sekitarnya, beliau seperti sebuah buku yang terus berkata-kata tanpa suara. Tidak berisik, tetapi pesannya terdengar. Tidak meminta dibaca, tetapi orang ingin membacanya.


Kata-katanya positif. Nasihatnya lembut. Dan sering kali ketika memuji atau menasihati seseorang, kata-kata itu disertai tetesan air mata.


Yang menarik, semua itu tidak terasa seperti pertunjukan untuk mendapatkan pujian.


Saya sendiri sering dipanggil oleh beliau dengan sebutan “bapak yang mulia.”


Setiap kali mendengarnya, dalam hati saya justru merasa malu. Saya menyadari diri saya bukanlah orang mulia. Saya manusia yang masih sering berbuat dosa, masih banyak kekurangan dan masih harus terus belajar memperbaiki diri.


Namun, saya juga memanggil beliau “Bapak yang mulia.”


Bukan semata-mata karena beliau memanggil saya dengan sebutan mulia. Beliau menjadi mulia dalam pandangan saya karena akhlaknya, sikapnya, perilakunya, tutur katanya dan cara beliau memperlakukan orang lain.


Itulah guru yang menjadi buku.


Kita tidak hanya mendengar apa yang beliau katakan. Kita membaca bagaimana beliau bersikap.


Takzim kepada guru yang juga menjadi teladan


Pagi itu, setelah membaca muhasabah Prof. Sri Suyanta, saya juga teringat kepada ajakan beliau kepada para guru, terutama bersempena memasuki bulan Maulid Nabi, agar berupaya meneladani Rasulullah SAW sebaik mungkin.


Saya kemudian menulis komentar sederhana: “Agar buku yang melekat pada diri guru dan dosen dapat terus dibaca seperti sirah Nabawiyah ya Prof?”


Prof. Sri Suyanta membalas komentar saya dengan dua kata yang sangat singkat:

“Takzim, Guru.”


Saya disebutnya guru. Padahal saya merasa hanya manusia yang memiliki sedikit ilmu dan belum pantas disebut guru.


Namun, justru perlakuan beliau itu membuat rasa takzim saya kepada beliau semakin bertambah. Sebab begitulah orang berilmu: semakin tinggi ilmunya, semakin mudah ia memuliakan orang lain.


Di sinilah saya kembali menemukan bahwa akhlak seorang guru sering kali lebih kuat daripada gelar yang melekat di belakang namanya.


Gelar akademik menunjukkan capaian keilmuan. Tetapi akhlak menunjukkan bagaimana ilmu itu bekerja di dalam diri.


Buku yang tidak pernah tamat dibaca


Dalam keluarga kami, ada pula seorang guru yang selalu kami ingat, meskipun beliau telah berpulang lebih dari tiga puluh tahun lalu.


Beliau adalah Nek Warabo, nenek dari Prof. Mustanir, Guru Besar USK, sekaligus nektu atau nenek buyut dari istri saya.


Nek Warabo bagi keluarga kami adalah buku yang tidak pernah tamat dibaca.


Beliau meninggalkan banyak kata-kata positif yang sampai hari ini masih kami ingat.


Beliau selalu berusaha mengkhatamkan Al-Qur’an setiap pekan. Ibadah-ibadah sunnah tidak ditinggalkannya. Kepada anak-anak dan cucu-cucunya, beliau memiliki panggilan-panggilan penuh kasih: “Intan”, “Raja”, “Putro”—putri kesayangan.


Beliau juga sering mengingatkan kami agar mengisi waktu dengan kebaikan.


Ada satu kebiasaan beliau yang sampai sekarang masih terasa begitu sederhana sekaligus bermakna. Beliau pernah memberikan boh musabah, biji tahlil, agar kami dapat berzikir sambil menonton televisi.


Sebuah nasihat kecil. Tetapi ternyata menjadi halaman yang panjang dalam ingatan.


Nek Warabo telah tiada lebih dari tiga puluh tahun. Namun bukunya masih kami baca sampai sekarang.


Begitulah keteladanan. 


Ia tidak selalu membutuhkan suara. Ia tidak selalu membutuhkan panggung. Ia tidak selalu membutuhkan jabatan.


Bahkan ketika pemiliknya telah tiada, halaman-halamannya masih dapat dibuka oleh generasi yang ditinggalkan.


Guru adalah buku yang dibaca generasi


Rasulullah SAW bersabda:


خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ


“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya.”


Hadis ini memberi pelajaran penting bahwa ukuran kebaikan seseorang tidak hanya tampak di ruang publik, tetapi juga di lingkungan terdekatnya.


Seorang guru yang baik bukan hanya yang mampu berbicara dengan indah di depan mahasiswa, tetapi juga yang baik kepada keluarganya. Bukan hanya yang pandai mengutip ayat dan hadis, tetapi yang mampu menjaga lisannya di rumah. Bukan hanya yang mengajarkan kesabaran kepada murid, tetapi juga yang sabar menghadapi keluarga dan tetangga.


Sebab murid, anak, keluarga dan masyarakat sesungguhnya sedang membaca kita setiap hari.


Mereka membaca cara kita berbicara. Mereka membaca cara kita memperlakukan orang. Mereka membaca cara kita menggunakan kekuasaan. Mereka membaca bagaimana kita menghadapi kritik. Mereka membaca bagaimana kita bersikap ketika dipuji. Mereka membaca bagaimana kita bersikap ketika tidak dipuji.


Dan mereka membaca bagaimana kita memperlakukan orang yang tidak mempunyai apa-apa untuk diberikan kepada kita.


Karena itu, menjadi guru sesungguhnya adalah pekerjaan seumur hidup. Bahkan ketika seorang dosen sudah keluar dari ruang kuliah, ia tetap menjadi guru. Ketika seorang ustaz turun dari mimbar, ia tetap menjadi guru. Ketika seorang ayah pulang ke rumah, ia tetap menjadi guru. Ketika seorang ibu berbicara kepada anak-anaknya, ia juga sedang menulis sebuah buku.


Maka pertanyaannya bukan lagi: berapa banyak yang sudah kita ajarkan?


Tetapi juga:


Buku seperti apakah diri kita yang sedang dibaca oleh orang-orang di sekitar kita?


Bahagia memiliki guru, lebih bahagia menjadi buku


Saya kira inilah salah satu cara paling indah memahami keteladanan.


Kita tidak hanya membutuhkan guru yang mampu menjelaskan ilmu, tetapi guru yang membuat ilmu itu terlihat.


Kita membutuhkan dosen yang bukan hanya pandai mengajar, tetapi juga mampu memperlihatkan bagaimana ilmu melahirkan integritas.


Kita membutuhkan ulama yang bukan hanya mampu berbicara tentang akhlak, tetapi akhlaknya sendiri menjadi pelajaran.


Dan kita membutuhkan orang tua yang bukan hanya menyuruh anak-anaknya menjadi baik, tetapi kehidupan mereka menjadi contoh tentang bagaimana menjadi baik.


Prof. Sri Suyanta telah mengingatkan bahwa guru harus menjadi qudwah. Ustaz Erwandi memperlihatkan kepada saya bagaimana keteladanan dapat berbicara tanpa mikrofon. Nek Warabo mengajarkan bahwa sebuah teladan bahkan dapat terus hidup puluhan tahun setelah pemiliknya meninggalkan dunia.


Maka, berbahagialah kita yang memiliki guru yang terus dapat kita baca bagaikan buku.


Lebih bahagia lagi jika suatu hari nanti kita mampu menjadi guru sekaligus buku yang terus dapat dibaca oleh keluarga kita, tetangga kita, murid dan mahasiswa kita, masyarakat kita, bahkan bangsa kita.


Sebab buku terbaik bukan selalu buku yang paling tebal.


Bisa jadi buku terbaik adalah manusia yang hidupnya menuliskan kebaikan pada hati orang lain.


Dan semoga ketika suatu hari kita tidak lagi berada di tengah-tengah mereka, masih ada orang yang membuka halaman kehidupan kita lalu berkata:


“Dari beliau, saya pernah belajar menjadi manusia yang lebih baik.”


Itulah guru.


Dan itulah buku yang sesungguhnya.


Wallahu a’lam 


Darussalam 5 Rabiul Awal 1448, 18 Agustus 2026


(Penulis, mantan manajer CSR Semen Andalas dan pensiunan dosen UIN Ar-Raniry, juga guru yang sedang belajar)


_Note: foto; penulis (kiri) bersama Ust Erwandi (kanan)_

×
Berita Terbaru Update