Opini Saifuddin A. Rasyid
Al-Rasyid.id | Sore Sabtu ini, sejumlah belasan tokoh ICMI Aceh berkumpul dalam suasana santai dan penuh keakraban di MZ Coffee, Banda Aceh. Tidak ada podium, tidak ada mikrofon, apalagi suasana forum yang terlalu formal. Kami duduk, bercakap-cakap, bersilaturahmi dan bertukar pikiran tentang Aceh dan masa depannya.
Namun, dari percakapan yang mengalir ringan itu, muncul satu tema yang sesungguhnya sangat berat dan strategis: perdamaian Aceh.
Pembicaraan itu terasa relevan, terutama setelah Aceh memperingati 21 tahun perjalanan damai. Dua puluh satu tahun tentu bukan waktu yang sebentar. Ia cukup panjang untuk membuat satu generasi tumbuh dalam suasana yang relatif damai, tetapi sekaligus cukup pendek jika kita berbicara tentang bagaimana memastikan perdamaian itu benar-benar menjadi kebudayaan yang mengakar.
Saya lebih banyak menyimak.
Kebetulan saya duduk di sebelah kanan Prof. Yusny Saby, Ketua Dewan Penasihat ICMI Aceh. Karena posisinya begitu dekat, telinga kiri saya benar-benar saya dekatkan kepada beliau. Saya ingin menangkap dengan baik potongan-potongan pandangan yang beliau sampaikan.
Prof. Yusny bukan sekadar seorang akademisi. Beliau adalah salah seorang cendekiawan muslim terkemuka Aceh, pernah menjadi Rektor UIN Ar-Raniry dan juga pernah menjadi Kepala Badan Reintegrasi Aceh (BRA) pertama. Karena itu, ketika beliau berbicara tentang perdamaian Aceh, saya menangkapnya bukan semata sebagai pendapat seseorang yang sedang berdiskusi di warung kopi.
Saya menangkapnya sebagai akumulasi ilmu, pengalaman, dan perjalanan panjang seorang intelektual yang menyaksikan Aceh dari dekat.
Satu pokok pikiran beliau yang paling kuat saya tangkap adalah sederhana, tetapi sangat dalam: damai adalah jalan terbaik untuk Aceh.
Aceh sudah terlalu lama berada dalam pusaran konflik. Masyarakat sudah merasakan pahitnya perang, kehilangan, ketakutan, keterbelakangan dan berbagai konsekuensi sosial yang ditinggalkannya. Karena itu, hari ini rasanya sulit menemukan kelompok masyarakat Aceh yang sungguh-sungguh menghendaki perang kembali.
Masyarakat sudah lelah.
Dan karena perdamaian itu diperoleh dengan harga yang mahal, maka perdamaian yang telah dicapai juga harus dijaga dengan mahal.
Ia harus dirawat.
Ia harus diperkuat.
Dan yang paling penting, ia harus diwariskan.
Damai bukan sekadar berhentinya perang
Ada kecenderungan kita memahami perdamaian secara sederhana: selama tidak ada perang, berarti sudah damai.
Padahal tidak sesederhana itu.
Perdamaian yang kokoh bukan hanya ketiadaan kekerasan bersenjata. Ia juga menyangkut hadirnya rasa aman, keadilan, penghormatan terhadap martabat manusia, kesempatan untuk berkembang, ruang dialog dan kemampuan masyarakat mengelola perbedaan tanpa kekerasan.
Karena itu, perdamaian harus menjadi pengetahuan.
Ia harus menjadi kebiasaan.
Bahkan lebih jauh, ia harus menjadi budaya.
Dalam perspektif inilah saya memahami pesan Prof. Yusny. Aceh memiliki pengalaman yang sangat berharga. Aceh pernah menjadi masyarakat yang mengalami konflik panjang dan kemudian menjadi masyarakat yang menemukan jalan keluar melalui perdamaian.
Pengalaman tersebut jangan berhenti sebagai cerita sejarah.
Jangan hanya menjadi seremoni tahunan.
Jangan pula berhenti sebagai ingatan bagi generasi yang pernah mengalami konflik.
Pengalaman damai Aceh harus diolah menjadi ilmu.
Aceh sesungguhnya adalah sebuah laboratorium hidup tentang konflik dan perdamaian.
Di sini pernah terjadi konflik panjang. Di sini pula pernah lahir proses perdamaian yang menjadi salah satu pengalaman penting dalam sejarah Indonesia modern.
Karena itu, Aceh mempunyai modal akademik yang sangat berharga untuk berbicara kepada Indonesia dan dunia tentang bagaimana konflik dikelola, bagaimana luka sosial dipulihkan, bagaimana reintegrasi dilakukan, dan bagaimana masyarakat membangun kembali kehidupan setelah konflik.
Dunia sudah lama belajar tentang perdamaian
Gagasan menjadikan perdamaian sebagai objek pendidikan tinggi sebenarnya bukan sesuatu yang baru.
Di tingkat internasional ada University for Peace (UPEACE) di Costa Rica. Universitas ini memiliki posisi yang sangat khas karena dibentuk melalui mandat Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 1980. Mandatnya adalah menyediakan institusi pendidikan tinggi internasional untuk perdamaian, dengan perhatian pada pendidikan, penelitian dan penyebaran pengetahuan mengenai perdamaian. (Digital Library)
UPEACE kini menjadi institusi pascasarjana yang menawarkan pendidikan pada berbagai bidang yang berkaitan dengan perdamaian, konflik, hak asasi manusia, hukum internasional, lingkungan dan pembangunan berkelanjutan. Alumni universitas ini berasal dari lebih dari 130 negara. (upeace.org)
Ada pula School of Peace Studies di University of Bradford, Inggris, yang memiliki sejarah panjang dalam studi perdamaian dan resolusi konflik. Sekolah tersebut dikenal sebagai institusi pionir dalam bidang Peace Studies di Inggris; pengembangannya telah melahirkan tradisi akademik yang kuat dalam kajian konflik, resolusi konflik dan pembangunan perdamaian. (University of Bradford)
Pesannya jelas: dunia tidak hanya membutuhkan tentara dan diplomat untuk mencegah perang. Dunia juga membutuhkan ilmuwan perdamaian, mediator, peneliti konflik, pendidik perdamaian, pekerja kemanusiaan dan pemimpin yang memiliki kemampuan membangun rekonsiliasi.
Indonesia pun telah memulainya
Di Indonesia, salah satu contoh penting adalah Magister Perdamaian dan Resolusi Konflik (MPRK) Universitas Gadjah Mada. Program ini telah berdiri sejak awal 2000-an dan menjadi salah satu program akademik pionir dalam studi perdamaian dan resolusi konflik di Indonesia bahkan Asia Tenggara. Fokusnya antara lain meningkatkan kemampuan masyarakat, institusi dan individu dalam mengelola konflik secara nirkekerasan. (pasca.ugm.ac.id)
Yang menarik, latar belakang mahasiswa MPRK UGM sangat beragam, mulai dari ilmu sosial, hukum, pendidikan agama, pemerintahan, komunikasi, psikologi hingga berbagai profesi. Ini menunjukkan bahwa perdamaian memang bukan urusan satu disiplin ilmu. Ia membutuhkan pendekatan lintas ilmu dan lintas pengalaman. (mprk.ugm.ac.id)
Bahkan dalam perkembangan terbaru, UGM dan Universitas Syiah Kuala (USK) telah mengeksplorasi kerja sama dalam pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat terkait studi perdamaian, resolusi konflik, pembangunan sosial dan penguatan kapasitas sumber daya manusia. (pasca.ugm.ac.id)
Bagi Aceh, ini menarik.
Sebab kita memiliki pengalaman yang tidak dimiliki oleh semua daerah: pengalaman hidup dalam konflik sekaligus pengalaman membangun perdamaian.
Universitas Perdamaian di Aceh
Dari diskusi sore itu muncul sebuah gagasan yang menurut saya layak dibawa ke ruang yang lebih serius: membangun Universitas Perdamaian di Aceh.
Saya kira gagasan ini bukan gagasan yang berlebihan.
Justru sebaliknya, ia sangat relevan dengan sejarah dan kebutuhan Aceh.
Universitas Perdamaian di Aceh tidak harus dimaknai sekadar sebagai gedung baru atau perguruan tinggi dengan nama yang berbeda. Yang jauh lebih penting adalah membangun pusat pengetahuan, penelitian, pendidikan dan praktik perdamaian yang menjadikan pengalaman Aceh sebagai laboratorium akademik.
Di sana dapat dikembangkan studi mengenai konflik Aceh, perdamaian Helsinki, reintegrasi, rekonsiliasi, transformasi konflik, pembangunan pascakonflik, perdamaian berbasis agama, kearifan lokal, perempuan dan perdamaian, generasi muda, ekonomi perdamaian, hingga hubungan antara perdamaian dan pembangunan.
Aceh dapat menjadi tempat orang belajar bagaimana sebuah masyarakat yang pernah mengalami konflik panjang kemudian memilih jalan damai.
Dan bukan tidak mungkin mahasiswa dari berbagai daerah bahkan berbagai negara datang ke Aceh untuk belajar tentang pengalaman tersebut.
Dengan demikian, Aceh tidak lagi hanya dikenal sebagai daerah yang pernah mengalami konflik.
Aceh dapat dikenal sebagai daerah yang berhasil mengubah pengalaman konflik menjadi pengetahuan perdamaian.
Menjembatani pengalaman dan generasi
Di sinilah saya melihat pentingnya pesan Prof. Yusny tentang pewarisan.
Generasi yang mengalami konflik tentu mempunyai memori yang berbeda dengan generasi yang lahir setelah perdamaian.
Anak-anak muda Aceh hari ini mungkin mengenal konflik dari cerita orang tua, buku, dokumentasi atau pemberitaan. Mereka tidak merasakan langsung bagaimana ketakutan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Ini adalah kabar baik.
Tetapi sekaligus mengandung tantangan.
Jangan sampai hilangnya pengalaman langsung terhadap konflik membuat generasi baru kehilangan penghargaan terhadap perdamaian.
Karena itu, pengalaman para pelaku dan penyintas konflik harus dijembatani dengan dunia generasi baru.
Mereka harus diajak memahami bahwa damai bukan sesuatu yang turun dari langit tanpa proses.
Damai memiliki sejarah.
Damai memiliki pengorbanan.
Damai memiliki negosiasi.
Damai memiliki air mata.
Dan damai membutuhkan orang-orang yang bersedia memilih jalan yang lebih sulit daripada sekadar membalas kekerasan dengan kekerasan.
Anak muda dan ilmu hidup damai
Saya berharap generasi muda Aceh tidak hanya menjadi penonton dari sejarah perdamaian Aceh.
Mereka harus menjadi pewaris sekaligus pengembangnya.
Mereka perlu mempelajari bagaimana konflik terjadi, mengapa manusia bertikai, bagaimana provokasi bekerja, bagaimana kebencian dibangun, bagaimana dialog dilakukan, bagaimana rekonsiliasi dirancang dan bagaimana keadilan serta kesejahteraan dapat menjadi fondasi perdamaian.
Di era media sosial, kebutuhan itu semakin penting.
Konflik hari ini tidak selalu dimulai dengan senjata. Ia bisa dimulai dari sebuah unggahan, potongan video, komentar, fitnah, disinformasi atau provokasi yang kemudian menyebar dengan sangat cepat.
Karena itu, generasi damai membutuhkan kecerdasan baru: kemampuan membaca perbedaan, mengendalikan emosi, memverifikasi informasi, berdialog dan menyelesaikan persoalan tanpa kekerasan.
Inilah mengapa pendidikan perdamaian menjadi semakin penting.
Damai untuk pembangunan
Ada satu alasan lain mengapa perdamaian harus terus dijaga: pembangunan membutuhkan ketenangan.
Masyarakat yang damai lebih memiliki ruang untuk belajar, bekerja, berusaha, berinvestasi, berinovasi dan membangun masa depan.
Sebaliknya, konflik selalu mengambil sesuatu dari masyarakat. Ia mengambil energi, waktu, sumber daya, kepercayaan dan kesempatan.
Karena itu, menjaga perdamaian sesungguhnya adalah bagian dari strategi pembangunan Aceh.
Perdamaian bukan lawan dari pembangunan.
Perdamaian adalah prasyarat pembangunan.
Maka, ketika kita berbicara tentang masa depan Aceh, kita tidak cukup hanya bertanya berapa banyak jalan yang dibangun, berapa banyak investasi yang masuk, atau berapa banyak gedung yang berdiri.
Kita juga harus bertanya: seberapa kuat budaya damai tumbuh dalam masyarakat kita?
Damai adalah jalan terbaik
Saya kembali kepada pesan yang saya tangkap dari Prof. Yusny Saby sore tadi.
Damai adalah jalan terbaik untuk Aceh.
Bukan karena Aceh tidak boleh memiliki keberanian.
Bukan pula karena setiap konflik harus dihindari.
Tetapi karena masyarakat yang telah belajar dari sejarah akan memahami bahwa kekerasan memiliki harga yang sangat mahal.
Ketika perang sudah terjadi, sejarah memang tidak bisa dihapus.
Tetapi sejarah dapat dijadikan guru.
Dan Aceh telah membayar mahal untuk memperoleh pelajaran itu.
Maka jangan sampai generasi berikutnya harus membayar harga yang sama hanya untuk menemukan kesimpulan yang sebenarnya sudah kita ketahui: damai jauh lebih baik daripada perang.
Aceh kini memiliki tugas baru.
Bukan lagi sekadar mengakhiri konflik.
Tetapi membangun peradaban perdamaian.
Jika gagasan Universitas Perdamaian di Aceh suatu hari dapat diwujudkan, saya membayangkannya bukan hanya sebagai kampus yang mengajarkan teori tentang perdamaian.
Saya membayangkannya sebagai rumah pengetahuan yang mengumpulkan pengalaman Aceh, mengolahnya menjadi ilmu, mengajarkannya kepada generasi muda, dan membagikannya kepada Indonesia serta dunia.
Dari tanah yang pernah mengalami konflik, kita membangun sekolah tentang perdamaian.
Dari pengalaman luka, kita melahirkan ilmu penyembuhan.
Dari sejarah pertikaian, kita mewariskan pengetahuan tentang rekonsiliasi.
Dan dari pengalaman mahal sebuah perdamaian, kita belajar satu kalimat sederhana yang saya bawa pulang dari percakapan sore itu:
Damai adalah jalan terbaik.
Maka tugas kita sekarang bukan sekadar menikmati damai.
Tugas kita adalah merawatnya, memperkuatnya, mengilmukannya dan mewariskannya.
Sebab damai yang diwariskan kepada generasi adalah salah satu bentuk cinta paling nyata kepada masa depan Aceh.
Wallahu a’lam
Bada Aceh 9 Rabiul Awal 1448, 22 Agustus 2026
(Penulis, akademisi dan pegiat moderasi UIN Ar-Raniry, bendahara ICMI Aceh)
