Oleh: Saifuddin A. Rasyid
Al-Rasyid.id | Subuh pagi tadi, kawasan tempat tinggal kami di Gampong Barabung baru saja disirami hujan rahmat. Setelah beberapa waktu cuaca terasa panas dan kering, hujan yang turun menjelang subuh menghadirkan suasana yang berbeda. Udara menjadi sejuk, halaman basah, pepohonan tampak segar, dan pagi terasa lebih hidup.
Di tengah suasana seperti itu, kita tentu pantas mengucapkan alhamdulillah. Hujan bukan sekadar fenomena alam. Bagi seorang Muslim, hujan adalah salah satu tanda kasih sayang Allah kepada makhluk-Nya.
Apalagi beberapa waktu terakhir kita mendengar kabar tentang kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Indonesia yang menimbulkan asap, mengganggu kehidupan masyarakat, bahkan asapnya melintasi batas negara hingga menyulitkan warga negara tetangga. Berita terkini memang menunjukkan kebakaran hutan dan lahan sedang menjadi persoalan serius di Indonesia, sementara asap telah berdampak ke Malaysia. (AP News)
Karena itu, ketika hujan turun pagi tadi, rasa syukur terasa semakin dalam. Ada petani yang menunggu air untuk sawahnya. Ada masyarakat yang membutuhkan air untuk kehidupan sehari-hari. Ada hutan yang membutuhkan kelembapan untuk bertahan dari kekeringan. Bahkan mereka yang sedang berjuang memadamkan kebakaran hutan sangat membutuhkan air.
Ketika imam membaca tentang air yang menyucikan
Menariknya, dalam shalat Subuh tadi, imam kami, Ustaz Prof. Ilham Maulana, membaca Surah Al-Furqan ayat 48 dan 49 diantara ayat ayat pada rakaat pertama.
Allah berfirman:
وَهُوَ الَّذِيْٓ اَرْسَلَ الرِّيٰحَ بُشْرًاۢ بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهٖۚ وَاَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً طَهُوْرًا ٤٨ لِّنُحْيِيَ بِهٖ بَلْدَةً مَّيْتًا وَّنُسْقِيَهٗ مِمَّا خَلَقْنَآ اَنْعَامًا وَّاَنَاسِيَّ كَثِيْرًا ٤٩
“Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa kabar gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan), dan Kami turunkan dari langit air yang sangat suci, agar dengan air itu Kami menghidupkan negeri yang mati, serta memberi minum kepada sebagian makhluk Kami, yaitu hewan-hewan ternak dan manusia yang banyak.”
Kata yang sangat menarik dalam ayat tersebut adalah مَاءً طَهُورًا (mā’an ṭahūran)—air yang suci lagi menyucikan.
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa mā’an ṭahūran menunjukkan air yang digunakan untuk bersuci. Beliau juga menghubungkan ayat ini dengan fungsi hujan yang menghidupkan tanah yang sebelumnya mati karena kekeringan. Ketika air datang, tanah kembali hidup, tumbuhan tumbuh, hewan mendapatkan minuman dan manusia memperoleh kehidupan. (Quran KSU)
Pagi tadi, setelah shalat, kami sempat duduk sejenak dan membicarakan secara ringan kandungan ayat tersebut. Rasanya ayat itu seperti sedang berbicara langsung dengan suasana pagi: baru saja hujan turun, bumi yang kering mendapatkan air, udara menjadi segar, dan manusia kembali merasakan nikmat Allah.
Betapa indah Al-Qur’an mengajarkan kita melihat air bukan sekadar sebagai benda, tetapi sebagai tanda kehidupan dan rahmat Allah.
Air diturunkan untuk menghidupkan
Al-Qur’an berkali-kali mengingatkan manusia tentang karakter air.
Dalam Surah An-Nahl ayat 10 Allah berfirman:
هُوَ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً لَّكُمْ مِّنْهُ شَرَابٌ وَّمِنْهُ شَجَرٌ فِيْهِ تُسِيْمُوْنَ
“Dialah yang telah menurunkan air dari langit untuk kamu. Sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya menyuburkan tumbuhan yang dengannya kamu menggembalakan ternakmu.”
Air untuk manusia, air untuk tumbuhan, air untuk hewan. Dengan kata lain, air memiliki fungsi ekologis yang sangat luas. Ia bukan hanya milik manusia.
Al-Qur’an bahkan menghubungkan air dengan kehidupan itu sendiri:
وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ
“Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup.” (QS. Al-Anbiya’: 30).
Maka sesungguhnya air adalah salah satu bahasa kehidupan yang Allah bentangkan di bumi.
Lalu mengapa air kadang menjadi “musuh”?
Di sinilah kita perlu melakukan muhasabah.
Air sebenarnya tidak datang untuk memusuhi manusia. Tetapi manusia bisa salah memperlakukan air dan alam sehingga air yang semestinya menjadi rahmat berubah menjadi bencana.
Hujan turun sebagai rahmat, tetapi ketika hutan ditebang tanpa kendali, daerah resapan ditutup, sungai dipersempit dan dipenuhi sampah, tanah kehilangan kemampuan menyerap air, maka hujan yang seharusnya meresap ke bumi dapat berubah menjadi banjir.
Sebaliknya, ketika hutan dibakar, lahan dikeringkan, gambut dirusak, dan vegetasi dihancurkan, pada musim kering kita justru kehilangan kelembapan yang semestinya menjadi perlindungan alami dari kebakaran.
Dengan demikian, terkadang yang kita sebut sebagai “air penyebab bencana” atau “alam yang sedang marah” sesungguhnya merupakan cermin dari cara manusia memperlakukan alam.
Kita perlu mengubah cara berpikir.
Jangan buru-buru menyalahkan hujan ketika banjir datang. Jangan pula menyalahkan kekeringan semata ketika kebakaran meluas. Tanyakan lebih dahulu: apa yang telah manusia lakukan terhadap bumi?
Al-Qur’an telah mengingatkan:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia.” (QS. Ar-Rum: 41).
Ayat ini seharusnya menjadi cermin ekologis bagi umat Islam.
Air, molekul dan kebesaran Sang Pencipta
Menarik pula merenungkan air dari perspektif ilmu pengetahuan.
Dalam kajian modern tentang air, para ilmuwan mempelajari bagaimana molekul air dan ikatan hidrogen di dalamnya dapat berubah sesuai lingkungan. Penelitian aquaphotomics, misalnya, menunjukkan bahwa spektrum air membawa informasi tentang ikatan OH dan ikatan hidrogen yang dipengaruhi kondisi internal maupun lingkungan. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa suara dapat memengaruhi karakteristik molekuler air yang diamati melalui pendekatan spektroskopi. (MDPI)
Di Jepang, penelitian Tamotsu Hashimoto dan Yasuaki Hiwatari juga secara khusus mempelajari struktur dan sifat vibrasional ion H₃O⁺ dan OH⁻ dalam air melalui simulasi dinamika molekuler. (Taylor & Francis Online)
Hal ini tentu menarik untuk direnungkan: sesuatu yang tampak sederhana seperti setetes air ternyata memiliki struktur molekuler dan perilaku fisik-kimia yang sangat kompleks.
Namun, kita juga perlu berhati-hati terhadap berbagai klaim populer mengenai “air yang menyimpan kata-kata” atau “air yang berubah menjadi positif hanya karena diperdengarkan kata tertentu”. Gagasan seperti ini sangat dikenal melalui eksperimen Masaru Emoto tentang kristal air. Memang pernah dilakukan eksperimen yang melaporkan perbedaan penilaian estetika kristal air yang diberi perlakuan tertentu, tetapi klaim tersebut belum menjadi kesimpulan ilmiah yang mapan. (PubMed)
Bagi seorang Muslim, kita tidak perlu memaksakan setiap temuan seperti itu menjadi pembuktian ayat Al-Qur’an.
Yang lebih indah adalah mengambilnya sebagai jendela tadabbur: semakin jauh ilmu pengetahuan mempelajari air, semakin kita menyadari betapa luar biasanya ciptaan Allah.
Allah menciptakan air dengan karakteristik yang memungkinkan kehidupan berlangsung. Kita tidak perlu mengubah sains menjadi dogma untuk kemudian sampai kepada kesimpulan spiritual.
Cukup katakan:
Subhanallah, betapa agung Sang Pencipta air.
Zamzam: air yang mengajarkan kita tentang kebesaran Allah
Dalam tradisi Islam, air Zamzam menempati kedudukan istimewa. Ia menjadi bagian dari sejarah Nabi Ibrahim, Siti Hajar dan Nabi Ismail, sekaligus menjadi nikmat yang terus dinikmati jutaan jamaah hingga hari ini.
Kita boleh mengkaji kandungan mineral dan karakteristik Zamzam secara ilmiah. Tetapi kemuliaannya bagi umat Islam tidak bergantung semata-mata pada hasil laboratorium. Kemuliaan Zamzam terutama terkait dengan sejarah wahyu, keberkahan dan kedudukannya dalam ajaran Islam.
Karena itu, Zamzam mengajarkan satu hal penting: air dapat menjadi tanda kebesaran Allah ketika manusia mampu melihat lebih jauh daripada sekadar benda fisik.
Begitu pula hujan pagi tadi.
Secara fisik ia adalah air. Secara ekologis ia adalah sumber kehidupan. Tetapi secara spiritual ia adalah rahmat yang mengingatkan manusia kepada Sang Pemberi rahmat.
Ketika hujan turun, jangan hanya membuka payung
Ada sunnah yang sangat indah ketika hujan turun.
Aisyah radhiyallahu ’anha meriwayatkan bahwa ketika Rasulullah ﷺ melihat hujan, beliau berdoa:
اللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا
Allahumma shayyiban nafi’an.
“Ya Allah, jadikanlah hujan ini hujan yang bermanfaat.”
Riwayat lain juga menyebutkan doa agar hujan menjadi sayyiban hani’an, hujan yang baik dan menyenangkan.
Ini sangat menarik.
Nabi tidak sekadar mengajarkan kita untuk mengatakan, “Hujan turun.”
Beliau mengajarkan kita meminta:
“Ya Allah, jadikan hujan ini bermanfaat.”
Artinya, seorang Muslim tidak hanya memandang jumlah air, tetapi juga manfaatnya.
Air yang cukup adalah rahmat. Air yang dikelola dengan baik adalah rahmat. Air yang meresap ke tanah adalah rahmat. Air yang menghidupkan sawah adalah rahmat. Air yang diminum manusia dan hewan adalah rahmat.
Tetapi air yang kita biarkan mengalir membawa sampah, menimbulkan banjir karena kesalahan tata ruang, atau bercampur limbah akibat kelalaian manusia, sesungguhnya mengingatkan kita bahwa rahmat Allah membutuhkan tanggung jawab manusia.
Hujan mengajarkan adab kepada alam
Karena itu, generasi Muslim perlu membangun satu kesadaran baru: memuliakan air adalah bagian dari memuliakan kehidupan.
Keluarga Muslim perlu mengajarkan anak-anak agar tidak membuang-buang air. Jangan membiarkan keran terbuka tanpa keperluan. Jangan mencemari sungai. Jangan membuang sampah ke saluran air. Jangan menganggap hutan sekadar tempat mengambil kayu atau membuka lahan.
Masjid dan meunasah juga dapat menjadi pusat pendidikan ekologis umat.
Khutbah Jumat, pengajian, majelis taklim dan pendidikan anak-anak perlu menghubungkan iman dengan tanggung jawab terhadap air dan alam.
Petani perlu diajak mengelola air secara hemat dan menjaga sumber mata air.
Masyarakat perlu menjaga sungai, parit, rawa, hutan dan kawasan resapan.
Dan pemerintah bersama seluruh pemangku kepentingan perlu membangun tata kelola air yang tidak hanya berorientasi pada eksploitasi, tetapi juga konservasi.
Sebab air bukan sekadar komoditas.
Air adalah amanah.
Jangan sampai kita salah memahami rahmat
Ada satu pelajaran yang lebih dalam dari hujan pagi tadi.
Allah menurunkan air dari langit. Kita menerima manfaatnya. Tetapi setelah menerima rahmat, manusia mempunyai tugas untuk menjaganya.
Jangan sampai kita meminta hujan ketika kemarau, tetapi ketika hujan turun kita merusak daerah resapan.
Jangan sampai kita berdoa agar Allah menyelamatkan hutan dari kebakaran, tetapi pada saat yang sama kita membiarkan pembakaran lahan terjadi.
Jangan sampai kita memohon air yang bersih, tetapi kita sendiri mencemari sungai.
Jangan sampai kita memohon rahmat Allah, tetapi tangan kita justru menjadi sebab rusaknya alam yang menjadi tempat kita hidup.
Di sinilah hubungan antara tauhid, syukur dan ekologi menjadi sangat penting.
Mengakui Allah sebagai Pemberi hujan harus melahirkan rasa syukur.
Rasa syukur harus melahirkan tanggung jawab.
Dan tanggung jawab harus terlihat dalam perilaku.
Menyambut hujan dengan syukur, menyambut air dengan amanah
Maka pagi tadi, ketika hujan membasahi Barabung, barangkali kita tidak cukup hanya mengatakan Alhamdulillah.
Kita perlu melanjutkannya dengan tindakan.
Alhamdulillah dengan menjaga air.
Alhamdulillah dengan tidak mencemari sungai.
Alhamdulillah dengan menjaga hutan.
Alhamdulillah dengan menanam pohon.
Alhamdulillah dengan menggunakan air secukupnya.
Alhamdulillah dengan mendidik anak-anak mencintai alam.
Dan ketika hujan turun, mari mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ dengan memohon:
Allahumma shayyiban nafi’an—Ya Allah, jadikanlah hujan ini hujan yang bermanfaat.
Sebab kita tidak pernah tahu, mungkin air yang turun menjelang subuh itu sedang menyelamatkan tanaman seorang petani, mengisi kembali sumber air sebuah keluarga, mendinginkan bumi yang kepanasan, atau menjadi bagian dari pertolongan Allah bagi kawasan hutan yang sedang menghadapi ancaman kebakaran.
Air tidak pernah datang untuk menjadi musuh manusia.
Air datang sebagai rahmat.
Jika kemudian air menjadi bencana, kita perlu melakukan muhasabah: jangan-jangan bukan airnya yang salah, tetapi cara kita memperlakukan bumi yang keliru.
Dan jika suatu hari kekeringan membuat kita kesulitan, jangan hanya bertanya, “Kapan hujan turun?”
Tanyakan pula kepada diri sendiri:
“Sudahkah kami menjaga amanah Allah berupa air dan alam?”
Hujan pagi tadi akhirnya bukan sekadar membuat udara Barabung menjadi segar.
Ia mengajarkan kita sebuah pelajaran sederhana tetapi dalam:
Allah menurunkan air untuk menghidupkan. Maka janganlah manusia dengan keserakahannya mengubah rahmat kehidupan menjadi sumber kemudharatan.
Semoga setiap tetes hujan yang jatuh menjadi rahmat bagi manusia, hewan, tumbuhan dan seluruh alam.
Alhamdulillahi rabbil ’alamin.
Barabung, 11 Rabiul Awal 1448, 24 Agustus 2026
(Penulis, Tgk Imum Gampong Barabung Darussalam Aceh Besar)
