-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Ceramah Malam 12 Rabiul Awal di Masjid Fathun Qarib, Prof. Dr. Ilham Maulana: Belajar, Mengajar, dan Bersabar Meneladani Rasulullah

Senin, 24 Agustus 2026 | Agustus 24, 2026 WIB Last Updated 2026-08-24T13:58:52Z


Al-Rasyid | BANDA ACEH — Menyambut malam 12 Rabiul Awal 1448 Hijriah, Masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry Banda Aceh menggelar ceramah keagamaan pada Senin malam, 24 Agustus 2026. Ceramah disampaikan Prof. Dr. Ilham Maulana dengan mengangkat pesan penting tentang ilmu, proses belajar, mengajar, dan kesabaran dalam meneladani kehidupan Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.


Ceramah tersebut dihadiri jajaran pimpinan UIN Ar-Raniry, para dekan, kepala biro, keluarga besar UIN Ar-Raniry, pengurus BKM Masjid Fathun Qarib, Imum Syik, serta jamaah tetap masjid.


Mengawali ceramahnya, Prof. Ilham mengajak jamaah untuk senantiasa mensyukuri nikmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang tidak mungkin mampu dihitung oleh manusia.


“Tidak sanggup kita hitung. Kalau kita memulai bahkan mencoba menghitungnya, kita tidak akan mampu melakukannya. Rumus matematika, integral, diferensial, AI, enggak cukup untuk menghitung nikmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala,” ujarnya.


Menurutnya, salah satu nikmat terbesar yang diberikan Allah kepada manusia adalah ilmu. Karena itu, ia merasa terharu sekaligus gemetar ketika berdiri di hadapan jamaah yang di antaranya merupakan guru, ulama, dan orang-orang berilmu.


Ia kemudian mengaitkan kemuliaan ilmu dengan firman Allah dalam Surah Fathir ayat 28:


“Innama yakhsyallaha min ‘ibadihil ‘ulama.”


“Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya adalah para ulama.”


Prof. Ilham menjelaskan, penggunaan kata yakhsyā menunjukkan rasa takut yang lahir dari pengetahuan dan kesadaran yang mendalam terhadap kebesaran Allah. Karena itu, ilmu bukan sekadar membuat seseorang mengetahui sesuatu, tetapi juga semestinya meningkatkan ketakwaannya.


Iqra: Perintah Membaca yang Menjadi Gerbang Ilmu


Dalam ceramahnya, Prof. Ilham kemudian mengajak jamaah merenungkan perintah pertama yang diterima Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melalui wahyu, yakni Iqra’—bacalah.


Menurutnya, menarik untuk direnungkan bahwa perintah membaca tersebut disampaikan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang dikenal sebagai ummi, bukan seorang yang membaca dan menulis seperti tradisi literasi manusia pada umumnya.


“Yang Allah ingin kita baca bukan sekadar yang tertulis saja, tetapi yang tidak tertulis juga,” katanya.


Baginya, Iqra’ menjadi simbol bahwa manusia harus terus belajar membaca berbagai tanda kehidupan: membaca ilmu, membaca keadaan, membaca pengalaman, membaca alam, sekaligus membaca ayat-ayat Allah yang tertulis maupun yang terbentang di alam semesta.


“Membaca adalah gerbang ilmu. Literasi adalah sesuatu yang memuliakan manusia,” tegasnya.


Ia juga menyampaikan kritik dengan cara humoris terhadap rendahnya budaya membaca dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, persoalan literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca teks, tetapi juga kemampuan memahami pesan dan mempraktikkannya.


Ia mencontohkan tulisan “Dilarang membuang sampah”, tetapi tidak jarang justru terdapat sampah di bawah tulisan tersebut.


“Jangankan yang tidak tertulis, yang tertulis saja enggak bisa dibaca,” ujarnya disambut perhatian jamaah.


Ilmu Mengangkat Derajat Manusia


Prof. Ilham selanjutnya mengaitkan ilmu dengan kisah penciptaan Nabi Adam ‘Alaihis Salam. Allah mengajarkan kepada Adam nama-nama benda yang tidak diketahui oleh para malaikat.


Ketika ditanya tentang nama-nama tersebut, para malaikat mengakui keterbatasan pengetahuan mereka.


“Ya Allah, kami tidak tahu, karena Engkau belum mengajarkan kepada kami,” demikian inti penjelasan yang disampaikan Prof. Ilham.


Menurutnya, sikap tersebut menjadi pelajaran penting bagi manusia agar berani mengatakan tidak tahu ketika memang tidak mengetahui sesuatu.


“Kalau kita, yang kita tidak tahu saja kita sok tahu. Sekarang semua pertanyaan harus bisa kita beri jawaban. Itu kalau kita. Itu sebabnya kita tidak jadi malaikat, mungkin,” katanya dengan gaya humoris.


Setelah Adam mampu menyebutkan nama-nama yang diajarkan Allah, kemudian datang perintah kepada para malaikat untuk bersujud sebagai bentuk penghormatan kepada Adam.


Dari kisah tersebut, Prof. Ilham menegaskan bahwa ilmu memberikan kemuliaan dan penghormatan yang berbeda kepada manusia.


Ia juga merefleksikan pengalamannya sendiri yang baru sekitar satu bulan menjabat sebagai dekan. Menurutnya, terdapat perbedaan cara orang menghormati seseorang karena kapasitas keilmuan dengan penghormatan karena jabatan.


“Kalau kita punya ilmu, maka kita dihormati secara berbeda oleh Allah dan oleh orang,” ujarnya.


Rasulullah: Belajar dan Mengajarkan Sepanjang Hayat


Prof. Ilham kemudian mengingatkan jamaah pada sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:


“Khairukum man ta‘allamal Qur’āna wa ‘allamahu.”


“Orang terbaik di antara kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.”


Menurut Prof. Ilham, kehidupan Rasulullah merupakan teladan tentang proses belajar dan mengajarkan yang berlangsung terus-menerus hingga akhir hayat.


Ia menegaskan bahwa belajar tidak boleh berhenti karena usia, jabatan, atau kedudukan. Demikian pula mengajarkan ilmu merupakan proses yang membutuhkan ketekunan dan kesabaran.


“Belajar dan mengajarkan. Dua proses ini dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berterusan sampai kemudian wafatnya,” katanya.


Ia juga mengajak jamaah memahami bahwa perjalanan dakwah Rasulullah tidak selalu berlangsung mudah. Ada fase penuh tekanan, penolakan, bahkan penderitaan yang harus dijalani dengan kesabaran.


“La Tahzan, Innallaha Ma‘ana”


Salah satu bagian penting ceramah Prof. Ilham adalah mengenai kesabaran Rasulullah dalam menghadapi berbagai ujian.


Ia mengingatkan kisah ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersama Abu Bakar berada di dalam gua dalam perjalanan hijrah, sementara orang-orang Quraisy mengejar mereka.


Dalam kondisi genting tersebut, Rasulullah berkata kepada Abu Bakar:


“La tahzan, innallaha ma‘ana.”


“Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.”


Menurut Prof. Ilham, ketenangan Rasulullah tidak muncul secara tiba-tiba. Keyakinan tersebut dibangun melalui proses panjang pembelajaran dan kedekatan kepada Allah.


Ia juga mengangkat pengalaman Rasulullah di Thaif ketika beliau mendapatkan penolakan, cacian, dan lemparan batu hingga terluka. Namun, Rasulullah tetap menunjukkan kesabaran dan tidak membalas penderitaan tersebut dengan keputusasaan.


“Yang penting Engkau tidak marah kepadaku,” demikian Prof. Ilham menggambarkan inti doa Rasulullah dalam menghadapi ujian berat tersebut.


Menurutnya, inilah salah satu modal utama Rasulullah dalam menjalani seluruh proses kehidupan: kesabaran.


Sabar Bukan Diam, tetapi Mengikuti Proses


Prof. Ilham kemudian mengutip Surah Al-Furqan ayat 20:


“Wa ja‘alnā ba‘dhakum liba‘dhin fitnatan atashbirūn.”


“Dan Kami jadikan sebagian kamu sebagai cobaan bagi sebagian yang lain. Maukah kamu bersabar?”


Menurutnya, ayat tersebut memberikan gambaran bahwa kehidupan manusia memang merupakan proses saling menguji. Karena itu, ketika menghadapi masalah, manusia tidak boleh terburu-buru mengambil kesimpulan atau keluar dari jalan yang telah ditentukan Allah.


“Sering sekali masalah itu Allah yang selesaikan, tapi Allah cuma mau kita bersabar,” katanya.


Prof. Ilham mendefinisikan sabar bukan sebagai sikap pasif, melainkan kemampuan untuk tetap mengikuti proses tanpa keluar dari jalan yang diperintahkan Allah dan menjauhi jalan yang dilarang-Nya.


“Bersabar itu mengikuti proses dan tidak keluar dari jalan yang Allah suruh dan Allah larang,” tegasnya.


Menurutnya, kesabaran diperlukan dalam seluruh aspek kehidupan: dalam perang, belajar, bekerja, berdakwah, memimpin, bahkan dalam kehidupan rumah tangga.


Pernikahan Juga Membutuhkan Sabar


Dalam bagian akhir ceramah, Prof. Ilham menceritakan pengalamannya ketika diminta menyampaikan tausiah nasihat pernikahan.


Ia mengatakan bahwa pernikahan pada hakikatnya merupakan proses belajar sepanjang kehidupan. Karena itu, setiap pasangan harus siap menjadi guru sekaligus menjadi orang yang terus belajar.


Namun, proses tersebut membutuhkan modal utama.


“Saya bilang modalnya ada sepuluh,” ujarnya.


Ketika jamaah mulai mencatat, ia menyebutkan nomor pertama: sabar.


Nomor kedua: sabar.


Nomor ketiga: sabar.


“Orang-orang sudah mulai lempar kertasnya. Memang itu kunci hidup,” katanya sambil bergurau.


Bagi Prof. Ilham, pesan tersebut menggambarkan bahwa kesabaran merupakan salah satu kunci penting dalam menjalani kehidupan, termasuk untuk mendapatkan penghormatan dan kemuliaan dari Allah.


Meneladani Rasul: Terus Belajar, Mengajar, dan Bersabar


Menutup ceramahnya, Prof. Ilham menyimpulkan bahwa kehidupan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memberikan tiga pelajaran penting: belajar, mengajarkan ilmu, dan bersabar dalam menjalani proses.


“Kesimpulan yang bisa kita ambil adalah bahwa Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sepanjang hidupnya mempraktikkan belajar dan mengajarkan, belajar dan mengajarkan,” katanya.


Menurutnya, dua proses tersebut sama-sama membutuhkan kesabaran. Orang yang belajar harus bersabar, sementara orang yang mengajarkan ilmu juga harus lebih banyak bersabar.


“Yang belajar harus bersabar, yang mengajarkan apalagi,” ujarnya.


Ia mengajak jamaah menyambut momentum 12 Rabiul Awal bukan hanya dengan mengenang kelahiran Rasulullah, tetapi juga dengan menghadirkan kembali nilai-nilai yang dipraktikkan Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.


“Mari kita ikut kesabaran Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ini,” ajaknya.


Ceramah tersebut kemudian ditutup dengan permohonan maaf atas kekurangan dalam penyampaian dan salam penutup.


Pesan Prof. Ilham pada malam menyambut 12 Rabiul Awal itu terasa relevan bagi keluarga besar perguruan tinggi: ilmu harus terus dipelajari, ilmu harus diajarkan, dan seluruh prosesnya harus dijalani dengan kesabaran. Sebab, kemuliaan manusia tidak hanya terletak pada jabatan yang disandang, tetapi pada ilmu yang membentuk ketakwaan, akhlak, dan kesanggupan menjalani setiap proses kehidupan dengan sabar.


Laporan Saif

×
Berita Terbaru Update