-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Gembira Menyambut Maulid, Sabar Meneladani Rasul

Senin, 24 Agustus 2026 | Agustus 24, 2026 WIB Last Updated 2026-08-25T05:50:08Z


Oleh Saifuddin A. Rasyid 

Al-Rasyid.id | Momentum Maulid Nabi Muhammad ﷺ selalu menghadirkan suasana batin yang khas bagi kaum Muslimin. Ada kegembiraan karena mengingat kelahiran manusia pilihan Allah, tetapi ada pula pelajaran besar yang tidak boleh terlewatkan: bahwa mencintai Rasulullah ﷺ bukan hanya dengan bergembira ketika mengenang kelahiran beliau, melainkan juga dengan bersabar mengikuti sunnah, meneladani akhlak, dan meneruskan perjuangan beliau di jalan kebenaran.


Dua pesan penting itu kembali saya dengar dalam dua majelis ilmu yang berlangsung berdekatan.


Pada Selasa subuh, 25 Agustus 2026, bertepatan dengan 12 Rabiul Awal 1448 H, ulama kharismatik Abi Daud Hasbi dalam rangkaian Safari Subuh Damai (SUMAI) di Masjid Jamik Baitul Jannah, Kemukiman Tungkop, Darussalam, Aceh Besar, mengingatkan jamaah agar menyambut bulan Maulid dengan penuh kegembiraan, antara lain dengan menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah ﷺ.


Sehari sebelumnya, Senin malam, 24 Agustus 2026, selepas salat Magrib dalam tausiyah menyambut malam 12 Rabiul Awal di Masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry Banda Aceh, intelektual Muslim Prof. Ilham Maulana mengingatkan salah satu sifat utama yang harus dimiliki umat Nabi Muhammad ﷺ adalah sabar. Bahkan, ketika menyebut sepuluh sifat utama yang perlu dimiliki umat Rasulullah ﷺ, beliau menempatkan sabar sebagai sifat pertama hingga kesepuluh.


Dua pesan ini sesungguhnya saling melengkapi: gembira dalam mencintai Rasulullah dan sabar dalam mengikuti Rasulullah.


Gembira karena Mendapat Nikmat Terbesar


Kegembiraan menyambut Maulid Nabi bukan sekadar kegembiraan karena sebuah peristiwa sejarah. Kelahiran Nabi Muhammad ﷺ merupakan bagian dari rahmat Allah yang sangat besar bagi umat manusia.


Allah berfirman:


“Katakanlah: Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.”

(QS. Yunus: 58)


Para ulama menjelaskan bahwa karunia dan rahmat Allah adalah sesuatu yang pantas disyukuri dan menggembirakan hati orang beriman. Rasulullah ﷺ sendiri disebut Allah sebagai rahmat bagi seluruh alam:


“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.”

(QS. Al-Anbiya: 107)


Karena itu, kelahiran Rasulullah ﷺ membawa rahmat yang sangat besar. Melalui beliau manusia mengenal tauhid, mengetahui jalan ibadah, mengenal halal dan haram, belajar akhlak, memperoleh petunjuk Al-Qur’an dan mendapatkan teladan bagaimana menjalani kehidupan sebagai hamba Allah.


Kita patut bertanya kepada diri sendiri: seandainya Rasulullah ﷺ tidak datang membawa risalah Islam, dari mana kita mengenal jalan keselamatan dunia dan akhirat?


Di sinilah kegembiraan Maulid memperoleh makna yang lebih dalam. Kita bergembira bukan sekadar karena sebuah tanggal, tetapi karena mengingat hadirnya seorang Rasul yang menjadi sebab sampainya petunjuk Allah kepada umat manusia.


Rasulullah Sendiri Mengingat Hari Kelahirannya


Ada satu hadis yang sangat menarik terkait kelahiran Rasulullah ﷺ. Ketika beliau ditanya mengenai puasa hari Senin, beliau menjawab:


“Itulah hari aku dilahirkan dan pada hari itu aku diutus atau diturunkan wahyu kepadaku.”

(HR. Muslim)


Hadis ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ mengingat hari kelahirannya dan menghubungkannya dengan nikmat besar berupa kelahiran dan permulaan risalah.


Cara beliau mengekspresikannya bukan dengan berlebih-lebihan, melainkan dengan ibadah dan rasa syukur, salah satunya melalui puasa.


Maka, kegembiraan menyambut Maulid semestinya mendorong kita semakin dekat kepada Allah: memperbanyak salawat, membaca Al-Qur’an, mempelajari sirah Nabi, bersedekah, memperkuat silaturahmi, memperbanyak amal saleh dan menghidupkan sunnah Rasulullah ﷺ.


Kegembiraan yang demikian bukan kegembiraan kosong. Ia berubah menjadi kegembiraan yang produktif secara spiritual.


Kegembiraan pada Hari Kelahiran Nabi dalam Sejarah


Literatur sirah juga mencatat suasana kegembiraan yang menyertai kelahiran Nabi Muhammad ﷺ.


Kakek beliau, Abdul Muththalib, disebut sangat bergembira ketika mengetahui cucunya telah lahir. Ia membawa bayi Muhammad ﷺ ke Ka’bah dan memberikan nama Muhammad, sebuah nama yang ketika itu belum lazim digunakan di tengah masyarakat Quraisy.


Dalam sejumlah riwayat sirah juga diceritakan kegembiraan keluarga Nabi atas kelahiran beliau. Kisah yang paling terkenal dalam hadis sahih berkaitan dengan Abu Lahab. Dalam Shahih al-Bukhari, melalui riwayat Urwah, disebutkan bahwa Tsuwaibah, budak Abu Lahab, menyampaikan kabar kelahiran Muhammad ﷺ kepada Abu Lahab. Dalam sebuah riwayat yang berkaitan dengan mimpi Abbas, Abu Lahab digambarkan memperoleh keringanan azab pada hari Senin karena pernah memerdekakan Tsuwaibah sebagai ungkapan kegembiraan atas kelahiran Nabi ﷺ.


Kisah ini sering disebut para ulama ketika membicarakan kegembiraan atas kelahiran Rasulullah ﷺ. Namun, ia harus ditempatkan secara proporsional: kegembiraan yang bernilai di sisi Allah bukan sekadar perasaan, tetapi kegembiraan yang melahirkan amal saleh dan kecintaan kepada Rasulullah ﷺ.


Adapun berbagai cerita tentang para malaikat bergembira secara khusus pada saat kelahiran Nabi ﷺ terdapat dalam sebagian literatur sejarah dan keutamaan Nabi, tetapi kualitas riwayatnya tidak semuanya sama. Karena itu, kita tidak perlu menjadikan riwayat yang lemah sebagai fondasi utama keyakinan. Cukuplah kita berpegang pada dalil yang kuat bahwa Allah mengutus Muhammad ﷺ sebagai rahmat bagi alam semesta dan bahwa kedatangan beliau merupakan nikmat terbesar berupa petunjuk kepada manusia.


Dengan demikian, kegembiraan kita memiliki dasar yang jauh lebih kokoh: bergembira atas rahmat dan petunjuk Allah.


Tetapi Cinta kepada Nabi Membutuhkan Kesabaran


Di sinilah pesan Prof. Ilham Maulana menjadi sangat penting.


Kalau Abi Daud Hasbi mengingatkan kita untuk gembira menyambut Maulid dengan menghidupkan sunnah, Prof. Ilham mengingatkan kita bahwa menghidupkan sunnah itu membutuhkan sabar.


Allah berulang kali memerintahkan orang beriman untuk bersabar.


“Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu serta tetaplah bersiap siaga dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.”

(QS. Ali Imran: 200)


Allah juga berfirman:


“Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.”

(QS. Al-Baqarah: 153)


Sabar bukan berarti pasif, lemah atau menyerah. Sabar adalah kekuatan untuk tetap berada di jalan yang benar meskipun jalan itu berat.


Dan bukankah perjalanan dakwah Rasulullah ﷺ penuh dengan ujian?


Beliau dicaci, dihina, dituduh sebagai penyihir, pendusta dan orang gila. Para sahabat disiksa. Keluarga Bani Hasyim mengalami pemboikotan. Rasulullah ﷺ kehilangan Khadijah radhiyallahu ’anha dan Abu Thalib dalam masa yang berdekatan. Beliau menghadapi penolakan masyarakat Thaif. Para sahabat harus meninggalkan kampung halaman dan berhijrah.


Namun semua itu tidak membuat Rasulullah ﷺ meninggalkan dakwah.


Allah bahkan mengingatkan:


“Maka bersabarlah, sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.”

(QS. Hud: 49)


Kesabaran Rasulullah ﷺ bukan sekadar kesabaran menanggung penderitaan. Beliau juga sabar dalam mendidik manusia, sabar menghadapi perbedaan karakter, sabar membangun masyarakat, sabar menghadapi musuh, dan sabar menjalankan amanah kerasulan sampai akhir hayat.


Sabar Adalah Cara Membuktikan Kegembiraan


Di sinilah kita menemukan hubungan yang indah antara gembira dan sabar.


Kita boleh bergembira ketika memperingati kelahiran Rasulullah ﷺ. Tetapi kegembiraan itu harus bertanya kepada diri sendiri:

Sudahkah kita mengikuti beliau?


Kita boleh memperbanyak salawat, tetapi apakah lisan kita juga terjaga?


Kita boleh membaca sirah Nabi, tetapi apakah kita bersedia mengikuti akhlaknya?


Kita boleh menyanyikan pujian kepada Rasulullah ﷺ, tetapi apakah kita sudah belajar bersabar seperti beliau?


Kita boleh mengatakan mencintai Rasulullah ﷺ, tetapi apakah kita mampu meninggalkan sesuatu yang dilarang beliau?


Karena itu, kegembiraan adalah pintu cinta, sedangkan kesabaran adalah jalan pembuktian cinta.


Allah berfirman:


“Katakanlah: Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.”

(QS. Ali Imran: 31)


Ayat ini memberikan ukuran yang sangat jelas: cinta kepada Allah dan Rasul-Nya harus melahirkan ittiba’, mengikuti Rasulullah ﷺ.


Apa yang Harus Dilakukan Generasi Muslim Hari Ini?


Generasi Muslim hari ini hidup dalam tantangan yang mungkin berbeda dengan zaman Rasulullah ﷺ, tetapi secara prinsip tidak kalah berat.


Kita berhadapan dengan godaan materialisme, budaya konsumtif, informasi tanpa batas, media sosial, provokasi, ujaran kebencian, perpecahan, krisis keteladanan, dan berbagai bentuk godaan yang dapat membuat manusia kehilangan arah.


Maka kegembiraan menyambut Maulid sebaiknya diwujudkan dengan beberapa hal.


Pertama, memperbanyak salawat dan menghidupkan sunnah Rasulullah ﷺ.


Jangan sampai Maulid hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi setelah bulan Maulid berlalu, sunnah Nabi juga ikut berlalu.


Kedua, memperdalam sirah dan akhlak Rasulullah ﷺ.


Anak-anak dan generasi muda perlu mengenal Nabi bukan hanya dari namanya, tetapi dari perjuangannya, kasih sayangnya, keberaniannya, kesabarannya, kejujurannya dan kepemimpinannya.


Ketiga, memperbanyak amal sosial.


Kegembiraan atas kelahiran Nabi harus dirasakan pula oleh orang lain. Berbagi makanan, membantu fakir miskin, menyantuni anak yatim, memperkuat silaturahmi dan membantu mereka yang membutuhkan merupakan bentuk kegembiraan yang memiliki dampak sosial.


Keempat, menjaga adab dalam memperingati Maulid.


Kecintaan kepada Rasulullah ﷺ tidak boleh menjadi alasan untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan syariat, berlebih-lebihan, saling menyalahkan atau merendahkan sesama Muslim. Maulid semestinya menjadi momentum memperbesar cinta, bukan memperbesar perdebatan.


Dan Bagaimana Melatih Kesabaran?


Sabar juga harus dilatih.


Generasi muda harus belajar sabar dalam belajar, karena ilmu tidak diperoleh secara instan.


Sabar dalam bekerja, karena keberhasilan membutuhkan proses.


Sabar dalam menjaga kehormatan diri, karena tidak semua keinginan harus dipenuhi.


Sabar menghadapi kritik, karena tidak semua kritik adalah serangan.


Sabar menghadapi provokasi, karena tidak semua provokasi harus dibalas.


Sabar menggunakan media sosial, karena tidak semua informasi harus dibagikan dan tidak semua komentar harus dijawab.


Sabar mempertahankan kejujuran ketika ketidakjujuran terlihat lebih mudah.


Sabar mempertahankan prinsip ketika lingkungan mengajak menyimpang.


Dan yang paling penting, sabar untuk tetap berada di jalan Allah ketika jalan itu terasa berat.


Rasulullah ﷺ bersabda bahwa siapa yang berusaha untuk bersabar, Allah akan memberikan kemampuan kepadanya untuk bersabar. Dalam hadis lain, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa perkara orang beriman itu menakjubkan: ketika mendapatkan kesenangan ia bersyukur dan itu baik baginya; ketika mendapatkan kesusahan ia bersabar dan itu pun baik baginya. (HR. Muslim)


Betapa indahnya kehidupan seorang Mukmin: ketika memperoleh nikmat ia gembira dan bersyukur; ketika menghadapi ujian ia bersabar dan bertawakal.


Maulid: Gembira di Hati, Sabar dalam Perjalanan


Maka, mungkin inilah dua kata penting yang patut kita bawa dari momentum Maulid Nabi tahun ini:


Gembira dan sabar.


Gembira karena Allah telah mengaruniakan kepada kita Rasulullah ﷺ sebagai rahmat dan pembawa petunjuk.


Sabar karena mengikuti Rasulullah ﷺ tidak selalu mudah.


Gembira karena kita mengenal Nabi Muhammad ﷺ.


Sabar untuk meneladani akhlaknya.


Gembira karena menjadi umatnya.


Sabar untuk menjaga amanah sebagai umatnya.


Gembira ketika membaca sejarah perjuangannya.


Sabar untuk meneruskan nilai perjuangannya dalam kehidupan hari ini.


Kita tidak hidup pada zaman Rasulullah ﷺ. Kita tidak melihat wajah beliau. Kita tidak mendengar langsung suara beliau. Tetapi kita dapat membuktikan cinta kepada beliau dengan menghidupkan sunnah, menjaga akhlak, memperkuat persaudaraan, mencintai kebenaran dan bersabar dalam ketaatan.


Inilah barangkali pesan terdalam dari dua majelis yang kita dengarkan: Abi Daud Hasbi mengajak kita bergembira menyambut Maulid dengan sunnah, sementara Prof. Ilham Maulana mengingatkan bahwa sunnah itu harus dijalani dengan kesabaran.


Semoga kegembiraan kita pada Maulid tidak berhenti pada suasana majelis, lantunan salawat dan kemeriahan acara. Semoga ia berubah menjadi cinta yang hidup dalam perilaku.


Dan semoga kesabaran kita tidak sekadar menjadi kata-kata, tetapi menjadi kekuatan untuk tetap jujur, tetap santun, tetap beribadah, tetap menjaga persaudaraan dan tetap berada di jalan Allah di tengah berbagai tantangan zaman.


Selamat menyambut Maulid Nabi Muhammad ﷺ, 12 Rabiul Awal 1448 H.


Selamat bergembira atas hadirnya Rasulullah ﷺ sebagai rahmat bagi seluruh alam. Mari kita sambut momentum mulia ini dengan memperbanyak salawat, menghidupkan sunnah, mempelajari sirah, memperindah akhlak, memperbanyak amal saleh dan memperkuat persaudaraan.


Gembiralah karena mencintai Rasulullah ﷺ, dan bersabarlah dalam mengikuti langkah beliau.


Semoga Allah menjadikan kita umat yang benar-benar mencintai Nabi Muhammad ﷺ, memperoleh syafaatnya, dikumpulkan bersama beliau di akhirat kelak, dan mendapatkan husnul khatimah.


Selamat Maulid Nabi Muhammad ﷺ untuk seluruh kaum Muslimin di mana pun berada. Semoga cahaya kelahiran Sang Nabi menerangi hati, keluarga, masyarakat dan negeri kita dengan iman, ilmu, kasih sayang, kedamaian dan akhlak mulia.


Wallahu a’lam 


Darussalam 12 Rabiul Awal 1448, 25 Agustus 2026


(Penulis, imam besar masjid Fathun Qarib dan Imumsyik masjid jamik Baitul Jannah)

×
Berita Terbaru Update