Oleh Saifuddin A. Rasyid
Al-Rasyid.id | Ada sebuah kenyataan menarik yang layak menjadi bahan renungan umat Islam hari ini. Di tengah dunia yang semakin terbuka, kritis dan plural, Islam terus dipelajari oleh manusia di berbagai belahan dunia. Di Eropa, Amerika dan berbagai kawasan lainnya, semakin banyak orang berusaha mengenal Islam melalui Al-Qur’an, hadis Nabi Muhammad SAW dan karya-karya para ulama.
Mereka membaca, bertanya, berdiskusi dan mencari. Sebagian di antara mereka kemudian menemukan sesuatu yang mungkin selama ini mereka cari: ketenteraman, makna kehidupan, kedisiplinan spiritual, persaudaraan, keadilan dan hubungan yang lebih dekat dengan Tuhan.
Pertumbuhan jumlah Muslim memang tidak seluruhnya berarti pertumbuhan karena orang berpindah agama; ada faktor kelahiran, usia penduduk, migrasi dan dinamika demografi lainnya. Namun fakta bahwa komunitas Muslim terus tumbuh dan hadir semakin kuat di berbagai masyarakat menarik untuk diperhatikan.
Pew Research Center mencatat bahwa pada 2020 terdapat sekitar 46 juta Muslim di Eropa, meningkat sekitar 16 persen dibandingkan 2010. Jumlah tersebut setara sekitar 6 persen dari keseluruhan penduduk Eropa. (Pew Research Center)
Di Amerika Utara, jumlah Muslim juga mengalami pertumbuhan yang cukup besar. Pew memperkirakan jumlah Muslim di kawasan tersebut mencapai sekitar 5,9 juta pada 2020, meningkat 52 persen dibandingkan 2010. (Pew Research Center)
Informasi terbaru yang kita dapatkan melalui berbagai media, walau perlu diverifikasi secara persis, menunjukkan pergerakan penerimaan Islam sebagai agama pilihan di berbagai belahan dunia barat tumbuh dengan cepat.
Di balik angka-angka dan perkembangan itu terdapat manusia. Ada orang yang sedang mencari Tuhan. Ada yang sedang mencari makna hidup. Ada yang kecewa dengan materialisme. Ada yang sedang mencari ketenteraman batin. Ada pula yang ingin memahami Islam secara langsung, bukan berdasarkan prasangka atau pemberitaan orang lain.
Mereka membuka Al-Qur’an. Mereka membaca hadis Nabi. Mereka mempelajari sejarah Rasulullah SAW. Mereka membaca karya para ulama. Dan sebagian dari mereka menemukan bahwa Islam sesungguhnya adalah agama yang sangat dekat dengan kedamaian.
Islam adalah Rahmat
Allah SWT berfirman:
وَمَآ أَرْسَلْنَٰكَ إِلَّا رَحْمَةًۭ لِّلْعَٰلَمِينَ
“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya’: 107). (Quran.com)
Ayat ini sangat mendasar.
Rasulullah SAW tidak diutus untuk menghadirkan kebencian kepada dunia. Beliau diutus sebagai rahmat. Rahmat kepada manusia. Rahmat kepada keluarga. Rahmat kepada tetangga. Rahmat kepada masyarakat. Bahkan rahmat kepada seluruh alam.
Karena itu, Islam tidak boleh hanya dipahami sebagai seperangkat aturan yang harus dijalankan, tetapi juga sebagai jalan yang membentuk manusia menjadi pribadi yang membawa kebaikan.
Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.”
Maka salah satu ukuran keberhasilan keberislaman seseorang adalah akhlaknya. Semakin dekat seseorang kepada Allah, semestinya semakin baik pula hubungan dirinya dengan manusia dan lingkungannya.
Ironi di Tengah Umat
Di sinilah kita perlu melakukan introspeksi.
Ketika sebagian manusia di berbagai belahan dunia sedang membaca Al-Qur’an untuk menemukan ketenteraman, mengapa sebagian orang yang sejak lahir telah menjadi Muslim justru semakin jauh dari sumber ketenteraman itu?
Ketika orang lain sedang mempelajari shalat untuk memahami makna penghambaan kepada Allah, sebagian Muslim justru meninggalkan shalat.
Ketika orang lain membaca hadis Nabi untuk mengetahui bagaimana Rasulullah memperlakukan manusia, sebagian kita justru mudah mencaci dan merendahkan sesama.
Ketika orang lain mempelajari Islam sebagai agama yang mengajarkan kebersihan dan tanggung jawab, sebagian kita masih membuang sampah sembarangan.
Ketika Islam mengajarkan amanah dan kejujuran, masih ada Muslim yang melakukan kecurangan.
Ketika Islam mengajarkan kasih sayang, masih ada di antara kita yang mudah menyakiti.
Ketika Islam mengajarkan perdamaian, masih ada yang senang memperbesar konflik.
Ini bukan persoalan untuk menghakimi siapa pun. Ini adalah cermin untuk diri kita sendiri. Sebab persoalannya bukan apakah Islam itu indah. Islam memang indah. Pertanyaannya adalah: sudahkah keindahan Islam terlihat dari diri kita?
Jangan Membuat Orang Salah Memahami Islam
Ada sebuah ungkapan yang patut direnungkan: jangan sampai orang mengenal Islam dari perilaku buruk seorang Muslim, sementara ia tidak pernah diberi kesempatan mengenal Islam dari sumbernya.
Islam tidak boleh dipersempit oleh perilaku kita. Seorang Muslim bisa salah. Seorang Muslim bisa lemah. Seorang Muslim bisa kurang ilmu. Seorang Muslim bisa tergelincir.
Tetapi kesalahan seorang Muslim tidak boleh dijadikan ukuran kesempurnaan Islam. Karena itu, ketika kita menemukan Muslim yang kasar, jangan salahkan Islam.
Ketika menemukan Muslim yang tidak jujur, jangan salahkan Islam. Ketika menemukan Muslim yang merusak lingkungan, jangan salahkan Islam.
Justru kita harus bertanya: mengapa ajaran Islam yang begitu indah belum sepenuhnya berhasil membentuk perilakunya?
Jawabannya mungkin sederhana: karena beragama tidak cukup hanya dengan identitas.
Islam Tidak Cukup Diwarisi, Ia Harus Dipelajari
Kita sering merasa beruntung karena lahir dari keluarga Muslim. Benar, itu adalah nikmat besar. Tetapi menjadi Muslim karena kelahiran tidak boleh membuat kita berhenti belajar.
Islam harus dipahami. Al-Qur’an harus dibaca. Hadis harus dipelajari. Sirah Nabi harus direnungkan. Karya ulama harus dikaji. Dan ajaran agama harus diterjemahkan menjadi amal nyata.
Orang yang lahir dalam Islam tetapi tidak pernah sungguh-sungguh belajar tentang Islam bisa saja hanya memiliki identitas keagamaan, tetapi belum memiliki kedalaman keberagamaan.
Sebaliknya, orang yang datang kepada Islam setelah pencarian panjang kadang-kadang memiliki kesadaran yang sangat kuat tentang mengapa ia memilih Islam.
Maka jangan sampai kita kalah serius mempelajari Islam dibandingkan mereka yang baru menemukannya.
Kembali kepada Shalat
Salah satu pembelajaran paling penting adalah memperbaiki hubungan dengan Allah melalui shalat.
Shalat bukan sekadar kewajiban lima waktu. Shalat adalah ruang perjumpaan seorang hamba dengan Tuhannya.
Di dalam shalat kita mengakui bahwa Allah Mahabesar. Kita tunduk. Kita berserah. Kita memohon petunjuk. Kita mengingat kembali bahwa hidup ini bukan milik kita sepenuhnya.
Karena itu, meninggalkan shalat bukan sekadar kehilangan sebuah rutinitas ibadah. Ia dapat menjadi tanda bahwa hubungan spiritual seseorang sedang membutuhkan perhatian serius.
Jika hati semakin keras, mudah marah, mudah membenci dan sulit bersyukur, mungkin kita perlu bertanya kepada diri sendiri: bagaimana hubungan kita dengan Allah?
Akhlak sebagai Wajah Islam. Rasulullah SAW adalah teladan utama.
Allah SWT berfirman:
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian.” (QS. Al-Ahzab: 21).
Karena itu, semakin banyak ilmu agama yang kita miliki seharusnya semakin baik akhlak kita.
Ilmu seharusnya membuat kita semakin rendah hati, bukan semakin sombong.
Ilmu seharusnya membuat kita semakin santun, bukan semakin kasar.
Ilmu seharusnya membuat kita semakin mudah memaafkan, bukan semakin gemar menghakimi.
Ilmu seharusnya membuat kita semakin peduli terhadap sesama, bukan semakin sibuk merasa paling benar.
Inilah pentingnya menghubungkan ilmu, ibadah dan akhlak. Ketiganya tidak boleh dipisahkan.
Jangan Menjadi Sumber Kemudaratan
Islam juga mengajarkan bahwa seorang Muslim tidak boleh menjadi sumber bahaya bagi orang lain.
Karena itu, keberislaman kita seharusnya dapat dirasakan manfaatnya oleh lingkungan sekitar.
Ketika kita berada di tengah keluarga, keluarga merasa tenteram. Ketika kita menjadi tetangga, tetangga merasa aman. Ketika kita bekerja, orang lain merasakan kejujuran dan tanggung jawab. Ketika kita berdagang, orang lain mendapatkan keadilan. Ketika kita menggunakan media sosial, orang lain mendapatkan informasi yang bermanfaat, bukan fitnah dan cacian. Ketika kita berada di alam, lingkungan tidak menjadi rusak karena kehadiran kita.
Inilah Islam yang hidup. Bukan hanya Islam yang dibicarakan, tetapi Islam yang dirasakan.
Dunia Membutuhkan Muslim yang Menghadirkan Rahmat
Karena itu, fenomena perkembangan Islam di berbagai negara seharusnya tidak hanya membuat kita bangga. Ia seharusnya membuat kita bercermin.
Ketika seseorang di Eropa membuka Al-Qur’an dan menemukan ketenteraman, kita yang sudah puluhan tahun menjadi Muslim harus bertanya:
“Mengapa ketenteraman yang mereka temukan dalam pencarian justru kadang-kadang kita abaikan dalam kehidupan?”
Ketika mereka membaca hadis Nabi dan menemukan kemuliaan akhlak Rasulullah, kita harus bertanya:
“Sudahkah akhlak itu hadir dalam diri kita?”
Ketika mereka mempelajari Islam dengan penuh kesungguhan, kita harus bertanya:
“Seberapa serius kita mempelajari agama yang telah kita warisi?”
Pertanyaan-pertanyaan ini bukan untuk mempermalukan umat. Justru untuk membangunkan umat. Sebab dunia hari ini tidak hanya membutuhkan lebih banyak orang yang mengaku Muslim.
Dunia membutuhkan lebih banyak Muslim yang menghadirkan Islam.
Muslim yang kehadirannya membuat orang merasa aman. Muslim yang perkataannya menenteramkan. Muslim yang tangannya membantu. Muslim yang hartanya memberi manfaat. Muslim yang ilmunya mencerahkan. Muslim yang kekuasaannya melindungi. Muslim yang berbeda pendapat tanpa membenci.
Muslim yang menegakkan kebenaran tanpa kehilangan kasih sayang. Muslim yang mencintai Allah sekaligus mencintai sesama makhluk-Nya.
Menjadi Cermin, Bukan Sekadar Simbol
Pada akhirnya, Islam tidak membutuhkan kita untuk membuatnya tampak indah dengan kata-kata saja. Islam membutuhkan kita untuk menjadi bukti keindahan itu. Jangan hanya mengatakan Islam agama damai.
Jadilah pribadi yang membawa damai. Jangan hanya mengatakan Islam agama kasih sayang. Jadilah pribadi yang penuh kasih sayang. Jangan hanya mengatakan Islam mengajarkan kebersihan.
Jadilah orang yang menjaga kebersihan. Jangan hanya mengatakan Islam melarang kezaliman.
Jadilah orang yang tidak menzalimi. Jangan hanya mengutip ayat tentang akhlak. Jadikan akhlak itu sebagai kehidupan.
Sebab dakwah terbesar seorang Muslim terkadang bukan ceramahnya, bukan tulisannya, bukan banyaknya unggahan keagamaan di media sosial.
Dakwah terbesar itu bisa jadi adalah akhlaknya sendiri. Orang mungkin lupa apa yang pernah kita katakan. Tetapi mereka akan mengingat bagaimana kita memperlakukan mereka.
Maka mari kita kembali menghadirkan Islam yang damai, indah dan menenteramkan. Islam yang membuat keluarga merasa teduh. Islam yang membuat tetangga merasa aman.
Islam yang membuat masyarakat merasa nyaman. Islam yang membuat alam terjaga. Islam yang membuat orang yang berbeda keyakinan tetap merasa dihormati. Islam yang ketika disebut namanya menghadirkan rahmat, bukan ketakutan.
Inilah barangkali tugas besar generasi Muslim hari ini: bukan sekadar mempertahankan identitas Islam, tetapi menghadirkan keindahan Islam dalam kehidupan.
Sebab ketika dunia sedang gaduh, seorang Muslim semestinya tidak ikut menambah kegaduhan. Ia hadir membawa ketenangan.
Ketika dunia dipenuhi kebencian, ia hadir membawa kasih sayang. Ketika dunia kehilangan arah, ia hadir membawa cahaya.
Dan ketika dunia mencari kedamaian, semoga mereka menemukan pantulannya dalam diri kita.
Itulah Islam yang damai. Itulah Islam yang indah. Dan itulah Islam yang menenteramkan.
Wallahu a’lam
Darussalam 28 Safar 1448, 12 Agustus 2026
(Penulis, Imam Besar Masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry Banda Aceh)
