Al-Rasyid.id | BANDA ACEH — Intelektual Muslim dan akademisi Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Dr. Jauhari Hasan, mengajak civitas akademika untuk tidak melarikan diri dari persoalan ketika menghadapi kebingungan. Menurutnya, kebingungan merupakan bagian dari dinamika kehidupan yang dapat dialami siapa saja, termasuk mahasiswa, dosen, guru, bahkan orang yang telah memiliki banyak hal dalam hidup.
Pesan tersebut disampaikan Dr. Jauhari Hasan dalam tausiyah Zuhur di Masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Rabu, 7 Rabiul Awal 1448 H bertepatan dengan 19 Agustus 2026.
Mengawali tausiyahnya, Dr. Jauhari justru mengangkat pengalaman pribadinya yang sedang merasa bingung menentukan materi yang akan disampaikan.
“Besok saya diminta menyampaikan tausiah. Saya jawab, ‘Bisa,’ tidak enak kalau menjawab tidak bisa. Tapi menjawab bisa juga sebenarnya tidak enak. Akhirnya, sejak kemarin sampai tadi malam saya masih bingung: harus menyampaikan apa?” tuturnya.
Ia bahkan mengaku masih bingung ketika bertemu dengan imam masjid sebelum naik ke mimbar. Namun, dari pengalaman sederhana tersebut, ia menemukan bahwa kebingungan bukanlah pengalaman pribadi seseorang saja.
“Ternyata, orang bingung itu bukan hanya saya. Banyak orang juga mengalami kebingungan,” katanya.
Dr. Jauhari kemudian mengajak jamaah melihat kebingungan dari dua kondisi. Pertama, seseorang dapat bingung karena tidak memiliki sesuatu. Tidak punya uang, kendaraan, pasangan, atau kebutuhan lainnya dapat membuat seseorang merasa bingung.
Namun, menariknya, kebingungan tidak otomatis hilang ketika seseorang telah memiliki berbagai hal.
“Sudah punya uang, punya kendaraan, punya jabatan, bahkan punya banyak hal dalam kehidupan, ternyata masih bisa bingung juga,” ujarnya.
Karena itu, menurutnya, kebingungan tidak selalu berkaitan dengan kekurangan materi. Seseorang dapat mengalami kebingungan karena terlalu banyak pilihan, tetapi dapat pula bingung karena tidak memiliki pilihan sama sekali.
Kebingungan juga dapat muncul karena seseorang takut mengambil keputusan yang salah atau terlalu mempertimbangkan pendapat orang lain.
“Kita punya jati diri, punya keinginan, punya keyakinan. Tetapi kemudian pikiran orang lain masuk ke dalam pikiran kita. Akhirnya terjadi proses: menerima atau menolak, maju atau mundur, memilih atau tidak memilih. Dan pada akhirnya kita sampai pada satu keadaan: bingung,” jelasnya.
Menurut Dr. Jauhari, persoalan tersebut tidak hanya dialami mahasiswa yang menghadapi banyak tugas dan tuntutan akademik. Dosen dan guru pun dapat mengalami kebingungan dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
Dengan gaya penyampaian yang ringan dan diselingi humor, ia kemudian mengajukan pertanyaan penting: apakah ketika bingung seseorang harus melarikan diri dari persoalan?
Jawabannya tegas: tidak.
“Kalau kita lari dari persoalan yang membuat kita bingung, persoalannya tidak selesai. Bahkan bisa muncul persoalan baru,” katanya.
Ia mengajak jamaah menghadapi persoalan dengan tenang dan tidak kehilangan harapan. Menurutnya, setiap kesulitan yang dihadapi manusia selalu memiliki jalan keluar yang Allah siapkan.
Dalam konteks tersebut, Dr. Jauhari mengutip firman Allah dalam Surah Al-Insyirah ayat 5:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.”
Ayat tersebut, menurutnya, memberikan optimisme kepada manusia bahwa kesulitan, kegelisahan, bahkan kebingungan bukanlah tanda bahwa Allah meninggalkan hamba-Nya.
“Bisa jadi, di balik kesulitan itu Allah sedang menyiapkan jalan menuju kemudahan,” ungkapnya.
Ia menambahkan, jalan keluar dari sebuah persoalan bisa berbeda antara satu orang dengan orang lainnya. Karena itu, manusia tidak perlu membandingkan proses hidupnya dengan orang lain.
Yang terpenting, katanya, adalah tidak menyerah, tidak melarikan diri dari persoalan, serta tetap memohon petunjuk dan pertolongan Allah.
“Yang penting, jangan menyerah, jangan lari dari persoalan, dan jangan kehilangan harapan kepada Allah,” pesannya.
Di akhir tausiyah, Dr. Jauhari kembali menghidupkan suasana dengan humor. Ia mengatakan, karena sejak awal dirinya memang mengaku bingung hendak menyampaikan apa, maka tausiyah tersebut tidak akan diperpanjang.
“Mengingat hari ini saya sendiri masih bingung harus menyampaikan apa, maka saya tidak akan memperpanjang pembicaraan. Karena kalau saya lanjutkan terlalu panjang, kesimpulannya juga mungkin akan membingungkan,” katanya, disambut suasana ringan jamaah.
Ia pun berharap kebingungan yang menjadi tema tausiyahnya tidak ikut terbawa pulang oleh jamaah.
“Saya hanya berharap, kebingungan saya tidak menular kepada hadirin sekalian, sehingga setelah keluar dari masjid ini semuanya menjadi bingung,” ujarnya sambil menutup tausiyah.
Dr. Jauhari kemudian mengajak jamaah memohon kepada Allah agar diberikan ketenangan dalam menghadapi persoalan, petunjuk ketika berada dalam kebingungan, dan kemudahan setelah kesulitan.
Pesan sederhana tersebut menjadi refleksi penting bagi civitas akademika: ketika hidup menghadirkan kebingungan, jangan buru-buru lari. Hadapi dengan sabar, berpikir jernih, berikhtiar, dan tetap percaya bahwa bersama setiap kesulitan selalu ada kemudahan.
Laporan Saif
