-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Masjid yang Membuat Jamaah Betah

Kamis, 20 Agustus 2026 | Agustus 20, 2026 WIB Last Updated 2026-08-21T02:39:15Z


Oleh: Saifuddin A. Rasyid

Al-Rasyid.id | Ada satu ukuran keberhasilan manajemen masjid yang terkadang luput dibicarakan. Kita sering berbicara tentang kebersihan masjid, keindahan bangunan, kelengkapan fasilitas, kualitas sound system, ketersediaan pendingin ruangan, bahkan program-program keagamaan yang diselenggarakan. Semua itu penting. Tetapi ada satu pertanyaan sederhana yang sesungguhnya sangat mendasar: apakah jamaah merasa nyaman dan betah berada di dalam masjid?


Kenyamanan jamaah bukan sekadar persoalan fasilitas. Ia menyentuh suasana batin, keramahan pelayanan, kebersihan, ketenangan, keamanan, hubungan antarmanusia, bahkan bagaimana sebuah masjid membuat seseorang merasa diterima.


Rabu pagi, 19 Agustus 2026, saya duduk khusus ngopi bersama tim manajemen atau khadam Masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry. Ada Akmal sebagai koordinator, Alif dan Mayasir. Satu lagi sebenarnya ada Mursyid, tetapi agaknya ia masih melanjutkan tidur setelah Subuh karena semalam begadang melaksanakan shalat malam. Kami tertawa kecil membicarakannya.


Sebagai imam besar Masjid Fathun Qarib, saya menikmati suasana seperti itu. Kami tidak selalu harus duduk dalam rapat formal dengan meja, agenda dan notulen. Sesekali kami duduk sambil menyeruput kopi, berbincang santai, mengevaluasi apa yang sudah dikerjakan dan merancang apa yang perlu dilakukan.


Justru dalam percakapan santai semacam itu sering muncul gagasan-gagasan penting.


Salah satu yang kami bicarakan pagi itu adalah kenyamanan jamaah.


Akmal, setengah berseloroh, mengatakan, “Kalau masjid sudah bersih, tenang, fasilitas lengkap, bahkan ber-AC pula, tetapi jamaah masih tidak nyaman, berarti orangnya yang bermasalah.”


Kami pun tertawa.


Ada benarnya, tetapi tentu tidak seluruhnya demikian. Tidak semua orang yang tidak betah di masjid berarti bermasalah. Ada banyak faktor psikologis, sosial dan pengalaman hidup yang membuat seseorang merasa kurang nyaman berada di suatu tempat, termasuk masjid.


Karena itu, tugas pengelola masjid bukan hanya menyediakan tempat yang bagus, tetapi juga menciptakan pengalaman spiritual dan sosial yang membuat orang ingin kembali.


Masjid Bukan Sekadar Bangunan


Al-Qur’an memberikan kedudukan yang sangat mulia kepada masjid. Allah berfirman:


إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ…


“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian…” (QS. At-Taubah: 18).


Ayat ini menarik. Allah tidak mengatakan bahwa yang memakmurkan masjid hanyalah mereka yang membangun gedungnya. Ya’muru masajidallah memiliki makna yang luas: menghidupkan, meramaikan, merawat dan memakmurkan masjid dengan ibadah serta berbagai kebaikan.


Masjid karena itu bukan hanya bangunan fisik. Masjid adalah ruang spiritual, ruang sosial dan ruang kemanusiaan.


Di masjid seseorang datang membawa banyak keadaan. Ada yang datang dengan hati bahagia. Ada yang datang dengan masalah keluarga. Ada yang datang dengan kegelisahan ekonomi. Ada yang sedang menghadapi penyakit. Ada yang sedang mencari jawaban. Ada yang mungkin tidak tahu harus mengadu kepada siapa.


Lalu ia mengambil wudhu, masuk masjid, menggelar sajadah, mengangkat tangan dan berkata dalam munajatnya: Ya Allah…


Di situlah masjid seharusnya menjadi tempat yang menenangkan.


Allah berfirman:


أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ


“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28).


Masjid mestinya menjadi salah satu tempat paling kuat untuk menghadirkan ketenteraman itu.


Mengapa Ada Orang Tidak Betah di Masjid?


Pertanyaan ini layak direnungkan oleh pengelola masjid.


Mengapa seseorang lebih betah berlama-lama di kafe, pusat perbelanjaan, ruang kerja atau tempat rekreasi, tetapi terkadang hanya beberapa menit berada di masjid?


Tentu jawabannya beragam.


Dalam perspektif psikologi lingkungan, kenyamanan seseorang terhadap suatu ruang dipengaruhi oleh persepsi terhadap keamanan, kebersihan, suhu, suara, pencahayaan, privasi, kepadatan manusia, interaksi sosial dan rasa memiliki terhadap tempat tersebut.


Masjid pun tidak terlepas dari prinsip-prinsip kemanusiaan itu.


Orang akan lebih mudah merasa nyaman ketika masjid bersih, tidak berbau, suhunya terjaga, toilet dan tempat wudhunya bersih, suara pengeras tidak berlebihan, jamaah saling menghormati, pengurus ramah dan tidak mudah menghakimi.


Tetapi ada faktor lain yang jauh lebih dalam: pengalaman sosial dan spiritual seseorang.


Seseorang mungkin tidak betah di masjid karena pernah ditegur dengan kasar. Anak-anak mungkin takut datang karena selalu dimarahi ketika bergerak atau bersuara. Anak muda mungkin merasa masjid bukan ruang mereka karena tidak pernah diajak terlibat. Musafir mungkin merasa asing karena tidak ada yang menyapa. Orang yang sedang mengalami persoalan hidup mungkin membutuhkan suasana yang lebih teduh daripada sekadar nasihat yang keras.


Karena itu, manajemen masjid membutuhkan bukan hanya keterampilan mengelola bangunan, tetapi juga kecerdasan memahami manusia.


Masjid harus bersih, tetapi juga harus ramah.

Masjid harus tertib, tetapi tidak menakutkan.

Masjid harus disiplin, tetapi tidak kehilangan kasih sayang.

Masjid harus memiliki aturan, tetapi jangan sampai aturan membuat orang menjauh dari rumah Allah.


Service Excellent dalam Mengelola Masjid


Dalam dunia manajemen modern dikenal istilah service excellent atau pelayanan prima.


Konsep ini sebenarnya sangat dekat dengan nilai-nilai Islam.


Rasulullah SAW bersabda:


“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.”


Memuliakan manusia merupakan bagian dari iman.


Maka ketika seorang khadam masjid memastikan karpet bersih, pendingin ruangan berfungsi, toilet tidak kotor, tempat wudhu nyaman, sandal jamaah tertata, lampu menyala, suara imam terdengar baik dan jamaah mendapatkan pelayanan yang ramah, sesungguhnya ia bukan sekadar sedang menjalankan pekerjaan teknis.


Ia sedang berkhidmat kepada rumah Allah dan melayani hamba-hamba Allah.


Di sinilah pekerjaan yang tampak sederhana memperoleh nilai yang sangat tinggi.


Seorang khadam mungkin tidak berdiri di mimbar. Ia mungkin tidak memberikan ceramah. Namanya mungkin tidak disebut jamaah. Tetapi ketika ia datang lebih awal untuk memastikan masjid siap digunakan, membersihkan sesuatu yang kotor, memperbaiki fasilitas yang rusak atau menyambut jamaah yang datang, ia sedang mengambil bagian dalam memakmurkan masjid.


Rasulullah SAW bahkan memberikan perhatian khusus kepada orang-orang yang mengurus masjid.


Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW pernah bertanya tentang seorang laki-laki atau perempuan yang biasa membersihkan masjid dan kemudian wafat. Ketika para sahabat memberitahukan bahwa orang itu telah meninggal, Rasulullah SAW meminta agar beliau ditunjukkan makamnya lalu menyalatkannya.


Peristiwa ini sederhana tetapi sangat dalam maknanya: khidmat yang terlihat kecil di mata manusia tidak kecil di sisi Allah.


Hati yang Terikat dengan Masjid


Ada pula hadis yang sangat populer tentang tujuh golongan yang mendapatkan naungan Allah pada hari ketika tidak ada naungan kecuali naungan-Nya. Salah satunya adalah:


وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ


“Seorang laki-laki yang hatinya terpaut dengan masjid.”

(HR. Bukhari dan Muslim).


Perhatikan ungkapannya: bukan sekadar tubuhnya yang berada di masjid, tetapi hatinya yang terpaut kepada masjid.


Inilah cita-cita yang seharusnya dibangun oleh sebuah manajemen masjid: bukan sekadar membuat orang datang karena kewajiban, tetapi membuat orang merasa bahwa masjid adalah tempat yang dirindukannya.


Orang yang hatinya dekat dengan masjid akan mencari masjid ketika bahagia untuk bersyukur, ketika sedih untuk mengadu, ketika bingung untuk meminta petunjuk, ketika takut untuk memohon perlindungan dan ketika memperoleh nikmat untuk memperbanyak syukur.


Masjid menjadi rumah spiritualnya.


Para Khadam Masjid, Penjaga Kenyamanan Jamaah


Karena itu, kepada para pengelola dan khadam masjid, patut kita sampaikan apresiasi.


Akmal, Alif, Mayasir, Mursyid dan banyak khadam masjid lainnya yang bekerja di berbagai masjid, sesungguhnya sedang melakukan pekerjaan mulia.


Mereka mungkin tidak selalu terlihat.

Mereka bekerja ketika jamaah belum datang.

Mereka memastikan semuanya siap ketika jamaah mulai berdatangan.

Mereka membereskan kembali masjid setelah jamaah pulang.

Mereka menerima komplain.

Mereka memikirkan fasilitas.

Mereka mengevaluasi pelayanan.


Kadang mereka harus bekerja ketika orang lain sedang beristirahat.


Dan semuanya dilakukan agar orang lain merasa nyaman beribadah.


Inilah bentuk pengabdian yang tidak selalu mendapatkan tepuk tangan.


Tetapi mudah-mudahan mendapatkan perhatian Allah.


Ada sebuah hadis yang diriwayatkan Muslim bahwa Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya. Semangat hadis ini sangat relevan dengan kerja para khadam masjid: melayani manusia dapat menjadi jalan pertolongan Allah kepada kita.


Mereka sedang membangun apa yang saya sebut sebagai jembatan emas menuju kebahagiaan dan kebaikan, dunia dan akhirat.


Satu sapaan yang ramah mungkin membuat seseorang merasa diterima.


Satu toilet yang bersih mungkin membuat musafir nyaman.


Satu ruang masjid yang sejuk mungkin membuat jamaah betah berzikir lebih lama.


Satu khadam yang tersenyum mungkin membuat anak muda berani kembali ke masjid.


Dan mungkin, tanpa kita ketahui, semua itu menjadi sebab seseorang semakin dekat kepada Allah.


Mari Bangun Generasi dari Masjid


Karena itu, saya kira kita perlu mengajak generasi muslim hari ini untuk kembali membangun kedekatan dengan masjid.


Jangan hanya datang ke masjid ketika ada shalat Jumat, Idul Fitri atau Idul Adha.


Jangan pula menjadikan masjid hanya sebagai tempat singgah.


Jadikan masjid sebagai tempat bertumbuh.

Belajar di masjid.

Berdiskusi di masjid.

Membangun persahabatan di masjid.

Mengembangkan kepedulian sosial dari masjid.

Membangun jaringan kebaikan dari masjid.


Bahkan kalau memungkinkan, bangun jaringan masa depan dari masjid.


Banyak orang sukses tidak hanya dibentuk oleh ruang kelas, kantor dan organisasi. Mereka juga dibentuk oleh lingkungan pergaulan yang baik.


Masjid dapat menjadi ruang bertemunya mahasiswa dengan dosen, pengusaha dengan akademisi, anak muda dengan ulama, orang kaya dengan kaum dhuafa, generasi tua dengan generasi muda.


Di sana lahir silaturahmi.

Dari silaturahmi lahir kepercayaan.

Dari kepercayaan lahir kolaborasi.

Dari kolaborasi lahir karya.

Dan dari karya lahir kemaslahatan.


Bukankah dahulu masjid pada masa Rasulullah SAW juga menjadi pusat kehidupan umat? Masjid bukan hanya tempat shalat, tetapi menjadi ruang pendidikan, musyawarah, pembinaan umat dan berbagai aktivitas sosial.


Maka sudah waktunya kita menghidupkan kembali semangat itu dengan konteks kekinian.


Masjid yang Dirindukan


Akhirnya, ukuran masjid yang makmur bukan hanya seberapa megah bangunannya, tetapi seberapa banyak hati yang merasa dekat dengannya.


Masjid yang makmur bukan hanya masjid yang penuh pada saat shalat Jumat, tetapi masjid yang memiliki denyut kehidupan sepanjang hari.


Masjid yang baik bukan hanya membuat jamaah datang, tetapi membuat mereka ingin kembali.


Dan masjid yang luar biasa bukan hanya membuat manusia nyaman secara fisik, tetapi membuat hati mereka menemukan ketenteraman.

Mungkin inilah pekerjaan besar para khadam masjid.


Mereka tidak sekadar menjaga karpet agar tetap bersih.

Mereka sedang menjaga kesan pertama seseorang terhadap rumah Allah.


Mereka tidak sekadar menghidupkan AC.

Mereka sedang berusaha menciptakan suasana agar jamaah dapat beribadah dengan tenang.


Mereka tidak sekadar menyusun sandal.

Mereka sedang membantu menciptakan keteraturan.


Mereka tidak sekadar membuka pintu masjid.

Mereka sedang membuka pintu kesempatan bagi manusia untuk mendekat kepada Allah.


Dan mereka tidak sekadar melayani jamaah.

Mereka sedang berkhidmat kepada Allah melalui pelayanan kepada manusia.


Semoga masjid-masjid kita semakin bersih, indah, ramah, teduh dan nyaman. Semoga para pengelolanya diberikan keikhlasan, kesehatan dan kekuatan. Dan semoga semakin banyak generasi muslim yang hatinya terpaut dengan masjid.


Sebab ketika hati anak-anak muda sudah dekat dengan masjid, sesungguhnya kita sedang menanam benih masa depan umat.


Masjid yang membuat jamaah betah bukan hanya menghasilkan jamaah yang nyaman. Ia dapat melahirkan manusia-manusia yang baik, jaringan kebaikan yang luas dan peradaban yang lebih beradab.


Dan mungkin, dari secangkir kopi sederhana di pagi hari bersama para khadam masjid, kita kembali diingatkan bahwa mengurus rumah Allah adalah pekerjaan yang tampak sederhana di mata manusia, tetapi boleh jadi sangat besar nilainya di sisi-Nya.


Wallahu a’lam 


Darussalam 8 Rabiul Awal 1448, 20 Agustus 2026


(Penulis, imam besar masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry Banda Aceh)


Note: Foto, dari kanan; Akmal, Fiqih Mayasir, Alif Al-Haitamy, dan penulis

×
Berita Terbaru Update