Oleh Saifuddin A. Rasyid
Al-Rasyid.id | Memasuki 12 Rabiul Awal 1448 H, Selasa 25 Agustus 2026, semarak memperingati kelahiran Nabi Muhammad ﷺ mulai terasa di berbagai tempat. Di Aceh, suasana itu memiliki warna tersendiri. Peringatan Maulid Nabi bukan sekadar sebuah acara seremonial, tetapi telah menjadi bagian dari tradisi keagamaan dan kehidupan sosial masyarakat.
Di gampong-gampong, masjid dan meunasah kembali dipenuhi jamaah. Kenduri maulid disiapkan, lantunan zikir dan shalawat menggema, kitab Barzanji dibacakan, dan para ulama menyampaikan ceramah tentang sejarah kelahiran, kehidupan, perjuangan, akhlak serta dakwah Rasulullah ﷺ.
Tradisi itu akan berlangsung di banyak tempat secara bergantian. Bahkan di Aceh, semarak Maulid lazim berlangsung panjang, hingga sekitar tiga bulan lebih. Karena itu, momentum ini sesungguhnya merupakan kesempatan yang sangat berharga untuk mengecas kembali kecintaan kepada Rasulullah ﷺ sekaligus memperdalam pengetahuan tentang kehidupan beliau.
Barzanji: membaca sejarah dengan cinta
Salah satu tradisi yang sangat melekat dalam peringatan Maulid adalah pembacaan Maulid al-Barzanji. Kitab yang judul aslinya ‘Iqd al-Jawhar fi Mawlid al-Nabiyy al-Azhar itu merupakan karya Sayyid Ja‘far bin Hasan al-Barzanji. Ia berisi riwayat kehidupan Rasulullah ﷺ, puji-pujian kepada beliau, shalawat dan doa. Karena pengarangnya dinisbatkan kepada Barzanji, kitab tersebut kemudian lebih populer dengan nama Maulid Barzanji.
Isinya secara garis besar mencakup nasab Rasulullah ﷺ, keadaan menjelang kelahiran, masa kanak-kanak, masa muda, perjalanan beliau, pernikahan dengan Sayyidah Khadijah ra., pengangkatan sebagai Rasul, permulaan dakwah, hijrah, perjuangan di Madinah, berbagai keutamaan dan akhlak beliau hingga wafat. Penyajiannya menggunakan bahasa sastra yang indah sehingga sejarah Nabi tidak hanya dibaca sebagai kronologi, tetapi juga dihayati dengan rasa cinta dan penghormatan.
Menariknya, Barzanji bukan sekadar kitab yang populer di Indonesia. Ia tersebar luas di berbagai wilayah dunia Islam dan telah melahirkan sejumlah karya syarah atau komentar dari para ulama. Di antaranya Madarij al-Shu’ud karya ulama Nusantara, Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani, yang merupakan syarah atas teks maulid al-Barzanji.
Fakta ini penting diketahui generasi Muslim. Artinya, Barzanji memiliki posisi sebagai salah satu karya dalam khazanah sastra dan tradisi keilmuan Islam yang telah lama digunakan untuk menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah ﷺ.
Namun, membaca Barzanji hendaknya tidak berhenti pada keindahan lantunan. Barzanji semestinya menjadi pintu masuk untuk mengenal sirah Nabi secara lebih luas.
Dari Barzanji menuju kitab-kitab sirah
Di sinilah momentum Maulid menjadi semakin penting bagi generasi muda. Setelah mendengar kisah Nabi melalui Barzanji dan ceramah para ulama, ada baiknya kita melanjutkannya dengan membaca buku-buku Sirah Nabawiyah.
Khazanah Islam memiliki banyak karya tentang sejarah kehidupan Rasulullah ﷺ. Di antaranya Sirah Ibn Hisham, salah satu karya klasik penting dalam tradisi sirah; Nur al-Yaqin fi Sirah Sayyid al-Mursalin karya Syekh Muhammad al-Khudhari; Ar-Raheeq al-Makhtum karya Shafiyurrahman al-Mubarakfuri; serta Fiqh al-Sirah karya Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi dan karya Muhammad al-Ghazali. Karya-karya tersebut hadir dengan pendekatan dan karakter yang berbeda, sehingga pembaca dapat memilih sesuai tingkat kebutuhan dan kemampuan.
Nur al-Yaqin, misalnya, menguraikan perjalanan hidup Nabi sejak keadaan masyarakat Arab sebelum kenabian, nasab, masa kecil, perkawinan, hijrah, berbagai peristiwa penting hingga wafatnya Rasulullah ﷺ. Kitab ini juga telah lama digunakan sebagai bahan pembelajaran sirah di lembaga-lembaga pendidikan Islam.
Sementara itu, karya-karya sirah modern seperti Ar-Raheeq al-Makhtum berusaha menghadirkan kisah kehidupan Nabi secara lebih sistematis bagi pembaca masa kini. Dengan demikian, generasi Muslim sebenarnya mempunyai banyak pilihan untuk menjadikan bulan-bulan Maulid sebagai bulan membaca sejarah Nabi.
Jangan hanya tahu kelahiran, tetapi pahami perjuangan
Ada satu hal yang perlu kita renungkan. Jangan sampai kita begitu semangat memperingati kelahiran Nabi, tetapi kurang mengenal perjuangan beliau.
Kita mengenal tanggal kelahiran beliau, tetapi tidak memahami bagaimana beliau membangun masyarakat. Kita hafal shalawat, tetapi kurang mengetahui bagaimana beliau menghadapi penghinaan. Kita gembira mendengar kisah kelahiran beliau, tetapi kurang mengambil pelajaran dari kesabaran beliau ketika berdakwah.
Padahal, Al-Qur’an menegaskan:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian.”
(QS. Al-Ahzab: 21).
Allah juga berfirman:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ
“Katakanlah: Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian.”
(QS. Ali Imran: 31).
Ayat ini memberikan ukuran yang sangat penting: cinta kepada Nabi tidak cukup hanya diucapkan, tetapi harus dibuktikan dengan mengikuti beliau.
Karena itu, ceramah Maulid yang mengupas sirah Nabi seharusnya membawa jamaah kepada pertanyaan: Apa yang sudah berubah dalam diri saya setelah mengenal kehidupan Rasulullah ﷺ?
Apakah kita menjadi lebih jujur?
Lebih sabar?
Lebih penyayang?
Lebih mudah memaafkan?
Lebih peduli kepada fakir miskin?
Lebih santun kepada keluarga dan tetangga?
Lebih istiqamah menjalankan perintah Allah?
Jika jawabannya semakin positif, maka semarak Maulid telah menghasilkan buah.
Tolok ukur kedekatan dengan Rasulullah
Ada ukuran yang sangat jelas diberikan Rasulullah ﷺ tentang siapa yang paling dekat dengan beliau kelak.
Dalam hadis riwayat al-Tirmidzi, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa orang yang paling beliau cintai dan paling dekat kedudukannya dengan beliau pada hari kiamat adalah orang-orang yang paling baik akhlaknya. Hadis tersebut juga memperingatkan bahaya banyak bicara tanpa manfaat, sikap berlebihan dalam berbicara dan kesombongan.
Maka, berdasarkan petunjuk tersebut, setidaknya ada beberapa ciri yang dapat kita jadikan tolok ukur keberhasilan memperingati Maulid:
Pertama, semakin baik akhlaknya.
Cinta kepada Nabi semestinya menjadikan seseorang semakin lembut, jujur, santun, rendah hati dan tidak menyakiti orang lain.
Kedua, semakin kuat mengikuti sunnah.
Mengenal kehidupan Nabi harus melahirkan keinginan untuk meneladani ibadah, muamalah, kesabaran dan perjuangan beliau.
Ketiga, semakin besar kasih sayangnya kepada sesama.
Rasulullah ﷺ adalah teladan dalam menyayangi keluarga, anak-anak, orang miskin, tetangga bahkan mereka yang berbeda dengan beliau.
Keempat, semakin jauh dari kesombongan.
Orang yang benar-benar mengenal Nabi akan semakin memahami bahwa kemuliaan tidak dibangun dengan merendahkan orang lain.
Kelima, semakin kuat kecintaannya kepada ilmu.
Membaca Barzanji hendaknya menumbuhkan keinginan membaca sirah, hadis, Al-Qur’an dan karya-karya ulama sehingga kecintaan kepada Nabi dibangun di atas pengetahuan.
Keenam, semakin mudah kembali kepada jalan Allah ketika tersilap.
Manusia tidak luput dari kesalahan. Yang penting adalah kesediaan untuk bertobat, memperbaiki diri dan kembali kepada kebenaran.
Maulid sebagai madrasah cinta
Karena itu, semarak Maulid di Aceh yang berlangsung berbulan-bulan sesungguhnya dapat dipandang sebagai madrasah besar tentang Rasulullah ﷺ.
Kenduri mengajarkan berbagi.
Barzanji menghidupkan cinta.
Shalawat menghidupkan ingatan.
Ceramah membuka wawasan.
Sirah memperkaya pengetahuan.
Dan keteladanan mengubah perilaku.
Generasi Muslim hari ini juga mempunyai keuntungan yang tidak dimiliki generasi sebelumnya. Selain menghadiri ceramah secara langsung di masjid, meunasah dan dayah, mereka dapat mendengarkan kajian sirah melalui berbagai platform digital, audiobook, video dan podcast. Bahkan bahan-bahan sirah klasik dan modern semakin mudah ditemukan di perpustakaan dan toko buku.
Maka, alangkah baiknya jika setiap keluarga membuat tradisi sederhana selama bulan-bulan Maulid: satu keluarga, satu buku sirah; satu hari, beberapa halaman; satu kajian, satu pelajaran; dan satu pelajaran, satu perubahan.
Dengan cara itu, Maulid tidak berhenti pada semarak acara, tetapi masuk ke dalam kehidupan.
Pada akhirnya, memperingati kelahiran Nabi Muhammad ﷺ bukan hanya tentang mengetahui bahwa beliau pernah lahir ke dunia. Yang lebih penting adalah mengenal siapa beliau, memahami perjuangannya, mencintainya, meneladaninya dan membawa ajarannya ke dalam kehidupan.
Sebab, semakin kita mengenal Rasulullah ﷺ, semestinya semakin kita mencintai beliau. Semakin kita mencintai beliau, semestinya semakin kuat keinginan untuk mengikuti sunnahnya. Dan semakin sungguh-sungguh kita mengikuti beliau, semoga semakin dekat pula kita kepada ridha Allah SWT.
Semoga semarak Barzanji dan Maulid tahun ini tidak hanya membuat masjid dan meunasah ramai oleh lantunan shalawat, tetapi juga membuat hati kita ramai oleh cinta kepada Rasulullah ﷺ, pikiran kita kaya dengan pengetahuan tentang sirahnya, dan perilaku kita semakin mencerminkan akhlaknya.
Selamat menikmati semarak Maulid. Selamat membaca Barzanji. Selamat menyelami Sirah Nabawiyah. Semoga cinta kepada Rasulullah ﷺ tumbuh menjadi amal, akhlak dan istiqamah sepanjang hayat, hingga kelak kita dikumpulkan bersama beliau dalam rahmat dan ridha Allah SWT.
Wallahu a’lam
Darussalam 12 Rabiul Awal 1448, 25 Agustus 2026
(Penulis, Tgk Imum Gampong Barabung Darussalam Aceh Besar)
