Oleh Saifuddin A. Rasyid
Al-Rasyid.id | Pagi 17 Agustus 2026, setelah upacara peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Lapangan Biro UIN Ar-Raniry Banda Aceh selesai dilaksanakan, suasana syukur dan kebersamaan belum berakhir. Para pejabat UIN Ar-Raniry melanjutkan sebuah acara khusus di ruang kerja rektor: peusijuek atau tepung tawar untuk Rektor UIN Ar-Raniry periode kedua, Prof. Mujiburrahman, bersama Ibu Hajjah Opi, panggilan akrab, isteri beliau.
Acara itu berlangsung sederhana, khidmat, dan penuh keakraban. Hadir satu-dua sahabat dan kerabat dekat sang rektor. Sesekali terdengar canda kecil di antara hadirin. Namun justru di situlah terasa suasana kekeluargaan: sebuah kebersamaan yang tidak dibuat-buat, lahir dari rasa syukur, persahabatan, dan doa untuk perjalanan amanah yang baru.
Peusijuek bukan sekadar menyiramkan air tepung tawar. Dalam khazanah adat Aceh, ia mengandung pesan yang jauh lebih dalam: syukur kepada Allah, doa untuk keselamatan dan keberkahan, harapan atas ketenteraman, serta penguatan hubungan persaudaraan.
Majelis Adat Aceh (MAA) menjelaskan bahwa peusijuek berasal dari kata sijuek yang berarti dingin. Ia lazim dilakukan sebagai ungkapan syukur atas keselamatan dan keberhasilan sekaligus sebagai permohonan keberkahan dan keselamatan. Karena itu peusijuek hadir dalam berbagai momentum penting kehidupan masyarakat Aceh, termasuk ketika seseorang memperoleh amanah atau mencapai keberhasilan tertentu.
Dalam tradisi peusijuek, unsur-unsur yang digunakan pun mempunyai simbol dan filosofi. Beras dan padi melambangkan kesuburan serta kemakmuran; on manek manoe melambangkan keharmonisan dan kerukunan; on seunijuek melambangkan kesejukan, kesabaran, dan ketenangan; sementara naleung sambo melambangkan kekuatan dan keteguhan. Ikatan berbagai unsur tersebut menjadi simbol persatuan.
Maka, peusijuek Prof. Mujiburrahman dan Ibu Hajjah pagi itu dapat dibaca sebagai bahasa adat yang sangat indah: mendinginkan hati, menguatkan langkah, menyatukan harapan, dan menitipkan doa kepada Allah agar amanah kepemimpinan empat tahun ke depan berjalan dalam keberkahan.
Lebih dari sekadar prosesi adat, saya melihat ada pesan kepemimpinan yang sangat kuat di balik peusijuek tersebut.
Kepala yang cerdas, dada yang lapang, tangan yang dingin
Seorang pemimpin institusi pendidikan tinggi tidak cukup hanya memiliki jabatan, kepandaian akademik, atau kemampuan administratif. Ia membutuhkan tiga hal sekaligus: kepala yang jernih, dada yang lapang, dan tangan yang dingin.
Kepala yang jernih diperlukan untuk membaca perubahan zaman, memahami persoalan, mengembangkan konsep, menyusun strategi, dan menentukan arah perjalanan institusi.
Dada yang lapang diperlukan karena memimpin manusia berarti berhadapan dengan berbagai karakter, pendapat, kritik, kepentingan, harapan, bahkan perbedaan. Tidak semua persoalan dapat diselesaikan dengan ketegasan semata. Sebagian membutuhkan kesabaran, kebijaksanaan, dialog, dan kemampuan mendengarkan.
Sedangkan tangan yang dingin diperlukan ketika keputusan harus dibuat. Ada saatnya seorang pemimpin harus segera bertindak. Tidak boleh terlalu lama ragu. Namun kecepatan saja tidak cukup. Keputusan harus tepat, adil, terukur, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Al-Qur’an memberikan fondasi yang sangat kuat mengenai amanah kepemimpinan:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil.”
(QS. An-Nisa: 58)
Amanah dan keadilan adalah dua kata kunci kepemimpinan. Jabatan bukan kemuliaan yang harus dinikmati, melainkan amanah yang harus dikelola dengan hati-hati.
Bahkan ketika berbicara tentang kepemimpinan Nabi Muhammad SAW, Al-Qur’an menegaskan pentingnya kelembutan hati:
“Maka berkat rahmat dari Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, niscaya mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.”
(QS. Ali Imran: 159)
Inilah dasar penting dari apa yang saya sebut sebagai tangan dingin seorang pemimpin. Tangan dingin bukan berarti tangan yang tidak tegas. Sebaliknya, tangan dingin adalah tangan yang mampu mengambil keputusan dengan tenang, tidak dikuasai emosi, tidak tergesa-gesa, tetapi juga tidak kehilangan momentum.
Pemimpin yang baik bukan yang tidak pernah menghadapi masalah. Pemimpin yang baik adalah yang mampu membuat masalah tidak menjadi lebih besar karena cara ia menghadapinya.
Empat tahun berikutnya adalah amanah baru
Peusijuek ini sekaligus menjadi doa agar perjalanan Prof. Mujiburrahman dalam memimpin UIN Ar-Raniry periode 2026–2030 dimudahkan Allah.
Semoga Allah memberikan kecerdasan pemikiran untuk membaca masa depan, keluasan wawasan untuk mengembangkan ilmu dan konsep, ketajaman intuisi untuk melihat peluang, serta kejernihan hati dalam menentukan prioritas.
Semoga Allah melapangkan dada dan perasaan, agar kritik tidak menjadi beban, perbedaan tidak menjadi permusuhan, dan keberagaman pandangan di lingkungan akademik justru menjadi energi untuk melahirkan gagasan-gagasan besar.
Dan semoga Allah memberikan tangan yang dingin dalam setiap pengambilan keputusan: cepat ketika memang harus cepat, hati-hati ketika keadaan menuntut kehati-hatian, tegas ketika prinsip harus ditegakkan, dan lembut ketika persoalan lebih tepat diselesaikan dengan kebijaksanaan.
Rasulullah SAW mengingatkan:
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini membuat kepemimpinan tidak berhenti pada keberhasilan administratif. Pada akhirnya, seorang pemimpin akan mempertanggungjawabkan bagaimana amanah itu dikelola.
Karena itu, kepemimpinan universitas bukan hanya tentang berapa banyak gedung yang dibangun, berapa banyak program yang dilaksanakan, atau berapa banyak penghargaan yang diterima. Lebih jauh, ia tentang manusia macam apa yang dilahirkan oleh universitas tersebut, ilmu macam apa yang dikembangkan, dan kontribusi apa yang diberikan kepada masyarakat dan bangsa.
UIN Ar-Raniry dan masa depan Aceh
Momentum peusijuek ini juga tidak dapat dilepaskan dari momentum besar yang sedang dijalani bangsa dan Aceh: 81 tahun Indonesia merdeka dan 21 tahun Aceh hidup dalam damai.
Dalam konteks itu, UIN Ar-Raniry mempunyai posisi yang sangat strategis. Ia bukan hanya sebuah perguruan tinggi keagamaan Islam, tetapi salah satu stakeholder penting dalam perjalanan pembangunan Aceh.
Aceh membutuhkan perguruan tinggi yang berdiri tegak dengan tradisi keilmuan yang kuat, tetapi tetap dekat dengan realitas masyarakat. Perguruan tinggi harus mampu berdiri bersama pemerintah dan stakeholder lainnya untuk mencari titik-titik kemajuan yang dapat menjawab kebutuhan rakyat.
UIN Ar-Raniry bersama perguruan tinggi lainnya perlu menjadi ruang tempat ilmu bertemu dengan kebijakan, riset bertemu dengan kebutuhan masyarakat, dan gagasan akademik bertemu dengan persoalan nyata di lapangan.
Karena itu, cita-cita menjadikan UIN Ar-Raniry sebagai universitas berkelas dunia tidak boleh hanya dipahami sebagai pencapaian peringkat atau pengakuan internasional. Lebih dari itu, universitas berkelas dunia harus memiliki ilmu yang berkualitas, budaya akademik yang sehat, tata kelola yang baik, jaringan internasional yang luas, tetapi sekaligus mempunyai akar yang kuat di tengah masyarakatnya.
Universitas berkelas dunia harus mampu menjawab pertanyaan sederhana tetapi fundamental: apa manfaat kehadiran universitas bagi kemajuan manusia?
Di sinilah tangan dingin kepemimpinan Prof. Mujiburrahman akan diuji.
Empat tahun ke depan bukan sekadar perpanjangan masa jabatan. Ia adalah kesempatan kedua untuk memperkuat fondasi, mempercepat transformasi, memperluas jejaring, dan mengantarkan UIN Ar-Raniry semakin dekat dengan cita-cita besarnya.
Doa untuk Ibu Hajjah
Peusijuek pagi itu juga penting karena kepemimpinan seorang rektor tidak berlangsung seorang diri.
Di balik perjalanan panjang seorang pemimpin, sering ada seseorang yang menjadi tempat kembali ketika pikiran penat, menjadi penguat ketika beban berat, dan menjadi pendamping ketika langkah terasa panjang.
Karena itu, doa untuk Prof. Mujiburrahman sekaligus menjadi doa untuk Ibu Hajjah Sofiatuddin Syah.
Semoga Allah melimpahkan ketegaran, kesabaran, kesehatan, dan kekuatan kepada beliau untuk terus mendampingi setiap langkah Prof. Mujib. Sebab mendampingi seorang pemimpin juga merupakan bentuk pengabdian yang tidak selalu terlihat, tetapi sering kali sangat menentukan ketahanan seorang pemimpin dalam menjalankan amanahnya.
Kiranya rumah menjadi tempat kembali kepada ketenangan setelah menghadapi hiruk-pikuk kepemimpinan kampus; menjadi ruang untuk saling menguatkan, mengingatkan dan mendoakan.
Pada akhirnya, peusijuek itu seakan menyampaikan satu pesan sederhana: kepemimpinan harus dimulai dengan kepala yang terang, dijalani dengan dada yang lapang, dan diwujudkan melalui tangan yang dingin.
Kepala untuk berpikir.
Dada untuk bersabar.
Tangan untuk bekerja dan memutuskan.
Dan semuanya harus berada di bawah bimbingan Allah SWT.
Semoga Prof. Mujiburrahman dan Ibu Hajjah senantiasa berada dalam lindungan dan petunjuk-Nya. Semoga Allah memudahkan setiap urusan, memberikan kekuatan dalam setiap amanah, mempertemukan dengan orang-orang baik, dan menjauhkan dari keputusan yang membawa mudarat.
Semoga UIN Ar-Raniry semakin maju, semakin kuat tradisi keilmuannya, semakin luas manfaatnya, dan semakin besar kontribusinya bagi Aceh, Indonesia, dan dunia.
Dan bersempena dengan kemerdekaan Indonesia serta damai Aceh yang terus kita rawat, semoga UIN Ar-Raniry menjadi salah satu tonggak penting yang ikut menyalakan inspirasi, menggerakkan ilmu, membangun peradaban, dan mewariskan harapan bagi generasi Aceh masa kini dan masa depan.
Selamat melanjutkan amanah, Prof. Mujiburrahman.
Selamat mendampingi perjuangan, Ibu Hajjah.
Semoga empat tahun ke depan menjadi perjalanan kepemimpinan yang semakin matang, teduh, produktif, dan penuh keberkahan.
Kepala yang cerdas, dada yang lapang, dan tangan yang dingin—semoga itulah tiga kekuatan yang senantiasa menyertai bahtera UIN Ar-Raniry menuju masa depan.
Wallahu a’lam
Darussalam 4 Rabiul Awal 1448, 17 Agustus 2026
(Penulis, imam besar masjid Fathun Qarib)
