-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tatkala Kematian Menjemput Sang Guru: Mengenang Prof. Warul Walidin

Rabu, 12 Agustus 2026 | Agustus 12, 2026 WIB Last Updated 2026-08-12T12:53:15Z


Opini Saifuddin A. Rasyid


Al-Rasyid.id | Berita duka itu datang pagi ini. Seorang guru, ulama, tokoh pendidikan, dan salah seorang putra terbaik Aceh, Prof. Dr. Warul Walidin AK, mantan Rektor UIN Ar-Raniry Banda Aceh, telah berpulang ke rahmatullah. Beliau meninggalkan dunia ini pada Rabu pagi, 12 Agustus 2026, sekitar pukul 08.00 WIB di RSUZA Banda Aceh.


Kepergian beliau menghadirkan kesedihan mendalam, khususnya bagi keluarga besar UIN Ar-Raniry dan masyarakat Aceh yang selama ini mengenal beliau sebagai sosok yang mengabdikan hidupnya untuk pendidikan, ilmu pengetahuan, dakwah dan pencerdasan umat.


Jumat pekan lalu, kami keluarga besar UIN Ar-Raniry mendapatkan kabar dari Warek Senior Prof. Syahbuddin Gade bahwa Prof. Warul sedang menjalani perawatan di RSUZA. Beliau meminta doa dari semua pihak agar Prof. Warul diberikan kesembuhan.


Kami pun segera susul menyusul melafazkan doa. Dalam hati tentu ada harapan agar guru kami itu kembali sehat dan dapat berkumpul bersama keluarga, sahabat, murid dan masyarakat.


Namun, pagi ini ketika saya menghubungi Prof Syahbuddin Gade, menyusul berita yang beredar luas di berbagai group, jawabannya begitu singkat sekaligus mengguncangkan hati:


“Prof. Warul sudah berpulang. Mohon dilapangkan maaf untuk beliau.”


Kalimat itu terasa berat. Saya pun segera menjawab dengan doa, kiranya Prof. Warul pulang dalam ridha Allah, dengan asbab jalan-jalan kebaikan yang telah beliau tempuh selama hidupnya. 


Semoga pengabdian ilmu, dakwah, pendidikan dan pencerdasan umat yang beliau dedikasikan menjadi amal yang terus mengalir. Semoga Allah memuliakan keluarga, sahabat, murid dan handai tolan yang beliau tinggalkan, memberikan kesabaran, serta kekuatan untuk melanjutkan kebaikan-kebaikan yang telah beliau rintis.


Kematian Selalu Mengejutkan


Sesungguhnya berita tentang kematian bukanlah sesuatu yang asing. Hampir setiap hari kita mendengarnya. Ada orang tua yang meninggal, anak muda yang berpulang, guru yang wafat, ulama yang dipanggil Allah, atau sahabat yang tiba-tiba meninggalkan kita.


Tetapi anehnya, setiap kematian tetap saja terasa mengejutkan.


Apalagi ketika yang pergi adalah orang yang kita hormati, kita muliakan, kita kenal pengabdiannya, dan kita merasa masih membutuhkan nasihat serta kehadirannya. Prof Warul adalah salah satunya.


Al-Qur’an telah mengingatkan kita dengan sangat jelas:


“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.”

(QS. Ali Imran: 185)


Kematian bukan kemungkinan. Ia adalah kepastian. Tidak ada manusia yang dapat menghindarinya.


Allah juga berfirman:


“Di mana pun kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu berada dalam benteng yang tinggi dan kokoh.”

(QS. An-Nisa: 78)


Karena itu, kematian sebenarnya bukanlah sesuatu yang datang tanpa rencana. Ia adalah bagian dari ketetapan Allah. Yang tidak kita ketahui hanyalah kapan dan di mana ia akan datang.


Kita sering merasa terkejut karena manusia memang tidak pernah benar-benar siap kehilangan. Tetapi Allah tidak pernah salah menentukan waktunya.


Kemarin Fardhu Kifayah, Hari Ini Seorang Guru Pergi


Ada pengalaman yang terasa begitu dekat dengan peristiwa hari ini.


Kemarin, saya sebagai Tgk Imum Gampong Barabung, Aceh Besar, bersama guru umat, Dr. Abu Sulfanwandi, baru saja memimpin prosesi fardhu kifayah terhadap seorang warga kami yang juga berpulang setelah mengalami sakit.


Kemarin kami mengurus jenazah seorang warga. Hari ini, kami menerima berita wafatnya seorang guru besar.


Kemarin kami menyadarkan diri bahwa ada seorang saudara yang telah menyelesaikan perjalanan hidupnya. Hari ini, kami kembali diingatkan bahwa siapa pun kita, apa pun kedudukan kita, sebanyak apa pun ilmu kita, sebesar apa pun jabatan kita, pada akhirnya akan sampai pada pintu yang sama: kematian.


Tidak lama setelah berita wafat Prof. Warul menyebar, zuhur siang tadi tausiyah Dr. Abizal Muhammad Yati, Lc., M.A. di Masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry juga mengingatkan jamaah tentang kematian.


Beliau mengingatkan bahwa kematian tidak dapat dihindari. Karena itu, orang yang cerdas bukanlah orang yang menganggap dirinya dapat melarikan diri dari kematian, tetapi orang yang mengambil pelajaran darinya dan mempersiapkan bekal untuk menghadap Allah.


Nasihat itu terasa semakin dalam karena pada saat yang sama kami sedang berduka atas kepulangan Prof. Warul.


Orang Cerdas Adalah yang Bersiap


Rasulullah SAW bersabda:


“Orang yang cerdas adalah orang yang banyak mengingat kematian dan paling baik persiapannya untuk kehidupan setelah kematian.”

(HR. Ibnu Majah)


Hadis ini memberikan ukuran kecerdasan yang berbeda dari ukuran dunia.


Dunia mengukur kecerdasan melalui prestasi, jabatan, kekayaan, gelar dan pengaruh. Islam mengajarkan bahwa kecerdasan tertinggi adalah kemampuan manusia membaca perjalanan hidupnya dan mempersiapkan perjumpaan dengan Allah.


Karena itu, mengingat kematian bukan berarti menjadi pesimis terhadap kehidupan. Justru sebaliknya. Kesadaran akan kematian membuat seseorang lebih serius menggunakan kehidupannya untuk kebaikan.


Rasulullah SAW juga bersabda:


“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga: sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.”

(HR. Muslim)


Hadis ini seakan memberikan pesan yang sangat relevan untuk mengenang Prof. Warul.


Seorang pendidik mungkin meninggalkan dunia, tetapi ilmunya tetap hidup pada murid-muridnya. Seorang ulama mungkin telah kembali kepada Allah, tetapi nasihat dan dakwahnya terus dikenang. Seorang guru mungkin telah berhenti berbicara di hadapan jamaah, tetapi ilmu yang pernah diajarkannya terus bergerak dari satu generasi kepada generasi berikutnya.


Di sinilah makna ilmu yang bermanfaat menjadi begitu agung. Jejak Ilmu yang Tidak Berhenti Bersama Kematian


Prof. Warul Walidin telah melewati sebagian besar hidupnya dalam dunia ilmu, pendidikan dan dakwah. Beliau pernah memimpin UIN Ar-Raniry sebagai rektor sebelum periode pertama Prof. Mujiburrahman, dan sepanjang perjalanan pengabdiannya beliau menjadi bagian penting dari dinamika pendidikan tinggi Islam di Aceh.


Jabatan tentu akan berakhir. Masa kepemimpinan akan berganti. Ruang kerja akan ditinggalkan. Tetapi ilmu dan kebaikan yang telah ditanamkan tidak harus ikut berakhir.


Itulah salah satu bentuk kemuliaan seorang pendidik.


Seorang guru sebenarnya tidak pernah benar-benar pergi selama ilmu yang diajarkannya masih hidup dalam diri murid-muridnya.


Karena itu, ketika seorang guru besar berpulang, sesungguhnya masyarakat sedang kehilangan tubuh dan kehadirannya, tetapi belum tentu kehilangan seluruh warisan perjuangannya.


Warisan itu berada dalam buku-buku, pikiran, karakter murid, lembaga yang pernah dibangun, kebijakan yang pernah dilahirkan, nasihat yang pernah disampaikan, dan terutama dalam amal-amal yang hanya Allah yang mampu menghitung nilainya.


Dalam perspektif para ulama, kehidupan dunia adalah ladang untuk akhirat. Ibn Umar RA pernah mengingatkan agar manusia ketika berada di dunia tidak merasa seperti orang yang akan hidup selamanya, tetapi mempersiapkan diri untuk perjalanan setelahnya.


Karena itu, kematian seorang guru seharusnya tidak hanya melahirkan ucapan inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Ia juga harus melahirkan pertanyaan kepada diri sendiri: Apa yang sudah saya siapkan jika giliran itu datang?


Kematian Datang Sesuai Ketetapan Allah


Kita sering mengatakan, “Saya tidak menyangka beliau pergi secepat ini.”


Itu manusiawi. Kita sering berkata, “Rasanya baru kemarin kita bertemu.” Itu juga manusiawi. Tetapi bagi Allah, tidak ada istilah terlalu cepat atau terlalu lambat. Setiap manusia memiliki batas waktu yang telah ditentukan.


Allah berfirman:


“Apabila ajal mereka telah tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun.”

(QS. Al-A’raf: 34)


Karena itu, kematian sebenarnya selalu datang sesuai planning Allah. Yang membuat kita terkejut adalah karena kita tidak mengetahui rencana itu.


Maka tugas manusia bukan meminta agar kematian tidak datang. Tugas manusia adalah memastikan ketika kematian datang, kita sedang berada dalam keadaan yang diridhai Allah.


Prof. Warul telah pergi.


Kita yang masih diberi kesempatan hidup harus membaca kepergian beliau sebagai pesan.


Bahwa suatu hari nanti nama kita juga akan disebut dalam kalimat yang sama: telah berpulang ke rahmatullah.


Pertanyaannya bukan apakah kita akan mati. Pertanyaannya adalah dengan bekal apa kita akan menghadap Allah?


Mengambil Pelajaran dari Setiap Kematian


Karena itu, saya berharap generasi muda Aceh, khususnya generasi muda UIN Ar-Raniry, tidak hanya mengenang Prof. Warul sebagai mantan rektor atau seorang profesor.


Kenanglah beliau sebagai seorang pendidik. Ambillah pelajaran dari pengabdiannya. Lanjutkan tradisi ilmu. Rawat dakwah. Bangun lembaga pendidikan. Ajarkan ilmu yang bermanfaat.


Dan jadikan kehidupan sebagai ruang untuk menanam sebanyak mungkin kebaikan.


Sebab kematian tidak menunggu kita selesai dengan seluruh rencana dunia.


Kematian tidak menunggu kita kaya. Tidak menunggu kita menjadi profesor. Tidak menunggu anak-anak kita dewasa. Tidak menunggu semua pekerjaan selesai. Ia datang ketika ketetapan Allah telah sampai.


Maka, sebagaimana pesan tausiyah Dr. Abizal Muhammad Yati siang tadi, orang yang cerdas adalah orang yang bersiap menghadapinya dengan amal yang banyak dan berkualitas.


Sedekah jariah. Ilmu yang bermanfaat. Anak-anak saleh yang mendoakan. Dan seluruh amal kebajikan yang menjadi bekal perjalanan menuju akhirat.


Selamat Jalan, Guru Kami


Selamat jalan Prof. Warul Walidin. Kami memang sedih karena kehilangan. Kami merasa kaget karena kepergian itu datang ketika kami masih berharap kesembuhan.


Namun kami percaya, Allah lebih mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya.


Kami hanya dapat mengantarkan dengan doa: Allahummaghfir lahu warhamhu wa ‘afihi wa’fu ’anhu.


Ya Allah, ampuni dosa-dosa Prof. Warul Walidin, rahmati beliau, muliakan tempat kembalinya, lapangkan kuburnya, terangi alam barzakhnya, terima seluruh amal kebaikannya, dan jadikan ilmu serta pengabdiannya sebagai amal jariah yang terus mengalir.


Ya Allah, balaslah segala jasa beliau dalam mendidik, mencerdaskan dan membimbing umat dengan balasan terbaik di sisi-Mu.


Kepada keluarga yang ditinggalkan, semoga Allah menganugerahkan kesabaran dan keteguhan. Kepada murid-murid dan seluruh keluarga besar UIN Ar-Raniry, semoga kehilangan ini menjadi energi untuk melanjutkan perjuangan ilmu yang telah beliau wariskan.


Dan kepada kami semua yang masih diberi umur, semoga kepergian Prof. Warul menjadi cermin.


Sebab setiap jenazah yang kita shalatkan sesungguhnya sedang mengajarkan satu pelajaran kepada kita: Suatu hari nanti, giliran kita yang akan dibawa. Maka sebelum hari itu datang, mari memperbanyak bekal.


Hidup ini singkat. Kematian pasti. Dan kepulangan kepada Allah adalah sebuah perjalanan yang tidak seorang pun dapat menghindarinya.


Semoga Prof. Warul pulang dalam keadaan diridhai dan dirahmati Allah.


Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Al-Fatihah.


Wallahu a’lam 


Darussalam 28 Safar 1448, 12 Agustus 2026


(Penulis, Imam Besar masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry)

×
Berita Terbaru Update