-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Amanah: Jabatan yang Tumbuh Menjadi Rahmat

Jumat, 11 September 2026 | September 11, 2026 WIB Last Updated 2026-09-12T02:30:31Z


Oleh Saifuddin A. Rasyid

Al-Rasyid.id | Ada satu kata yang terasa sangat kuat bergema di lingkungan keluarga besar UIN Ar-Raniry Banda Aceh dalam beberapa hari terakhir: amanah.


Jumat, 11 September 2026, setelah mengikuti pelatihan, saya membaca berbagai ucapan selamat di sejumlah grup internal keluarga besar UIN Ar-Raniry atas pelantikan para pejabat baru untuk periode 2026–2030 dalam kabinet Rektor Prof. Mujiburrahman. Menariknya, dari sekian banyak ucapan, ada satu kata yang terus berulang: amanah.


Kata yang sama juga ditekankan sendiri oleh Rektor Prof. Mujiburrahman dalam sambutan pelantikan. Seolah-olah beliau hendak mengingatkan bahwa pelantikan bukan sekadar pergantian posisi, pembagian tugas, atau pemberian kewenangan. Di balik setiap jabatan ada amanah.


Saya kemudian teringat sebuah ungkapan sangat menyentuh dari Ibu Aminah dalam grup komunitas Fakultas Adab dan Humaniora (FAH). Beliau mengucapkan selamat dengan bahasa yang begitu syahdu kepada kolega dekatnya yang kembali dipercaya menduduki posisi sebelumnya sebagai wakil dekan bidang akademik.


Saya pun berkomentar: menarik bahwa amanah dan Aminah memiliki akar kata Arab yang sama, yakni akar kata a-m-n (أ م ن), yang berkaitan dengan makna aman, tenteram, percaya, dapat dipercaya, dan kepercayaan.


Tentu, secara bahasa, amānah (أمانة) dan Āminah (آمنة) adalah bentuk kata yang berbeda. Tetapi kedekatan akar katanya memberi ruang bagi kita untuk mengambil sebuah renungan spiritual: amanah lahir dari kepercayaan, sedangkan pribadi yang amanah menghadirkan rasa aman bagi orang-orang yang mempercayainya.


Lebih indah lagi, kita mengenal salah satu sifat utama Rasulullah saw. adalah amanah. Bahkan sebelum diangkat menjadi rasul, masyarakat Makkah telah mengenal beliau sebagai Al-Amin—orang yang dapat dipercaya.


Dan ibunda beliau bernama Aminah.


Kita tidak perlu memaksakan hubungan sebab-akibat antara nama dan sifat seseorang. Tetapi sebagai umat yang gemar mengambil ibrah, kedekatan simbolik ini sungguh indah untuk direnungkan: seorang anak manusia yang kelak menjadi teladan terbesar dalam amanah lahir dari seorang ibu bernama Aminah.


Maka ketika seseorang menerima jabatan, mungkin ada baiknya ia tidak hanya mendengar ucapan, “Selamat atas jabatan baru.” Tetapi mendengar pesan yang jauh lebih dalam:


“Selamat menerima amanah baru.”


Hādzā min fadhlī rabbī


Yang membuat saya semakin tersentuh, pejabat yang mendapat apresiasi Ibu Aminah tersebut justru merespons dengan kalimat yang sangat rendah hati:


“Hādzā min fadhlī rabbī.”


Ini adalah ungkapan Nabi Sulaiman a.s. ketika melihat karunia besar yang diberikan Allah kepadanya. Allah berfirman:


هَٰذَا مِن فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ


“Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (nikmat-Nya).”

(QS. An-Naml: 40)


Perhatikan: Nabi Sulaiman tidak berhenti pada “ini karunia Tuhanku”. Beliau melanjutkannya dengan kesadaran bahwa karunia itu sekaligus ujian.


Inilah cara pandang yang sangat penting terhadap jabatan.


Jabatan adalah karunia, tetapi sekaligus ujian.

Jabatan adalah kehormatan, tetapi sekaligus tanggung jawab.

Jabatan memberikan kewenangan, tetapi juga menuntut pertanggungjawaban.


Kullukum rā‘in


Kesadaran itu kemudian disempurnakan dengan mengutip hadis yang sangat populer:


كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ


“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”


Hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim ini kemudian menjelaskan bahwa seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya; seorang laki-laki adalah pemimpin atas keluarganya; seorang perempuan adalah pemimpin atas rumah suaminya dan anak-anaknya; dan seorang hamba atau pelayan adalah pemimpin atas harta majikannya. Semua memiliki tanggung jawab dan semua akan ditanya tentang kepemimpinannya.


Dalam penjelasan para ulama, rā‘in menggambarkan orang yang menjaga, memelihara dan bertanggung jawab terhadap apa yang berada dalam pengelolaannya.


Maka kepemimpinan dalam Islam bukan terutama soal kekuasaan, tetapi soal penjagaan.


Jabatan sebagai ibadah


Di sinilah dahsyatnya jabatan yang dijalankan dengan amanah.


Jika seorang pejabat datang ke kantor dengan niat beribadah kepada Allah, bekerja dengan jujur, mengambil keputusan secara adil, melayani dengan sungguh-sungguh, tidak menggunakan kewenangan untuk kepentingan pribadi, dan berusaha menghadirkan kemaslahatan bagi institusinya, maka pekerjaannya bukan lagi sekadar pekerjaan administratif.


Ia dapat menjadi ibadah.

Keputusan yang adil menjadi ibadah.

Mempercepat pelayanan menjadi ibadah.

Membela hak orang yang terzalimi menjadi ibadah.


Memberikan kesempatan kepada dosen dan tenaga kependidikan untuk berkembang menjadi ibadah.


Memudahkan mahasiswa memperoleh hak akademiknya menjadi ibadah.


Bahkan menahan diri dari menggunakan kekuasaan untuk kepentingan pribadi merupakan bentuk ibadah yang sangat bernilai.


Allah memuji orang-orang beriman yang memelihara amanah dan janji mereka. Dalam QS. Al-Mu’minun ayat 8, mereka disebut sebagai orang-orang yang “memelihara amanat-amanat dan janjinya.”


Rasulullah saw. juga mengingatkan bahwa apabila amanah disia-siakan, maka tunggulah kehancurannya.


Karena itu, jabatan yang amanah sesungguhnya adalah investasi akhirat.


Ketika orang tua bahagia dan malaikat mencatat


Ada sisi lain yang sering luput kita renungkan.


Ketika seorang anak dilantik menjadi pejabat, orang tua biasanya menjadi orang yang paling bahagia.


Mungkin ayah dan ibunya tidak ikut duduk di ruang pelantikan. Tetapi hati mereka hadir.


Mereka mengingat perjalanan panjang anaknya: sekolahnya, kuliahnya, perjuangannya, kegagalannya, keberhasilannya, mungkin juga doa-doa yang mereka panjatkan diam-diam di sepertiga malam.


Hari ini anaknya berdiri menerima SK dan amanah jabatan.


Manusia memberikan ucapan selamat.

Kolega memberikan apresiasi.

Nama disebut dengan penuh kehormatan.

Foto pelantikan beredar.

Orang tua tersenyum bangga.


Namun seorang mukmin harus menyadari: ada yang lebih penting daripada tepuk tangan manusia.


Ada malaikat yang mencatat.

Ada Allah yang mengetahui.

Ada hari ketika semua jabatan akan dilepas.

Ruang kerja akan ditinggalkan.

Meja dan kursi akan ditempati orang lain.

Pangkat akan berhenti pada batas usia.

Nama kita perlahan tidak lagi disebut.

Tetapi catatan amal tidak berhenti.


Betapa indah jika pada hari-hari setelah pelantikan, setiap pejabat sesekali menutup pintu ruangannya, duduk sejenak, lalu bertanya kepada dirinya sendiri:


“Ya Allah, mengapa Engkau tempatkan aku di sini?”


Bukan:


“Apa yang bisa saya dapatkan dari jabatan ini?”


Tetapi:


“Apa yang bisa saya berikan melalui amanah ini?”


Pertanyaan kedua inilah yang dapat mengubah jabatan menjadi ibadah.


Satu keputusan, seribu dampak


Seorang pemimpin mungkin hanya menandatangani satu keputusan.


Tetapi keputusan itu bisa mengubah kehidupan banyak orang.


Satu kebijakan akademik yang tepat dapat menyelamatkan masa depan seorang mahasiswa.


Satu kesempatan yang diberikan kepada dosen muda dapat melahirkan karya besar.


Satu keputusan yang adil dapat mengembalikan kepercayaan seseorang kepada institusi.


Satu pelayanan yang dipermudah dapat membuat seseorang merasa dihargai.


Sebaliknya, satu keputusan yang tidak adil juga dapat melahirkan luka yang panjang.


Karena itu, semakin luas dampak sebuah jabatan, semakin besar pula peluang pahalanya—dan semakin besar pula tanggung jawabnya.


Inilah rahasia kepemimpinan yang amanah: kebaikan pemimpin dapat menjalar jauh melampaui usia jabatannya.


Ia mungkin hanya menjabat empat tahun.


Tetapi karya yang dilahirkannya dapat hidup puluhan tahun.


Mahasiswa yang dibantunya mungkin kelak menjadi profesor.


Dosen yang diberinya ruang berkembang mungkin melahirkan generasi baru.


Kebijakan yang dibangunnya mungkin menjadi budaya institusi.


Pelayanan yang diperbaikinya mungkin dinikmati ribuan orang setelah ia tidak lagi berada di kursi itu.


Maka amal seorang pemimpin tidak selalu berhenti ketika masa jabatannya berakhir.


Jika manfaatnya terus mengalir, insyaallah kebaikannya pun terus dikenang—dan kita berharap Allah terus mengalirkan pahala dari manfaat tersebut.


Dari jabatan menjadi rahmat


Alangkah indahnya jika seluruh pejabat UIN Ar-Raniry periode 2026–2030 menjadikan amanah sebagai ruh kepemimpinan.


Dosen merasa dihargai.

Tenaga kependidikan merasa dilayani dengan adil.

Mahasiswa merasa diperhatikan.

Kolega merasa aman menyampaikan gagasan.

Bawahan tidak takut menyampaikan kebenaran.

Institusi bergerak dengan kepercayaan.


Dan keputusan-keputusan yang lahir dari meja para pemimpin tumbuh menjadi rahmat bagi lingkungan kerja.


Di sinilah jabatan menjadi sesuatu yang sangat dahsyat.


Ia tidak lagi sekadar posisi, tetapi menjadi sumber maslahat.


Tidak sekadar kewenangan, tetapi kesempatan beramal.


Tidak sekadar kehormatan, tetapi pertanggungjawaban.


Tidak sekadar kursi, tetapi ladang pahala.


Maka kepada seluruh pejabat baru UIN Ar-Raniry periode 2026–2030, selamat menerima amanah.


Bukan hanya selamat dilantik.

Bukan hanya selamat mendapatkan jabatan.

Tetapi selamat menjemput kesempatan beribadah yang lebih luas.


Mari kita simpan tiga kalimat yang muncul dari rangkaian peristiwa ini:


Amanah.


Hādzā min fadhlī rabbī.


Kullukum rā‘in wa kullukum mas’ūlun ‘an ra’iyyatihi.


Tiga kalimat ini seperti tiga lentera.


Amanah mengingatkan bahwa jabatan adalah kepercayaan.


Hādzā min fadhlī rabbī mengingatkan bahwa jabatan adalah karunia sekaligus ujian.


Kullukum rā‘in mengingatkan bahwa setiap kepemimpinan akan dimintai pertanggungjawaban.


Semoga para pemimpin baru ini tidak hanya menjadi pejabat yang dipercaya manusia, tetapi juga menjadi hamba yang dipercaya menjaga amanah Allah.


Sebab suatu saat, mungkin tidak ada lagi orang yang mengucapkan selamat.


Tidak ada lagi foto pelantikan.

Tidak ada lagi ruang jabatan.

Tidak ada lagi nama yang dipanggil dengan gelar kehormatan.


Yang ada hanyalah kita, amal kita, dan Allah Yang Maha Mengetahui.


Pada hari itu, barangkali yang paling membahagiakan bukanlah bahwa kita pernah menjadi pejabat.


Tetapi bahwa ketika amanah itu diberikan, kita tidak menyia-nyiakannya.


Semoga para orang tua yang hari ini tersenyum melihat anak-anaknya dipercaya, kelak juga tersenyum di hadapan Allah karena anak-anak mereka telah menggunakan kepercayaan itu untuk berbuat baik.


Semoga para malaikat mencatat bukan hanya nama mereka dalam daftar pejabat, tetapi juga jejak-jejak kebaikan yang lahir dari kepemimpinan mereka.


Dan semoga setiap keputusan yang benar, setiap pelayanan yang tulus, setiap mahasiswa yang terbantu, setiap dosen yang berkembang, setiap tenaga kependidikan yang merasa dihargai, dan setiap maslahat yang tumbuh dari jabatan itu menjadi saksi kebaikan di hadapan Allah.


Jangan sia-siakan amanah.


Karena boleh jadi, jabatan yang kita kira hanya berlangsung empat tahun, ternyata Allah jadikan sebagai jalan menuju pahala yang tidak pernah kita bayangkan.


Selamat mengemban amanah.


Hādzā min fadhlī rabbī.


Amanah adalah kehormatan. Menjaganya adalah ibadah. Menyia-nyiakannya adalah pertanggungjawaban.


Wallahu a’lam 


Darussalam 30 Rabiul Awal 1448, 12 September 2026


(Penulis, imam besar masjid Fahun Qarib UIN Ar-Raniry)

×
Berita Terbaru Update