Oleh: Saifuddin A. Rasyid
Al-Rasyid.id |Ada kalanya sebuah perjalanan pulang kampung yang hanya memakan waktu sekitar tiga puluh menit justru membawa pulang sebuah pelajaran kehidupan yang jauh lebih panjang.
Kemarin kami pulang ke kampung halaman di Indrapuri, Aceh Besar. Di sepanjang perjalanan, hamparan sawah menyuguhkan pemandangan yang menyejukkan mata. Padi mulai menguning. Bulir-bulirnya tampak penuh dan sebagian batangnya merunduk.
Istri saya yang sebelumnya tertidur di dalam mobil tiba-tiba terbangun. Ia melihat ke kiri, beberapa saat menikmati bentangan sawah yang menguning, lalu bergumam,
“Alhamdulillah, bagus ya. Padinya sudah kuning dan merunduk, berisi.”
Saya mendengar kalimat itu dengan jelas. Saya hanya menjawab pendek,
“Sudah waktunya panen, ya.”
Mobil terus bergerak menuju rumah. Namun kalimat sederhana itu justru berhenti di kepala saya.
Padi yang berisi merunduk.
Sederhana sekali. Tetapi semakin dipikirkan, semakin dalam maknanya.
Bukankah manusia juga seharusnya demikian?
Semakin Berisi, Semakin Merunduk
Kita semua tahu bagaimana padi tumbuh. Ketika masih muda, batangnya cenderung tegak. Ketika bulirnya mulai penuh, batangnya perlahan merunduk.
Ada filosofi kehidupan yang sangat indah di sana.
Isi melahirkan kerendahan hati.
Semakin seseorang berilmu, seharusnya semakin sadar bahwa masih banyak yang tidak diketahuinya. Semakin tinggi kedudukannya, semakin ia menyadari bahwa jabatan hanyalah amanah. Semakin banyak hartanya, semakin ringan tangannya berbagi. Semakin luas pengaruhnya, semakin hati-hati lisannya.
Tetapi manusia kadang justru bergerak berlawanan dengan padi.
Baru memiliki sedikit kelebihan sudah ingin dipuji. Baru memperoleh sedikit jabatan sudah ingin dihormati. Baru memiliki sedikit ilmu sudah merasa paling benar. Baru mendapatkan sedikit kekuasaan sudah mulai merendahkan orang lain.
Padi memberikan pelajaran yang sederhana: jangan menjadi tegak karena kosong dan jangan menjadi tinggi karena kesombongan.
Allah mengingatkan:
“Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia karena sombong dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh.”
(QS. Luqman: 18).
Kesombongan bukan tanda seseorang berisi. Justru bisa menjadi pertanda bahwa ada ruang kosong dalam dirinya yang sedang berusaha ditutupi dengan keangkuhan.
Dari Sawah ke Rumah Ibu
Pelajaran itu kemudian menemukan bentuknya ketika kami tiba di rumah ibu.
Sesampainya di sana, sudah ada adik dan keluarganya yang lebih dahulu datang. Mereka sedang makan nasi kuning dan roti Samahani, ditemani ibu kami yang tampak bahagia sekaligus sibuk memperhatikan makanan anak-anak dan cucunya.
Ibu bahkan terus menambah-nambahkan makanan untuk mereka.
Kami kemudian bergabung membawa tambahan bubur kacang hijau. Menu pun menjadi semakin beragam.
Tidak lama kemudian, tiga keluarga adik-ipar saya datang. Rumah semakin ramai.
Saya memperhatikan wajah ibu.
Ada kebahagiaan yang tidak memerlukan kata-kata.
Mungkin bagi kami, berkumpul di rumah ibu sesekali pada hari libur adalah hal biasa. Tetapi bagi seorang ibu, melihat anak-anak, menantu, cucu bahkan cicit berkumpul di sekelilingnya adalah sebuah karunia yang luar biasa.
Di situlah saya kembali menemukan hubungan antara padi dan keluarga.
Padi tumbuh dari tanah. Setelah berisi, ia kembali merunduk kepada tanah.
Demikian pula manusia.
Kita tumbuh dari keluarga. Setelah berhasil, jangan sampai keberhasilan membuat kita lupa kepada keluarga.
Ketundukan yang Mengangkat Martabat
Istri saya adalah anak pertama dari tujuh bersaudara dan satu-satunya perempuan. Karena itu, saya kadang merasa seperti “bos” dalam keluarga besar ini.
Saya bisa melakukan apa saja, bahkan tidur-tiduran di lantai ketika yang lain sedang makan. Tentu saja, istri sering memprotes kelakuan saya. Tetapi saya selalu mendapat pembelaan dari ibu mertua.
Itulah salah satu kehangatan yang saya nikmati dalam keluarga ini.
Namun di balik candaan tersebut ada sesuatu yang lebih serius: rasa aman karena tidak ada yang merasa harus lebih tinggi daripada yang lain.
Adik-adik, ipar dan keluarga mereka semuanya sudah menjadi orang-orang sukses. Masing-masing memiliki profesi, pengalaman, jaringan, pandangan dan pilihan hidup.
Tetapi keberhasilan tidak membuat mereka merasa perlu merendahkan yang lain.
Inilah yang membuat keluarga tetap hangat.
Islam bahkan memerintahkan manusia untuk bersyukur kepada Allah sekaligus menghormati orang tua:
“Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu.”
(QS. Luqman: 14).
Perintah itu mengandung pesan besar. Kesuksesan seorang anak tidak boleh membuatnya lupa kepada orang yang dahulu membesarkannya.
Maka pulang menemui ibu sesungguhnya bukan sekadar pulang ke kampung.
Ia adalah latihan ketundukan.
Kita menundukkan kesibukan untuk menyempatkan waktu. Menundukkan ego untuk mendengar nasihat. Menundukkan gengsi untuk mencium tangan. Menundukkan kepentingan pribadi untuk menghadirkan kebahagiaan bagi orang tua.
Dan dalam ketundukan seperti itulah justru terdapat kemuliaan.
Berbeda Mazhab, Berbeda Politik, Tetap Bersaudara
Keluarga besar kami tentu tidak selalu memiliki pandangan yang sama.
Ada perbedaan mazhab. Ada perbedaan partai politik. Ada perbedaan aspirasi. Bahkan salah seorang dari keluarga kami menjadi anggota dewan yang tentu memiliki tanggung jawab memperjuangkan aspirasi sesuai kendaraan politiknya.
Kami yang lain pun memiliki pilihan masing-masing.
Tetapi perbedaan tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk saling meniadakan.
Sebab ada sesuatu yang jauh lebih besar daripada perbedaan politik: hubungan keluarga.
Politik bisa berubah.
Partai bisa berganti.
Jabatan ada waktunya.
Aspirasi bisa berbeda.
Tetapi ibu tetap ibu. Saudara tetap saudara.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu.”
(QS. Al-Hujurat: 10).
Ayat ini mengajarkan bahwa perbedaan tidak harus berujung permusuhan.
Kita boleh berbeda pendapat tanpa kehilangan adab. Boleh berbeda pilihan tanpa kehilangan persaudaraan. Boleh berdebat tentang gagasan tanpa merusak hubungan.
Orang yang berisi tidak perlu mengosongkan orang lain agar dirinya terlihat penuh.
Jangan Saling Menjegal
Di sinilah masalah besar kehidupan kita sering bermula.
Ketika manusia mulai merasa dirinya paling penting, ia akan sulit melihat pentingnya orang lain.
Dalam keluarga, ia bisa muncul sebagai iri hati. Dalam pekerjaan menjadi persaingan tidak sehat. Dalam organisasi berubah menjadi perebutan pengaruh. Dalam politik bisa menjadi upaya menjatuhkan lawan.
Padahal menjegal orang lain tidak otomatis membuat kita lebih tinggi.
Jika satu anggota keluarga jatuh, sesungguhnya keluarga kehilangan satu kekuatannya.
Jika saudara direndahkan, sesungguhnya kehormatan keluarga ikut terluka.
Jika hubungan rusak karena persoalan politik, yang hilang bukan kursi politik, tetapi kebahagiaan keluarga.
Tidak sedikit keluarga yang memiliki harta melimpah tetapi kehilangan kehangatan. Rumah besar, tetapi penghuninya saling diam. Makan bersama sudah jarang. Bertemu hanya ketika ada kepentingan.
Apa gunanya keberhasilan jika akhirnya kita tidak memiliki siapa-siapa untuk berbagi kebahagiaan?
Aa Gym dan Seni Memulai dari Diri Sendiri
Dalam nasihat-nasihatnya, Aa Gym dikenal dengan konsep 3M: mulai dari diri sendiri, mulai dari hal kecil, dan mulai sekarang.
Filosofi ini relevan untuk merawat kekompakan keluarga.
Kita sering menunggu orang lain berubah.
“Adik harus mengerti saya.”
“Ipar harus menghargai saya.”
“Dia harus meminta maaf lebih dahulu.”
“Kalau mereka baik kepada saya, saya akan baik kepada mereka.”
Akhirnya semua menunggu.
Padahal perubahan harus dimulai dari diri sendiri.
Kalau ingin keluarga kompak, jadilah orang pertama yang menjaga kekompakan.
Kalau ingin dihormati, belajarlah menghormati.
Kalau ingin didengar, belajarlah mendengar.
Kalau ingin dimaafkan, belajarlah memaafkan.
Mulai dari diri sendiri. Mulai dari hal kecil. Mulai sekarang.
Bukankah itu juga cara padi tumbuh?
Ia tidak langsung menjadi hamparan sawah. Ia dimulai dari benih kecil, dirawat, disiram, dipupuk, dijaga, lalu perlahan menjadi tanaman yang menghasilkan.
Merawat Emosi agar Tetap Indah Berdiri
Menjadi seperti padi bukan berarti manusia tidak boleh berdiri tegak.
Kita tetap harus memiliki prinsip.
Kita tetap harus berani menyampaikan kebenaran.
Kita tetap boleh berbeda pendapat.
Tetapi kita perlu belajar berdiri tegak tanpa menjadi angkuh dan merunduk tanpa kehilangan martabat.
Untuk itu emosi perlu dirawat.
Pertama, beri jeda sebelum merespons. Tidak semua perkataan harus dijawab saat emosi sedang tinggi.
Kedua, jangan jadikan perbedaan sebagai serangan pribadi. Perbedaan gagasan bukan berarti kebencian kepada orangnya.
Ketiga, belajar melihat kebaikan orang lain. Jangan sampai satu kesalahan membuat kita melupakan seratus kebaikannya.
Keempat, jangan membanding-bandingkan keberhasilan. Rezeki setiap orang memiliki jalan dan waktunya masing-masing.
Kelima, perbanyak syukur. Orang yang sibuk mensyukuri nikmat akan lebih sedikit waktu untuk menyombongkan diri.
Keenam, rawat hubungan dengan orang tua. Sebab ada masa ketika rumah ibu masih terbuka, tetapi kesempatan untuk bertemu ibu tidak lagi ada.
Ketujuh, belajar meminta maaf. Kalimat “maaf” tidak membuat kita rendah. Justru sering kali menunjukkan bahwa hati kita cukup besar untuk mengakui kekurangan.
Panen Kebahagiaan
Ketika saya kembali mengingat padi yang kami lihat di sepanjang perjalanan kemarin, saya seperti sedang melihat gambaran keluarga kami.
Anak-anak yang tumbuh. Saudara-saudara yang berhasil. Menantu yang telah menjadi bagian keluarga. Cucu dan cicit yang terus bertambah.
Mereka semua memiliki kehidupan masing-masing.
Namun ketika pulang ke rumah ibu, kami seperti kembali menjadi bulir-bulir padi dalam satu hamparan.
Tidak harus sama.
Tidak harus seragam.
Tidak harus sepemikiran.
Tetapi harus tetap saling menguatkan.
Sebab sawah tidak indah karena hanya memiliki satu batang padi. Ia indah karena ribuan batang tumbuh bersama, berdiri berdampingan dan ketika berisi, sama-sama merunduk.
Begitulah seharusnya keluarga.
Berbeda, tetapi tidak bermusuhan.
Berhasil, tetapi tidak menyombongkan diri.
Berilmu, tetapi tidak merendahkan.
Berkuasa, tetapi tidak menindas.
Berbeda pilihan politik, tetapi tidak memutus persaudaraan.
Berbeda pandangan, tetapi tetap datang ketika ibu memanggil.
Dan pada akhirnya, hidup bukan hanya tentang bagaimana kita mencapai puncak.
Tetapi juga tentang bagaimana kita tetap rendah hati setelah sampai di sana.
Padi mengajarkan kita: ketika kosong, ia tegak; ketika berisi, ia merunduk.
Semoga kita tidak menjadi manusia yang hanya pandai berdiri, tetapi lupa bagaimana caranya merunduk.
Sebab boleh jadi ukuran keberhasilan kita bukan seberapa tinggi kita berdiri di hadapan manusia, melainkan seberapa tulus kita merunduk di hadapan Allah, seberapa hormat kita kepada orang tua, dan seberapa indah kehadiran kita bagi keluarga dan sesama.
Mudah-mudahan kehadiran kita kelak seperti padi yang menguning di persawahan Indrapuri: indah dipandang, berisi ketika dipanen, memberi manfaat bagi kehidupan, dan tetap merunduk tanpa kesombongan.
Itulah barangkali yang disebut berisi, tetapi tak pakai sombong.
Wallahu a’lam
Darussalam 25 Rabiul Awal 1448, 7 September 2026
(Penulis, pengamat sosial dan keislaman, tinggal di Barabung Aceh Besar)
