-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Cinta Menguatkan, Silaturahmi Menggerakkan

Senin, 28 September 2026 | September 28, 2026 WIB Last Updated 2026-09-28T13:03:07Z


Oleh: Saifuddin A. Rasyid

Al-Rasyid.id | Ada peristiwa yang tampak sederhana, tetapi kadang justru menyimpan pelajaran besar tentang kehidupan. Senin pagi, 28 September 2026, lebih dari seratus pegawai dan dosen UIN Ar-Raniry Banda Aceh berkumpul di kediaman Otin dan Rahimah, dua karyawan UIN Ar-Raniry, di Gampong Lambiheu Siem, Darussalam, Aceh Besar. Mereka datang untuk bertakziah atas berpulangnya ibunda tercinta.


Di rumah duka itu berlangsung Samadiyah dan doa, kemudian tausiyah, sambutan pimpinan, dan kenduri makan siang. Saya mendapat kesempatan memimpin Samadiyah dan doa sebelum memasuki waktu kenduri.


Namun, bagi saya, pertemuan itu bukan sekadar agenda takziah. Ada energi lain yang terasa: energi cinta dan silaturahmi.


Ustaz Muammar Yulian, M.Si., Wakil Dekan II Fakultas Sains dan Teknologi UIN Ar-Raniry, dalam tausiyahnya berbicara tentang cinta, terutama cinta kepada Allah. Dengan mengutip Kahlil Gibran, ia mengingatkan pentingnya memupuk dan memelihara kekuatan cinta agar manusia tetap memiliki kedekatan dengan Allah sampai menyelesaikan misi kehidupannya di dunia.


Saya kemudian membayangkan: bukankah perjalanan hidup memang membutuhkan energi cinta?


Kita bisa memiliki ilmu, jabatan, harta, pengalaman dan berbagai kemampuan. Tetapi tanpa cinta kepada Allah, manusia dapat kehilangan orientasi. Tanpa cinta kepada sesama, manusia mudah kehilangan kepedulian. Dan tanpa kepedulian, kehidupan bersama kehilangan energi untuk bergerak.


Cinta kepada Allah, sumber kekuatan


Al-Qur’an menyebut orang beriman sebagai mereka yang memiliki cinta yang sangat kuat kepada Allah:


“Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah.”

(QS. Al-Baqarah: 165)


Cinta kepada Allah bukan sekadar perasaan batin. Ia harus tampak dalam sikap dan perilaku.


Allah berfirman:


“Katakanlah: Jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.”

(QS. Ali Imran: 31)


Ayat ini memberikan ukuran yang jelas: cinta harus melahirkan tindakan.


Nabi Muhammad SAW juga menjelaskan bahwa seseorang akan merasakan manisnya iman ketika Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya daripada segala sesuatu, ketika ia mencintai seseorang semata-mata karena Allah, dan ketika ia tidak ingin kembali kepada kekufuran sebagaimana ia tidak ingin dilemparkan ke dalam api. (HR. Bukhari dan Muslim).


Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarij al-Salikin menempatkan mahabbah sebagai salah satu maqam penting dalam perjalanan spiritual manusia menuju Allah. Al-Ghazali pun mengaitkan cinta kepada Allah dengan pengenalan terhadap-Nya dan kesadaran terhadap nikmat-Nya.


Maka cinta kepada Allah sesungguhnya adalah energi spiritual yang memberi arah.


Ia menguatkan ketika kita lelah, menenangkan ketika kita gelisah, meneguhkan ketika kita diuji, dan mengingatkan bahwa hidup bukan sekadar tentang apa yang kita miliki, tetapi untuk apa kita hidup.


Kahlil Gibran, dalam karya The Prophet, juga menggambarkan cinta sebagai kekuatan yang tidak sekadar memberikan kenyamanan, tetapi menempa manusia dalam perjalanan hidupnya. Dalam konteks sastra, gagasan itu menarik untuk direnungkan: cinta yang matang bukan hanya membuat seseorang merasa nyaman; cinta membuat seseorang bertumbuh.


Dalam perspektif Islam, pertumbuhan itu bermuara pada kedekatan kepada Allah dan kebermanfaatan kepada sesama.


Dari cinta menuju silaturahmi


Di sinilah sambutan Kepala Biro AUPK UIN Ar-Raniry, Hilmi, S.Ag., M.Pd., terasa menyambung indah dengan tausiyah Ustaz Muammar.


Atas nama pimpinan UIN Ar-Raniry, beliau menyampaikan bahwa energi cinta secara langsung dapat terimplikasi dalam silaturahmi. Dari silaturahmi tumbuh sinergi. Dan sinergi menjadi kekuatan untuk membangun negeri.


Saya mencatat gagasan itu baik-baik.


Cinta memberi energi. Silaturahmi menghubungkan energi. Sinergi mengarahkannya menjadi kekuatan bersama.


Ini bukan sekadar rangkaian kata.


Bayangkan jika prinsip ini benar-benar hidup di lingkungan keluarga, kampus, kantor dan masyarakat.


Di rumah, cinta melahirkan perhatian.


Di tempat kerja, cinta melahirkan kepedulian.


Di kampus, cinta melahirkan budaya saling menguatkan.


Di masyarakat, cinta melahirkan gotong royong.


Dalam kehidupan umat, cinta melahirkan ukhuwah.


Dan dalam kehidupan kebangsaan, cinta melahirkan kesediaan memberikan kontribusi.


Rasulullah SAW bersabda:


“Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung silaturahmi.”

(HR. Bukhari dan Muslim).


Silaturahmi ternyata bukan sekadar tradisi sosial. Ia memiliki nilai spiritual sekaligus kekuatan sosial.


Ketika orang saling mengenal, lahir kepercayaan. Ketika kepercayaan tumbuh, komunikasi menjadi lebih mudah. Ketika komunikasi terbuka, kerja sama menjadi mungkin.


Dan ketika kerja sama diarahkan kepada tujuan yang baik, lahirlah sinergi.


Jangan biarkan silaturahmi berhenti di meja kenduri


Di sinilah kita perlu memberi sedikit “paku”.


Kita sering rajin bersilaturahmi, tetapi kadang kurang rajin mensinergikan hasil silaturahmi.


Kita sering bertemu, tetapi belum tentu membangun kerja bersama.


Kita sering bersalaman, tetapi belum tentu menyatukan kekuatan.


Kita sering berbincang, tetapi belum tentu melahirkan gagasan.


Padahal, silaturahmi yang paling produktif bukan hanya yang membuat kita saling mengenal, tetapi yang membuat kita saling menguatkan dan saling menggerakkan.


Takziah jangan berhenti pada hadirnya tubuh di rumah duka. Ia semestinya melahirkan kepedulian setelah kita meninggalkan rumah tersebut.


Pertemuan di kantor jangan berhenti pada sapaan dan obrolan. Ia semestinya membuka ruang kolaborasi.


Pertemuan para akademisi jangan berhenti pada diskusi. Ia semestinya melahirkan gagasan dan karya.


Pertemuan umat jangan berhenti pada ukhuwah verbal. Ia semestinya menghasilkan kemaslahatan.


Inilah palunya: silaturahmi yang tidak berbuah kepedulian hanya menjadi pertemuan; silaturahmi yang berbuah sinergi menjadi kekuatan.


Merawat energi cinta


Lalu bagaimana kita memupuk energi cinta agar menjadi silaturahmi dan sinergi?


Pertama, rawat hubungan dengan Allah. Salat, Al-Qur’an, zikir, doa dan muhasabah adalah sumber pengisian energi batin. Hati yang dekat kepada Allah lebih mudah melahirkan kasih kepada sesama.


Kedua, biasakan hadir dalam kehidupan orang lain. Datang ketika mereka berbahagia, tetapi juga hadir ketika mereka berduka. Kadang kehadiran lebih bermakna daripada banyak kata.


Ketiga, perbanyak komunikasi yang tulus. Jangan menunggu orang lain menyapa. Kita bisa memulai dengan bertanya kabar, meminta maaf, memberi apresiasi atau menawarkan bantuan.


Keempat, belajar memberi tanpa selalu menghitung balasan. Cinta yang sehat tidak terus-menerus bertanya apa yang akan saya dapat, tetapi juga bertanya apa yang dapat saya berikan.


Kelima, ubah silaturahmi menjadi kolaborasi. Setelah bertemu, tanyakan: apa yang bisa kita kerjakan bersama? Apa masalah yang bisa kita selesaikan bersama? Apa manfaat yang bisa kita lahirkan bersama?


Keenam, bangun budaya saling menguatkan. Jangan mudah menjadikan kekurangan orang lain sebagai bahan pembicaraan. Jadikan kelebihan orang lain sebagai energi untuk belajar dan bekerja bersama.


Ketujuh, arahkah seluruh sinergi kepada kemaslahatan. Sebab energi cinta yang hanya berputar di antara kita belum selesai. Ia baru menemukan maknanya ketika manfaatnya keluar dari lingkaran kita dan dirasakan keluarga, kampus, masyarakat, umat dan negeri.


Rumah duka yang mengajarkan kehidupan


Pagi itu, rumah Otin dan Rahimah menjadi lebih dari sekadar tempat berkumpul untuk bertakziah.


Seorang ibu telah kembali kepada Allah. Namun kepergiannya justru mempertemukan banyak hati dalam doa dan kepedulian.


Dari sana kita belajar: kematian seseorang dapat menjadi pengingat bagi yang hidup untuk memperbaiki hubungan.


Dari tausiyah tentang cinta, kita belajar bahwa manusia membutuhkan energi yang lebih kuat daripada sekadar tenaga fisik: cinta kepada Allah.


Dari sambutan pimpinan tentang silaturahmi, kita belajar bahwa cinta perlu diterjemahkan menjadi hubungan sosial yang sehat.


Dan dari berkumpulnya lebih seratus insan UIN Ar-Raniry, kita melihat bahwa sebuah komunitas akan menjadi kuat ketika anggotanya tidak hanya bekerja dalam satu institusi, tetapi juga saling mencintai, peduli dan menguatkan.


Mungkin inilah rumus sederhana yang perlu kita bawa pulang dari Lambiheu Siem:


Cinta melahirkan silaturahmi.

Silaturahmi melahirkan kepercayaan.

Kepercayaan membuka ruang kolaborasi.

Kolaborasi melahirkan sinergi.

Sinergi melahirkan kekuatan.

Dan kekuatan yang diarahkan kepada kemaslahatan akan menjadi energi membangun umat dan negeri.


Maka jangan remehkan sebuah kunjungan takziah.


Bisa jadi, di balik langkah kaki menuju rumah duka, ada benih ukhuwah yang sedang tumbuh.


Di balik doa yang dipanjatkan, ada hati yang sedang dipertautkan.


Di balik hidangan kenduri, ada persaudaraan yang sedang dikuatkan.


Dan di balik silaturahmi itu, mungkin sedang dipersiapkan sebuah sinergi yang kelak melahirkan kebaikan yang jauh lebih besar.


Sebab negeri ini tidak hanya membutuhkan orang-orang pintar. Negeri ini membutuhkan orang-orang yang saling mencintai, saling percaya, dan mau menyatukan kekuatannya untuk kebaikan.


Cinta adalah energinya.

Silaturahmi adalah jembatannya.

Sinergi adalah geraknya.

Kemaslahatan adalah tujuannya.


Dari hati yang mencintai Allah, lahirlah tangan yang peduli kepada manusia. Dari tangan-tangan yang saling menguatkan, insyaallah lahir kekuatan umat dan negeri.


Wallahu a’lam 


Darussalam 17 Rabiul Akhir 1448, 28 September 2026


(Penulis, imam besar masjid Fahun Qarib UIN Ar-Raniry)


Foto: dari kiri; penulis, Ust Muammar, Karo AUPK Hilmi, Dr Silahuddin

×
Berita Terbaru Update