-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Dari Keluarga Kita Semoga Lahirlah Maryam-Maryam Zaman Ini

Sabtu, 26 September 2026 | September 26, 2026 WIB Last Updated 2026-09-27T00:51:29Z


Oleh: Saifuddin A. Rasyid

Al-Rasyid.id | Setiap keluarga berharap anak perempuannya tumbuh menjadi pribadi yang baik, berilmu, mandiri, dan berhasil. Namun ada pertanyaan yang lebih mendasar:


Apakah kita membesarkan anak perempuan hanya untuk memenuhi harapan manusia, atau juga mendampinginya agar dekat dengan Allah dan mampu menjalani hidup dengan nilai-nilai yang diyakininya?


Seorang anak dapat tumbuh cerdas, berprestasi, dan populer, tetapi tetap membutuhkan keteguhan ketika menghadapi ujian. Ia mungkin menguasai banyak pengetahuan, tetapi juga perlu memiliki kompas moral ketika nilai-nilai di sekelilingnya berubah. Ia dapat percaya diri di hadapan manusia, sekaligus belajar bersujud dengan rendah hati di hadapan Tuhannya.


Pertanyaan ini patut kita bawa pulang setelah mendengar kisah Maryam, sebagaimana disampaikan Prof. Fauzi Saleh, akademisi Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry Banda Aceh, dalam tausiyah BBC Ahad subuh, 27 September 2026, di Masjid Jamik Al-Wustha Gampong Jeulingke, Banda Aceh.


Prof. Fauzi mengajak jamaah membaca kembali sosok Maryam—perempuan yang namanya diabadikan Al-Qur’an, kesuciannya menjadi teladan, dan ketaatannya menjadi pelajaran lintas zaman.


Salah satu ayat kuncinya adalah firman Allah:


> *يَا مَرْيَمُ اقْنُتِي لِرَبِّكِ وَاسْجُدِي وَارْكَعِي مَعَ الرَّاكِعِينَ*


> *Wahai Maryam! Taatilah Tuhanmu, sujudlah dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk.” (QS. Ali ’Imran: 43)*


Kalimatnya pendek, tetapi menjadi ajakan penting bagi pendidikan keluarga.


“Uqnuti lirabbiki.”


Taatilah Tuhanmu.


Bukan sekadar mengetahui agama, memiliki identitas Muslimah, atau memakai simbol-simbol kesalehan, melainkan membangun hubungan yang sadar, tulus, dan terus bertumbuh dengan Allah.


Ibn Katsir menjelaskan bahwa qunut bermakna ketaatan yang disertai kekhusyukan. Maryam diarahkan untuk taat, bersujud, dan rukuk bersama orang-orang yang beribadah. 


Quraish Shihab menekankan bahwa perintah tersebut merupakan konsekuensi syukur atas pemilihan dan penyucian Maryam: ia diperintahkan untuk taat kepada Allah, salat, dan bergabung bersama orang-orang yang beribadah. 


Maka Maryam tidak hanya mengajarkan apa yang harus dipercayai, tetapi juga bagaimana iman dijalani—dengan kesadaran, keteguhan, dan kerendahan hati.


Masalahnya bukan kekurangan anak perempuan


Kita tidak kekurangan anak perempuan. Rumah-rumah Muslim penuh dengan anak perempuan, sementara sekolah dan kampus melahirkan semakin banyak perempuan berpendidikan, terampil menggunakan teknologi, menguasai informasi, dan memiliki cita-cita tinggi.


Namun pertanyaan yang lebih dalam adalah:


Apakah kita sedang menumbuhkan generasi yang mewarisi nilai-nilai Maryam?


Tantangan zaman bukan lagi sekadar membuat anak perempuan pintar membaca dan berhitung, melainkan mendampingi mereka agar memiliki kompas moral ketika dunia menawarkan hampir segala sesuatu tanpa batas.


Mereka hidup di tengah gawai, algoritma, budaya popularitas, eksploitasi tubuh, pergaulan yang kompleks, serta ukuran keberhasilan yang sering direduksi menjadi kecantikan, jumlah pengikut, gaya hidup, dan pengakuan sosial.


Di tengah arus itu, pesan kepada Maryam perlu terus dihidupkan:


“Yā Maryamu, uqnuti lirabbiki.”


Wahai Maryam, taatilah Tuhanmu.


Pesan ini bukan untuk membatasi ruang gerak perempuan, melainkan untuk menguatkan kebebasan batin agar mereka mampu memilih dengan sadar, menjaga martabat, dan menjalani kehidupan sesuai iman serta tanggung jawabnya.


Maryam tidak lahir dari ruang kosong


Maryam tidak tumbuh sebagai pribadi salehah tanpa proses. Al-Qur’an menceritakan keluarga Imran, nazar ibunya, pemeliharaan Allah, dan pengasuhan Zakariya.


Di belakang Maryam ada doa, pengasuhan, lingkungan, dan pendidikan.


Karena itu, pendidikan anak perempuan perlu diarahkan pada beberapa nilai utama.


Pertama, ketaatan kepada Allah sebagai fondasi kepribadian. Ilmu agama tidak cukup hanya untuk mengetahui hukum, tetapi perlu menumbuhkan kesadaran bahwa hidup memiliki arah, tanggung jawab, dan hubungan dengan Allah.


Kedua, ibadah sebagai kebiasaan yang tumbuh dengan kesadaran. Salat, membaca Al-Qur’an, berdoa, bersedekah, dan menghadiri majelis ilmu perlu menjadi pengalaman hidup, bukan sekadar materi pelajaran.


Kebiasaan itu dapat dimulai dari hal-hal sederhana. Keluarga dapat membiasakan salat berjamaah, meskipun hanya satu atau dua waktu dalam sehari. Setelah Magrib, misalnya, televisi dan gawai dimatikan selama lima belas menit untuk membaca Al-Qur’an bersama. Orang tua dapat mengajak anak berdoa sebelum tidur, menyebutkan nikmat yang diterima hari itu, lalu mengajarkan syukur secara konkret. Pada akhir pekan, keluarga dapat menyisihkan sebagian uang belanja untuk sedekah dan melibatkan anak dalam memilih penerimanya.


Rutinitas semacam ini tidak perlu dibuat berat. Yang penting adalah konsisten, dilakukan dengan suasana hangat, dan tidak menjadikan ibadah sebagai hukuman. Anak perlu merasakan bahwa salat, doa, Al-Qur’an, dan sedekah merupakan bagian alami dari kehidupan keluarga.


Ketiga, lingkungan yang mendukung kesalehan dan pertumbuhan diri. Perintah “warka’i ma’ar-raki’in”—rukuklah bersama orang-orang yang rukuk—menunjukkan pentingnya kebersamaan dalam ibadah. 


Anak perempuan perlu memiliki teman, guru, komunitas, dan lingkungan yang membuat ketaatan terasa mulia, bukan kuno.


Orang tua dapat mengenal teman-teman dekat anak, mengetahui kegiatan komunitas yang diikutinya, dan sesekali berkomunikasi dengan guru atau pembina. Anak juga dapat didukung mengikuti kegiatan yang membangun, seperti kelompok belajar Al-Qur’an, organisasi pelajar, kegiatan sosial, komunitas olahraga, seni, sains, atau bidang lain yang sesuai dengan minatnya.


Pendampingan semacam ini bukan berarti mengurung anak, melainkan membantunya belajar memilih lingkungan yang sehat, menghargai dirinya, dan mendukung pertumbuhan iman, ilmu, serta potensinya.


Keempat, ilmu yang berjalan bersama adab. Pendidikan perempuan tidak boleh hanya mengejar prestasi akademik atau simbol kesalehan. Kita membutuhkan Muslimah yang berilmu sekaligus beradab, cerdas sekaligus memiliki hubungan yang kuat dengan Allah, percaya diri sekaligus mampu menghargai diri dan orang lain.


Kelima, kesalehan yang melahirkan ketangguhan. Maryam menghadapi kesendirian, tekanan sosial, dan ujian kehormatan tanpa kehilangan hubungan dengan Allah. Anak perempuan hari ini perlu dibekali keberanian menolak ajakan yang salah, kemampuan menetapkan batas yang sehat, literasi digital, serta kekuatan batin untuk mengambil keputusan yang bertanggung jawab ketika pilihan yang keliru tampak lebih populer.


Ketangguhan itu juga mencakup kemampuan menyampaikan pendapat, meminta pertolongan, mengembangkan bakat, menghadapi kegagalan, dan memperjuangkan kebaikan di ruang keluarga maupun ruang publik.


Keluarga dan pendampingan gawai


Salah satu medan pendidikan moral yang paling nyata hari ini adalah penggunaan gawai. Larangan semata sering tidak cukup. Anak perlu didampingi agar memahami mengapa sesuatu boleh atau tidak boleh dilihat, dibagikan, dan diikuti.


Keluarga dapat membuat kesepakatan sederhana: gawai tidak dibawa ke meja makan, tidak digunakan ketika salat berjamaah, dan disimpan di ruang keluarga pada waktu tidur. Orang tua juga perlu menerapkan aturan yang sama kepada diri sendiri. Sulit meminta anak berhenti bermain gawai jika ayah dan ibu terus menatap layar ketika berbicara dengannya.


Pendampingan juga berarti mengetahui aplikasi yang digunakan anak, mengatur privasi akun, membicarakan risiko perundungan dan penipuan daring, serta mengajarkan anak untuk tidak mengirim foto atau informasi pribadi kepada orang lain. Sesekali, orang tua dapat meminta anak menunjukkan konten yang sedang ia sukai, lalu mendiskusikannya tanpa langsung menghakimi.


Tujuannya bukan mengawasi setiap detik, melainkan menumbuhkan kemampuan anak untuk mengawasi dirinya sendiri. Ketika menemukan konten yang meragukan, ia belajar bertanya: apakah ini benar, bermanfaat, pantas, dan diridai Allah?


Dialog tentang ujian moral


Anak tidak cukup hanya diberi daftar larangan. Ia perlu dilatih menghadapi situasi moral melalui dialog.


Orang tua dapat mengangkat contoh yang dekat dengan kehidupan anak: “Kalau teman-temanmu mengajak menyontek, apa yang akan kamu lakukan?” “Kalau ada teman yang mengirim foto pribadi orang lain ke grup, apakah kamu akan meneruskannya?” “Kalau semua orang mengejek seorang teman di media sosial, bagaimana seharusnya kamu bersikap?” “Kalau seseorang yang lebih tua memintamu merahasiakan pertemuan atau percakapan yang membuatmu tidak nyaman, kepada siapa kamu akan bercerita?”


Pertanyaan-pertanyaan itu sebaiknya dibicarakan dalam suasana aman, bukan sebagai pemeriksaan. Orang tua perlu mendengarkan alasan anak, meluruskan pemahaman yang keliru, dan menunjukkan langkah praktis yang dapat dilakukan. Anak harus tahu bahwa ia boleh meminta pertolongan tanpa takut langsung dimarahi.


Dialog semacam ini membantu anak memahami bahwa ketaatan bukan hanya soal menjalankan perintah ketika diawasi, tetapi juga keberanian mengambil keputusan yang benar ketika berada dalam tekanan. Pada saat yang sama, anak belajar bahwa meminta bantuan, menyampaikan keberatan, dan melindungi diri dari perlakuan yang tidak pantas juga merupakan bagian dari menjaga amanah Allah.


Perempuan dalam banyak peran kehidupan


Pendidikan perempuan memiliki dampak panjang karena seorang perempuan kelak dapat menjadi ibu yang ikut membentuk bahasa, kebiasaan, suasana batin, dan nilai-nilai awal seorang anak.


Namun perempuan tidak boleh dipandang hanya melalui peran keibuan. Ia tetap manusia yang memiliki kehormatan, ilmu, potensi, pilihan, dan tanggung jawab sendiri di hadapan Allah.


Perempuan dapat berkontribusi sebagai ibu, pendidik, ilmuwan, profesional, pemimpin, pengusaha, seniman, aktivis sosial, penggerak komunitas, atau dalam berbagai peran lain yang bermanfaat. Peran-peran tersebut tidak harus dipertentangkan. Setiap perempuan memiliki perjalanan, kondisi, minat, dan keputusan yang berbeda.


Justru karena memiliki banyak kemungkinan peran, perempuan perlu dibekali fondasi iman, akhlak, ilmu, kemandirian, dan ketangguhan. Pendidikan Islam semestinya membantu perempuan mengenali potensi, mengambil keputusan secara bertanggung jawab, serta memberi manfaat bagi keluarga, masyarakat, dan kemanusiaan.


Titik kegagalan pendidikan


Gagasan menumbuhkan nilai-nilai Maryam akan menjadi slogan jika pendidikan gagal pada beberapa hal.


Pertama, agama hanya menjadi hafalan tanpa cinta kepada Allah dan tanpa pemahaman yang membantu anak menghadapi kehidupan nyata.


Kedua, rumah dan sekolah terlalu mengejar prestasi, tetapi mengabaikan karakter, adab, kesehatan mental, dan kemampuan bekerja sama.


Ketiga, gawai mengambil alih pendampingan karena anak tidak memperoleh perhatian yang cukup.


Keempat, anak terlalu dilindungi tanpa dibekali daya tahan, keterampilan mengambil keputusan, dan keberanian meminta bantuan ketika menghadapi masalah.


Kelima, orang tua menuntut kesalehan anak, tetapi tidak membangun kebiasaan yang mendukungnya. Jadwal keluarga terlalu padat, waktu berbicara terlalu sedikit, dan ibadah hanya dibicarakan ketika anak melakukan kesalahan.


Keenam, pendidikan terlalu banyak menentukan masa depan anak tanpa cukup mendengarkan suara, minat, dan pengalaman mereka. Anak perlu diarahkan, tetapi juga perlu dilibatkan dalam percakapan tentang pilihan hidupnya.


Tujuan pendidikan bukan membuat anak selamanya bergantung pada pengawasan, melainkan menumbuhkan muraqabah—kesadaran bahwa Allah selalu melihat—sehingga ia mampu mengawasi dirinya sendiri, menilai pilihannya, dan bertanggung jawab atas tindakannya.


Menumbuhkan nilai-nilai Maryam


Kita tidak sedang kekurangan anak perempuan. Kita membutuhkan lebih banyak perempuan yang memiliki ketaatan, kesucian hati, keteguhan, ilmu, adab, keberanian, dan kedekatan kepada Allah.


Pekerjaan ini tidak dapat diserahkan hanya kepada guru agama, sekolah, pesantren, atau masjid. Pendidikan harus berlangsung melalui kerja bersama keluarga, lembaga pendidikan, komunitas, dan masyarakat.


Sebab Maryam tidak cukup dikenalkan sebagai sebuah kisah. Nilai-nilainya harus dihadirkan dalam cara kita mendidik generasi: melalui doa, ibadah, kasih sayang, disiplin, pendampingan gawai, pemilihan lingkungan, dialog tentang ujian moral, penghargaan terhadap suara anak, dan pembentukan karakter.


Keluarga dapat memulainya dari kebiasaan yang sederhana: salat berjamaah, membaca Al-Qur’an setelah Magrib, makan tanpa gawai, berbicara dari hati ke hati setiap hari, mengenal teman-teman anak, melakukan kegiatan sosial, mendukung minat dan bakat anak, serta membahas pilihan-pilihan moral yang mungkin mereka hadapi.


Kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus akan membentuk suasana rumah. Dari suasana rumah itulah lahir cara berpikir, cara merasa, dan cara mengambil keputusan.


Itulah pekerjaan besar pendidikan keluarga Muslim hari ini:


bukan sekadar melahirkan anak perempuan, melainkan menumbuhkan perempuan beriman, berilmu, beradab, mandiri, dan tangguh—perempuan yang mampu menjalani berbagai peran dengan bermartabat, memberi manfaat bagi sesama, dan terus mendekat kepada Allah.


Wallahu a’lam 


Jeulingke 16 Rabiul Akhir 1448, 27 September 2026


(Penulis, pengamat sosial dan keislaman, tinggal di Barabung Darussalam Aceh Besar)

×
Berita Terbaru Update