-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Ketika Ketua Senat Memberi Nasihat

Selasa, 08 September 2026 | September 08, 2026 WIB Last Updated 2026-09-09T03:41:08Z


Oleh: Saifuddin A. Rasyid

Al-Rasyid.id | Ada nasihat yang panjang tetapi cepat dilupakan. Ada pula nasihat yang hanya beberapa kalimat, tetapi terus terngiang-ngiang dalam perjalanan pulang.


Saya mendapatkannya selepas shalat Zuhur, Selasa, 8 September 2026, di Masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry Banda Aceh.


Siang itu saya bersama Ustaz Dr Muqni Affan, Prof. Abd Wahid, dan Prof. Maizuddin duduk sejenak bersama Ketua Senat UIN Ar-Raniry, Prof. Nazaruddin AW. Sebagai senior dan salah seorang pejabat tinggi kampus, saya meminta beliau memberikan nasihat.


Beliau tersenyum. Lalu keluarlah tiga pesan.


Pendek. Tetapi menurut saya, tiga pesan ini sebenarnya adalah agenda besar perguruan tinggi Islam hari ini: masjid, gawai, dan agama.


Masjid jangan hanya megah, mahasiswa harus merasa memiliki


Prof. Nazaruddin mengatakan, Masjid Fathun Qarib sudah sangat bagus. Fasilitasnya baik, aktivitasnya juga sudah berjalan. Tinggal bagaimana dikembangkan lebih jauh dengan memperbanyak program yang menyentuh langsung mahasiswa.


Saya menangkap pesan ini sebagai sebuah tantangan.


Masjid jangan berhenti menjadi tempat yang bagus untuk shalat. Masjid harus menjadi tempat yang bagus untuk membentuk manusia.


Kita boleh bangga dengan bangunan, karpet, pendingin ruangan, pengeras suara, kebersihan, dan berbagai fasilitas lainnya. Tetapi ukuran keberhasilan sebuah masjid kampus bukan hanya seberapa indah ia dipandang.


Pertanyaan yang lebih penting:


Berapa banyak mahasiswa yang berubah setelah sering datang ke masjid?


Berapa banyak mahasiswa yang tadinya bingung kemudian menemukan arah?


Berapa banyak yang hampir putus kuliah kemudian mendapat pendampingan?


Berapa banyak mahasiswa baru yang menemukan lingkungan pergaulan sehat di masjid?


Berapa banyak mahasiswa yang belajar Al-Qur’an, berdiskusi, mengembangkan kepemimpinan, membangun kewirausahaan, dan menemukan sahabat baik di sana?


Inilah pekerjaan rumah Fathun Qarib.


Masjid kampus harus naik kelas: dari pusat ibadah menjadi pusat pembinaan kehidupan mahasiswa.


Kita bisa membangun student mentoring, kelompok kajian kecil lintas fakultas, klinik Al-Qur’an, ruang konsultasi mahasiswa, diskusi isu aktual, pelatihan kepemimpinan, literasi digital Islami, kewirausahaan, kelas bahasa Arab dan Inggris, public speaking, bahkan program pendampingan mahasiswa baru sampai mereka lulus.


Saya membayangkan suatu hari mahasiswa berkata:


“Kalau saya punya masalah, saya datang ke Fathun Qarib.”


Bukan hanya ketika waktu shalat.


Di sejumlah kampus besar dunia, masjid dan pusat keagamaan kampus dikembangkan sebagai pusat komunitas, pembinaan, diskusi, pelayanan mahasiswa, dan pengembangan karakter.


Mengapa Fathun Qarib tidak mengambil peran lebih besar itu?


Jangan sampai kita memiliki masjid kampus yang megah, tetapi kehidupan mahasiswa berjalan tanpa sentuhan masjid.


Masjid harus menjadi jantung. Dan jantung tidak cukup hanya indah—ia harus berdetak.


Gawai: benda kecil yang bisa mencuri masa depan


Pesan kedua Prof. Nazaruddin lebih menusuk: gawai di tangan mahasiswa harus ditahan agar produktif, jangan sampai kontraproduktif.


Kalimat ini seharusnya menjadi bahan renungan serius bagi dunia pendidikan.


Sebab hari ini mahasiswa membawa perpustakaan di dalam saku. Tetapi ironisnya, yang paling sering dibuka bukan buku digital.


Mereka membawa ruang kuliah di telapak tangan, tetapi perhatian mereka bisa pindah hanya dalam satu detik.


Membaca jurnal, lima menit.

Menggulir video pendek, satu jam.

Mengerjakan tugas, sebentar.

Melihat media sosial, tanpa terasa berjam-jam.


Teknologinya semakin pintar, tetapi penggunanya belum tentu semakin produktif.


Ini bukan kesalahan teknologi. Ini persoalan disiplin manusia.


Karena itu kampus tidak cukup hanya melarang mahasiswa menggunakan telepon genggam di kelas. Yang jauh lebih penting adalah mengajari mereka menguasai gawai sebelum gawai menguasai mereka.


Bayangkan jika setiap mahasiswa UIN Ar-Raniry menjadikan gawainya sebagai laboratorium kecil.


Ia bisa membaca jurnal, mengakses perpustakaan digital, merekam kuliah, belajar bahasa asing, membuat podcast, memproduksi video edukatif, membangun portofolio, mengikuti kursus, mengembangkan bisnis, berdiskusi dengan pakar, melakukan riset, dan menggunakan kecerdasan buatan secara etis sebagai teman berpikir.


Media sosial pun seharusnya tidak hanya menjadi tempat mahasiswa melihat kehidupan orang lain.


Jadikan ia etalase karya sendiri.

Jangan hanya scroll.

Create.

Jangan hanya berkomentar.

Contribute.


Jangan hanya menjadi konsumen informasi.

Jadilah produsen pengetahuan.


Kampus perlu mengembangkan gerakan semacam “Gawai Produktif Mahasiswa UIN Ar-Raniry”. Bukan gerakan anti-HP, tetapi gerakan mengubah perilaku digital.


Mahasiswa diajarkan mengatur waktu layar, mematikan notifikasi yang tidak perlu, membangun kebiasaan deep work, menggunakan aplikasi akademik, menjaga etika digital, memverifikasi informasi, dan memanfaatkan AI secara bertanggung jawab.


Sebab bahaya terbesar gawai bukan ketika ia rusak.


Bahaya terbesarnya ketika ia bekerja dengan sempurna, tetapi hanya digunakan untuk membuang waktu.


Ketika budaya mulai menggantikan agama


Pesan ketiga Prof. Nazaruddin bahkan lebih mendasar.


Beliau mengingatkan agar kita memiliki orientasi yang kuat bahwa sumber nilai kehidupan sehari-hari adalah agama. Dalam konteks kita, Islam harus menjadi sumber inspirasi sosial sekaligus aspirasi budaya.


Ini penting karena manusia bisa saja mengalami perubahan tanpa sadar: agama yang semestinya menjadi sumber nilai justru ditempatkan sebagai pengikut kebiasaan.


Kita berkata, “Begitulah kebiasaan masyarakat.”


Pertanyaannya: apakah semua kebiasaan masyarakat otomatis benar?


Kita berkata, “Ini sudah menjadi budaya.”


Pertanyaannya: apakah semua budaya harus diterima tanpa ditimbang dengan nilai agama?


Islam tidak mengajarkan kita memusuhi budaya. Tetapi Islam memberi ukuran terhadap budaya.


Yang baik dipelihara. Yang bertentangan dengan nilai agama diperbaiki.


Agama harus menjadi kompas. Budaya boleh menjadi kendaraan.


Jangan kendaraan yang menentukan ke mana kompas menunjuk.


Prof. Nazaruddin kemudian bercerita tentang pengalaman beliau pada tahun 2002 ketika menjalani program doktoral di Universiti Kebangsaan Malaysia.


Suatu hari beliau berjalan menuju kantin. Di tengah perjalanan, beliau bersenggolan dengan seorang perempuan yang membawa banyak buku dan dokumen. Barang-barang itu jatuh berserakan.


Prof. Nazaruddin meminta maaf.


Tetapi beliau tidak berhenti pada permintaan maaf. Secara spontan beliau membungkuk dan ikut mengumpulkan buku serta dokumen tersebut. Beberapa orang di sekitar juga membantu.


Setelah semuanya selesai, beliau melanjutkan perjalanan ke kantin.


Tidak lama kemudian perempuan tersebut bersama beberapa orang mendatangi beliau.


Perempuan itu mengaku bahwa senggolan tadi memang disengaja. Ia sedang melakukan penelitian dan ingin melihat bagaimana respons Prof. Nazaruddin.


Yang membuatnya terkesan adalah sikap beliau.

Tidak marah.

Tidak membalas.

Tidak memperdebatkan siapa yang salah.

Tidak menunjukkan permusuhan.

Justru membantu.


Lalu perempuan itu bertanya:


“Dari mana nilai yang Bapak praktikkan tadi? Dari kebiasaan sosial, budaya, atau agama?”


Prof. Nazaruddin menjawab:

“Dari agama. Agama mengajarkan kami untuk berakhlak dan berperilaku positif.”


Selesai.

Tidak ada ceramah.

Tidak ada khutbah.

Tidak ada perdebatan.

Hanya akhlak.

Tetapi akhlak itu membuat seseorang bertanya tentang Islam.


Di sinilah kita belajar sesuatu yang sangat mahal:


Kadang-kadang perilaku kita adalah buku pertama tentang Islam yang dibaca orang lain.


Kita tidak pernah tahu, mungkin satu senyum kita menjadi sebab orang lain tertarik kepada Islam. Mungkin satu pertolongan kecil membuat seseorang bertanya lebih jauh tentang agama kita.


Dakwah ternyata tidak selalu membutuhkan mikrofon.


Kadang-kadang dakwah membutuhkan tangan yang mau membungkuk memungut buku yang jatuh.


Tiga pesan, satu pekerjaan besar


Saya terus memikirkan tiga nasihat Prof. Nazaruddin itu.


Masjid.

Gawai.

Agama.


Ketiganya seperti tiga sisi dari kehidupan mahasiswa modern.


Masjid memberi ruang pembentukan jiwa.

Gawai memberi alat untuk berkarya.

Agama memberi arah bagi keduanya.


Kalau masjid kuat tetapi gawai tidak terkendali, mahasiswa bisa kehilangan fokus.


Kalau gawai hebat tetapi agama lemah, teknologi bisa menjadi alat yang menjauhkan manusia dari nilai.


Kalau agama diajarkan tetapi tidak diwujudkan dalam akhlak, ia bisa berhenti sebagai pengetahuan.


Karena itu, UIN Ar-Raniry punya pekerjaan besar.


Kita tidak cukup menghasilkan mahasiswa yang lulus tepat waktu.


Kita ingin menghasilkan mahasiswa yang tepat arah.


Bukan sekadar sarjana yang memiliki ijazah, tetapi manusia yang memiliki integritas.


Bukan hanya pintar mencari pekerjaan, tetapi mampu menciptakan karya.


Bukan hanya pandai berbicara tentang Islam, tetapi menghadirkan Islam melalui akhlaknya.


Dan mungkin itulah makna paling dalam dari percakapan singkat selepas Zuhur tadi.


Seorang Ketua Senat memberi nasihat kepada beberapa orang yang lebih muda.


Tetapi sesungguhnya beliau sedang mengingatkan kita semua:


Rawat masjidnya. Kendalikan gawainya. Teguhkan agamanya.


Sebab kampus yang besar bukan kampus yang hanya melahirkan orang-orang pintar.


Kampus yang besar adalah kampus yang berhasil membuat kepintaran tunduk kepada kebaikan, teknologi tunduk kepada kemaslahatan, dan kehidupan tunduk kepada nilai-nilai Tuhan.


Wallahu a’lam 


Dausalam 8 September 2026


(Penulis, imam besar masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry)

×
Berita Terbaru Update