-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Jangan Terlalu Memanjakan Anak Laki-Laki

Senin, 14 September 2026 | September 14, 2026 WIB Last Updated 2026-09-15T05:31:31Z


Oleh Saifuddin A Rasyid

Al-Rasyid.id | Ada sebuah konten Pak Riyadi Ariyanto di media sosial yang menarik perhatian saya. Ia menyebut tiga “kebenaran pahit” yang perlu diketahui anak laki-laki: rasa sakit membangun kesuksesanmu; tidak ada yang beri utang apa pun kepadamu selain apa yang diberikan orang tuamu; dan sikap hormat membuka banyak pintu.


Tiga kalimat ini terdengar keras. Tetapi jika direnungkan, di baliknya terdapat pesan pendidikan yang sangat lembut: anak laki-laki perlu dipersiapkan untuk menjadi kuat, mandiri dan beradab.


Karena itu, barangkali ada satu nasihat penting bagi para orang tua: jangan terlalu memanjakan anak laki-laki.


Memanjakan bukan berarti mencintai. Orang tua boleh mencintai anak dengan sepenuh hati, tetapi cinta tidak selalu berarti memberikan semua yang diminta, menyelesaikan semua persoalannya, atau menyelamatkannya dari setiap kesulitan.


Sebab anak yang hari ini selalu kita lindungi dari kesulitan, suatu hari akan berhadapan dengan kehidupan yang tidak selalu mau melindunginya.


Dua puluh tahun dari sekarang, anak-anak laki-laki kita akan memasuki dunia yang mungkin jauh berbeda. Kecerdasan buatan akan semakin mengubah pekerjaan. Persaingan akan semakin terbuka. Kemampuan seseorang akan diuji bukan hanya oleh ijazah, tetapi juga oleh daya tahan mental, kreativitas, kemampuan belajar ulang, kemampuan bekerja sama dan karakter.


Karena itu, persiapan terbaik dimulai dari rumah.


Rasa sakit adalah guru


Kebenaran pahit pertama adalah bahwa rasa sakit dapat membangun kesuksesan.


Tentu bukan berarti anak harus sengaja disakiti atau dibiarkan menghadapi kesulitan sendirian. Maksudnya, jangan setiap kesulitan anak langsung dihilangkan oleh orang tua.


Anak kalah dalam pertandingan, kita yang protes. Nilainya rendah, kita yang mencari alasan. Barangnya rusak karena kelalaian, kita yang segera mengganti. Ia berselisih dengan temannya, kita yang buru-buru turun tangan.


Kalau semua itu terus dilakukan, kapan ia belajar menghadapi kehidupan?


James Clear, penulis Atomic Habits, banyak menjelaskan bahwa karakter dan kemampuan terbentuk melalui kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten. Sementara berbagai pemikir pengembangan diri mengingatkan bahwa pertumbuhan biasanya terjadi ketika seseorang bersedia keluar dari zona nyaman.


Islam pun tidak menjanjikan kehidupan tanpa ujian.


Allah berfirman:


“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”

(QS. Al-Insyirah: 5–6).


Rasulullah ﷺ bersabda bahwa mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, meskipun pada keduanya terdapat kebaikan. (HR. Muslim).


Kekuatan itu bukan sekadar fisik. Ia adalah kekuatan iman, mental, ilmu, kemauan dan kemampuan untuk bangkit.


Maka biarkan anak mengalami kegagalan yang wajar. Dampingi, tetapi jangan selalu mengambil alih.


Kesulitan yang didampingi dengan kasih sayang dapat menjadi sekolah kehidupan.


Dunia tidak berutang kepada kita


Kebenaran pahit kedua adalah: jangan tumbuhkan mental bahwa dunia wajib memenuhi keinginan kita.


Orang tua memang berkewajiban memenuhi kebutuhan anak. Tetapi kewajiban itu bukan berarti anak harus tumbuh menjadi manusia yang selalu merasa berhak memperoleh sesuatu dari orang lain.


Allah berfirman:


“Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.”

(QS. An-Najm: 39).


Rasulullah ﷺ juga bersabda:


“Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah.”

(HR. Bukhari dan Muslim).


Pesannya jelas: biasakan anak menjadi orang yang mampu memberi, bukan selalu menunggu diberi.


Karena itu, anak laki-laki perlu diberi tanggung jawab sejak dini. Merapikan kamar, membantu pekerjaan rumah, menjaga barang sendiri, mengatur uang saku, menepati janji dan menyelesaikan tugas adalah latihan kecil menuju kehidupan besar.


Jangan semua kebutuhan anak dipenuhi sebelum ia belajar berusaha.


Ada saatnya orang tua berkata, “Cobalah sendiri dulu.”


Bukan karena orang tua tidak sayang, tetapi karena mereka ingin anaknya kelak mampu berdiri ketika orang tua tidak lagi berada di sampingnya.


Hormat membuka pintu


Kebenaran pahit ketiga justru merupakan pelajaran yang sangat manis: sikap hormat membuka banyak pintu.


Dunia tidak hanya membutuhkan orang pintar. Dunia membutuhkan orang yang dapat dipercaya.


Dale Carnegie dalam How to Win Friends and Influence People menekankan pentingnya menghargai orang lain dalam membangun hubungan. Dalam kehidupan nyata, seseorang dapat memiliki kecerdasan tinggi, tetapi jika tidak memiliki kemampuan menghormati orang lain, banyak pintu akan tertutup.


Islam menempatkan penghormatan kepada manusia dalam kerangka kemuliaan.


Allah berfirman:


“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam.”

(QS. Al-Isra’: 70).


Rasulullah ﷺ bersabda:


“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang muda dan tidak menghormati yang tua.”

(HR. Tirmidzi).


Karena itu, ajarkan anak laki-laki untuk menghormati ayah-ibu, guru, orang yang lebih tua, teman sebaya, tetangga, bahkan orang yang secara sosial berada di bawahnya.


Ajarkan pula bahwa mengucapkan salam, terima kasih, permisi, maaf dan tolong bukan perkara kecil.


Kecerdasan membuat seseorang dikagumi. Akhlak membuatnya dipercaya.


Dan kepercayaan itulah yang sering membuka pintu-pintu kehidupan.


Dua puluh tahun kemudian


Coba bayangkan anak laki-laki kita dua puluh tahun mendatang.


Ia mungkin sedang mencari pekerjaan yang belum ada hari ini. Ia mungkin bekerja bersama mesin dan kecerdasan buatan. Ia mungkin menghadapi tekanan ekonomi, persaingan global, perubahan profesi dan tuntutan untuk terus belajar.


Dalam dunia seperti itu, orang yang mudah menyerah akan tertinggal.


Orang yang merasa semua harus diberikan kepadanya akan kecewa.


Dan orang yang tidak mampu menghormati orang lain akan kesulitan membangun kepercayaan.


Sebaliknya, anak yang sejak kecil belajar menghadapi kesulitan akan memiliki daya tahan. Anak yang dibiasakan bertanggung jawab akan memiliki kemandirian. Dan anak yang dididik menghormati sesama akan memiliki modal sosial yang sangat berharga.


Jangan manjakan, tetapi jangan pula lepaskan


Namun ada satu hal yang harus digarisbawahi.


Tidak memanjakan bukan berarti tidak menyayangi.


Jangan pula menjadikan tiga kebenaran pahit ini sebagai alasan untuk mendidik anak dengan kekerasan, membanding-bandingkan, atau menekan mereka tanpa kasih sayang.


Anak laki-laki tetap membutuhkan pelukan ayahnya. Ia membutuhkan nasihat ibunya. Ia membutuhkan rumah sebagai tempat pulang ketika dunia terasa berat.


Yang perlu dikurangi adalah kemanjaan, bukan kasih sayang.


Kurangi menyelesaikan semua masalahnya.

Kurangi memberikan semua yang diinginkannya.

Kurangi membelanya ketika ia jelas bersalah.


Sebaliknya, perbanyak kepercayaan, tanggung jawab, dialog, keteladanan dan kesempatan untuk mencoba.


Biarkan ia jatuh, tetapi ajarkan cara bangkit.


Biarkan ia gagal, tetapi ajarkan cara memperbaiki.


Biarkan ia berusaha, meskipun hasilnya belum sempurna.


Dan ketika ia berhasil, ajarkan kepadanya untuk tetap rendah hati.


Pada akhirnya, tujuan pendidikan anak laki-laki bukanlah membuat mereka menjadi manusia yang keras. Tujuannya adalah membuat mereka kuat tanpa kehilangan kelembutan, mandiri tanpa menjadi egois, dan percaya diri tanpa menjadi sombong.


Tiga kebenaran pahit Pak Riyadi Ariyanto itu barangkali dapat kita jadikan tiga bekal utama: rasa sakit melatih ketangguhan, tanggung jawab membangun kemandirian, dan sikap hormat menumbuhkan kemuliaan.


Maka jangan terlalu memanjakan anak laki-laki.


Cintailah mereka dengan cukup untuk melindungi, tetapi juga cukup berani untuk melepaskan mereka belajar menghadapi kehidupan.


Sebab tugas orang tua bukan membuat anak nyaman sepanjang hidupnya.


Tugas orang tua adalah mempersiapkan anak agar tetap kuat ketika suatu hari kenyamanan itu tidak lagi tersedia. pahit” yang perlu diketahui anak laki-laki: rasa sakit membangun kesuksesanmu; tidak ada yang berutang apa pun kepadamu selain apa yang diberikan orang tuamu; dan sikap hormat membuka banyak pintu.


Tiga kalimat ini terdengar keras. Tetapi jika direnungkan, di baliknya terdapat pesan pendidikan yang sangat lembut: anak laki-laki perlu dipersiapkan untuk menjadi kuat, mandiri dan beradab.


Karena itu, barangkali ada satu nasihat penting bagi para orang tua: jangan terlalu memanjakan anak laki-laki.


Memanjakan bukan berarti mencintai. Orang tua boleh mencintai anak dengan sepenuh hati, tetapi cinta tidak selalu berarti memberikan semua yang diminta, menyelesaikan semua persoalannya, atau menyelamatkannya dari setiap kesulitan.


Sebab anak yang hari ini selalu kita lindungi dari kesulitan, suatu hari akan berhadapan dengan kehidupan yang tidak selalu mau melindunginya.


Dua puluh tahun dari sekarang, anak-anak laki-laki kita akan memasuki dunia yang mungkin jauh berbeda. Kecerdasan buatan akan semakin mengubah pekerjaan. Persaingan akan semakin terbuka. Kemampuan seseorang akan diuji bukan hanya oleh ijazah, tetapi juga oleh daya tahan mental, kreativitas, kemampuan belajar ulang, kemampuan bekerja sama dan karakter.


Karena itu, persiapan terbaik dimulai dari rumah.


Rasa sakit adalah guru


Kebenaran pahit pertama adalah bahwa rasa sakit dapat membangun kesuksesan.


Tentu bukan berarti anak harus sengaja disakiti atau dibiarkan menghadapi kesulitan sendirian. Maksudnya, jangan setiap kesulitan anak langsung dihilangkan oleh orang tua.


Anak kalah dalam pertandingan, kita yang protes. Nilainya rendah, kita yang mencari alasan. Barangnya rusak karena kelalaian, kita yang segera mengganti. Ia berselisih dengan temannya, kita yang buru-buru turun tangan.


Kalau semua itu terus dilakukan, kapan ia belajar menghadapi kehidupan?


James Clear, penulis Atomic Habits, banyak menjelaskan bahwa karakter dan kemampuan terbentuk melalui kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten. Sementara berbagai pemikir pengembangan diri mengingatkan bahwa pertumbuhan biasanya terjadi ketika seseorang bersedia keluar dari zona nyaman.


Islam pun tidak menjanjikan kehidupan tanpa ujian.


Allah berfirman:


“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”

(QS. Al-Insyirah: 5–6).


Rasulullah ﷺ bersabda bahwa mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, meskipun pada keduanya terdapat kebaikan. (HR. Muslim).


Kekuatan itu bukan sekadar fisik. Ia adalah kekuatan iman, mental, ilmu, kemauan dan kemampuan untuk bangkit.


Maka biarkan anak mengalami kegagalan yang wajar. Dampingi, tetapi jangan selalu mengambil alih.


Kesulitan yang didampingi dengan kasih sayang dapat menjadi sekolah kehidupan.


Dunia tidak berutang kepada kita


Kebenaran pahit kedua adalah: jangan tumbuhkan mental bahwa dunia wajib memenuhi keinginan kita.


Orang tua memang berkewajiban memenuhi kebutuhan anak. Tetapi kewajiban itu bukan berarti anak harus tumbuh menjadi manusia yang selalu merasa berhak memperoleh sesuatu dari orang lain.


Allah berfirman:


“Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.”

(QS. An-Najm: 39).


Rasulullah ﷺ juga bersabda:


“Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah.”

(HR. Bukhari dan Muslim).


Pesannya jelas: biasakan anak menjadi orang yang mampu memberi, bukan selalu menunggu diberi.


Karena itu, anak laki-laki perlu diberi tanggung jawab sejak dini. Merapikan kamar, membantu pekerjaan rumah, menjaga barang sendiri, mengatur uang saku, menepati janji dan menyelesaikan tugas adalah latihan kecil menuju kehidupan besar.


Jangan semua kebutuhan anak dipenuhi sebelum ia belajar berusaha.


Ada saatnya orang tua berkata, “Cobalah sendiri dulu.”


Bukan karena orang tua tidak sayang, tetapi karena mereka ingin anaknya kelak mampu berdiri ketika orang tua tidak lagi berada di sampingnya.


Hormat membuka pintu


Kebenaran pahit ketiga justru merupakan pelajaran yang sangat manis: sikap hormat membuka banyak pintu.


Dunia tidak hanya membutuhkan orang pintar. Dunia membutuhkan orang yang dapat dipercaya.


Dale Carnegie dalam How to Win Friends and Influence People menekankan pentingnya menghargai orang lain dalam membangun hubungan. Dalam kehidupan nyata, seseorang dapat memiliki kecerdasan tinggi, tetapi jika tidak memiliki kemampuan menghormati orang lain, banyak pintu akan tertutup.


Islam menempatkan penghormatan kepada manusia dalam kerangka kemuliaan.


Allah berfirman:


“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam.”

(QS. Al-Isra’: 70).


Rasulullah ﷺ bersabda:


“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang muda dan tidak menghormati yang tua.”

(HR. Tirmidzi).


Karena itu, ajarkan anak laki-laki untuk menghormati ayah-ibu, guru, orang yang lebih tua, teman sebaya, tetangga, bahkan orang yang secara sosial berada di bawahnya.


Ajarkan pula bahwa mengucapkan salam, terima kasih, permisi, maaf dan tolong bukan perkara kecil.


Kecerdasan membuat seseorang dikagumi. Akhlak membuatnya dipercaya.


Dan kepercayaan itulah yang sering membuka pintu-pintu kehidupan.


Dua puluh tahun kemudian


Coba bayangkan anak laki-laki kita dua puluh tahun mendatang.


Ia mungkin sedang mencari pekerjaan yang belum ada hari ini. Ia mungkin bekerja bersama mesin dan kecerdasan buatan. Ia mungkin menghadapi tekanan ekonomi, persaingan global, perubahan profesi dan tuntutan untuk terus belajar.


Dalam dunia seperti itu, orang yang mudah menyerah akan tertinggal.


Orang yang merasa semua harus diberikan kepadanya akan kecewa.


Dan orang yang tidak mampu menghormati orang lain akan kesulitan membangun kepercayaan.


Sebaliknya, anak yang sejak kecil belajar menghadapi kesulitan akan memiliki daya tahan. Anak yang dibiasakan bertanggung jawab akan memiliki kemandirian. Dan anak yang dididik menghormati sesama akan memiliki modal sosial yang sangat berharga.


Jangan manjakan, tetapi jangan pula lepaskan


Namun ada satu hal yang harus digarisbawahi.


Tidak memanjakan bukan berarti tidak menyayangi.


Jangan pula menjadikan tiga kebenaran pahit ini sebagai alasan untuk mendidik anak dengan kekerasan, membanding-bandingkan, atau menekan mereka tanpa kasih sayang.


Anak laki-laki tetap membutuhkan pelukan ayahnya. Ia membutuhkan nasihat ibunya. Ia membutuhkan rumah sebagai tempat pulang ketika dunia terasa berat.


Yang perlu dikurangi adalah kemanjaan, bukan kasih sayang.


Kurangi menyelesaikan semua masalahnya.

Kurangi memberikan semua yang diinginkannya.

Kurangi membelanya ketika ia jelas bersalah.


Sebaliknya, perbanyak kepercayaan, tanggung jawab, dialog, keteladanan dan kesempatan untuk mencoba.


Biarkan ia jatuh, tetapi ajarkan cara bangkit.


Biarkan ia gagal, tetapi ajarkan cara memperbaiki.


Biarkan ia berusaha, meskipun hasilnya belum sempurna.


Dan ketika ia berhasil, ajarkan kepadanya untuk tetap rendah hati.


Pada akhirnya, tujuan pendidikan anak laki-laki bukanlah membuat mereka menjadi manusia yang keras. Tujuannya adalah membuat mereka kuat tanpa kehilangan kelembutan, mandiri tanpa menjadi egois, dan percaya diri tanpa menjadi sombong.


Tiga kebenaran pahit Pak Riyadi Ariyanto itu barangkali dapat kita jadikan tiga bekal utama: rasa sakit melatih ketangguhan, tanggung jawab membangun kemandirian, dan sikap hormat menumbuhkan kemuliaan.


Maka jangan terlalu memanjakan anak laki-laki.


Cintailah mereka dengan cukup untuk melindungi, tetapi juga cukup berani untuk melepaskan mereka belajar menghadapi kehidupan.


Sebab tugas orang tua bukan membuat anak nyaman sepanjang hidupnya.


Tugas orang tua adalah mempersiapkan anak agar tetap kuat ketika suatu hari kenyamanan itu tidak lagi tersedia.


Wallahu a’lam 


Darussalam 3 Rabiul Akhir 1448, 15 September 2026


(Penulis, pengamat sosial dan keislaman UIN Ar-Raniry)

×
Berita Terbaru Update