-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Muammar Yulian Khatib di Masjid Fathun Qarib: Baju Nabi Yusuf dan Wajah Kita di Era Hoaks

Jumat, 04 September 2026 | September 04, 2026 WIB Last Updated 2026-09-04T07:56:11Z


Al-Rasyid.id | Banda Aceh — Ada sesuatu yang tampak sederhana dalam kisah Nabi Yusuf ‘alaihissalam: sehelai baju. Tetapi dari benda sederhana itu, Al-Qur’an memperlihatkan bagaimana kebohongan bekerja, bagaimana kebenaran terungkap, dan bagaimana luka akhirnya dapat berubah menjadi kesembuhan.


Pesan itulah yang disampaikan akademisi Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Ustaz Muammar Yulian, M.Si dalam khutbah Jumat di Masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry, Jumat, 22 Rabiul Awal 1448 Hijriah bertepatan dengan 4 September 2026.


Mengawali khutbahnya, Muammar mengajak jamaah menengok kembali kisah Nabi Yusuf dalam Surah Yusuf yang disebut Al-Qur’an sebagai ahsanal qashash, kisah terbaik. Perhatiannya tertuju pada satu kata yang muncul dalam tiga peristiwa penting: qamish, atau baju.


Menariknya, tiga baju itu memiliki fungsi yang berbeda. Baju pertama dipakai untuk menipu, baju kedua menjadi saksi kebenaran, sedangkan baju ketiga menjadi perantara kesembuhan.


Dari sinilah Muammar membawa kisah yang terjadi ribuan tahun lalu ke tengah kehidupan manusia hari ini.


Ketika Kebohongan Memakai “Baju”


Baju pertama hadir dalam tragedi ketika saudara-saudara Nabi Yusuf membuangnya ke dalam sumur. Mereka kemudian pulang menemui Nabi Ya’qub dengan membawa baju Yusuf yang telah dilumuri darah.


Mereka mengarang cerita bahwa Yusuf telah diterkam serigala.


Namun ada satu masalah: bajunya tidak koyak.


Bukti yang mereka bawa justru membongkar kebohongan mereka sendiri.


Bagi Muammar, inilah salah satu pelajaran penting dari kisah Yusuf: kebohongan tidak selalu hadir tanpa bukti. Ia justru sering datang dengan bukti yang sengaja direkayasa agar tampak benar.


Di zaman digital, bentuknya tentu berubah.


“Pesan berantai di WhatsApp, foto rekayasa, tangkapan layar, maupun potongan video yang beredar di media sosial bisa menjadi ‘baju berdarah’ zaman sekarang,” ujarnya.


Masalahnya, kata dia, manusia hari ini sering kali lebih cepat membagikan daripada memeriksa.


Jempol bergerak sebelum akal bekerja.


Berita diteruskan sebelum kebenaran dipastikan.


Seseorang divonis sebelum diberi kesempatan menjelaskan.


Padahal Rasulullah SAW telah mengingatkan bahwa cukuplah seseorang disebut sebagai pendusta ketika ia menceritakan semua yang didengarnya tanpa melakukan verifikasi.


Baju yang Berubah Menjadi Saksi


Bertahun-tahun kemudian, baju Nabi Yusuf kembali muncul dalam sebuah peristiwa yang berbeda.


Kali ini Yusuf bukan korban tipu daya saudara-saudaranya, melainkan korban fitnah dari istri Al-Aziz.


Yusuf dituduh hendak melakukan perbuatan keji. Namun baju Yusuf menjadi saksi. Robekan pada baju menunjukkan siapa yang mengejar dan siapa yang berusaha menyelamatkan diri.


Baju itu robek di bagian belakang.


Kebenaran akhirnya berbicara melalui sesuatu yang sederhana.


Muammar kemudian menghubungkannya dengan kehidupan masyarakat modern.


Tidak semua yang viral itu benar.


Tidak semua yang banyak dibicarakan itu benar.


Tidak semua video yang kita lihat memberikan gambaran utuh.


Dan tidak semua tangkapan layar dapat dijadikan dasar untuk menghakimi seseorang.


Karena itu, katanya, Islam mengajarkan tabayyun.


Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 6 agar orang-orang beriman meneliti kebenaran suatu berita sebelum mengambil tindakan.


Tabayyun, dengan demikian, bukan sekadar ajaran untuk menghindari kesalahan informasi. Ia adalah akhlak dalam bermasyarakat.


Tanpa tabayyun, media sosial dapat berubah menjadi ruang pengadilan tanpa hakim, tempat orang bisa dihukum hanya karena sebuah potongan informasi.


Ketika Baju Menjadi Jalan Kesembuhan


Tetapi kisah baju Nabi Yusuf tidak berhenti pada kebohongan dan pembuktian kebenaran.


Pada bagian akhir kisah, baju itu justru membawa pesan yang jauh lebih dalam: kesembuhan.


Yusuf telah menjadi orang yang memiliki kekuasaan. Saudara-saudaranya yang dahulu mencelakakannya kini datang kepadanya dalam keadaan membutuhkan pertolongan.


Inilah kesempatan yang secara manusiawi sangat terbuka untuk melakukan pembalasan.


Namun Yusuf memilih memaafkan.


“Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kamu,” demikian pesan Yusuf sebagaimana diabadikan dalam Surah Yusuf ayat 92.


Kemudian Yusuf mengirimkan bajunya kepada ayahnya, Ya’qub. Baju tersebut menjadi bagian dari peristiwa yang mengantarkan pada pulihnya penglihatan Ya’qub.


Di sini, kata Muammar, terdapat perubahan makna yang luar biasa.


Baju yang pertama menjadi alat kebohongan.

Baju yang kedua menjadi saksi kebenaran.

Baju yang ketiga menjadi jalan kesembuhan.


Seolah-olah Al-Qur’an sedang mengajarkan bahwa manusia memiliki pilihan: apakah menjadi bagian dari kebohongan, menjadi saksi kebenaran, atau menjadi bagian dari proses penyembuhan.


Dari “Jempol” ke Hati


Pesan khutbah Muammar menjadi semakin relevan di tengah kehidupan digital yang membuat informasi bergerak jauh lebih cepat daripada kemampuan manusia untuk memeriksanya.


Satu jempol dapat menyebarkan kebohongan kepada ribuan orang.


Satu unggahan dapat merusak nama baik seseorang.


Satu potongan video dapat melahirkan persepsi yang keliru.


Dan satu komentar yang ditulis dalam keadaan marah dapat meninggalkan luka yang jauh lebih panjang daripada yang dibayangkan penulisnya.


Karena itu, kisah tiga baju Nabi Yusuf sesungguhnya bukan hanya tentang Yusuf.


Ia adalah tentang kita.


Tentang apa yang kita lakukan ketika menerima sebuah berita.


Tentang bagaimana kita memperlakukan orang yang dituduh.


Tentang keberanian kita menahan jempol sebelum membagikan sesuatu.


Dan tentang kesanggupan kita memaafkan ketika memiliki kesempatan untuk membalas.


Tidak Semua Luka Harus Dibalas


Pada bagian akhir khutbah, Muammar menegaskan bahwa Nabi Yusuf memberikan pelajaran bahwa kekuasaan tidak harus melahirkan pembalasan.


Justru ketika seseorang memiliki kemampuan untuk membalas tetapi memilih memaafkan, di situlah kemuliaan akhlak terlihat.


Memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan. Memaafkan adalah keputusan untuk tidak membiarkan kesalahan orang lain terus menguasai hati kita.


Dalam konteks kehidupan sosial, masyarakat tidak akan pernah benar-benar sembuh jika setiap luka hanya diwariskan dalam bentuk dendam.


Karena itu, tiga baju Nabi Yusuf dapat dibaca sebagai tiga pilihan moral manusia:


Jangan menjadi pelaku kebohongan.

Jadilah pembela kebenaran.

Dan, jika mampu, jadilah jalan bagi kesembuhan.


Muammar juga mengaitkan kisah tersebut dengan ilmu sains melalui fenomena luminol, yang dapat digunakan untuk mendeteksi jejak darah yang tidak tampak oleh mata.


Analogi itu menguatkan pesan bahwa sesuatu yang disembunyikan tidak selalu hilang. Ada saatnya jejak itu ditemukan dan kebenaran terungkap.


Pada akhirnya, khutbah tersebut membawa jamaah pada satu kesadaran sederhana tetapi penting: sebelum bertanya siapa yang salah, periksalah kebenarannya; sebelum menyebarkan berita, pastikan sumbernya; dan sebelum membalas luka, ingatlah bahwa memaafkan mungkin menjadi awal dari sebuah kesembuhan.


Sebab dalam kisah Nabi Yusuf, sehelai baju bukan sekadar pakaian.


Ia pernah menjadi alat dusta, saksi kebenaran, dan jalan kesembuhan.


Dan mungkin, di zaman kita, pertanyaannya bukan lagi “baju siapa yang kita bawa?”, tetapi:


“Baju macam apa yang sedang kita tinggalkan dalam kehidupan orang lain?”, tutupnya.


Laporan Saif

×
Berita Terbaru Update