Al-Rasyid.id | BANDA ACEH — Jika kiamat benar-benar sudah di depan mata, untuk apa lagi menanam pohon? Bukankah sebentar lagi bumi akan hancur dan seluruh kehidupan dunia berakhir?
Pertanyaan itulah yang justru menemukan jawabannya dalam ajaran Islam. Ketika akhir dunia semakin dekat, seorang Muslim tidak diajarkan untuk berhenti berbuat baik. Bahkan, jika di tangannya masih ada sebutir benih dan ia masih sempat menanamnya, maka benih itu tetap dianjurkan untuk ditanam.
Pesan tersebut disampaikan pakar keuangan sosial Islam dari Universiti Sultan Zainal Abidin (UniSZA) Terengganu, Malaysia, Dr Muhamad Syahrul Ifwat bin Ishak, dalam Kultum Zuhur di Masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Rabu (16/9/2026).
Dr Muhamad Syahrul mengatakan, iman kepada hari akhir merupakan salah satu keyakinan penting yang dibawa Islam. Berbeda dengan sebagian pandangan masyarakat terdahulu yang menganggap dunia akan terus berlangsung, Islam mengajarkan bahwa kehidupan dunia memiliki batas dan suatu ketika akan berakhir.
“Islam hadir dengan keyakinan bahwa bumi ini akan hancur suatu hari nanti. Apabila kita mati, kita akan dihidupkan kembali,” ujarnya di hadapan jamaah.
Menurutnya, keyakinan terhadap kiamat bukan sekadar pengetahuan tentang sebuah peristiwa besar yang akan terjadi pada masa depan. Iman kepada hari akhir seharusnya memengaruhi cara seorang Muslim menjalani kehidupannya hari ini.
Menariknya, kata dia, manusia modern pun semakin sering membayangkan kehancuran bumi. Berbagai film menggambarkan kiamat melalui bencana alam, perubahan iklim, perang, maupun berbagai ancaman lain yang menyebabkan manusia berusaha mencari tempat perlindungan.
“Ada banyak film yang dibuat tentang bumi yang hancur. Mereka menggambarkan manusia membuat kapal besar untuk menyelamatkan diri,” katanya.
Namun bagi seorang mukmin, kata Dr Muhamad Syahrul, persoalannya bukan lagi apakah dunia akan berakhir. Hal itu sudah menjadi bagian dari keimanan. Persoalan yang lebih penting adalah bagaimana mempersiapkan diri menghadapi kehidupan setelah dunia berakhir.
Di sinilah, menurutnya, pesan Nabi Muhammad SAW tentang menanam benih menjadi sangat penting.
Nabi SAW mengajarkan agar manusia tetap melakukan kebaikan meskipun kiamat hampir terjadi. Jika seseorang memiliki bibit tanaman di tangannya dan masih mempunyai kesempatan untuk menanamnya, maka hendaknya ia tetap menanam.
“Islam tidak mengajarkan kita membuat kapal untuk lari daripada dunia. Islam mengajak kita, selama masih ada kesempatan, buatlah kebaikan,” tegasnya.
Pesan tersebut menunjukkan bahwa seorang Muslim tidak boleh kehilangan energi untuk berbuat baik hanya karena menyadari dunia ini fana.
Menanam pohon memang tampak sederhana. Tetapi di dalamnya terdapat pesan besar tentang optimisme, kemanfaatan dan tanggung jawab. Pohon mungkin baru akan tumbuh setelah bertahun-tahun. Bisa jadi orang yang menanamnya tidak lagi berada di dunia ketika pohon itu besar dan memberikan manfaat.
Namun, selama niat dan perbuatannya baik, manfaat tersebut menjadi bagian dari amal yang ditanam untuk kehidupan setelah kematian.
Karena itu, Dr Muhamad Syahrul mengingatkan agar pembicaraan mengenai akhir zaman tidak selalu diarahkan pada ketakutan dan berbagai kabar buruk.
Nabi SAW, katanya, juga menyampaikan kabar-kabar baik tentang akhir zaman. Di antaranya akan terdapat masa keamanan, kekayaan yang melimpah serta tetap adanya orang-orang yang mempertahankan agama dan kebenaran.
“Jangan kita melihat akhir zaman hanya dari sisi negatif. Nabi SAW juga mendatangkan berita baik kepada kita,” katanya.
Menurutnya, kabar tersebut semestinya menjadi penyemangat bagi umat Islam untuk terus berbuat baik. Sebab, hingga akhir zaman akan selalu ada manusia yang menjaga agama, memperjuangkan kebenaran dan menghadirkan kemanfaatan bagi sesama.
“Jangan takut memberi kebaikan. Akan ada orang yang membuat kebaikan dan mempertahankan kebenaran,” ujarnya.
Dr Muhamad Syahrul juga mengingatkan bahwa Al-Qur’an merupakan petunjuk yang akan terus menjadi pegangan umat Islam. Karena itu, menghadapi perubahan zaman tidak boleh membuat seorang Muslim kehilangan arah.
Iman kepada hari akhir justru harus melahirkan kehidupan yang lebih produktif. Seorang Muslim bekerja, belajar, beribadah, membantu orang lain, menjaga lingkungan dan membangun kemaslahatan, karena semua itu kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
“Sebagai mukmin dan Muslim, apa pun zaman kita, yang penting kita melakukan kebaikan dan memberikan manfaat,” katanya.
Pada akhirnya, pesan tentang benih yang ditanam menjelang kiamat adalah pesan tentang sikap hidup.
Kita memang tidak tahu kapan dunia akan berakhir. Tetapi kita tahu bahwa kehidupan kita sendiri pasti berakhir. Karena itu, yang paling penting bukan menghitung kapan kiamat datang, melainkan menghitung berapa banyak kebaikan yang telah kita tanam sebelum kematian datang.
Kita tidak diminta menyelamatkan dunia dari kiamat. Kita diminta menyelamatkan diri dengan iman dan amal.
Maka, selama masih ada waktu, menanamlah kebaikan. Sebab boleh jadi, pohon yang kita tanam hari ini tidak sempat kita nikmati buahnya di dunia, tetapi justru menjadi salah satu bekal yang kita temui di akhirat.
Laporan Saif
