-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Kerja Maksimal, Selebihnya Biarkan Allah Menyempurnakan

Senin, 14 September 2026 | September 14, 2026 WIB Last Updated 2026-09-15T01:27:19Z


Oleh Saifuddin A. Rasyid

Al-Rasyid.id | Ada pekerjaan yang kita mulai dengan penuh keyakinan, tetapi di tengah perjalanan tenaga mulai terkuras, semangat mulai turun, dan hasil yang diharapkan belum juga terlihat. Pada saat seperti itu, manusia sering tergoda untuk berhenti. Padahal, boleh jadi justru di titik itulah pertolongan Allah sedang menunggu.


Pesan itu terasa kuat dalam tausiyah Prof Ilham Maulana pada Safari BBC, Ahad, 13 September 2026, seusai Subuh di Masjid Ar Rahman Panteriek, Luengbata, Banda Aceh.


Inti pesannya sederhana, tetapi dalam: kerjakan semaksimal mungkin, sempurnakan prosesnya, lalu serahkan hasil akhirnya kepada Allah. Inilah spirit kerja cerdas sekaligus kerja tuntas.


Dalam belajar, kita dituntut belajar sungguh-sungguh. Dalam ibadah, kita dituntut memperbaiki kualitas penghambaan. Dalam pekerjaan, kita dituntut profesional, disiplin dan bertanggung jawab. Setelah semua kemampuan dikerahkan, barulah kita bertawakal. Sebab manusia berkewajiban mengusahakan, sedangkan Allah yang menentukan hasil.


Al-Qur’an memberikan prinsip yang sangat jelas:


“Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.”

(QS Ali ‘Imran: 159)


Ayat ini menarik. Tawakal tidak diletakkan sebelum ikhtiar, tetapi setelah membulatkan tekad dan melakukan apa yang harus dilakukan. Ada proses kerja sebelum tawakal. Ada usaha sebelum berserah diri.


Bertahan sampai kemampuan terakhir


Prof Ilham juga menguatkan jamaah agar bertahan dalam melakukan kebenaran meskipun lelah dan tantangan semakin berat. Bahkan, bertahan sampai kemampuan terendah yang masih dimiliki. Terus bertahan sampai titik kemampuan terakhir, sembari memohon pertolongan Allah.


Sebab sering kali manusia baru benar-benar belajar tentang kekuatan setelah merasa tidak kuat lagi.


Dalam bahasa Aceh, Prof Ilham mengutip sebuah peribahasa yang menarik:


“Pet mata, kap igoe, peujok droe bak Allah Ta’ala.”


Secara sederhana, ungkapan itu mengandung pesan: tutup mata, gigit kuat-kuat kebenaran itu, dan serahkan diri kepada Allah Ta’ala.


“Pet mata” dapat dimaknai jangan terlalu sibuk melihat pengaruh dan tekanan lingkungan sekitar. “Kap igoe” menggambarkan keteguhan menggigit kebenaran sekuat-kuatnya. Sedangkan “peujok droe bak Allah Ta’ala” berarti menyerahkan diri dan segenap ikhtiar kepada Allah.


Ini bukan ajakan untuk menjadi keras kepala. Bukan pula berarti menutup mata terhadap nasihat. Tetapi ketika kebenaran telah jelas, jangan mudah meninggalkannya hanya karena tekanan lingkungan.


Semangat ini sangat dekat dengan kalimat agung:


حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ ۝ نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيرُ


“Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Dia adalah sebaik-baik Pelindung. Dia adalah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.”


Bagian pertama, hasbunallahu wa ni‘mal wakil, terdapat dalam QS Ali ‘Imran ayat 173. Sedangkan ungkapan ni‘mal maula wa ni‘man nashir terdapat antara lain dalam QS Al-Anfal ayat 40.


Dengan demikian, tawakal bukan kalimat pelarian ketika usaha gagal. Tawakal justru merupakan kekuatan spiritual setelah seluruh kemampuan manusia dikerahkan.


Jangan berhenti pada “kerja keras”


Di sinilah konsep kerja cerdas dan kerja tuntas menjadi penting.


Peter F. Drucker, salah satu pemikir manajemen paling berpengaruh, banyak menekankan pentingnya efektivitas: bukan sekadar sibuk, tetapi mengerjakan hal yang benar dan menghasilkan sesuatu yang bernilai.


Maka kerja cerdas bukan berarti mencari jalan paling mudah untuk menghindari kerja keras. Kerja cerdas adalah menentukan tujuan yang benar, memilih prioritas, menggunakan ilmu, mengatur waktu, menghindari pemborosan tenaga, kemudian mengerjakan pekerjaan dengan metode yang tepat.


Sedangkan kerja tuntas berarti tidak meninggalkan pekerjaan dalam keadaan setengah jadi ketika sebenarnya masih bisa diselesaikan.


Stephen R. Covey, melalui gagasan The 7 Habits of Highly Effective People, memperkenalkan prinsip penting: begin with the end in mind—mulailah dengan membayangkan tujuan akhir. Ini sangat relevan dengan kehidupan seorang Muslim.


Sebelum bekerja, kita bertanya: apa tujuan pekerjaan ini? Apa manfaatnya? Apa standar keberhasilannya? Apa yang harus selesai hari ini?


Dari sini kerja cerdas memiliki beberapa langkah sederhana.


Pertama, luruskan niat. Pekerjaan yang sama dapat bernilai berbeda di hadapan Allah karena niatnya.


Kedua, tentukan tujuan dan ukuran keberhasilan. Jangan bekerja tanpa tahu apa yang hendak dicapai.


Ketiga, tentukan prioritas. Tidak semua pekerjaan memiliki tingkat kepentingan yang sama.


Keempat, gunakan ilmu dan metode yang tepat. Belajar sebelum bekerja adalah bagian dari profesionalitas.


Kelima, kerjakan dengan fokus. Kurangi gangguan yang membuat energi habis tetapi pekerjaan tidak selesai.


Keenam, evaluasi. Apa yang kurang? Apa yang harus diperbaiki? Apa yang bisa dikerjakan lebih baik besok?


Dan ketujuh, tuntaskan lalu tawakalkan hasilnya kepada Allah.


Ibadah pun membutuhkan kerja tuntas


Prinsip ini sesungguhnya tidak hanya berlaku di kantor, kampus, sekolah atau dunia usaha. Ia sangat relevan dengan ibadah.


Salat, misalnya, bukan sekadar menggugurkan kewajiban. Kita berusaha menyempurnakan wudu, menjaga waktu, memahami bacaan, menghadirkan hati dan memperbaiki kekhusyukan.


Membaca Al-Qur’an bukan sekadar mengejar jumlah halaman. Kita berusaha membaca dengan benar, memahami makna dan mengamalkan pesan yang dibaca.


Sedekah bukan hanya soal nominal. Kita berusaha memperoleh harta yang halal, memberikan dengan ikhlas, tidak menyakiti penerima dan tidak mengungkit pemberian.


Puasa pun demikian. Kesempurnaannya bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menjaga lisan, pandangan, pikiran dan perilaku.


Nabi Muhammad SAW bersabda:


“Sesungguhnya Allah mewajibkan ihsan atas segala sesuatu.”

(HR Muslim)


Ihsan berarti melakukan sesuatu dengan sebaik-baiknya. Maka seorang Muslim tidak semestinya memiliki mental “asal selesai”. Ada perbedaan antara selesai dan tuntas.


Sesuatu disebut tuntas ketika kewajiban utamanya selesai, hak-hak yang terkait terpenuhi, prosesnya dilakukan dengan benar, dan kita telah melakukan evaluasi terhadap kekurangannya.


Namun, apakah setelah itu hasilnya pasti sempurna?


Tidak.


Di sinilah wilayah manusia berakhir dan wilayah Allah dimulai.


Sempurna menurut manusia, sempurna menurut Allah


Kita sering mengukur kesempurnaan dari hasil. Allah mengajarkan kita untuk memperhatikan proses, niat dan ketakwaan.


Allah berfirman:


“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”

(QS Al-Baqarah: 286)


Ayat ini memberi ketenangan. Tidak semua hasil berada dalam kendali kita.


Seorang guru dapat mengajar dengan maksimal, tetapi tidak bisa memaksa semua murid langsung berhasil. Seorang orang tua dapat mendidik sebaik mungkin, tetapi tidak dapat menentukan seluruh masa depan anak. Seorang pedagang dapat bekerja jujur dan profesional, tetapi tidak dapat menentukan berapa keuntungan yang akan diperoleh. Seorang mahasiswa dapat belajar sungguh-sungguh, tetapi hasil ujian tetap berada dalam ketentuan Allah.


Maka ukuran keberhasilan seorang Muslim bukan hanya “berapa hasil yang saya dapat?”, tetapi juga “seberapa sungguh saya telah berikhtiar?”


Di sinilah makna “biar Allah menutupi kekurangannya”.


Kita sempurnakan apa yang mampu kita sempurnakan. Kita tutup kelemahan dengan belajar. Kita tutup kelalaian dengan memperbaiki disiplin. Kita tutup kekurangan pengalaman dengan bertanya. Kita tutup keterbatasan tenaga dengan kerja sama. Dan setelah semuanya dilakukan, kita memohon agar Allah menutupi kekurangan yang tidak sanggup kita tutupi sendiri.


Sebab manusia memang tidak sempurna.


Yang dituntut bukan menjadi manusia tanpa kekurangan, melainkan manusia yang tidak berhenti memperbaiki diri.


Bertahan, berikhtiar, kemudian berserah diri


Ada saatnya kita merasa pekerjaan terlalu berat. Ada saatnya dakwah terasa sepi. Ada saatnya belajar terasa melelahkan. Ada saatnya mempertahankan kebenaran membuat kita sendirian.


Pada saat seperti itulah pesan Prof Ilham menjadi penting: bertahanlah sampai titik kemampuan terakhir.


Jangan buru-buru menyerah hanya karena belum melihat hasil.


Bisa jadi pertolongan Allah datang setelah kita mengerahkan ikhtiar terakhir. Bisa jadi pintu yang selama ini tertutup baru terbuka setelah kita mengetuknya berkali-kali.


Bukankah Allah telah berfirman:


“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya.”

(QS At-Talaq: 2–3)


Maka hidup ini bukan memilih antara kerja keras atau tawakal. Keduanya harus berjalan bersama.


Kerja cerdas menentukan bagaimana kita bergerak. Kerja tuntas memastikan kita tidak berhenti sebelum kewajiban selesai. Tawakal mengajarkan kita menerima bahwa hasil akhirnya bukan milik kita.


Tugas kita adalah berusaha sebaik mungkin.


Tugas Allah adalah menentukan hasil menurut ilmu dan hikmah-Nya.


Karena itu, mari bekerja maksimal. Belajar maksimal. Beribadah maksimal. Berbuat baik maksimal. Pertahankan kebenaran sekuat kemampuan.


Jika masih ada kekurangan, jangan berhenti memperbaikinya.


Dan setelah seluruh ikhtiar ditunaikan, ucapkan dengan penuh keyakinan:


حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ، نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيرُ


Cukuplah Allah bagi kita. Dia sebaik-baik Pelindung, sebaik-baik Penolong.


Kita bekerja dengan seluruh kemampuan yang kita punya.


Selebihnya, biarlah Allah yang menyempurnakannya.


Wallahu a’lam 


Barabung 2 Rabiul Akhir 1448, 14 September 2026


(Penulis, Tgk Imum Meunasah Gampong Barabung Darussalam Aceh Besar)


Foto: selepas shalat subuh di meunasah Barabung Senin 14 September 2026, Prof Ilham di posisi imam, duduk di shaf dari kiri: Tarigan, Tgk Hasrul, penulis, Tgk Miswar, dan Furqan

×
Berita Terbaru Update