-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Jika Masjid dan Meunasah Mulai Ramai Menjelang Subuh

Selasa, 29 September 2026 | September 29, 2026 WIB Last Updated 2026-09-30T06:03:41Z


Oleh Saifuddin A Rasyid

Al-Rasyid.id | Ada gerakan yang tampaknya sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan energi perubahan yang besar: mengajak orang bangun untuk salat Subuh berjamaah.


Di Banda Aceh dan sejumlah daerah lain di Aceh, beberapa komunitas terus menghidupkan gerakan safari Subuh. Dari masjid ke masjid, dari satu meunasah ke meunasah yang lain, mereka mengetuk kesadaran umat: jangan biarkan waktu Subuh berlalu dalam selimut ketika rumah Allah masih menunggu kedatangan hamba-hamba-Nya.


Dampaknya mulai terlihat. Di tempat-tempat yang dikunjungi, jamaah Subuh tumbuh, masjid menjadi lebih hidup, dan suasana pagi terasa berbeda.


Tetapi kita tidak boleh cepat berpuas diri.


Jangkauan gerakan itu masih terbatas. Di berbagai tempat di Aceh, masih ada masjid dan meunasah yang jamaah Subuhnya sangat sedikit. Bahkan terdengar informasi tentang meunasah yang azan Subuhnya nyaris tidak terdengar karena tidak ada yang datang untuk mengumandangkannya.


Kalau kabar seperti ini benar, tentu ini bukan sekadar persoalan jumlah jamaah. Ini problema umat.


Subuh adalah waktu yang disaksikan


Al-Qur’an memberikan perhatian khusus kepada waktu Subuh.


Allah berfirman:


وَقُرْآنَ الْفَجْرِ ۖ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا


“…dan (laksanakan pula) salat Subuh. Sesungguhnya salat Subuh itu disaksikan.”

(QS. Al-Isra’: 78). 


Para ulama tafsir menjelaskan bahwa yang dimaksud “disaksikan” antara lain karena malaikat malam dan malaikat siang berkumpul pada waktu Subuh. Nabi Muhammad SAW juga menjelaskan keutamaan tersebut dalam hadis sahih. 


Maka Subuh bukan waktu biasa.


Ia adalah pergantian malam menuju siang, pergantian sunyi menuju aktivitas, dan pergantian istirahat menuju perjuangan kehidupan.


Lebih dari itu, Rasulullah SAW bersabda:


“Seandainya manusia mengetahui apa yang terdapat dalam salat Isya dan Subuh, niscaya mereka akan mendatanginya walaupun dengan merangkak.”


Hadis ini diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim. 


Perhatikan kata Nabi: walaupun dengan merangkak.


Artinya, persoalan Subuh bukan karena tidak ada keutamaan. Keutamaannya justru sangat besar. Tantangannya adalah bagaimana manusia mengalahkan rasa berat, kantuk, kebiasaan begadang dan godaan untuk tetap berada di tempat tidur.


Subuh dan ukuran iman


Buya Hamka pernah menyampaikan ungkapan yang sangat menggugah: kalau ingin melihat orang beriman, lihatlah ketika waktu Subuh dan bagaimana ia datang menunaikan salat berjamaah.


Ungkapan ini bukan berarti seseorang yang sesekali tidak berjamaah Subuh otomatis kehilangan iman. Ia lebih tepat dibaca sebagai sebuah tamparan moral: ketika tidak ada pasar, kantor, kampus, sekolah, undangan, atau kepentingan dunia yang memaksa kita bangun, siapa yang tetap mampu berdiri memenuhi panggilan Allah?


Di situlah latihan iman bekerja.


Al-Qur’an menggambarkan orang-orang yang memakmurkan masjid sebagai manusia yang aktivitas duniawinya tidak melalaikan mereka dari mengingat Allah dan mendirikan salat. 


Karena itu, masjid yang hidup pada Subuh sesungguhnya sedang memperlihatkan denyut kehidupan iman masyarakatnya.


Laki-laki dan Subuh di masjid


Ustaz Abdul Somad pernah menyampaikannya dengan gaya khasnya yang membuat jamaah tersenyum: laki-laki saleh, antara lain, terlihat dari salatnya di masjid, termasuk Subuh; sedangkan perempuan salehah, salat di rumah justru memiliki keutamaan tersendiri. Lalu beliau bergurau, kalau laki-laki justru memilih salat di rumah—terutama Subuh—“lelaki salehah” namanya.


Jamaah tertawa.


Tetapi di balik kelakar itu ada pesan serius: jangan sampai masjid penuh oleh perempuan sementara kaum lelaki justru nyaman berada di rumah ketika panggilan Subuh berkumandang.


Tentu keadaan setiap orang berbeda dan ada uzur yang dibenarkan syariat. Tetapi secara umum, semangat memakmurkan masjid pada waktu Subuh perlu kembali menjadi budaya kaum Muslimin.


“Allahumma barik li ummati fi bukuriha”


Islam bahkan tidak berhenti pada ibadah Subuh.


Islam juga mengajarkan berkah pagi.


Rasulullah SAW berdoa:


اللَّهُمَّ بَارِكْ لِأُمَّتِي فِي بُكُورِهَا


“Ya Allah, berkahilah umatku pada waktu paginya.”


Hadis ini diriwayatkan antara lain oleh Abu Dawud dan Tirmidzi. Dalam riwayat tersebut, Nabi SAW biasa mengirim pasukan pada awal hari. Sahabat Shakhr al-Ghamidi juga mengawali aktivitas perdagangannya pada pagi hari dan kemudian memperoleh kelapangan rezeki. 


Inilah konsep berkah yang menarik.


Masyarakat kita mempunyai adagium: “Jangan telat bangun pagi, nanti rezekinya dipatuk ayam.”


Ungkapan itu memang hanya peribahasa. Tetapi ternyata ada spirit yang sejalan dengan hadis Nabi: awal hari jangan disia-siakan.


Islam tidak mengajarkan pagi sebagai waktu untuk bermalas-malasan. Pagi adalah kesempatan.


Bangun, berwudu, ke masjid, Subuh berjamaah, membaca Al-Qur’an, berzikir, kemudian bekerja, belajar, berdagang, mengajar, bertani, melayani masyarakat—semuanya dapat menjadi rangkaian amal produktif.


Subuh dan produktivitas


Para motivator dan ahli manajemen modern sering berbicara tentang pentingnya morning routine: memulai hari dengan aktivitas yang teratur, menentukan prioritas, membaca, berolahraga, atau mengerjakan pekerjaan penting ketika pikiran masih segar.


Islam telah lebih dahulu memberikan kerangka spiritualnya.


Bangun bukan sekadar untuk produktif.


Bangun untuk Allah, lalu produktif karena Allah.


Di situlah perbedaan antara sekadar budaya bangun pagi dengan konsep keberkahan pagi dalam Islam.


Bangun pagi tanpa arah hanya menghasilkan aktivitas. Bangun pagi dengan iman dapat menghasilkan ibadah sekaligus produktivitas.


Dari sisi kesehatan pun masuk akal


Ada pula sisi kesehatan yang menarik.


Bangun pagi tidak otomatis berarti sehat jika seseorang justru tidur terlalu sedikit. Ilmu kedokteran modern menekankan pentingnya durasi tidur yang cukup dan jadwal tidur-bangun yang teratur. CDC, misalnya, merekomendasikan orang dewasa umumnya mendapatkan setidaknya tujuh jam tidur setiap malam dan mempertahankan jadwal tidur serta bangun yang konsisten. Paparan cahaya alami pada pagi atau awal siang juga dianjurkan untuk membantu keteraturan ritme tubuh. (CDC⁠)


Penelitian mengenai ritme sirkadian juga menunjukkan bahwa cahaya pagi dapat membantu mengatur jam biologis tubuh. (PubMed Central (PMC)⁠)


Maka pesan “tidur cepat, bangun cepat” bukan sekadar nasihat orang tua.


Ia dapat menjadi pola hidup yang baik, selama disertai tidur yang cukup.


Persoalannya sekarang, sebagian anak muda tidur bukan karena kebutuhan biologis, tetapi karena gawai.


Tidur tertunda karena media sosial. Bangun terlambat karena menonton. Akhirnya Subuh menjadi korban.


Padahal layar boleh menemani malam, tetapi jangan sampai ia menggantikan panggilan Allah.


Jangan hanya membangunkan orang, bangunkan budaya


Karena itu gerakan safari Subuh jangan berhenti sebagai kegiatan komunitas.


Ia perlu menjadi gerakan budaya masyarakat.


Masjid dan meunasah dapat melakukan berbagai cara yang sederhana tetapi konsisten.


Pertama, hidupkan kembali azan Subuh dengan suara yang jelas dan teratur.


Kedua, bangun kelompok pengingat Subuh di lingkungan gampong, kampus, perumahan dan komunitas.


Ketiga, orang tua membiasakan anak-anak tidur lebih awal dan bangun untuk Subuh, bukan baru mengajarkan disiplin ketika mereka sudah dewasa.


Keempat, anak-anak muda dapat membuat komunitas sahabat Subuh, bukan untuk menghakimi mereka yang belum hadir, tetapi untuk saling membangunkan.


Kelima, setelah Subuh jangan selalu langsung bubar. Sesekali isi dengan lima belas atau dua puluh menit membaca Al-Qur’an, kajian singkat, diskusi, olahraga ringan, atau persiapan aktivitas harian.


Keenam, kampus, sekolah, dayah, kantor dan lembaga masyarakat dapat menjadikan budaya pagi sebagai bagian dari pembentukan karakter generasi.


Dan yang paling penting: jangan menjadikan masjid Subuh sebagai ruang untuk mempermalukan orang yang belum hadir.


Kita bangunkan dengan cinta, bukan dengan celaan.


Sebab orang yang tertidur membutuhkan tangan yang membangunkan, bukan suara yang merendahkan.


Mimpi besar: Subuh seramai Jumat


Ada ungkapan yang sering beredar bahwa kaum Yahudi takut apabila melihat jamaah Subuh kaum Muslimin sebanyak jamaah Jumat.


Ungkapan itu memang sangat populer dalam ceramah dan media sosial. Tetapi setelah ditelusuri, saya tidak menemukan hadis sahih yang dapat dijadikan dasar untuk menisbatkan kalimat tersebut kepada Nabi SAW. Karena itu, sebaiknya jangan kita sebut sebagai hadis.


Hadis sahih sudah sangat kuat.


Nabi SAW menyatakan bahwa Subuh dan Isya adalah salat yang berat bagi orang-orang munafik; seandainya mereka mengetahui keutamaannya, mereka akan mendatanginya walaupun merangkak. 


Itu sudah cukup menjadi cambuk.


Bayangkan jika suatu hari masjid-masjid dan meunasah di Aceh mulai ramai menjelang Subuh.


Bukan hanya satu masjid.

Bukan hanya masjid yang dikunjungi safari Subuh.


Tetapi masjid di kampung-kampung, di kota, di komplek perumahan, di sekitar kampus, di lingkungan sekolah, di pelosok gampong.


Azan Subuh terdengar.

Pintu-pintu rumah terbuka.

Anak-anak muda mengambil wudu.

Para ayah keluar menuju masjid.

Para pemuda berjalan bersama.

Orang-orang tua datang dengan tongkat.


Saf demi saf mulai terisi.


Lalu setelah salam, mereka tidak kembali tidur.


Mereka membaca Al-Qur’an, berdzikir, berdiskusi, berolahraga, bekerja, belajar dan mencari rezeki.


Itulah Subuh yang tidak hanya menghidupkan masjid, tetapi menghidupkan umat.


Aceh mempunyai tradisi keislaman yang panjang. Jangan sampai masjid dan meunasah kita hanya ramai pada Magrib, Isya, Ramadan, Maulid dan Jumat.


Mari kita tambah satu kebiasaan baru:

ramai menjelang Subuh.


Sebab perubahan besar sering kali tidak dimulai ketika matahari sudah tinggi.


Ia bisa dimulai ketika langit masih gelap, azan baru berkumandang, dan seorang Muslim memilih meninggalkan kasurnya untuk menghadap Allah.


Bangunlah untuk Subuh.

Karena mungkin di sanalah iman sedang mengetuk.


Dan mungkin pula, setelah Subuh itu, Allah sedang membuka pintu keberkahan hari kita.


Wallahu a’lam 


Barabung 19 Rabiul Akhir 1448, 30 September 2026


(Penulis, Imum Meunasah Gampong Barabung Darussalam Aceh Besar)

×
Berita Terbaru Update