Oleh Saifuddin A. Rasyid
Al-Rasyid.id | Ada sebuah pesan sederhana, tetapi sangat dalam, yang saya bawa pulang dari Kultum Zuhur di Masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Rabu, 16 September 2026.
Pesan itu disampaikan Dr. Muhamad Shahrul Ifwat bin Ishak, pakar keuangan sosial Islam dari Universiti Sultan Zainal Abidin, Terengganu, Malaysia, yang sedang berkunjung sebagai dosen tamu di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Ar-Raniry.
Di antara pesan yang paling menarik perhatian saya adalah hadis Nabi Muhammad SAW:
“Jika kiamat telah terjadi sementara di tangan salah seorang di antara kalian terdapat sebuah bibit kurma, jika ia mampu menanamnya sebelum kiamat terjadi, hendaklah ia menanamnya.”
Hadis ini diriwayatkan Imam Ahmad dan dinilai sahih oleh sejumlah ulama hadis. Para ulama menjelaskan bahwa maksudnya bukan karena manusia masih memiliki kesempatan melakukan aktivitas setelah kiamat benar-benar berlangsung, tetapi merupakan dorongan yang sangat kuat agar manusia tetap bekerja, tetap berbuat, tetap produktif, dan tidak menyerah kepada keadaan. Syekh Ibnu Baz, misalnya, menjelaskan hadis ini sebagai dorongan untuk bekerja dan tidak bermalas-malasan, termasuk dalam bertani, berdagang, menulis dan berbagai pekerjaan yang bermanfaat. (Bin Baz)
Di sinilah saya melihat pesan yang sangat relevan untuk kehidupan kita.
Jangan menunggu dunia menjadi sempurna
Sering kali kita menunda kebaikan karena merasa waktunya belum tepat.
“Nanti kalau sudah punya uang.”
“Nanti kalau sudah pensiun.”
“Nanti kalau pekerjaan sudah selesai.”
“Nanti kalau anak-anak sudah besar.”
“Nanti kalau keadaan sudah lebih baik.”
“Nanti kalau ada waktu.”
Padahal, tidak ada seorang pun yang diberi jaminan akan memiliki “nanti”.
Al-Qur’an bahkan mengingatkan:
“Sesungguhnya hari Kiamat itu pasti datang, Aku hampir menyembunyikannya, agar setiap jiwa dibalas sesuai dengan apa yang telah diusahakannya.”
(QS. Thaha: 15).
Ayat ini menarik karena kedatangan kiamat dirahasiakan, tetapi tujuan penyebutannya sangat jelas: setiap manusia akan mempertanggungjawabkan apa yang diusahakannya. (الموسوعة القرآنية)
Al-Qur’an juga menyatakan:
“Telah dekat datangnya hari Kiamat.”
(QS. Al-Qamar: 1).
Kedekatan kiamat bukan untuk membuat manusia panik lalu meninggalkan kehidupan. Sebaliknya, kesadaran bahwa waktu kita terbatas semestinya membuat kita semakin serius menggunakan waktu.
Kita tidak diperintahkan menebak kapan kiamat.
Itu urusan Allah.
Yang menjadi urusan kita adalah apa yang kita lakukan sebelum kiamat datang.
Kiamat besar, kematian adalah “kiamat kecil”
Dalam pemahaman keislaman, ada perbedaan antara kiamat kubra, yaitu kehancuran alam dan berakhirnya kehidupan dunia, dengan kematian seseorang yang sering disebut sebagai kiamat sughra.
Bagi seseorang, kematian dapat datang kapan saja.
Karena itu, pertanyaan yang lebih penting bukanlah, “Kapan kiamat terjadi?”
Pertanyaan yang lebih mendesak adalah:
“Kalau kesempatan saya tinggal hari ini, apa yang sudah saya tanam?”
Sebab, bisa jadi dunia belum berakhir, tetapi hidup kita yang lebih dahulu berakhir.
Bisa jadi matahari masih terbit besok pagi, tetapi mata kita tidak lagi terbuka.
Bisa jadi kesempatan berbuat baik masih terbuka bagi orang lain, tetapi pintu kesempatan itu sudah tertutup bagi kita.
Itulah sebabnya Nabi SAW mengingatkan agar kita bersegera dalam beramal:
“Bersegeralah melakukan amal-amal sebelum datang berbagai fitnah seperti potongan malam yang gelap…”
(HR. Muslim).
Imam Nawawi menjelaskan bahwa hadis tersebut mengandung dorongan untuk segera melakukan amal saleh sebelum datang berbagai keadaan yang membuat manusia tidak mampu atau tidak sempat melakukannya.
Maka, jangan terlalu sibuk menghitung kapan dunia berakhir sampai lupa menghitung berapa banyak waktu yang tersisa bagi diri sendiri.
Penyakit “tarsok”
Ada satu penyakit manusia modern yang tampaknya sederhana, tetapi diam-diam menghabiskan umur: tarsok—entar-entar, besok.
Ingin bersedekah, nanti.
Ingin meminta maaf, nanti.
Ingin mengunjungi orang tua, nanti.
Ingin berdamai dengan saudara, nanti.
Ingin membaca Al-Qur’an, nanti.
Ingin mengajar anak mengaji, nanti.
Ingin memulai usaha, nanti.
Ingin menulis gagasan, nanti.
Ingin membantu tetangga, nanti.
Akhirnya “nanti” menjadi kebiasaan, kebiasaan menjadi penundaan, penundaan menjadi kehilangan kesempatan.
Padahal Nabi SAW mengajarkan agar kita memanfaatkan kehidupan sebelum kematian, kesehatan sebelum sakit, waktu luang sebelum kesibukan, masa muda sebelum tua, dan kecukupan sebelum datang kekurangan. Hadis ini diriwayatkan melalui beberapa jalur dan dinilai sahih oleh sejumlah ulama hadis.
Maka, salah satu bentuk kecerdasan seorang mukmin adalah mengetahui kapan harus berkata:
“Lakukan sekarang.”
Jika ada sedekah yang mampu kita keluarkan, keluarkan.
Jika ada ilmu yang mampu kita ajarkan, ajarkan.
Jika ada orang yang perlu kita maafkan, maafkan.
Jika ada pekerjaan baik yang bisa kita selesaikan, selesaikan.
Jika ada benih kebaikan di tangan kita, tanam.
Jangan menunggu benih itu hilang dari genggaman.
Belajar dari Mus’ab bin Umair
Pesan tentang “benih di tangan” itu mengingatkan saya kepada keteguhan generasi pertama Islam.
Dalam Perang Uhud, sahabat Nabi SAW, Mus’ab bin Umair r.a., dipercaya membawa panji kaum Muslimin.
Ketika pertempuran berkecamuk, ia mempertahankan panji tersebut. Tangan kanannya terputus. Ia mengambilnya dengan tangan kiri. Tangan kirinya pun terputus. Dalam riwayat sejarah, ia kemudian memeluk panji dengan kedua lengannya agar tidak jatuh hingga akhirnya gugur sebagai syahid. (WikiSumber)
Kisah ini bukan sekadar kisah keberanian fisik.
Ada pesan tentang totalitas dalam menjalankan amanah.
Panji itu bukan sekadar kain.
Ia adalah amanah.
Dan Mus’ab tidak bertanya, “Berapa lama lagi perang ini?”
Ia tidak berkata, “Karena keadaan sudah sangat sulit, saya berhenti.”
Selama masih ada kemampuan untuk memegang amanah, ia memegangnya.
Di sinilah hadis tentang bibit kurma tadi terasa semakin kuat.
Selama masih ada tangan untuk menanam, tanamlah.
Selama masih ada suara untuk mengajar, ajarlah.
Selama masih ada tenaga untuk bekerja, bekerjalah.
Selama masih ada harta untuk berbagi, berbagi.
Selama masih ada waktu untuk berbuat baik, berbuatlah.
Jangan tunggu dunia hampir kiamat untuk menyadari bahwa hidup terlalu berharga untuk dihabiskan dengan menunda.
Menanam meski mungkin tidak sempat menikmati buah
Ada keindahan luar biasa dalam hadis tentang bibit kurma itu.
Orang yang menanam bibit tersebut belum tentu akan menikmati buahnya.
Bisa jadi ia menanam untuk generasi setelahnya.
Di situlah letak keikhlasan.
Kita bekerja hari ini, tetapi hasilnya mungkin dinikmati anak cucu.
Kita membangun masjid, tetapi mungkin kita tidak lagi menyaksikan generasi yang tumbuh di dalamnya.
Kita mengajar seorang anak mengaji, tetapi mungkin bertahun-tahun kemudian ia menjadi ulama sementara kita telah tiada.
Kita menulis sebuah gagasan, mungkin kita tidak pernah tahu siapa yang kelak terinspirasi olehnya.
Namun, dalam keyakinan seorang Muslim, tidak ada kebaikan yang sia-sia.
Setiap amal akan kembali kepada pelakunya.
Karena itu, kita tidak boleh hanya bekerja untuk hasil yang terlihat hari ini.
Ada hasil yang baru akan kita lihat kelak, ketika manusia dibangkitkan dan setiap amal diperhitungkan.
Inilah yang membuat seorang mukmin tetap menanam meskipun ia belum tentu menikmati buahnya.
Sampai mata benar-benar tertutup
Mungkin inilah pelajaran paling dalam dari tausiyah Dr. Muhamad Shahrul.
Kiamat bukan alasan untuk berhenti. Kiamat adalah alasan untuk semakin serius.
Jika kita tahu waktu kita terbatas, mestinya kita semakin cermat menggunakan setiap menit dan detik.
Bukan berarti kita hidup dalam ketakutan.
Justru sebaliknya, kita hidup dalam kesadaran.
Kesadaran bahwa setiap kesempatan adalah amanah.
Kesadaran bahwa setiap kebaikan adalah investasi akhirat.
Kesadaran bahwa umur tidak bisa diulang.
Dan kesadaran bahwa kita tidak pernah tahu kapan kesempatan terakhir itu datang.
Karena itu, ketika sebuah benih kebaikan masih berada dalam genggaman, jangan terlalu banyak berpikir tentang apakah kita akan sempat melihat buahnya.
Tanamlah.
Ketika sebuah pekerjaan baik masih berada di depan mata, selesaikanlah.
Ketika ada amal yang bisa dilakukan, lakukanlah.
Ketika ada kesempatan membantu, bantulah.
Ketika ada ilmu yang bisa dibagikan, bagikanlah.
Sebab tugas kita bukan memastikan kapan kiamat datang.
Tugas kita adalah memastikan, ketika kiamat datang—atau ketika kematian lebih dahulu menjemput—kita sedang berada dalam keadaan menanam kebaikan.
Teruslah menanam.
Teruslah bekerja.
Teruslah beramal.
Teruslah menabung kebaikan.
Sampai bumi benar-benar berhenti berputar, atau sampai mata kita benar-benar tertutup.
Sebab boleh jadi, benih yang kita tanam hari ini adalah amal yang kelak menjadi pohon keselamatan kita di akhirat.
Wallahu a’lam
Darussalam 5 Rabiul Akhir 1448, 16 September 2026
(Penulis, imam besar masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry Banda Aceh)
Foto, dari kiri: Dr Bukhari Ali, Dr Muhamad Shahrul, Prof Hasanuddin Yusuf Adan, penulis, dan Dr Muqni Affan
