-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Selamat Jalan, Pak Nas: Kematian Tak Pernah Terlalu Cepat

Kamis, 03 September 2026 | September 03, 2026 WIB Last Updated 2026-09-03T22:54:07Z


Oleh: Saifuddin A. Rasyid

Al-Rasyid.id | Ada kabar yang membuat kita terdiam beberapa saat. Bukan karena tidak mengerti apa yang terjadi, tetapi karena hati belum siap mempercayainya.


Begitulah ketika kemarin, Rabu siang, 2 September 2026, saya menerima kabar bahwa Drs. Nasruddin bin Abusyamah, M.Hum, telah menutup mata untuk selamanya di RSUZA dalam usia 64 tahun.


Spontan saya mengucapkan, Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. 


Saya posting kalimat itu di group dosen UIN Ar-Raniry, hanya kalimat itu, belakangan baru saya tahu rupanya tanpa menyebut siapa yang meninggal. Saya terus bergegas ke rumah duka untuk menemui jenazahnya.


Lalu muncul satu pertanyaan kecil dalam hati, “Kok cepat sekali?”


Padahal rasanya baru kemarin bertemu. Baru kemarin melihat senyumnya. Baru kemarin mendengar suaranya. Baru kemarin terbayang sosoknya yang mudah akrab, ceria dan selalu membuat suasana menjadi ringan.


Tetapi mungkin di situlah kematian mengajarkan kita sesuatu yang paling mendasar:


Kematian tidak pernah datang terlalu cepat. Kitalah yang sering merasa waktu masih panjang.


Kematian mempunyai iramanya sendiri. Ia tidak mengikuti kalender kita, agenda kita, rencana kita, bahkan tidak menunggu sampai kita merasa siap.


Ketika Allah memanggil, selesai sudah seluruh jadwal dunia.


Dan Pak Nas telah menerima panggilan itu.


Sahabat Sejak 1982


Bagi UIN Ar-Raniry, kepergian Pak Nas adalah kehilangan seorang alumni, dosen dan pejabat akademik terbaik. Dalam sambutan pelepasan jenazah, Rektor UIN Ar-Raniry Prof. Mujiburrahman menyampaikan bahwa Pak Nas meninggal dalam keadaan masih mengemban amanah sebagai Wakil Dekan III Fakultas Psikologi UIN Ar-Raniry.


Sebelumnya, beliau juga pernah menjadi Wakil Dekan I Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry.


Pimpinan dan seluruh civitas akademika tentu merasa kehilangan. Tetapi kehilangan itu diterima dengan ikhlas sebagai keputusan Allah.


Bagi saya, kehilangan ini terasa lebih personal.


Pak Nas bukan sekadar teman satu institusi. Ia adalah sahabat yang saya kenal sejak 1982, ketika kami sama-sama memasuki Fakultas Adab IAIN Ar-Raniry. Kami satu letting pada Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam (SKI), bahkan termasuk generasi awal ketika fakultas dan jurusan itu baru tumbuh.


Saat Fakultas Adab belum dibuka secara penuh, kami bersama teman-teman satu angkatan sempat menjalani dua semester perkuliahan di Fakultas Dakwah. Setelah Fakultas Adab dibuka pada tahun berikutnya, kami melanjutkan perjalanan sebagai mahasiswa di sana.


Lima tahun bersama di kampus tentu melahirkan begitu banyak cerita.


Ada suka dan duka, perjuangan, persahabatan, tawa dan berbagai kenangan yang tidak mungkin seluruhnya dituliskan.


Setelah tamat, jalan kami berbeda. Saya hijrah ke Jakarta, sementara Pak Nas kembali ke Aceh Selatan, sebelum kemudian ia kembali ke Darussalam bergabung sebagai dosen fakultas adab IAIN Ar-Raniry pada tahun 1993.


Namun persahabatan itu tidak pernah benar-benar pergi.


Kami bahkan dipertemukan kembali oleh hubungan kekerabatan. Keluarga istri Pak Nas memiliki hubungan keluarga dengan keluarga istri saya. Abusyik istri saya, almarhum Yahya Warabo—ayahanda Prof. Mustanir, Guru Besar USK—dan ayah mertua Pak Nas, almarhum Zakaria Ali, berasal dari daerah dan garis keturunan yang sama di Montasik.


Jadi Pak Nas bagi saya adalah sahabat, rekan satu institusi sekaligus kerabat.


Senyum yang Akan Dirindukan


Ada orang yang meninggalkan jabatan.


Ada orang yang meninggalkan karya.


Tetapi ada pula orang yang meninggalkan kesan.


Pak Nas termasuk yang terakhir.


Ia orang yang ceria, mudah bergaul dan cepat akrab. Ia tidak membangun tembok antara dirinya dengan orang lain. Bertemu dengannya hampir selalu disambut senyum khasnya.


Dengan mahasiswa ia dekat. Ia aktif membina kegiatan kemahasiswaan, termasuk dalam gerakan Pramuka. Dengan sesama dosen pun ia mudah bergaul.


Tidak ada kesan angkuh.


Kalaupun tersinggung, mungkin sesaat ia menunjukkan ketidaksukaannya. Tetapi ia bukan tipe yang menyimpan dendam.


Dan satu hal yang saya kenang: Pak Nas suka memberi.


Kami sering minum bersama di kantin. Tidak jarang ketika selesai, Pak Nas langsung membayar semuanya.


Kalau ingin berbincang agak serius, kami makan siang bersama. Salah satu tempat yang sering kami datangi adalah warung gulai ikan dekat Sungai Lamnyong.


Pak Nas begitu akrab di sana sehingga pada awalnya saya sempat mengira warung itu miliknya.


Ternyata bukan.


Begitu akrabnya Pak Nas dengan pemilik warung dan orang-orang di sana.


Karena itu, sesekali saya menggoda, “Kapan makan gulai ikan lagi, Pak Nas?”

Ia menjawab, “Siap!”

Lalu kami tertawa.


Sekali waktu setelah shalat zuhur di Fathun Qarib pak Nas bilang, “kita makan yuk, saya niat mentraktir pak imam”. 

Saya bilang “ayo”. Kami jalan beriringan ke parkiran.


Pak Nas membuka pintu mobil dengan remot control dari jarak beberapa meter, yang terbuka inova rebond warna hitam. Oh mobil baru pikir saya.


Sambil memasang seat belt duduk di jok depan kiri saya bercanda “syukuran mobil baru rupanya”?.


Hehe Pak Nas tertawa kecil, khas beliau. “Mobil Pak Gub”, diparkir di rumah saya pakai sambil ngisi BBM”. 


Yang disebut Pak Gub oleh Pak Nas adalah Bapak Safrizal kala itu sedang menjabat Pj Gubernur Aceh, adik ipar beliau. 


“Oh saya duduk pada kursi Pak Gubernur donk?”, kata saya sambil mobil sudah jalan, mulai keluar area kampus UIN. 


“Bukan”, kata Pak Nas. “Itu kursi tempat duduk ajudan”.


Hahaha kami tertawa bersama dan ceria sepanjang jalan menuju warung tepi sungai Lamnyong.


Sederhana memang.


Tetapi justru kenangan-kenangan sederhana seperti itulah yang kelak paling mahal ketika seseorang sudah tidak ada.


Kita mungkin lupa apa yang pernah dibicarakan.


Tetapi kita tidak mudah lupa senyum seseorang, suaranya, cara ia menyapa, cara ia tertawa dan cara ia memperlakukan kita.


Itulah yang kini tertinggal dari Pak Nas.


Jabatan Berakhir, Jejak Tinggal


Prof. Mujib benar ketika menyebut Pak Nas meninggal dalam dedikasi jabatan.


Ia belum selesai menjalankan amanah ketika Allah menyelesaikan seluruh amanah dunianya.


Di sinilah kita diingatkan bahwa jabatan sebenarnya hanyalah persinggahan. Wakil Dekan I, Wakil Dekan III, dosen, pembina mahasiswa—semuanya memiliki masa.


Tetapi kebaikan yang dilakukan melalui jabatan dapat melampaui masa jabatan itu sendiri.


Jabatan selesai.

Kantor akan berganti penghuni.

Kursi akan diduduki orang lain.

Surat keputusan akan berganti nama.


Tetapi mahasiswa yang pernah dibina, sahabat yang pernah ditolong, orang yang pernah dibayari minum, dan keluarga yang pernah ditemani—mereka akan menyimpan cerita.


Mungkin itulah salah satu bentuk kehidupan kedua seseorang setelah kematiannya:


ia hidup dalam ingatan orang-orang yang pernah disentuh oleh kebaikannya.


Jangan Tunggu Siap untuk Mati


Kepergian Pak Nas membuat saya kembali merenungkan satu perkara yang sering kita hindari: kematian.


Kita sering mengatakan, “Nanti saja.”


Nanti bertobat.

Nanti memperbaiki diri.

Nanti memperbanyak amal.

Nanti meminta maaf.

Nanti bersedekah.

Nanti lebih dekat kepada Allah.


Masalahnya, kita tidak pernah tahu apakah masih ada nanti.


Pak Nas mungkin juga memiliki banyak rencana. Tetapi ketika panggilan itu datang, semua rencana dunia berhenti.


Karena itu, yang sesungguhnya harus kita persiapkan bukanlah kapan kematian datang, sebab itu bukan wilayah kita.


Yang harus kita persiapkan adalah bagaimana keadaan kita ketika kematian datang.


Sebab kematian tidak perlu meminta izin kepada usia.


Tidak perlu menunggu seseorang tua.


Tidak perlu menunggu semua pekerjaan selesai.


Tidak perlu menunggu semua cita-cita tercapai.


Ia hanya menunggu satu hal:

ketetapan Allah.


Pak Nas telah berangkat.


Kita yang masih duduk di sini sesungguhnya bukan orang-orang yang lolos dari kematian. Kita hanya orang-orang yang mendapat tambahan waktu.


Dan tambahan waktu itu bukan jaminan.


Ia adalah kesempatan.

Kesempatan untuk menjadi lebih baik. Kesempatan memperbaiki hubungan. Kesempatan memperbanyak amal. Kesempatan meminta maaf. Kesempatan berbuat baik.


Sampai suatu hari, kesempatan itu pun ditutup.


Selamat Jalan, Sahabat


Pak Nas, engkau telah lebih dahulu berangkat.


Kami masih di sini, meneruskan perjalanan yang entah sampai kapan.


Terima kasih untuk persahabatan sejak 1982. Terima kasih untuk senyum, tawa, obrolan, gulai ikan, canda, kebersamaan dan kebaikan-kebaikan kecil yang mungkin bagimu biasa, tetapi bagi kami kini menjadi kenangan yang luar biasa berharga.


Selamat jalan, sahabat.


Semoga perjalananmu panjang menuju akhirat menjadi perjalanan yang tenang.


Semoga Allah mengampuni segala khilafmu, menerima seluruh amal baikmu, melapangkan alam kuburmu, menerangi tempat peristirahatanmu, memberikan rahmat dan ridha-Nya, serta menempatkanmu bersama orang-orang saleh di dalam surga-Nya.


Kepada keluarga yang ditinggalkan, semoga Allah memberikan kesabaran dan keikhlasan.


Dan kepada kami yang masih diberi umur, semoga kepergianmu menjadi pelajaran yang tidak hanya membuat kami sedih sehari, tetapi membuat kami lebih siap menjalani sisa kehidupan.


Sebab pada akhirnya, kita semua sedang menempuh jalan yang sama.


Hanya waktunya yang berbeda.


Engkau telah lebih dahulu sampai di persimpangan itu.


Kami pun suatu hari akan menyusul.


Maka ketika saat itu tiba, semoga kita tidak menjadi orang yang berkata, “Mengapa terlalu cepat?”


Tetapi menjadi hamba yang mampu berkata:


“Ya Allah, jika ini waktuku, aku datang kepada-Mu. Sesungguhnya aku juga milik-Mu dan kepada-Mu aku akan kembali.”


Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

Selamat jalan, Pak Nas.

Al-Fatihah.


Wallahu a’lam 


Banda Aceh, 21 Rabiul Awal 1448, 3 September 2026


(Penulis, imam besar masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry)

×
Berita Terbaru Update