Oleh: Saifuddin A. Rasyid
Al-Rasyid.id | Ada satu ungkapan Kiai Hasan Abdullah Sahal, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, dalam pidatonya pada resepsi kesyukuran satu abad Gontor di hadapan Presiden Prabowo Subianto, Sabtu, 19 September 2026, yang menurut saya layak direnungkan lebih panjang: manajemen STIR—Sabar, Tawakal, Ikhlas, Ridha.
Ungkapan itu sederhana. Bahkan sangat sederhana. Tetapi justru di situlah kekuatannya.
Gontor telah melewati perjalanan satu abad. Pondok yang berdiri pada 20 September 1926 itu tidak sekadar bertahan melewati pergantian zaman, tetapi berkembang menjadi lembaga pendidikan yang melahirkan alumni di berbagai bidang pengabdian. Dalam pidatonya, Kiai Hasan juga menegaskan pilihan Gontor untuk tetap berada di jalur pendidikan dan membina umat serta bangsa.
Lalu apa yang membuat sebuah lembaga pendidikan dapat berjalan begitu panjang?
Jawabannya tentu tidak cukup dengan satu faktor. Ada wakaf, visi, sistem, kaderisasi, disiplin, pendidikan, kemandirian dan kerja keras. Namun STIR menawarkan satu perspektif menarik: bagaimana kemudi batin para pengelolanya ketika mengemudikan kendaraan besar bernama lembaga.
Pemimpin adalah sopir
Kiai Hasan secara metaforis berbicara tentang sopir yang harus memperhatikan stir ketika mengemudikan kendaraan.
Sopir tentu bukan hanya orang yang duduk di belakang kemudi mobil.
Dalam kehidupan organisasi, sopir itu bisa berarti manajer. Bisa pemimpin perusahaan. Bisa rektor, kepala sekolah, pimpinan pesantren, ketua organisasi, pemimpin masyarakat, bahkan pemimpin bangsa.
Sebab sebuah organisasi tanpa kemudi akan bergerak tanpa arah.
Mobil boleh bagus. Mesin boleh besar. Bahan bakar boleh penuh. Penumpang boleh banyak. Tetapi jika kemudi tidak berada di tangan orang yang mampu mengendalikan arah, kendaraan justru dapat membahayakan seluruh penumpangnya.
Begitu pula kepemimpinan.
Ilmu manajemen modern banyak berbicara tentang efektivitas, visi, strategi, eksekusi, kredibilitas dan kemampuan membangun kepercayaan. Peter Drucker, misalnya, membedakan efektivitas dari sekadar efisiensi: yang penting bukan hanya melakukan sesuatu dengan benar, tetapi memastikan bahwa yang dilakukan memang merupakan hal yang benar.
Kouzes dan Posner dalam kajian mereka tentang kepemimpinan juga menempatkan kredibilitas sebagai fondasi penting hubungan antara pemimpin dan orang yang dipimpin. Penelitian mereka mengaitkan kredibilitas dengan kepercayaan, keahlian dan kualitas kepemimpinan yang diwujudkan melalui tindakan.
Menariknya, STIR membawa pembicaraan tentang kepemimpinan itu lebih jauh: bukan hanya bagaimana pemimpin mengelola orang lain, tetapi bagaimana ia mengelola dirinya sendiri.
Di sinilah kemudi itu berada.
S pertama: Sabar
Sabar bukan pasif. Sabar adalah kemampuan mengendalikan diri agar tidak mengambil keputusan secara tergesa-gesa ketika menghadapi tekanan.
Al-Qur’an menegaskan:
“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Baqarah: 153)
Dalam kepemimpinan, kesabaran merupakan modal menghadapi proses panjang.
Membangun universitas tidak sehari. Membangun pesantren tidak semusim. Membangun peradaban bahkan tidak selesai dalam satu periode kepemimpinan.
Para pendiri Gontor memulai dari keadaan yang jauh dari gambaran Gontor hari ini. Tetapi mereka sabar membangun sistem, mendidik kader dan menanamkan nilai. Seratus tahun kemudian, generasi berikutnya memanen sebagian dari apa yang ditanam generasi sebelumnya.
Sabar berarti pemimpin mampu melihat jarak antara menanam dan memanen.
Pemimpin yang tidak sabar mudah mengganti arah hanya karena hasil belum terlihat. Hari ini ingin pendidikan, besok ingin bisnis, lusa ingin popularitas. Organisasi akhirnya kehilangan identitas.
Sabar membuat pemimpin bertahan pada nilai, sambil tetap terbuka melakukan perbaikan strategi.
T kedua: Tawakal
Setelah ikhtiar dilakukan secara maksimal, seorang pemimpin tidak boleh merasa dirinya sebagai penguasa mutlak atas hasil.
Al-Qur’an berpesan:
“Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.”
(QS. Ali Imran: 159)
Tawakal bukan alasan untuk malas. Justru ayat itu meletakkan tawakal setelah musyawarah dan tekad.
Inilah prinsip manajemen yang sangat sehat: rencanakan dengan sungguh-sungguh, kerjakan dengan serius, evaluasi dengan jujur, kemudian serahkan hasil akhirnya kepada Allah.
Seorang pemimpin yang bertawakal tidak mudah sombong ketika berhasil dan tidak mudah hancur ketika gagal.
Ia tahu bahwa manusia bertugas mengemudikan kendaraan dengan sebaik-baiknya, tetapi tidak menguasai seluruh jalan yang akan dilaluinya.
Di sinilah tawakal menjadi penawar bagi penyakit kepemimpinan: merasa semua keberhasilan berasal dari dirinya.
I ketiga: Ikhlas
Inilah mungkin bahan bakar paling penting dari STIR.
Ikhlas berarti pekerjaan dilakukan karena Allah, bukan semata-mata karena ingin dipuji manusia.
Al-Qur’an menyebut:
“Padahal mereka hanya diperintah untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya…”
(QS. Al-Bayyinah: 5)
Nabi Muhammad SAW juga bersabda:
“Sesungguhnya amal-amal itu tergantung niatnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Kiai Hasan dalam pidatonya mengingatkan bahwa para pendiri Gontor telah mewakafkan ide, nilai, sistem, lembaga dan cinta kepada pondok serta bangsa.
Kata mewakafkan mengandung pesan yang dalam.
Wakaf berarti memberikan sesuatu untuk kebermanfaatan yang lebih panjang daripada usia pemberinya.
Ikhlas membuat seorang pemimpin tidak terlalu sibuk bertanya, “Apa yang saya dapat?”
Ia lebih sibuk bertanya:
“Apa yang bisa saya tinggalkan?”
Inilah yang membedakan kepemimpinan yang mengejar jabatan dengan kepemimpinan yang membangun legasi.
R keempat: Ridha
Ridha bukan berarti menerima keadaan tanpa usaha. Ridha adalah lapang dada terhadap ketetapan Allah setelah manusia menjalankan kewajibannya.
Al-Qur’an menggambarkan jiwa yang tenang:
“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai.”
(QS. Al-Fajr: 27–28)
Dalam perjalanan organisasi, tidak semua keputusan menghasilkan tepuk tangan. Tidak semua ikhtiar berbuah seperti yang direncanakan. Tidak semua orang memahami niat baik seorang pemimpin.
Di sinilah ridha diperlukan.
Ridha membuat pemimpin tidak menjadi tawanan pujian dan tidak pula menjadi korban cercaan.
Ia tetap bekerja karena orientasinya lebih tinggi daripada penilaian manusia.
Jika sabar mengajarkan kita bertahan, tawakal mengajarkan berserah, ikhlas mengajarkan meluruskan niat, maka ridha mengajarkan menerima hasil dengan lapang dada.
Keempatnya menjadi satu kesatuan.
STIR bukan pengganti ilmu manajemen
Tentu STIR tidak dimaksudkan menggantikan perencanaan strategis, tata kelola, audit, pengukuran kinerja, inovasi, teknologi atau profesionalisme.
Justru STIR memberi kompas moral dan spiritual bagi semua itu.
Manajemen membutuhkan ilmu.
Kepemimpinan membutuhkan kompetensi.
Organisasi membutuhkan sistem.
Tetapi semuanya membutuhkan karakter manusia yang menjalankannya.
Kouzes dan Posner menemukan hubungan antara kredibilitas pemimpin dengan praktik seperti menjadi teladan, menginspirasi visi bersama, memberdayakan orang lain dan mendorong perubahan.
Maka seorang pemimpin tidak cukup hanya pandai membuat road map. Ia harus menjadi bagian dari perjalanan itu sendiri.
Tidak cukup pintar berbicara tentang integritas. Ia harus menjadi contoh integritas.
Tidak cukup mengajak orang bekerja keras. Ia harus menunjukkan kesungguhan.
Tidak cukup berbicara tentang pengabdian. Ia harus memperlihatkan bahwa dirinya juga bersedia berkorban.
Kemudi kepemimpinan paling kuat sebenarnya adalah keteladanan.
Indonesia menuju 2045
Ada sebuah kebetulan sejarah yang menarik.
Gontor memasuki usia satu abad pada 2026.
Indonesia akan memasuki usia satu abad kemerdekaan pada 2045.
Rentang waktu itu memberi kita kesempatan untuk belajar.
Jika sebuah lembaga pendidikan mampu merawat nilai, sistem, kaderisasi dan pengabdian selama seratus tahun, pertanyaannya kemudian bukan hanya: apa rahasia Gontor bisa sampai satu abad?
Tetapi:
Nilai apa yang dapat dipelajari Indonesia untuk menapaki abad keduanya?
Kita tentu tidak sedang mengatakan bahwa negara harus dikelola seperti pesantren. Negara mempunyai sistem, konstitusi, institusi dan masyarakat yang jauh lebih kompleks.
Namun prinsip moral kepemimpinan dapat dipetik dari mana saja.
Indonesia membutuhkan pemimpin yang sabar membangun, bukan hanya cepat mengumumkan.
Pemimpin yang bertawakal setelah bekerja, bukan bertawakal sebelum bekerja.
Pemimpin yang ikhlas mengabdi, bukan menjadikan jabatan sebagai kendaraan kepentingan pribadi.
Dan pemimpin yang ridha menerima hasil setelah menjalankan amanah, bukan terus mempertahankan ego ketika keadaan tidak sesuai harapan.
Pada saat yang sama, STIR juga harus berjalan bersama ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi, ekonomi, pendidikan berkualitas, penegakan hukum dan tata kelola pemerintahan yang baik.
Sebab doa tanpa ikhtiar tidak cukup.
Ikhtiar tanpa nilai juga dapat kehilangan arah.
Dari Gontor untuk Indonesia
Gontor pada satu abadnya sedang memperlihatkan bahwa pendidikan adalah investasi peradaban.
Kiai Hasan dalam pidatonya menegaskan bahwa Gontor memilih pendidikan. Para alumninya kemudian hadir di berbagai bidang, termasuk eksekutif, legislatif, yudikatif dan ruang-ruang pengabdian lainnya.
Itulah kekuatan pendidikan.
Ia tidak selalu langsung terlihat.
Tetapi ketika nilai yang ditanamkan tumbuh menjadi manusia, manusia itu kemudian mengisi berbagai ruang kehidupan.
Karena itu, menuju Indonesia Emas 2045, mungkin kita perlu bertanya ulang tentang siapa yang memegang kemudi.
Mesinnya boleh semakin canggih. Jalannya boleh semakin lebar. Teknologinya boleh semakin pintar. Tetapi kemudi tetap berada di tangan manusia.
Dan manusia yang memegang kemudi itu membutuhkan nilai.
Maka STIR menjadi relevan:
Sabar dalam proses.
Tawakal setelah ikhtiar.
Ikhlas dalam pengabdian.
Ridha menerima ketetapan Allah.
Jika nilai-nilai itu bertemu dengan ilmu, profesionalisme, sistem yang sehat, kaderisasi dan visi kebangsaan, bukan mustahil perjalanan panjang menuju 2045 akan menemukan energi baru.
Kita ingin Indonesia bukan sekadar menjadi negara besar secara angka, tetapi juga bangsa besar secara akhlak, ilmu, kesejahteraan dan peradaban.
Dalam bahasa Al-Qur’an, kita tentu mendambakan masyarakat yang mendekati gambaran baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur—negeri yang baik dan mendapat ampunan Allah (QS. Saba’: 15).
Gontor telah menunjukkan bahwa satu abad bukan sekadar hitungan umur.
Satu abad adalah bukti bahwa nilai yang dijaga dapat mengalahkan usia.
Kini Indonesia sedang menuju satu abad kemerdekaannya.
Maka pertanyaan besarnya adalah: siapa yang memegang STIR perjalanan bangsa ini, dan ke mana kendaraan besar Indonesia hendak diarahkan?
Jangan sampai kita sibuk memperbesar mesin, tetapi lupa merawat kemudi.
Sebab pada akhirnya, mesin menentukan tenaga, tetapi stir menentukan arah.
Dan bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang mampu melaju cepat, melainkan bangsa yang tahu ke mana ia harus menuju.
Semoga spirit satu abad Gontor menjadi salah satu cermin bagi Indonesia dalam menjemput 2045: berilmu, berkarakter, bekerja keras, menjaga amanah, dan selalu menggantungkan hasil akhir kepada Allah SWT.
STIR boleh sederhana, tetapi jika dipegang oleh tangan yang amanah, ia dapat mengarahkan perjalanan yang panjang menuju keberkahan.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Gampong Reuloh Aceh Besar, 15 Rabiul Akhir 1448, 26 September 2026
(Penulis, Tgk Imum Meunasah Gampong Barabung, Imumsyik masjid jamik Baitul Jannah Kemukiman Tungkop Darussalam Aceh Besar)
_Foto: saat saya menghadiri undangan maulid Nabi saw di dayah Bustanul Aulia di Gampong Reuloh Aceh Besar, Sabtu 26 September 2026, dari kanan; Abon Basri (pimpinan dayah Bustanul Aulia), penulis, Tgk Muzammil, dan Tgk Hidayatullah_
