Al-Rasyid.id | BANDA ACEH — Ada orang yang mengejar nama agar dikenang manusia. Namun, ada pula manusia yang namanya diabadikan Allah karena ketakwaan, kesucian jiwa, pengabdian, dan akhlaknya. Maryam adalah salah satu di antaranya.
Pesan tersebut disampaikan akademisi Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (FUF) UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Prof Fauzi Saleh, dalam tausiyah Subuh BBC di Masjid Jamik Al-Wustha, Gampong Jeulingke, Banda Aceh, Ahad (27/9/2026), bertepatan 16 Rabiul Akhir 1448 H.
Prof Fauzi mengajak jamaah merenungkan bagaimana Alquran mengabadikan nama orang-orang pilihan Allah, di antaranya Nabi Zakaria dan Maryam. Mereka telah lama meninggalkan dunia, tetapi nama dan keteladanannya tetap hidup di tengah umat.
“Orang-orang hebat seperti Zakaria dan Maryam sudah tiada, tetapi namanya abadi di tengah-tengah kita,” ujar Prof Fauzi.
Menurutnya, Maryam merupakan perempuan pilihan Allah yang dapat menjadi referensi qudwah atau keteladanan hidup, terutama dalam hal pengabdian, kesucian jiwa, ketundukan, dan akhlak.
Kisah Maryam bahkan menjadi bagian penting dalam perjalanan Nabi Zakaria. Ketika Zakaria berada di tempat ibadah Maryam, ia mendapati rezeki yang diberikan Allah kepadanya. Peristiwa itu menjadi gambaran bahwa kedekatan seorang hamba dengan Allah dapat menghadirkan pertolongan dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.
Prof Fauzi berharap nilai-nilai keteladanan Maryam juga tumbuh di tengah keluarga Muslim masa kini.
“Harapan kita akan banyak Maryam di tengah keluarga kita saat ini. Maryam akhlaknya,” katanya.
Takwa, Rezeki, dan Ketenangan
Prof Fauzi menjelaskan, kedekatan seorang hamba dengan Allah melalui ketakwaan akan melahirkan banyak kebaikan. Kedekatan itu menjadi jalan datangnya rezeki, jalan keluar dari persoalan, kebahagiaan, dan ketenangan hidup.
Ia mengingatkan, ukuran kebahagiaan seorang Muslim tidak semata-mata diukur dari kesenangan duniawi.
Puncak kebahagiaan di dunia, katanya, dapat dirasakan melalui tangisan seorang hamba karena takut, cinta, dan dekat kepada Allah. Sementara puncak kebahagiaan di akhirat adalah ketika seorang hamba memperoleh keselamatan sehingga dapat tertawa dalam kebahagiaan.
“Rasulullah meminta kita banyak menangis, jangan banyak tertawa,” ujarnya.
Maryam dan Asiah, lanjutnya, merupakan contoh perempuan hebat yang meninggalkan keteladanan bagi umat. Dari sinilah Prof Fauzi mengingatkan pentingnya hubungan yang baik dengan ibu dan keluarga.
“Hubungan kita dengan ibu adalah hubungan yang hebat,” katanya.
Akhlak yang Mengubah Hati
Prof Fauzi menegaskan bahwa baik atau tidaknya seseorang sangat berkaitan dengan akhlaknya.
“Baiknya seseorang memang karena akhlaknya,” tegasnya.
Ia kemudian mencontohkan akhlak Rasulullah SAW yang memiliki pengaruh besar terhadap orang-orang di sekitarnya. Kemuliaan akhlak Nabi bahkan mampu menggugah hati seseorang yang pernah berbuat buruk kepada beliau.
Prof Fauzi menyebut Suraqah sebagai salah satu contoh. Ia digambarkan selalu menangis ketika mengingat perbuatannya kepada Rasulullah SAW yang memiliki akhlak mulia.
Karena itu, Prof Fauzi mengingatkan bahwa takwa dan akhlak merupakan bekal penting bagi seorang Muslim untuk meraih kehidupan akhirat.
“Yang banyak memasukkan orang ke dalam syurga adalah takwa dan akhlaknya,” katanya.
Ia pun mengajak jamaah menjadikan keluarga sebagai tempat pertama untuk menumbuhkan akhlak.
“Hiasilah rumah dan keluarga kita dengan akhlak yang mulia,” pesannya.
Maryam dan Perintah Bersujud
Prof Fauzi mengingatkan kembali kedudukan Maryam sebagai perempuan pilihan Allah sekaligus ibu Nabi Isa AS, yang dalam Alquran disebut Isa Ibnu Maryam.
Allah kemudian memerintahkan Maryam untuk tunduk, sujud, dan beribadah kepada-Nya. Perintah tersebut, menurut Prof Fauzi, mengandung pelajaran penting bagi manusia.
Ketika seseorang menyadari begitu banyak kasih sayang dan nikmat Allah dalam hidupnya, maka respons yang seharusnya muncul adalah ketundukan dan ketaatan.
“Ketika kita menyadari banyak kasih sayang dan nikmat Allah kepada kita, maka penuhilah panggilan Allah untuk tunduk dan beribadah,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan jamaah agar berhati-hati dengan kebiasaan yang dibangun sepanjang hidup. Sebab, kebiasaan yang terus dilakukan dapat membentuk akhir perjalanan seseorang.
“Berhati-hatilah dengan kebiasaan dalam hidup kita karena dengan kebiasaan itu kita akan mati,” katanya.
Indahnya Mati dalam Sujud
Dalam konteks masjid sebagai tempat bersujud, Prof Fauzi mengajak jamaah membangun tekad untuk menjadikan sujud sebagai bagian penting dari kehidupan.
Menurutnya, masjid bukan sekadar bangunan tempat berkumpul, tetapi tempat seorang hamba menundukkan dirinya di hadapan Allah.
“Betapa indahnya bila kita dapat meninggal dalam sujud dan saat tahajud,” katanya.
Maryam juga diperintahkan Allah untuk rukuk. Rukuk dan sujud menjadi simbol ketundukan dan ketaatan seorang hamba kepada Allah.
Karena itu, Prof Fauzi mengingatkan jamaah untuk memperhatikan kualitas shalat. Shalat menjadi indikator utama keberadaan seorang Muslim dalam kehidupan sekaligus amal yang akan mendapat balasan dari Allah.
Dari kisah Maryam, Prof Fauzi mengajak jamaah tidak sekadar mengejar agar nama dikenang, tetapi membangun kehidupan yang layak dikenang karena akhlak dan pengabdiannya.
Sebab, nama Maryam tetap disebut hingga hari ini bukan karena ia mengejar popularitas, melainkan karena Allah mengabadikan ketakwaan, kesucian, ketaatan, dan keteladanannya dalam Alquran.
Laporan Saif
