-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tausiyah di Fathun Qarib, Prof Azharsyah: Jabatan Bukan Sekadar Kehormatan, tetapi Amanah yang Harus Dipertanggungjawabkan

Selasa, 29 September 2026 | September 29, 2026 WIB Last Updated 2026-09-30T06:27:18Z


Al-Rasyid.id | BANDA ACEH – Jabatan bukan sekadar kehormatan atau posisi yang memberikan kewenangan, melainkan amanah yang harus dijaga dan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.


Pesan tersebut disampaikan Prof Azharsyah dalam tausiyah Zuhur di Masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Rabu (30/9/2026), bertepatan 19 Rabiul Akhir 1448 Hijriah.


Tausiyah bertema “Amanah dan Kompetensi dalam Jabatan” itu disampaikan dalam momentum suksesi kepemimpinan UIN Ar-Raniry dari periode 2020–2026 menuju periode 2026–2030.


Menurut Prof Azharsyah, pergantian kepemimpinan tidak semata-mata berarti pergantian orang ataupun posisi, tetapi lebih jauh merupakan pergantian amanah.


Karena itu, kata dia, momentum tersebut penting menjadi bahan refleksi bersama tentang bagaimana Islam memandang seseorang yang memperoleh, bahkan menawarkan diri untuk menduduki sebuah jabatan.


Ia kemudian mengangkat dua kisah dalam sejarah Islam yang sekilas tampak berbeda, yakni Nabi Yusuf AS yang meminta suatu jabatan dan Abu Dzar RA yang juga meminta jabatan tetapi permintaannya tidak dikabulkan Rasulullah SAW.


“Sesungguhnya persoalannya bukan semata-mata apakah seseorang boleh meminta jabatan atau tidak. Yang lebih penting adalah dalam kondisi seperti apa seseorang layak menawarkan diri dan dalam kondisi seperti apa seseorang justru seharusnya tidak meminta jabatan tersebut,” ujarnya.


Prof Azharsyah kemudian mengutip firman Allah dalam Surah Yusuf ayat 55:


قَالَ اجْعَلْنِي عَلَىٰ خَزَائِنِ الْأَرْضِ ۖ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ


“Jadikanlah aku bendaharawan negeri (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan.”


Menurutnya, terdapat dua kata penting dalam ayat tersebut yang sangat relevan dengan kepemimpinan, yaitu hafizh dan ‘alim.


Hafizh: Kemampuan Menjaga Amanah


Prof Azharsyah menjelaskan, kata hafizh berkaitan dengan makna menjaga, memelihara dan melindungi sesuatu agar tetap berada pada tempat serta tujuan yang semestinya.


Dalam konteks jabatan, hafizh dapat dimaknai sebagai kemampuan seseorang menjaga amanah yang dipercayakan kepadanya.


“Jadi ketika seseorang menduduki sebuah jabatan, persoalannya bukan bahwa ia sekarang memiliki kekuasaan atau kewenangan lebih besar. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah apakah ia mampu menjaga amanah yang melekat pada jabatan tersebut,” katanya.


Seorang pemimpin, lanjutnya, harus mampu menjaga harta dan aset yang dipercayakan kepadanya, hak-hak orang lain, keadilan, aturan, serta kepercayaan publik.


Tidak kalah penting, pemimpin harus menjaga agar tujuan organisasi yang dipimpinnya dapat tercapai.


Sebab, menurut Prof Azharsyah, setiap keputusan pemimpin tidak berhenti pada dirinya sendiri. Keputusan tersebut dapat menjadi kebijakan dan kebijakan akan memberikan dampak kepada banyak orang.


Karena itu, integritas menjadi fondasi utama dalam menjalankan jabatan.


Orang yang memiliki amanah, katanya, akan selalu menyadari bahwa Allah SWT mengawasi setiap keputusan yang dibuatnya. Seseorang mungkin dapat luput dari pengawasan manusia, tetapi tidak pernah luput dari pengawasan Allah SWT.


“Jabatan bukan hanya tentang apa yang bisa kita dapatkan dari sebuah posisi. Jabatan adalah tentang apa yang harus kita jaga dan apa yang harus kita pertanggungjawabkan,” tegasnya.


‘Alim: Jabatan Juga Membutuhkan Kompetensi


Selain integritas, Prof Azharsyah menekankan pentingnya kompetensi. Hal itu tercermin dari kata ‘alim dalam ayat yang menggambarkan permintaan Nabi Yusuf AS.


Menurutnya, integritas saja belum cukup untuk menjadi seorang pemimpin. Seseorang dapat memiliki pribadi yang baik, jujur, saleh dan memiliki niat yang tulus, tetapi kebaikan pribadi tidak otomatis membuat seseorang mampu memimpin semua jenis organisasi.


“Sebab memimpin membutuhkan kompetensi,” katanya.


Ia menjadikan kisah Abu Dzar RA sebagai salah satu pelajaran bahwa tidak semua orang baik cocok untuk semua jenis jabatan.


Dari sini, menurutnya, terdapat pelajaran penting bahwa tidak semua orang yang baik cocok untuk semua posisi dan tidak semua orang yang pintar cocok untuk semua jabatan.


Setiap jabatan memiliki karakteristik dan tuntutan kompetensi yang berbeda.


Seseorang bisa saja memiliki kemampuan akademik yang tinggi, tetapi belum tentu memiliki kemampuan manajerial. Demikian pula seseorang yang unggul dalam penelitian belum tentu memiliki kemampuan mengelola organisasi.


Sebaliknya, seseorang yang tidak terlalu menonjol dalam bidang tertentu bisa saja memiliki kemampuan kuat dalam memimpin, mengorganisasi, mengambil keputusan dan mengeksekusi kebijakan.


Karena itu, dalam memilih seseorang untuk sebuah jabatan, pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya “Apakah orang ini baik?”, tetapi juga “Apakah orang ini kompeten untuk jabatan tersebut?”


The Right Person in the Right Position


Prof Azharsyah menyebut prinsip manajemen modern the right person in the right position atau menempatkan orang yang tepat pada posisi yang tepat, memiliki relevansi dengan prinsip kepemimpinan dalam Islam.


Artinya, seseorang idealnya ditempatkan sesuai karakter, kapasitas, pengalaman dan kompetensi yang dimilikinya.


Ia menyebut sedikitnya terdapat sejumlah unsur kompetensi yang penting bagi seorang pemimpin, yakni knowledge, skill, experience, judgment, decision making, dan execution.


Knowledge berarti pengetahuan yang memadai tentang bidang yang dipimpinnya. Skill merupakan keterampilan yang relevan dengan tugas. Experience membantu seseorang memahami persoalan secara lebih matang.


Sementara judgment berkaitan dengan kemampuan membaca situasi dan mengambil keputusan secara tepat. Decision making menyangkut keberanian mengambil keputusan, terutama dalam situasi sulit dan penuh ketidakpastian.


Adapun execution merupakan kemampuan menerjemahkan gagasan menjadi tindakan nyata.


“Kadang-kadang kita menemukan orang yang sangat bagus berbicara. Retorikanya luar biasa, gagasannya sangat menarik, konsepnya sangat bagus. Tetapi ketika sampai pada tahap pelaksanaan, ternyata tidak berjalan sebagaimana yang direncanakan,” ujarnya.


Karena itu, pemimpin tidak cukup hanya memiliki kemampuan berbicara dan menyusun gagasan, tetapi juga harus mampu mengeksekusi gagasan tersebut menjadi kenyataan.


Integritas dan Kompetensi Harus Berjalan Bersama


Di akhir tausiyahnya, Prof Azharsyah kembali menegaskan bahwa jabatan harus dipandang sebagai amanah, bukan semata-mata kehormatan.


Semakin tinggi jabatan seseorang, semakin besar amanah yang berada di pundaknya. Demikian pula semakin besar kewenangan yang diberikan, semakin besar pula pertanggungjawabannya di hadapan Allah SWT.


Karena itu, ketika seseorang memperoleh amanah jabatan, yang semestinya pertama kali muncul bukan sekadar rasa bangga karena memiliki posisi, tetapi kesadaran tentang apa yang harus dipertanggungjawabkan dari jabatan tersebut.


“Apa yang harus saya jaga? Siapa saja yang akan terdampak oleh keputusan saya? Apakah kewenangan yang diberikan kepada saya digunakan untuk kepentingan yang benar? Apakah saya mampu menjaga kepercayaan orang lain?” tuturnya.


Prof Azharsyah mengajak jamaah menjadikan momentum pergantian kepemimpinan sebagai ruang untuk memperkuat kesadaran tentang amanah.


Bagi mereka yang menerima amanah jabatan, ia mendoakan agar Allah memberikan kekuatan untuk menjaganya. Bagi mereka yang diberi kesempatan memimpin, semoga Allah memberikan integritas sekaligus kompetensi.


Sementara bagi setiap orang, ia mengingatkan bahwa masing-masing memiliki amanah, baik yang tampak besar maupun kecil di mata manusia.


“Di hadapan Allah, yang menjadi ukuran bukan semata-mata besar kecilnya jabatan, melainkan sejauh mana amanah tersebut ditunaikan dengan benar,” katanya.


Ia kemudian mengajak jamaah menjadi pribadi yang hafizh, yakni mampu menjaga amanah, sekaligus ‘alim, yakni memiliki pengetahuan dan kompetensi untuk menjalankan amanah tersebut.


“Sebab integritas tanpa kompetensi dapat membuat seseorang tidak mampu menjalankan amanah, sementara kompetensi tanpa integritas dapat membuat amanah disalahgunakan,” pungkasnya.


Prof Azharsyah menutup tausiyah dengan doa agar Allah SWT memberikan kekuatan, keikhlasan dan pertanggungjawaban yang baik kepada setiap orang dalam menjalankan amanah yang dipercayakan kepadanya.


Laporan Saif

×
Berita Terbaru Update