Oleh: Saifuddin A. Rasyid
Al-Rasyid.id | Jabatan sering dipandang sebagai kedudukan dengan kewenangan, fasilitas, dan ruang untuk mengambil keputusan. Namun, dalam perspektif iman, jabatan adalah kemuliaan yang datang bersama amanah.
Refleksi ini berangkat dari tausiah Prof. Azharsyah, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Ar-Raniry Banda Aceh, dalam tausiah Zuhur di Masjid Fathun Qarib, Rabu, 30 September 2026. Beliau menyampaikan bahwa penerima jabatan idealnya memiliki dua hal: kemampuan menjaga amanah dan pengetahuan yang memadai. Dalam bahasa Al-Qur’an, keduanya dapat dirangkum dalam konsep ḥāfiẓ dan ‘ālim.
Seorang pemimpin tidak cukup hanya memiliki keinginan untuk memimpin. Ia harus mampu menjaga institusi, memahami persoalan, mengambil keputusan, dan membaca keadaan. Karena itu, kepemimpinan membutuhkan pertemuan antara integritas dan kompetensi.
Kemuliaan karena Dipilih
Jabatan merupakan kemuliaan karena seseorang dipercaya menjalankan tanggung jawab tertentu. Allah berfirman:
“Katakanlah: Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki …”
(QS Ali ‘Imran [3]: 26).
Ayat ini mengajarkan bahwa kekuasaan dan kedudukan pada akhirnya berada dalam kehendak Allah. Manusia berikhtiar, bermusyawarah, menilai, memilih, dan menetapkan, tetapi di atas semua itu terdapat irādah dan qudrah Allah.
Seseorang tidak tiba-tiba menjadi pemimpin. Ada pendidikan, pembentukan karakter, pengalaman, pengabdian, ujian, dan kepercayaan yang mendahuluinya. Karena itu, jabatan seharusnya tidak membuat seseorang merasa lebih tinggi, melainkan semakin sadar bahwa ia sedang diuji melalui kepercayaan tersebut.
Ḥāfiẓ dan ‘Ālim
Al-Qur’an memberi pelajaran melalui kisah Nabi Yusuf a.s. Ketika menawarkan diri mengelola perbendaharaan negeri, beliau berkata:
“Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan.”
(QS Yusuf [12]: 55).
Ayat ini menunjukkan dua fondasi kepemimpinan: kemampuan menjaga dan pengetahuan tentang apa yang dijaga.
Ḥāfiẓ berarti mampu menjaga amanah, institusi, kepercayaan, aturan, marwah, dan kepentingan orang banyak. Sementara ‘ālim menunjukkan pengetahuan dan kompetensi untuk memahami persoalan, menguasai bidang yang dipimpin, mengambil keputusan, dan mengelola tanggung jawab.
Gagasan ini sejalan dengan pemikiran Peter Drucker bahwa efektivitas pemimpin bergantung pada kemampuannya menetapkan prioritas dan bekerja untuk mencapai tujuan organisasi. Literatur kepemimpinan modern juga menempatkan integritas, pengetahuan, komunikasi, kemampuan mengambil keputusan, dan pengalaman sebagai unsur penting.
Pemimpin tidak cukup hanya baik; ia harus mampu. Namun, kemampuan tanpa integritas dapat berbahaya. Ḥāfiẓ tanpa ‘ālim mungkin membuat seseorang amanah tetapi kurang cakap, sedangkan ‘ālim tanpa ḥāfiẓ dapat membuat seseorang cerdas tetapi tidak dapat dipercaya. Keduanya harus berjalan bersama.
Setelah Jabatan: Pertanggungjawaban
Rasulullah saw. bersabda:
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
(HR al-Bukhari dan Muslim).
Hadis ini memperluas makna kepemimpinan. Pemimpin bukan hanya rektor, dekan, kepala lembaga, direktur, gubernur, atau pejabat negara. Setiap manusia memiliki wilayah tanggung jawab dan akan dimintai pertanggungjawaban.
Karena itu, jabatan bukan sekadar surat keputusan atau kedudukan administratif. Ia adalah kesempatan untuk menghadirkan manfaat yang lebih luas sekaligus tanggung jawab atas setiap kewenangan yang digunakan.
Jangan Takut Jabatan, Takutlah Menyia-nyiakannya
Seseorang boleh bersyukur ketika memperoleh jabatan, tetapi tidak boleh mabuk oleh jabatan. Allah yang memberikan juga berkuasa mencabutnya. QS Ali ‘Imran [3]: 26 mengingatkan bahwa kekuasaan memiliki batas dan masa.
Jabatan ada waktunya, tetapi jejak kebaikan dapat bertahan lebih lama. Karena itu, kehilangan jabatan tidak berarti kehilangan kemuliaan. Ukuran kemuliaan seorang pejabat bukan hanya bagaimana ia naik, melainkan bagaimana ia menjalani dan bagaimana ia turun.
Pemimpin Tidak Dibentuk Sehari
Bagi generasi muda, kepemimpinan harus dipersiapkan sejak dini. Jabatan boleh menjadi cita-cita, tetapi kompetensi harus menjadi persiapan dan integritas harus dibangun sejak sekarang.
Pelajar dan mahasiswa perlu memperluas pengetahuan, membangun keterampilan, memperbanyak pengalaman, melatih komunikasi, belajar mengambil keputusan, memahami organisasi, bekerja sama, dan menjaga hubungan dengan Allah.
Suatu hari mungkin datang kepercayaan yang tidak pernah diminta. Ketika saat itu tiba, kemampuan seharusnya telah dipersiapkan. Inilah makna ḥāfiẓ dan ‘ālim: memiliki integritas untuk menjaga dan kompetensi untuk mengelola.
Jabatan sebagai Jalan Pengabdian
Tausiah Prof. Azharsyah mengingatkan bahwa kepemimpinan tidak dimulai ketika seseorang duduk di kursi pimpinan. Ia dimulai jauh sebelumnya, melalui kejujuran, disiplin, tanggung jawab, ilmu, keterampilan, dan kepercayaan.
Jabatan adalah kemuliaan karena merupakan kepercayaan. Jabatan membutuhkan ḥāfiẓ karena harus dijaga dan ‘ālim karena harus dikelola dengan pengetahuan serta kompetensi.
Yang paling penting, jabatan harus menjadi jalan pengabdian, bukan sekadar jalan memperoleh kedudukan. Jika dijalankan dengan kesadaran itu, seseorang tidak akan dibesarkan oleh kursi; justru ia yang akan membesarkan makna kursi melalui kerja dan keteladanan.
Ketika jabatan datang, kita bersyukur. Ketika amanah dijalankan, kita bekerja sungguh-sungguh. Ketika jabatan diambil kembali, kita tetap tegak karena menyadari bahwa yang kita miliki sejak awal bukanlah jabatan, melainkan amanah dari Allah.
Semoga setiap pemimpin diberi kekuatan untuk menjadi ḥāfiẓ yang amanah dan ‘ālim yang kompeten, sehingga kemuliaan jabatan benar-benar menjelma menjadi kemuliaan pengabdian.
Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb.
Daussalam 19 Rabiul Akhir 1448, 30 September 2026
(Penulis, imam besar masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry Banda Aceh)
