-->

Notification

×

Iklan

Iklan

BENTENGI TAMAN KELUARGA

Jumat, 09 Oktober 2026 | Oktober 09, 2026 WIB Last Updated 2026-10-10T00:26:06Z


Merawat Generasi, Menjaga Kepercayaan Allah


Oleh: Saifuddin A. Rasyid

Al-Rasyid.id | Ada sebuah taman yang paling dekat dengan kehidupan kita, tetapi terkadang justru paling kurang kita rawat. Taman itu bukan taman di halaman rumah, bukan pula taman yang ditumbuhi bunga-bunga indah untuk dinikmati mata. Taman itu adalah keluarga: tempat anak-anak tumbuh, kasih sayang bersemi, karakter dibentuk, dan nilai-nilai kehidupan diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.


Di taman keluarga itulah seorang ayah, seorang ibu, dan anak-anak seharusnya saling menebarkan benih kasih sayang, menyiramnya dengan perhatian, memupuknya dengan keteladanan, serta melindunginya dari hama yang dapat merusak pertumbuhan. Jika dirawat dengan baik, keluarga akan menjadi tempat yang menenteramkan, sumber inspirasi ibadah, dan ruang pertama bagi lahirnya generasi yang beriman, berilmu, serta berakhlak mulia.


Namun, taman keluarga tidak selalu tumbuh dalam cuaca yang bersahabat. Ada hama yang datang diam-diam, ada akar yang melemah tanpa disadari, bahkan ada gelombang pengaruh negatif yang datang dari berbagai arah. Jika tidak memiliki benteng yang kuat, keindahan taman itu dapat terganggu, bahkan fondasinya bisa goyah.


Pesan inilah yang mengemuka dalam khutbah Dr. Tgk. Mutiara Fahmi, akademis FSH UIN Ar-Raniry Banda Aceh dan anggota komisi pendidikan MPU Aceh, pada Jumat, 9 Oktober 2026, di Masjid Jamik Baitul Jannah, Kemukiman Tungkop, Darussalam, Aceh Besar. Beliau mengajak jamaah untuk peduli terhadap keselamatan keluarga sebagai amanah yang Allah SWT letakkan di pundak setiap kepala keluarga, khususnya laki-laki yang memikul tanggung jawab kepemimpinan dalam rumah tangganya.


Khutbah tersebut mengingatkan kita pada satu pertanyaan mendasar: sudahkah kita sungguh-sungguh menjaga keluarga yang Allah titipkan kepada kita, atau justru terlalu sibuk mengurus dunia hingga lupa merawat taman sendiri?


Amanah yang Tidak Boleh Dikhianati


Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Anfal ayat 27:


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ


Yā ayyuhalladzīna āmanū lā takhūnullāha war-rasūla wa takhūnū amānātikum wa antum ta‘lamūn.


Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.”


Ayat ini menempatkan amanah sebagai perkara serius dalam kehidupan seorang Muslim. Pengkhianatan tidak hanya berkaitan dengan membocorkan rahasia, mengingkari janji, atau menyalahgunakan kepercayaan dalam urusan pekerjaan dan jabatan. Amanah juga mencakup kewajiban memenuhi hak-hak orang yang berada dalam tanggung jawab kita, termasuk istri dan anak-anak. 


Dalam konteks keluarga, ayat tersebut mengajak setiap ayah melakukan introspeksi. Ketika Allah menitipkan anak-anak kepada kita, titipan itu bukan sekadar untuk diberi makan, pakaian, tempat tinggal, dan biaya pendidikan. Ada jiwa yang harus dibimbing, ada akhlak yang perlu ditumbuhkan, ada iman yang harus dipelihara, dan ada masa depan yang harus dipersiapkan.


Mencari nafkah merupakan bagian penting dari tanggung jawab seorang ayah. Akan tetapi, nafkah materi tidak dapat menggantikan kebutuhan anak akan kehadiran, perhatian, dialog, pendidikan agama, dan keteladanan orang tua.


Rumah yang besar belum tentu menjadi tempat tumbuhnya karakter yang kuat. Fasilitas yang lengkap belum tentu menjamin anak memiliki pegangan moral. Bahkan, orang tua yang mampu membiayai sekolah terbaik sekalipun tetap perlu memastikan bahwa anaknya memperoleh pendidikan akhlak di rumah.


Karena itu, mengkhianati amanah keluarga tidak selalu berbentuk tindakan buruk yang dilakukan secara terang-terangan. Kelalaian yang terus dibiarkan, ketidakhadiran emosional, kekerasan, dan pembiaran terhadap perilaku berbahaya juga patut menjadi bahan evaluasi serius. Kita tidak sedang menghakimi setiap orang tua yang memiliki keterbatasan, melainkan mengingatkan bahwa amanah memerlukan kesungguhan, bukan sekadar pengakuan.


Ayah adalah Pemimpin, Bukan Sekadar Pencari Nafkah


Rasulullah SAW bersabda:


كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ


“Kullukum rā‘in wa kullukum mas’ūlun ‘an ra‘iyyatihi.”


Artinya: “Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap kamu akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).


Dalam hadis yang sama, Rasulullah SAW menegaskan bahwa seorang laki-laki merupakan pemimpin bagi keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Istri juga memiliki tanggung jawab kepemimpinan dalam rumah tangga dan terhadap anak-anaknya. 


Hadis ini memberikan fondasi penting bagi pengelolaan keluarga. Kepemimpinan seorang ayah bukan terutama tentang siapa yang paling berkuasa, paling keras suaranya, atau paling menentukan keputusan. Kepemimpinan adalah kesediaan memikul tanggung jawab, memberikan arah, melindungi yang dipimpin, serta memastikan setiap anggota keluarga memperoleh haknya.


Ayah yang kuat bukanlah ayah yang membuat anak-anaknya takut berbicara. Ayah yang kuat adalah ayah yang mampu menegakkan batas dengan bijaksana, mendengarkan tanpa kehilangan wibawa, mengoreksi tanpa merendahkan, dan menyayangi tanpa membiarkan kesalahan.


Sementara itu, ayah yang cerdas bukan sekadar mereka yang tinggi pendidikannya atau luas pergaulannya. Ia adalah sosok yang mampu membaca perubahan zaman, memahami perkembangan anak, mengenali ancaman yang mungkin tidak tampak, dan menyesuaikan cara mendidik tanpa mengorbankan prinsip agama.


Di sinilah pentingnya kemitraan suami dan istri. Benteng keluarga tidak akan kokoh jika hanya dibangun oleh satu orang. Ayah dan ibu perlu menyepakati nilai-nilai yang ditanamkan, saling mendukung dalam pengasuhan, serta menunjukkan perilaku yang konsisten di hadapan anak-anak.


Anak akan lebih mudah memahami arti kejujuran jika melihat orang tuanya jujur. Mereka akan belajar menghormati orang lain ketika menyaksikan ayah dan ibu saling menghargai. Mereka akan mengenal kasih sayang bukan hanya dari nasihat, melainkan dari suasana yang mereka alami setiap hari.


Gelombang Ancaman dari Berbagai Arah


Taman keluarga masa kini menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Sebagian ancaman datang dari luar rumah, tetapi sebagian lainnya justru tumbuh dari kelalaian yang terjadi di dalam rumah sendiri.


Pertama, arus digital yang tidak selalu ramah terhadap perkembangan anak. Telepon pintar dan media sosial membuka kesempatan belajar yang luas, tetapi juga dapat mempertemukan anak dengan pornografi, kekerasan, perundungan siber, penipuan, eksploitasi, dan berbagai konten yang belum sesuai dengan usia mereka.


UNICEF Indonesia melalui kajian tentang pengetahuan dan kebiasaan daring anak pada 2023 menyoroti risiko paparan konten tidak pantas, perundungan siber, serta eksploitasi dan pelecehan seksual di ruang digital. Kajian itu juga menunjukkan masih adanya kesenjangan pengetahuan anak dan orang tua mengenai keselamatan daring. 


Karena itu, menyerahkan telepon pintar kepada anak tanpa pendampingan ibarat membuka gerbang taman tanpa mengetahui siapa yang keluar masuk. Persoalannya bukan semata-mata melarang teknologi, melainkan mendidik anak agar mampu menggunakannya secara sehat, aman, dan bertanggung jawab.


Kedua, pengaruh pergaulan dan tekanan kelompok sebaya. Anak-anak yang sedang mencari identitas diri dapat terdorong mengikuti kebiasaan teman meskipun bertentangan dengan nilai keluarga. Tekanan untuk diterima, keinginan tampil hebat, dan rasa takut dianggap berbeda bisa membuat mereka mengambil keputusan yang merugikan diri sendiri.


Ketiga, krisis keteladanan dan komunikasi di rumah. Ketika anak lebih sering memperoleh bentakan daripada dialog, lebih banyak mendengar larangan daripada penjelasan, atau merasa tidak memiliki tempat aman untuk bercerita, ia dapat menjauh secara emosional dari keluarga. Jarak ini membuat orang tua semakin sulit mengetahui apa yang sedang dihadapi anak.


Keempat, pengaruh gaya hidup yang menjauhkan anak dari tanggung jawab moral dan spiritual. Budaya pamer, orientasi pada popularitas, konsumtivisme, kebiasaan berbohong, hingga normalisasi perilaku yang merugikan orang lain dapat memengaruhi cara anak menilai benar dan salah.


Kelima, ancaman yang berasal dari dalam lingkungan keluarga sendiri. Kekerasan, penghinaan, pertengkaran yang tidak terselesaikan, kecanduan, dan pengabaian terhadap kebutuhan emosional anak dapat merusak rasa aman yang seharusnya menjadi kekuatan utama rumah tangga.


Kita perlu memahami bahwa tidak setiap anak yang menghadapi masalah pasti berasal dari keluarga yang lalai. Anak juga dipengaruhi lingkungan sosial dan pengalaman di luar kendali orang tuanya. Namun, keluarga yang hangat, terbuka, dan memiliki pegangan nilai yang jelas dapat menjadi tempat anak mencari pertolongan ketika menghadapi persoalan.


Gelombang pengaruh negatif itu tidak selalu datang sebagai tsunami besar yang mudah dikenali. Kadang-kadang ia hadir seperti rembesan air kecil yang dibiarkan terlalu lama, sampai akhirnya mengikis fondasi tanpa disadari.


Benteng Keluarga Dibangun dengan Ilmu dan Keteladanan


Bagaimana membangun benteng yang kokoh untuk melindungi taman keluarga?


Pendidikan Islam memberikan jawaban yang tidak berhenti pada nasihat dan larangan. Benteng keluarga harus dibangun melalui keteladanan, kasih sayang, pembiasaan, dialog, pengawasan yang proporsional, dan pendidikan iman yang berkelanjutan.


Ibn Qayyim al-Jauziyyah, melalui pemikirannya tentang pendidikan anak yang dibahas dalam kitab Tuhfat al-Maudud bi Ahkam al-Maulud, menempatkan peran orang tua sebagai bagian penting dalam pembentukan karakter anak. Kajian terhadap pemikirannya menyoroti keteladanan positif, kasih sayang, serta penanaman kesadaran mengenai hak dan kewajiban sebagai unsur penting pendidikan keluarga. 


Gagasan ini menegaskan bahwa pendidikan anak bukan pekerjaan yang selesai ketika mereka berangkat ke sekolah atau mengaji. Sekolah, pesantren, dan lingkungan pendidikan lainnya memiliki peran penting, tetapi rumah tetap menjadi ruang utama tempat nilai-nilai itu dipraktikkan.


Anak bisa belajar tentang kejujuran dari buku, tetapi ia menyaksikan penerapannya melalui perilaku orang tua. Anak bisa menghafal ayat tentang kasih sayang, tetapi ia memahami maknanya ketika diperlakukan dengan penuh kasih. Anak bisa mendengar nasihat tentang salat, tetapi kedisiplinan beribadah akan lebih mudah tumbuh ketika melihat keluarganya berusaha menjaga salat bersama.


Dengan demikian, benteng pertama keluarga adalah keteladanan iman dan akhlak. Benteng kedua adalah komunikasi yang hangat dan terbuka. Benteng ketiga adalah literasi serta pengawasan digital. Benteng keempat adalah lingkungan pergaulan yang sehat. Benteng kelima adalah kebiasaan ibadah dan pembelajaran agama yang hidup di rumah.


Semua itu perlu dibangun secara sengaja. Benteng tidak lahir hanya karena orang tua berharap anaknya menjadi baik. Ia harus dirancang, dikerjakan, diperiksa, dan dirawat dari waktu ke waktu.


Lima Langkah Ayah Menjaga Amanah


Agar amanah keluarga tidak berhenti menjadi slogan, setiap ayah perlu menerjemahkannya ke dalam tindakan nyata.


Pertama, hadir secara fisik dan emosional. Luangkan waktu untuk berbicara dengan anak tanpa selalu disibukkan oleh pekerjaan atau telepon genggam. Tanyakan apa yang membuat mereka bahagia, apa yang mengganggu pikiran mereka, siapa teman-teman mereka, dan apa yang sedang mereka pelajari. Dengarkan terlebih dahulu sebelum menghakimi.


Kedua, jadikan rumah sebagai sekolah pertama bagi iman dan akhlak. Bangun kebiasaan salat, membaca Al-Qur’an, berdoa, bersedekah, menjaga kebersihan, berkata jujur, dan menghormati orang lain. Tidak harus selalu melalui ceramah panjang. Kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten sering kali lebih membekas daripada nasihat yang hanya sesekali disampaikan.


Ketiga, kenali dunia anak dan perkembangan zaman. Ayah perlu memahami lingkungan pergaulan, permainan, aplikasi, media sosial, serta persoalan yang dihadapi anak sesuai usianya. Terapkan aturan digital yang masuk akal, jelaskan alasannya, dan ajarkan anak mengenali bahaya serta berani meminta pertolongan ketika menghadapi sesuatu yang membuatnya tidak nyaman.


Keempat, bangun benteng dengan kasih sayang, bukan ketakutan. Anak membutuhkan batas yang jelas, tetapi juga membutuhkan ruang untuk bertanya, mengakui kesalahan, dan memperbaiki diri. Disiplin yang baik tidak identik dengan kekerasan. Orang tua perlu tegas terhadap perilaku yang salah tanpa merendahkan martabat anak.


Kelima, rawat kerja sama dengan ibu dan lingkungan pendidikan. Ayah tidak boleh menyerahkan seluruh tanggung jawab pendidikan kepada ibu, guru, atau lembaga pendidikan agama. Bicarakan perkembangan anak bersama pasangan, jalin komunikasi dengan guru, dan bangun lingkungan sosial yang mendukung pertumbuhan akhlak mereka.


Di atas semua itu, ayah perlu terus memperbaiki dirinya sendiri. Ia tidak mungkin menjadi teladan yang sempurna, tetapi harus bersedia mengakui kesalahan, meminta maaf ketika keliru, belajar ketika tidak memahami persoalan, dan kembali kepada Allah ketika menyadari kekurangan.


Mengakui kesalahan di hadapan anak bukan berarti kehilangan wibawa. Justru, tindakan itu dapat mengajarkan bahwa manusia bertanggung jawab atas perbuatannya dan bahwa memperbaiki diri adalah bagian dari kemuliaan akhlak.


Menjaga Taman hingga Anak Siap Menjadi Penjaga


Pada akhirnya, taman keluarga bukan tempat yang dapat kita kunci selamanya dari pengaruh dunia luar. Anak-anak akan tumbuh, memasuki sekolah, bergaul dengan masyarakat, menggunakan teknologi, dan mengambil keputusan sendiri. Tugas orang tua bukan mengendalikan setiap langkah mereka sepanjang hidup, melainkan membekali mereka agar mampu membedakan jalan yang benar dan yang merusak.


Kita tidak dapat menjamin bahwa setiap anak akan terhindar dari kesalahan. Namun, kita dapat berusaha menyediakan fondasi iman, pengetahuan, rasa aman, dan hubungan keluarga yang membuat mereka memiliki tempat untuk kembali ketika tersandung.


Di sinilah makna benteng keluarga menjadi lebih luas. Benteng bukan hanya tembok yang menahan serangan dari luar, melainkan juga kekuatan dari dalam yang membuat penghuninya tidak mudah runtuh. Anak yang tumbuh dengan kasih sayang, keteladanan, dan pegangan moral memiliki bekal untuk menghadapi dunia tanpa harus kehilangan jati dirinya.


Allah SWT mengingatkan dalam Surah At-Tahrim ayat 6:


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا


Yā ayyuhalladzīna āmanū qū anfusakum wa ahlīkum nārā.


Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”


Ayat ini mengandung panggilan agar keselamatan keluarga menjadi bagian dari tanggung jawab keimanan. Menjaga keluarga bukan sekadar memastikan mereka hidup berkecukupan di dunia, tetapi juga membimbing mereka agar memiliki arah hidup yang diridai Allah SWT.


Maka, setiap ayah perlu bertanya kepada dirinya sendiri: sudahkah saya menjadi pelindung bagi keluarga, atau hanya menjadi penyedia kebutuhan materi? Sudahkah saya mengenal kegelisahan anak-anak, atau justru membiarkan mereka menghadapi persoalan sendirian? Sudahkah saya menanamkan nilai-nilai yang kuat, atau berharap mereka tumbuh baik tanpa bimbingan yang memadai?


Pertanyaan-pertanyaan ini bukan untuk menimbulkan rasa bersalah yang berlebihan, melainkan untuk membangunkan kesadaran bahwa amanah selalu membutuhkan tindakan.


Kita ingin melihat taman keluarga tumbuh indah, dipenuhi bunga kasih sayang, buah kebajikan, dan pohon ketakwaan. Kita ingin anak-anak tumbuh bukan hanya menjadi orang yang berhasil dalam pendidikan dan pekerjaan, tetapi juga manusia yang jujur, bertanggung jawab, menghormati sesama, serta memiliki hubungan yang baik dengan Allah SWT.


Untuk itu, bentengnya harus kuat, pengelolaannya harus cerdas, dan perawatannya tidak boleh berhenti. Ayah dan ibu perlu berjalan bersama, membagi peran, saling menguatkan, serta terus belajar menghadapi perubahan zaman.


Sebab, keluarga adalah taman yang Allah amanahkan untuk kita rawat, bukan sekadar tempat untuk kita tinggali. Jangan sampai kita begitu sibuk membangun rumah yang megah, tetapi lupa menumbuhkan jiwa-jiwa yang hidup di dalamnya. Jangan pula kita begitu cemas menghadapi badai dari luar, tetapi abai memperbaiki fondasi dari dalam.


Amanah itu akan terus melekat pada pundak kita. Semoga kita tidak menjadi orang yang mengkhianatinya karena kelalaian, melainkan menjadi ayah dan ibu yang sungguh-sungguh menjaga, mendidik, membimbing, dan melindungi keluarga hingga tumbuh menjadi taman kebaikan yang menenteramkan dunia serta mengantarkan penghuninya mendekat kepada Allah SWT.


Wallāhu a‘lam bish-shawāb.


Tungkop Darussalam Aceh Besar, 28 Rabiul Akhir 1448, 9 Oktober 2926


(Penulis, imumsyik masjid jamik Baitul Jannah Kemukiman Tungkop Darussalam Aceh Besar)

×
Berita Terbaru Update