-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Dipanggil Muda dan Tiba-Tiba

Minggu, 11 Oktober 2026 | Oktober 11, 2026 WIB Last Updated 2026-10-12T03:54:31Z


Belajar dari kepergian Pak Budi Azhari


Oleh: Saifuddin A. Rasyid

Al-Rasyid.id | Senin pagi, 12 Oktober 2026, kami bersama pimpinan dan sivitas akademika UIN Ar-Raniry Banda Aceh mengantarkan jenazah Bapak Budi Azhari, Wakil Dekan III Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK), ke tempat peristirahatan terakhir di Gampong Blang Lambaro Angan, Aceh Besar.


Suasana duka menyelimuti perjalanan itu. Seorang kolega, sahabat, sekaligus bagian dari keluarga besar kampus telah berpulang. Usianya masih muda, 45 tahun, pengabdiannya masih berlangsung, dan amanahnya sebagai bagian dari pimpinan fakultas masih melekat. Namun, Ahad malam, maut datang menjemputnya tanpa memberi kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal secara panjang. 


Menurut informasi yang kami terima, almarhum mengalami sesak napas secara mendadak dan dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin (RSUZA) sekitar waktu Magrib. Beliau masih sempat berkomunikasi. Namun, dalam penantian penanganan di instalasi gawat darurat (IGD), Allah menetapkan akhir perjalanan hidupnya di dunia.


Peristiwa ini menghadirkan satu pertanyaan yang sulit dihindari: mengapa manusia dapat meninggal begitu tiba-tiba, bahkan ketika masih terlihat sehat, aktif bekerja, dan memiliki banyak rencana?


Pertanyaan itu tidak hanya membutuhkan jawaban medis. Ia juga mengundang kita untuk menengok kembali cara kita memahami kehidupan, kematian, dan kesiapan menghadapinya.


Kematian tidak menunggu usia tua


Al-Qur’an mengingatkan bahwa setiap jiwa pasti akan merasakan kematian. Allah berfirman, “Kullu nafsin dzā’iqatul maut”—setiap yang bernyawa akan merasakan mati (QS Ali Imran [3]:185).


Ayat ini tidak memberikan pengecualian berdasarkan usia, jabatan, kekayaan, kesehatan, ataupun panjangnya daftar rencana seseorang. Kematian adalah kepastian, sedangkan waktu kedatangannya merupakan rahasia Allah.


Dalam QS Luqman [31]:34, Allah menegaskan bahwa tidak seorang pun mengetahui apa yang akan diusahakannya esok hari dan di bumi mana ia akan meninggal. Manusia dapat membuat perencanaan, menjalani pemeriksaan kesehatan, mengupayakan pengobatan, serta menjaga keselamatan. Namun, manusia tidak memiliki kuasa mutlak atas batas akhir kehidupannya.


Dari sisi medis, kematian mendadak dapat terjadi akibat sejumlah kondisi akut, termasuk gangguan jantung dan pernapasan. Gejala sesak napas sendiri mempunyai banyak kemungkinan penyebab sehingga tidak cukup untuk menyimpulkan penyebab kematian almarhum tanpa keterangan medis yang dapat dipertanggungjawabkan.


Di sinilah kita perlu menempatkan ikhtiar dan iman secara proporsional. Upaya medis tetap penting, pertolongan darurat harus segera diberikan, dan kesehatan wajib dijaga. Pada saat yang sama, kita menyadari keterbatasan manusia di hadapan ketentuan Allah.


Kematian mendadak bukan bukti bahwa seseorang tidak mempunyai kesempatan untuk bersiap. Sebab, kesempatan itu sesungguhnya telah diberikan sepanjang hidupnya.


Bersiap sebelum dipanggil


Imam Al-Ghazali, dalam Ihya’ Ulumuddin, khususnya pembahasan tentang mengingat kematian dan kehidupan setelahnya, mengajak manusia menjadikan kesadaran akan kematian sebagai jalan memperbaiki diri. Mengingat mati bukan untuk memadamkan semangat hidup, melainkan membebaskan manusia dari kelalaian dan kesombongan.


Rasulullah SAW juga mengingatkan agar kita memperbanyak mengingat pemutus kenikmatan, yakni kematian (HR at-Tirmidzi, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah).


Pesan ini terasa sangat relevan ketika kita mengantar seseorang yang berpulang pada usia yang belum kita anggap tua. Kita sering berkata, “Masih muda,” “Masih banyak rencana,” atau “Masih panjang pengabdiannya.” Semua itu wajar sebagai ungkapan kehilangan. Akan tetapi, di hadapan ajal, usia bukan jaminan waktu.


Mati muda tidak dengan sendirinya menjadi tanda kemuliaan, sebagaimana panjang umur tidak otomatis menjadi tanda keberuntungan. Nilai kehidupan seorang Muslim terletak pada iman, amal saleh, kemanfaatan, dan bagaimana ia mempertanggungjawabkan amanahnya di hadapan Allah.


Demikian pula, kita tidak semestinya memastikan bahwa kematian mendadak merupakan hukuman ataupun keistimewaan bagi orang tertentu. Riwayat-riwayat hadis tentang penilaian khusus terhadap kematian mendadak memiliki pembahasan mengenai kualitas sanad dan pemahamannya di kalangan ulama. Karena itu, sikap yang lebih bijaksana ialah menyerahkan keadaan almarhum kepada rahmat Allah dan mengambil pelajaran bagi diri sendiri.


Kita tidak mengetahui bagaimana kedudukan akhir seseorang di sisi Allah. Yang dapat kita lakukan adalah mendoakan kebaikan baginya, menghibur keluarganya, dan memperbaiki kehidupan kita yang masih diberi kesempatan.


Apa yang harus disiapkan?


Jika kematian dapat datang pada usia muda dan tanpa tanda yang kita pahami, apa yang semestinya kita lakukan?


Pertama, memelihara hubungan dengan Allah. Jangan menunda salat, taubat, dan amal saleh dengan alasan masih muda atau masih sibuk. Ibadah bukan pekerjaan yang baru dimulai ketika usia memasuki senja.


Kedua, menyelesaikan urusan dengan sesama manusia. Meminta maaf, mengembalikan hak orang lain, melunasi utang, menunaikan amanah, dan menghindari kezaliman merupakan bagian penting dari persiapan akhirat. Jangan sampai seseorang meninggalkan dunia dengan persoalan yang sebenarnya dapat ia selesaikan ketika masih hidup.


Ketiga, meninggalkan amal yang terus memberi manfaat. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa ketika manusia meninggal dunia, amalnya terputus kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya (HR Muslim).


Bagi seorang pendidik dan insan kampus seperti almarhum Budi Azhari, pesan ini mengingatkan kita tentang pentingnya ilmu, keteladanan, dan pengabdian yang manfaatnya melampaui masa hidup seseorang. Kita berharap kebaikan yang pernah beliau tanamkan menjadi bagian dari jejak manfaat yang ditinggalkannya.


Keempat, menata tanggung jawab keluarga dan kehidupan dunia. Persiapan kematian tidak berarti meninggalkan urusan dunia. Justru kita perlu memastikan keluarga memperoleh haknya, dokumen penting tertata, utang tercatat, serta amanah pekerjaan dapat diteruskan dengan baik. Wasiat pun perlu disiapkan sesuai ketentuan syariat dan hukum yang berlaku.


Kelima, menjaga kesehatan dan menghargai pertolongan medis. Kesadaran akan takdir tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan gejala berbahaya. Sesak napas mendadak, nyeri dada, pingsan, atau tanda kegawatan lainnya perlu segera mendapatkan pertolongan medis. Ikhtiar menyelamatkan kehidupan adalah bagian dari tanggung jawab manusia.


Keenam, membiasakan evaluasi diri setiap hari. Sebelum tidur, tanyakan kepada diri sendiri: jika hari ini menjadi hari terakhir, adakah hak yang belum saya tunaikan, kata-kata yang melukai orang lain, amanah yang saya abaikan, atau kebaikan yang masih dapat saya lakukan?


Pertanyaan itu tidak harus membuat kita takut menjalani hari esok. Sebaliknya, ia membantu kita menjalani hari ini dengan lebih jernih.


Mengantar jenazah, mengingat kepulangan sendiri


Pagi itu, ketika kami mengantarkan almarhum ke pemakaman di Blang Lambaro Angan, sesungguhnya kami bukan hanya mengantar seorang sahabat menuju tempat peristirahatan terakhirnya. Kami juga sedang menyaksikan pengingat tentang akhir perjalanan kami sendiri.


Hari ini kita mengiringi orang lain. Pada waktunya, orang lain pula yang akan mengiringi kita.


Kematian Budi Azhari mengingatkan bahwa jabatan akan ditinggalkan, pekerjaan akan dilanjutkan orang lain, dan rencana-rencana dunia tidak selalu selesai sebagaimana yang kita kehendaki. Yang tersisa adalah amal, kebaikan yang pernah diberikan, hak yang telah ditunaikan, dan doa orang-orang yang ditinggalkan.


Karena itu, jangan menunggu tua untuk menjadi saleh. Jangan menunggu sakit untuk meminta maaf. Jangan menunggu kehilangan untuk menghargai orang-orang di sekitar kita. Jangan pula menunggu menjelang ajal untuk mulai mempersiapkan kepulangan.


Semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosa almarhum Budi Azhari, menerima amal salehnya, melapangkan kuburnya, dan menempatkannya dalam rahmat serta ampunan-Nya. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kekuatan. Selamat jalan Pak Budi.


Dan bagi kita yang masih diberi waktu, semoga peristiwa ini menjadi kesempatan untuk membenahi diri. Sebab, kita tidak pernah tahu berapa lama lagi waktu yang tersisa.


Kita memang tidak dapat memilih kapan dipanggil pulang. Namun, selama masih hidup, kita dapat memilih bagaimana mempersiapkan kepulangan.


Wallahu a’lam bishawab.


Gampong Blang 12 Oktober 2026


(Penulis, sahabat almarhum di Fathun Qarib, Uinar)

×
Berita Terbaru Update