Oleh: Saifuddin A. Rasyid
Al-Rasyid.id | Malam 4 Oktober 2026, saya menulis sebuah artikel berjudul “Milad UIN Ar-Raniry ke-63”. Tulisan itu saya kirim kepada Prof. Yusny Saby pada malam yang sama.
Tidak lama kemudian, beliau merespons. Ada koreksi kecil, tetapi sesungguhnya sangat besar maknanya:
“Yang lebih tepat Milad ke-66, bukan 63.”
Saya membalas kira-kira begini: Kalau begitu sangat bagus. Besok pagi, dalam agenda zikir dan doa bersama Milad, Prof sampaikan kepada semua. Ini penting agar sejarah UIN Ar-Raniry tidak berhenti pada angka yang selama ini kita ulang setiap tahun.
Mengapa saya mengatakan demikian?
Sebab UIN Ar-Raniry secara rutin memperingati Milad setiap 5 Oktober, terhitung sejak berdirinya IAIN Jami’ah Ar-Raniry pada 5 Oktober 1963. Bahkan, Prof Yusny menunjukkan sebuah buku kecil yang sudah agak lapuk dimakan usia—dan mungkin juga tersentuh pengalaman tsunami—berjudul:
Milad Pertama IAIN Jami’ah Ar-Raniry, 5 Oktober 1964.
Buku kecil itu seperti benda sederhana, tetapi ia menyimpan pertanyaan sejarah yang tidak sederhana:
Jika Milad pertama dilaksanakan 5 Oktober 1964, dan kelahiran IAIN Ar-Raniry ditetapkan 5 Oktober 1963, lalu dari mana datangnya angka 66?
Saya kira jawabannya bukan dengan memilih salah satu lalu membuang yang lain.
Kita justru perlu melihatnya sebagai satu garis kelahiran yang utuh.
Dan di sinilah metafora itu mungkin membantu:
UIN Ar-Raniry “dipinang” pada 1959, embrionya terbentuk pada 1960, mulai “hamil” secara kelembagaan pada 1960, mengandung sekitar tiga tahun, lalu lahir sebagai institut pada 1963.
Dengan cara pandang itu, angka 63 dan 66 tidak perlu bertengkar.
I. Dari pinangan 1959 menuju embrio 1960
Sejarah tidak pernah benar-benar dimulai pada hari sebuah lembaga diresmikan.
Sebelum sebuah gedung berdiri, biasanya ada gagasan. Sebelum ada SK, ada percakapan. Sebelum ada lembaga, ada orang-orang yang bermimpi.
Karena itu, kalau kita hendak menarik garis paling awal sejarah UIN Ar-Raniry, kita dapat menengok kembali momentum 2 September 1959, ketika Presiden Soekarno datang ke Aceh dan meresmikan Kota Pelajar/Mahasiswa Darussalam.
Dalam momentum Darussalam itu, gagasan tentang pendidikan tinggi Islam di Aceh mendapatkan ruang untuk diperjuangkan. Dalam sejarah resmi Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Ar-Raniry, pembicaraan mengenai keinginan mendirikan perguruan tinggi Islam di Aceh kemudian melibatkan Gubernur Aceh A. Hasjmy dan Presiden Soekarno. Dibentuk pula Panitia Pendirian Fakultas Agama Islam Negeri di Aceh melalui Penetapan Menteri Agama Nomor 48 Tahun 1959.
Kalau boleh menggunakan bahasa yang sedikit puitis, 2 September 1959 adalah momentum pinangan.
Aceh menyampaikan cita-citanya.
Darussalam disiapkan sebagai tempatnya.
Dan cita-cita itu perlahan-lahan hendak diubah menjadi perbuatan nyata.
Perbuatan nyata itu mulai terlihat pada Agustus 1960.
Pada 12 Agustus 1960, Menteri Agama mengeluarkan SK Nomor 40 Tahun 1960 tentang pembukaan Fakultas Syari’ah IAIN Al-Jami’ah Al-Islamiyah Al-Hukumiyah Yogyakarta Cabang Kutaraja.
Inilah embrio kelembagaan yang sangat penting dalam sejarah UIN Ar-Raniry.
Kemudian pada 2 September 1960, Fakultas Syari’ah tersebut diresmikan di Kopelma Darussalam. Pada saat itu Prof. T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy dilantik sebagai dekan pertama.
Dan di sini kita perlu meluruskan satu hal yang sempat kita cari:
Yang lahir pada 1960 adalah Fakultas Syari’ah, bukan “Kelas Syari’ah” dan bukan “Jurusan Syari’ah”.
Secara kelembagaan, namanya memang Fakultas Syari’ah.
Pada masa awal, fakultas ini belum mempunyai gedung sendiri. Kegiatan akademiknya menggunakan fasilitas yang tersedia di lingkungan Darussalam, antara lain ruang SMEA. Jadi lembaganya sudah lahir, sementara infrastrukturnya masih sederhana.
Kita memang belum menemukan dokumen primer yang memastikan tanggal persis kuliah pertama Prof. Hasbi di Darussalam.
Karena itu, kita tidak perlu memaksakan sebuah tanggal.
Untuk sementara, 2 September 1960 kita pegang sebagai tonggak resmi berdirinya Fakultas Syari’ah dan awal kepemimpinan Prof. Hasbi sebagai dekan pertama. Adapun tanggal kuliah pertamanya masih menjadi pekerjaan rumah penelitian sejarah.
Dari sinilah “kehamilan” itu dapat kita mulai hitung.
II. Mengandung tiga tahun, lalu lahir 1963
Embrio tidak mungkin langsung menjadi bayi.
Ia membutuhkan proses.
Demikian pula pendidikan tinggi Islam di Darussalam.
Setelah Fakultas Syari’ah berdiri pada 1960, pada 1962 berdiri Fakultas Tarbiyah sebagai cabang IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Pada tahun yang sama juga telah ada Fakultas Ushuluddin yang pada awalnya berstatus swasta, yang kemudian menjadi bagian penting dari pembentukan IAIN Ar-Raniry.
Maka menjelang 1963, sudah tersedia tiga kekuatan akademik:
Syari’ah, Tarbiyah dan Ushuluddin.
Inilah kandungan yang semakin lengkap.
Fakultas Syari’ah dan Tarbiyah sebelumnya berafiliasi dengan perguruan tinggi Islam di Yogyakarta, sementara Fakultas Ushuluddin berkembang dari inisiatif pendidikan Islam di Aceh. Ketiganya kemudian menjadi fondasi bagi lahirnya sebuah institut Islam negeri yang berdiri sendiri di Aceh.
Dan tibalah hari kelahiran itu.
5 Oktober 1963.
Berdasarkan Keputusan Menteri Agama Nomor 89 Tahun 1963, berdirilah IAIN Jami’ah Ar-Raniry. A. Hasjmy menjadi pejabat rektor pertama.
Maka kalau kita ingin membuat garis sejarahnya secara sederhana:
2 September 1959 — cita-cita dipinang.
12 Agustus 1960 — embrio kelembagaan dibentuk melalui SK Menteri Agama.
2 September 1960 — Fakultas Syari’ah diresmikan; kandungan mulai tumbuh.
1962 — Tarbiyah dan Ushuluddin memperkuat kandungan.
5 Oktober 1963 — IAIN Jami’ah Ar-Raniry lahir.
Kalau bahasa biologisnya agak berani:
dipinang 1959, hamil 1960, mengandung tiga tahun, lahir 1963.
Barangkali inilah cara yang paling damai untuk membaca sejarahnya.
III. Dari IAIN menjadi UIN: perjalanan panjang sebuah kelahiran
Setelah lahir pada 1963, IAIN Ar-Raniry terus tumbuh.
Fakultas Dakwah berdiri pada 1968. Kemudian berkembang berbagai fakultas dan program studi yang semakin memperluas cakupan keilmuan. Fakultas Syari’ah yang menjadi embrio awal juga terus mengalami perkembangan struktur dan jurusan sesuai kebutuhan zaman.
Perjalanan itu akhirnya sampai pada babak penting ketika IAIN Ar-Raniry berubah bentuk menjadi Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh melalui Peraturan Presiden Nomor 64 Tahun 2013.
Perubahan itu bukan sekadar pergantian huruf dari “I” menjadi “U”.
Ia adalah perubahan paradigma.
Jika IAIN dahulu kuat sebagai pusat pengembangan ilmu-ilmu keislaman, maka UIN membuka ruang lebih luas bagi perjumpaan ilmu agama dengan sains, teknologi, ekonomi, sosial-humaniora, psikologi dan berbagai disiplin ilmu lainnya.
Dari embrio satu fakultas pada 1960, lahir institut pada 1963, kemudian tumbuh menjadi universitas pada 2013 dan terus berkembang sampai 2026.
Karena itu, 63 tahun adalah angka yang sahih jika yang kita hitung adalah usia IAIN Jami’ah Ar-Raniry sejak kelahirannya pada 5 Oktober 1963.
Tetapi jika yang dihitung adalah akar kelembagaan pendidikan tinggi Islam yang menjadi embrio UIN Ar-Raniry, kita harus mundur ke 1960.
Dan kalau kita memasukkan momentum awal cita-cita pendidikan tinggi Islam di Darussalam, kita bahkan dapat menarik garis lebih jauh ke 1959.
Lalu dari mana 66?
Di sinilah koreksi Prof. Yusny menjadi menarik.
Angka 66 bukan harus dibaca sebagai pembatalan angka 63.
Ia justru mengajak kita melihat usia sejarah yang lebih panjang daripada usia institut.
Dengan kata lain:
63 adalah usia kelahiran IAIN.
66 adalah usia yang dihitung dari fase awal embrio kelembagaan pada 1960.
Keduanya berbicara tentang hal yang sama dari titik waktu yang berbeda.
Dan buku kecil yang dibawa Prof. Yusny menjadi pengingat yang sangat berharga. Milad Pertama IAIN Jami’ah Ar-Raniry, 5 Oktober 1964 menunjukkan bahwa tradisi peringatan Milad memang telah berlangsung sejak setahun setelah kelahiran institut.
Sejarah ternyata tidak hanya tersimpan di arsip yang rapi.
Kadang ia tersimpan dalam buku kecil yang mulai lapuk.
Kadang dalam ingatan seorang guru besar.
Kadang dalam percakapan sederhana pada malam menjelang Milad.
Dan kadang baru kita sadari maknanya setelah lebih dari enam dekade berlalu.
IV. Prof. Hasbi Ash-Shiddieqy dan pintu pertama Darussalam
Jika berbicara tentang embrio 1960, kita tidak mungkin melewatkan Prof. Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy.
Beliau adalah dekan pertama Fakultas Syari’ah ketika lembaga itu diresmikan di Darussalam pada 2 September 1960. Dengan demikian, Hasbi adalah salah satu tokoh yang berdiri sangat dekat dengan pintu pertama pendidikan tinggi Islam negeri di Aceh.
Hasbi bukan ulama biasa.
Ia dikenal sebagai ulama, ahli fikih, pemikir Islam dan akademisi Indonesia yang mempunyai perhatian besar terhadap pembaruan pemikiran hukum Islam. Salah satu gagasan penting yang melekat pada dirinya adalah pemikiran tentang fikih Indonesia, yakni upaya memahami hukum Islam dengan tetap berpijak pada sumber-sumber syariat sekaligus memperhatikan kenyataan sosial dan budaya masyarakat Indonesia.
Ia adalah sosok yang berada di antara dua dunia:
tradisi keulamaan dan tradisi akademik.
Karena itu, kehadirannya di Darussalam sangat simbolik.
Aceh sedang membangun kampus.
Hasbi membantu membangun tradisi intelektualnya.
Gedung boleh menjadi tempat belajar, tetapi orang-orang seperti Hasbi membantu menentukan apa yang harus dipelajari, bagaimana berpikir dan untuk apa ilmu itu digunakan.
Maka ketika kita menyebut Fakultas Syari’ah sebagai embrio UIN Ar-Raniry, kita tidak hanya sedang membicarakan sebuah SK Menteri.
Kita sedang berbicara tentang manusia-manusia yang membuat SK itu menjadi kenyataan.
Dan Hasbi adalah salah satu nama terpenting di dalamnya.
V. Jadi, 63 atau 66?
Setelah menelusuri kembali jejak sejarahnya, saya justru merasa tidak perlu memilih salah satunya secara emosional.
Kita dapat mendamaikannya.
UIN Ar-Raniry sebagai IAIN Jami’ah Ar-Raniry lahir pada 5 Oktober 1963.
Itulah tanggal kelahiran institut yang selama ini diperingati setiap tahun.
Tetapi embrionya telah terbentuk sejak Agustus 1960 melalui SK Menteri Agama, lalu semakin nyata pada 2 September 1960 ketika Fakultas Syari’ah diresmikan di Darussalam.
Kalau ditarik lebih jauh lagi, 2 September 1959 dapat dipandang sebagai momentum awal ketika cita-cita pendidikan tinggi Islam di Darussalam mendapatkan dorongan politik dan historis yang kuat.
Jadi garis besarnya:
1959 — pinangan cita-cita.
Agustus 1960 — embrio kelembagaan.
2 September 1960 — Fakultas Syari’ah mulai berdiri di Darussalam.
1962 — kandungan diperkuat Tarbiyah dan Ushuluddin.
5 Oktober 1963 — lahir IAIN Jami’ah Ar-Raniry.
2013 — bertransformasi menjadi UIN Ar-Raniry.
2026 — terus tumbuh dan melahirkan generasi baru.
Maka saya kira kalimat yang paling adil adalah:
UIN Ar-Raniry lahir sebagai institut pada 1963, tetapi embrionya telah tumbuh sejak 1960.
Atau kalau ingin sedikit lebih puitis:
Ia dipinang pada 1959, mulai mengandung pada 1960, mengandung tiga tahun, lalu lahir pada 5 Oktober 1963.
Dengan demikian, Milad ke-63 dan perspektif ke-66 tidak perlu saling meniadakan.
Yang satu menghitung kelahiran institut.
Yang satu lagi mengingatkan usia embrionya.
Dan mungkin justru di situlah pelajaran sejarah yang paling indah: sebuah lembaga tidak pernah lahir tiba-tiba. Ia selalu didahului oleh cita-cita, perjuangan, embrio, proses, lalu kelahiran.
UIN Ar-Raniry hari ini adalah bayi yang telah berusia 63 tahun sebagai institut, tetapi akarnya telah jauh lebih tua.
Maka tugas generasi hari ini bukan lagi memperdebatkan kapan ia lahir semata.
Tugas kita adalah memastikan bahwa semangat yang melahirkannya pada 1959–1963 tidak mati pada 2026.
Sebab universitas yang besar bukan hanya universitas yang panjang umurnya.
Ia adalah universitas yang setiap generasinya mampu melahirkan gagasan baru untuk zamannya.
Dan setelah 63, 66, atau bahkan lebih dari enam dekade, pertanyaan terpentingnya bukan lagi:
“Berapa usia UIN Ar-Raniry?”
Melainkan:
“Apa yang akan kita lahirkan dari UIN Ar-Raniry untuk Aceh, Indonesia dan dunia?”
Spirit pertanyaan itu jugalah yang meluncur deras dari sambutan rektor Prof Mujiburrahman kemarin.
Wallahu a’lam
Darussalam 6 Oktober 2026
(Penulis, imam masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry, alumni no 7 SKI FAH IAIN Ar-Raniry lulus 1988)
Foto, dari kanan: Hilmi (Karo AUPK Uinar), Prof Yusny, penulis, dan Ust Zaki Ukhrawi (Qari Nasional)
