Oleh Saifuddin A Rasyid
Al-Rasyid.id | Ada ruang di dalam pesawat yang mungkin tidak pernah dilihat penumpang, tetapi keselamatan seluruh penumpang sangat bergantung padanya. Namanya ruang kemudi atau cockpit.
Di sanalah pilot dan kopilot duduk. Di depan mereka terbentang panel instrumen, layar navigasi, berbagai tombol dan sistem kendali. Dari ruangan yang relatif kecil itu, sebuah pesawat yang membawa ratusan manusia diarahkan menuju satu titik: destinasi yang telah direncanakan.
Karena itu, apa yang terjadi di ruang kemudi bukan perkara kecil. Konflik di sana bukan sekadar pertengkaran dua orang. Bila kendali pesawat terganggu, keselamatan semua orang yang berada di belakang mereka ikut dipertaruhkan.
Peristiwa mengerikan itu baru saja terjadi pada penerbangan Flydubai FZ1073, rute Dubai–Tel Aviv, 30 September 2026. Menurut laporan Associated Press, terjadi kekerasan antara pilot dan kopilot ketika pesawat sedang mengudara. Pesawat mengalami perubahan ketinggian yang sangat drastis dan sempat mengeluarkan sinyal darurat, termasuk kode yang menunjukkan keadaan darurat dan dugaan gangguan pembajakan. Pilot mengalami luka serius. Berkat tindakan cepat awak dan sejumlah penumpang, kopilot dapat dilumpuhkan dan pesawat akhirnya melakukan pendaratan darurat di Tabuk, Arab Saudi. Seluruh penumpang dilaporkan selamat. (AP News)
Kita tentu tidak perlu berspekulasi tentang motif peristiwa tersebut karena penyelidikan masih berlangsung. Tetapi satu pelajaran sudah terang: konflik di ruang kendali dapat berubah menjadi ancaman bagi keselamatan banyak orang.
Bayangkan perasaan penumpang.
Mereka sudah membeli tiket, masuk ke pesawat, duduk di kursi masing-masing, memasang sabuk pengaman, lalu menyerahkan kendali perjalanan kepada awak penerbangan. Penumpang tidak memilih siapa pilotnya. Mereka tidak ikut dalam proses rekrutmen, seleksi, pengujian kompetensi, pemeriksaan kesehatan, pelatihan, dan sertifikasi sang pilot.
Mereka percaya kepada maskapai.
Dan pada akhirnya, setelah seluruh ikhtiar manusia dilakukan, mereka memasrahkan perjalanan kepada Allah Yang Mahakuasa.
Maka amanah yang berada di pundak pilot bukan amanah biasa. Ketika seorang pilot duduk di ruang kemudi, ia tidak hanya menerbangkan mesin. Ia membawa kehidupan manusia.
Ruang kemudi adalah ruang amanah
Di sinilah metafor kepemimpinan menjadi menarik.
Seorang presiden sesungguhnya sedang duduk di ruang kemudi bangsa. Gubernur berada di ruang kendali provinsi. Bupati dan wali kota mengendalikan arah pembangunan daerah. Camat, lurah, kepala desa atau keuchik juga berada dalam ruang kendali masing-masing.
Mereka mungkin tidak mengemudikan pesawat, tetapi mereka mengendalikan keputusan yang memengaruhi kehidupan manusia.
Di belakang mereka ada rakyat.
Ada anak-anak yang membutuhkan pendidikan. Ada keluarga yang membutuhkan kesejahteraan. Ada petani yang menunggu kebijakan yang berpihak. Ada nelayan yang membutuhkan perlindungan. Ada pelaku usaha yang membutuhkan kepastian. Ada generasi muda yang membutuhkan masa depan.
Karena itu, seorang pemimpin tidak boleh menjadikan ruang kendali sebagai ruang pelampiasan ego.
Ruang kendali adalah ruang amanah.
Pilot yang sedang bertugas tidak boleh kehilangan kendali karena emosi. Pemimpin juga demikian. Ketika persoalan datang, ia harus tetap dingin. Ketika kritik muncul, ia tidak boleh kehilangan arah. Ketika ada perbedaan pendapat, ia tidak boleh menjadikan konflik sebagai bahan bakar untuk menerbangkan keputusan menuju arah yang membahayakan rakyat.
Pemimpin harus mengetahui ke mana pesawat kepemimpinan hendak diterbangkan.
Tujuannya bukan sekadar kekuasaan. Bukan pula sekadar mempertahankan jabatan.
Destinasinya adalah keselamatan, keadilan, kemajuan dan kesejahteraan warga.
Manusia di balik mesin
Prof. B.J. Habibie adalah salah satu ilmuwan Indonesia yang menghabiskan sebagian besar hidupnya memikirkan teknologi penerbangan dan keselamatan struktur pesawat. Teori crack progression yang dikembangkannya menjadi salah satu kontribusi penting dalam teknologi struktur pesawat modern. Sumber-sumber yang mengenang kiprahnya juga mencatat gagasannya mengenai pentingnya keselamatan penerbangan dan cita-citanya menghadirkan pesawat yang aman. (Perpusnas)
Pesawat modern memang dirancang dengan teknologi yang sangat maju. Ada sistem cadangan, prosedur operasi, instrumen navigasi, komunikasi, pelatihan dan berbagai lapisan keselamatan.
Tetapi teknologi tetap membutuhkan manusia.
Inilah yang sering disebut human factor: manusia yang mengoperasikan sistem.
Pesawat boleh canggih, tetapi bila manusia di balik kendalinya bertindak ceroboh, mengabaikan prosedur, kehilangan koordinasi atau kehilangan kemampuan mengendalikan diri, teknologi yang hebat pun dapat menghadapi risiko besar.
Laporan investigasi penerbangan di berbagai kasus bahkan menunjukkan betapa pentingnya komunikasi, koordinasi, kepatuhan terhadap prosedur dan situational awareness dalam kokpit. Dalam sebuah laporan investigasi otoritas penerbangan India, misalnya, kesalahan readback, kurangnya pemantauan komunikasi dan persoalan koordinasi awak menjadi faktor yang berkontribusi terhadap terjadinya konflik jarak antar-pesawat. (Biro Investigasi Kecelakaan Penerbangan)
Maka keselamatan bukan hanya persoalan mesin.
Keselamatan juga persoalan karakter manusia.
Dari kokpit menuju rumah tangga
Metafor ruang kemudi bahkan dapat kita bawa lebih dekat ke rumah.
Suami dan istri adalah dua orang yang duduk dalam ruang kendali sebuah keluarga. Mereka bukan pilot dan kopilot dalam pengertian teknis, tetapi keduanya memiliki amanah besar untuk membawa keluarga menuju destinasi kehidupan yang baik.
Kalau ruang kendali rumah tangga dipenuhi pertengkaran, ego, saling menjatuhkan dan kehilangan komunikasi, anak-anak yang duduk di “kabin” keluarga ikut merasakan guncangannya.
Karena itu, konflik bukan selalu masalah.
Yang berbahaya adalah konflik yang kehilangan kendali.
Perbedaan pendapat dapat menjadi energi perbaikan bila dikelola dengan ilmu dan kasih sayang. Tetapi perbedaan yang dikendalikan amarah dapat berubah menjadi turbulensi keluarga.
Dan dari keluarga, metafor ini akhirnya kembali kepada diri kita sendiri.
Hati adalah ruang kemudi kehidupan
Setiap manusia memiliki ruang kemudi yang paling dekat: hati.
Hati menentukan arah. Pikiran membaca keadaan. Akal mempertimbangkan pilihan. Nafsu dapat menjadi tenaga, tetapi bila tidak dikendalikan ia dapat mengambil alih kemudi.
Karena itu Al-Qur’an mengingatkan:
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwa itu, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.”
(QS. Asy-Syams: 9–10).
Kita boleh memiliki kecerdasan, jabatan, kekayaan, pengalaman dan teknologi. Tetapi semua itu membutuhkan kendali moral.
Iman jangan sampai kalah oleh nafsu.
Akal jangan dikalahkan oleh emosi.
Wahyu jangan disingkirkan oleh keinginan sesaat.
Tuntunan Rasulullah jangan dikalahkan oleh kepentingan pribadi.
Nasihat ulama jangan dianggap gangguan ketika ia mengingatkan kita agar tidak keluar dari jalur.
Sebab kehidupan kita pun sebenarnya sedang terbang menuju sebuah destinasi.
Belajar menjadi generasi yang tidak kehilangan kendali
Dari konflik di ruang kemudi pesawat, generasi Muslim dapat belajar beberapa hal.
Pertama, kuasai diri sebelum menguasai keadaan.
Orang yang tidak mampu mengendalikan marah akan sulit mengendalikan persoalan yang lebih besar.
Kedua, pahami tujuan sebelum mengambil keputusan.
Pilot mengetahui destinasi sebelum menerbangkan pesawat. Seorang Muslim harus mengetahui tujuan hidupnya: beribadah kepada Allah, menjadi manusia yang bermanfaat dan kembali kepada-Nya dalam keadaan selamat.
Ketiga, jangan abaikan komunikasi.
Dalam penerbangan, komunikasi adalah bagian dari keselamatan. Dalam keluarga, organisasi dan pemerintahan, komunikasi juga demikian. Banyak konflik membesar bukan karena masalah awalnya besar, tetapi karena komunikasi berhenti.
Keempat, hormati prosedur dan aturan.
Pilot tidak boleh menerbangkan pesawat berdasarkan selera pribadi. Pemimpin juga tidak boleh mengelola amanah berdasarkan kehendak pribadi. Ada hukum, etika, aturan, musyawarah dan pertanggungjawaban.
Kelima, jangan biarkan konflik mengambil alih kemudi.
Konflik boleh terjadi. Tetapi konflik tidak boleh menjadi pilot.
Keenam, selalu lakukan koreksi arah.
Pesawat memiliki instrumen navigasi untuk memastikan arah tetap sesuai rencana. Manusia juga membutuhkan “instrumen navigasi”: Al-Qur’an, sunnah, ilmu, doa, zikir, musyawarah dan nasihat orang-orang saleh.
Ketujuh, ingat bahwa di belakang kita ada orang lain.
Keputusan seorang pilot berdampak kepada penumpang. Keputusan seorang pemimpin berdampak kepada rakyat. Keputusan orang tua berdampak kepada anak-anak. Bahkan keputusan pribadi kita dapat berdampak kepada keluarga dan lingkungan.
Karena itu, jangan pernah bermain-main dengan kendali.
Jangan sampai pesawat kehidupan lepas kendali
Teknologi penerbangan mengajarkan sebuah pelajaran yang sangat indah: manusia boleh menciptakan mesin yang luar biasa, tetapi mesin tetap membutuhkan manusia yang bertanggung jawab.
Begitu pula kehidupan.
Allah telah menciptakan manusia dengan perangkat yang jauh lebih kompleks daripada sebuah pesawat: akal, hati, naluri, kehendak dan kemampuan memilih. Allah juga telah memberikan “sistem navigasi” kehidupan melalui Al-Qur’an dan sunnah, kemudian manusia mendapatkan penjelasan dan bimbingan melalui ilmu para ulama.
Namun semua itu tidak otomatis menjamin perjalanan kita selamat bila manusia di balik kemudi kehilangan kendali.
Hati dikalahkan nafsu.
Iman dikalahkan ambisi.
Akal dikalahkan amarah.
Wahyu dikalahkan kepentingan.
Nasihat dikalahkan kesombongan.
Di situlah pesawat kehidupan mulai oleng.
Maka siapa pun yang sedang duduk di ruang kendali—pilot, presiden, gubernur, bupati, wali kota, keuchik, suami, istri, orang tua, guru, pemimpin organisasi, bahkan diri kita sendiri—harus selalu bertanya:
Ke mana saya sedang membawa orang-orang yang berada dalam tanggung jawab saya?
Jika tujuan sudah benar, arah harus dijaga.
Jika arah mulai menyimpang, segera dikoreksi.
Jika terjadi konflik, jangan biarkan konflik mengambil alih kemudi.
Dan jika perjalanan semakin tinggi, semakin cepat dan semakin penuh tantangan, justru semakin kuat pula kebutuhan untuk tunduk kepada Allah.
Sebab keselamatan bukan hanya soal bagaimana pesawat dibuat.
Bukan hanya soal seberapa canggih instrumennya.
Bukan hanya soal seberapa tinggi ilmu pilotnya.
Tetapi juga tentang siapa yang memegang kendali, bagaimana ia mengendalikan dirinya, dan apakah ia tetap setia kepada tujuan perjalanan.
Pesawat kehidupan kita pun demikian.
Jangan sampai kendaraan yang sudah Allah lengkapi dengan akal, iman, wahyu dan sunnah itu justru hancur berkeping-keping hanya karena orang yang duduk di ruang kemudinya lupa satu hal paling mendasar: kendali adalah amanah.
Wallahu a’lam
Darussalam 20 Rabiul Akhir 1449. 2 Oktober 2026
(Penulis, pengamat sosial dan keislaman)
